
Pov : Banun
Mas Gusti mengajakku keliling kota Yogyakarta di malam hari. Ada yang berbeda dengan kota ini. Terlebih saat menjajaki ruko di malioboro. Jika dulu banyak yang jualan di emperan, kini pemandangan itu tidak tampak lagi. Bagiku, kawasan ini malah terlihat sunyi. Ada sisi baiknya, emperan terlihat lebih bersih dan trotoat untuk pejalan kaki lebih luas.
Kami menonton pertunjukan musik di dekat titik nol. Mengasyikkan, konsepnya seperti panggung seni terbuka. Tidak dipungut biaya untuk tiket masukknya. Selesai pertunjukan, mas Gusti mengajakku berwisata kuliner tengah malam. Ya Allah, bagaimana aku bisa menjaga bentuk tubuhku jika godaannya enak begini?
"Enak, Dek?" tanya Mas Gusti. Aku mengacungkan jempol padanya.
Aku meminum es teh, "Kamu kok hapal daerah Jogja sih, Mas?"
Dia tersenyum dan menceritakan pekerjaannya. Aku baru tahu kalau suamiku dulunya pernah ditempatkan disini sebelum akhirnya pindah di Demak. Pantas dia hapal semua jalan yang ada.
"Habis ini mau kemana lagi?" tanyaku.
"Terserah Adek, mau cari jajan lagi ya ayo, mau pulang ke hotel juga boleh. Jatah Mas masih banyak, kan?"
Aku tertawa mendapati pertanyaan itu. Ini saja rasanya masih perih. Aku hanya mengangguk.
"Unlimited pokoknya," selorohku saat dia sedang minum sampai hampir tersedak. Aku hanya tertawa mendapatkan ekspresi terkejut karena senangnya itu.
Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan, masih edisi kuliner. Masih muat perutnya? Masih. Untuk urusan makan itu dimuat-muatkan. Ini nih, cita-cita langsing, hobi makan jalan terus. Kalau kata suamiku, diet mulai besok. Begitu terus sampai ganti bulan. Ha-ha-ha.
Kami memutuskan berkeliling menyusuri jalan saja. Lalu berhenti di kawasan ruko malioboro lagi, banyak yang sudah tutup. Apa yang kami lakukan? Mengambil gambar dengan gaya aneh. Kami selalu tertawa saat melihat hasilnya. Aku kembali berpose untuk dipotret oleh mas Gusti, sambil cengengesan. Tawaku berhenti ketika melihat sosok yang aku kenal.
Tubuhnya melewatiku begitu saja. Aku segera berbalik dan mengejarnya. Kutarik tudung hoodie hitam yang menutupi kepalanya.
Deg!
Amarah yang kemarin sudah lenyap, kini menggebu kembali. Air mataku membentuk sebuah bendungan di pelupuk. Rizal, lelaki sialan itu baru saja lewat dengan melirikku.
"Kemana saja kamu?" tanyaku dengan suara bergetar. Air mataku mulai meleleh.
"Kemana saja? Kenapa membuat kami malu? Apa salahku padamu? Sampai hati kamu meninggalkanku di hari pernikahan kita. Apa yang ada di otakmu? Ha? Jawab!" Aku meluapkan semua pertanyaan yang aku simpan sejak hari memalukan itu.
Mas Gusti datang, berdiri di hadapanku, menyeka air mata, dan membawaku dalam pelukannya. Lirih terdengar maaf dari mulut lelaki itu.
__ADS_1
"Maaf membuatmu malu, tapi kemarin aku memang tidak siap menikahimu. Maaf, Yang," ucapnya ditujukan padaku.
Mas Gusti melepas pelukanku, berhadapan dengan Rizal. "Tidak siap? Kamu mengenalnya empat tahun tapi kamu bilang masih tidak siap menikahinya? Sebenarnya kamu itu cinta atau tidak sama istriku? Ah, aku lupa memberitahumu. Dia sekarang menjadi milikku. Jadi panggil nama saja jika bertemu."
"Istri? Jadi kamu menikahinya? Merebutnya dariku? Lelaki tidak punya harga diri kamu, Gus!" teriak Rizal pada suamiku.
"Merebut? Aku tidak pernah merebut siapapun. Kamu yang meninggalkannya. Kamu yang membuang Banun, demi ketidaksiapanmu itu."
Aku mengatur napasku, berhenti menangis untuk memberikannya pelajaran. Sumpah saat ini ingin aku rasanya menusukkan parang panjang tepat di dadanya, agar ia juga merasakan sakit yang membekas di hati.
Aku mengambil sandalku dan melemparkannya tepat di muka Rizal saat dia masih adu mulut dengan suamiku. Itu belum seberapa. Aku meludah ke wajahnya. Puas hatiku melakukan hal itu.
Kutarik tangan mas Gusti, memintanya pergi meninggalkan lelaki sialan itu. Kami kembali ke hotel. Rizal benar-benar kurang ajar. Dengan mudah dan entengnya dia mengungkapkan alasannya, karena tidak siap.
Kalau memang tidak siap, kenapa di akhir dia membuat semuanya kacau? Kenapa tidak memutuskanku dari awal? Mas Gusti yang baru saja dari toilet menggodaku.
"Cie yang baru saja ketemu mantan ...," lontarnya dengan bibir manyun.
"Ih, apa sih? Kenapa? Cemburu, ya?" tanyaku.
"Dih, ngapain cemburu sama kecoa bernama Rizal? Nggak level kali ah!" Mas Gusti masuk dalam selimut dan menata bantalnya.
"Cemburu ya?" tanyaku.
Dia berbalik menghadap ke arahku. Lalu tiba-tiba melayangkan ciuman di bibirku.
"Kesel sumpah Mas sama kamu, Dek. Ngapain pakai dikejar sih? Kamu masih sayang sama dia?" Akhirnya keluar juga kekesalam suamiku.
Aku menggeleng, "Adek cuma mau tahu alasannya, Sayang."
Aku membalas ciumannya. "Kalau masih sayang sama kecoa itu, tidak mungkin diri ini mau denganmu, Mas. Maafin Adek, ya?"
Mas Gusti menatapku, membelai rambutku. "Rasanya masih kesel, tapi aku sayang banget sama kamu. Gemesin banget, sih ...." Dia mencubit pipiku.
"Mau sekarang?" Aku menawarkan diriku untuknya. Dia menggeleng.
__ADS_1
"Besok aja di rumah. Gara-gara kecoa tadi mood Mas berantakan. Kita tidur saja. Besok wisata jeep ya? Mau kan?" tawarnya padaku.
Aku mengangguk. Mas Gusti selalu bisa membuatku bahagia. Kenapa tidak dari dulu saja aku memutuskan kecoa itu dan menjalin hubungan dengannya? Padahal waktu itu sudah akan dikenalkan oleh pak Tompi. Hmm, dasar aku. Kadang kita menjadi bodoh disaat bersama orang yang tidak tepat.
Kami tidur sambil berpelukan. Pelan, tapi masih terdengar di telingaku, mas Gusti mengigau.
"Jangan mengejarnya lagi. Mas cemburu, Banun."
Aku menahan tawa saat mendengar hal itu. Cintamu sama aku besar sekali, Mas. Makasih ya, Sayang. Terima kasih untuk semua hal.
"Banun capek kalau disuruh mengejar terus. Adek nggak akan ngejar siapapun kecuali kamu."
Aku mengeratkan pelukanku padanya. Dinginnya kamar hotel malam ini kulewati berdua dengan suamiku. Pagi sebelum subuh menjelang, dia sudah membangunkanku.
"Ada apa, Mas?" tanyaku padanya.
"Mau lihat sunrise di rooftop hotel nggak?"
Aku melihat jam, bahkan subuh saja belum. "Mau, tapi nanti setelah salat subuh to, Yang."
"Iya, sebelum subuh, Mas mau sedekah subuh dulu dong. Tawaranmu semalam masih berlaku, kan?" tanya Mas Gusti. Aku mengingat-ingat hal yang kutawarkan padanya.
Astaghfirullah, bilang saja ingin bercinta. Kok ya pakai muter-muter dulu menawarkan ingin melihat sunrise atau tidak. Dasar, suamiku ini.
"Ih, malah cengengesan. Masih berlaku tidak?"
Aku mengucek mataku, "Kalau sudah tidak berlaku?"
"Katanya unlimited ...," ucapnya kesal. Aku tertawa lalu mengangguk.
"Kapanpun untukmu, wahai Gusti Ekawira."
Dia tersenyum lalu mulai melancarkan aksinya. Aku selalu dibuat terlena oleh permainannya. Kali ini bukan hanya satu ronde, mas Gusti meminta dua ronde, hingga tubuhku benar-benar lemas. Mungkin itu luapan kekesalannya padaku. Tapi aku menikmatinya.
Saat subuh, kami bergegas mandi. Dia menggodaku, aku bilang untuk menghentikan hal itu.
__ADS_1
"Nanti subuhnya habis, nggak jadi lihat matahari terbit, ih ...," rengekku karena dia usil sekali.
"Iya deh, iya. Mandi dengan benar, Gusti." Dia mengatakan hal itu pada dirinya sendiri. Dasar.