
Pov : Banun
Tepat setelah dua tahun aku menunda pernikahanku yang dulu, kini hal itu akan terlaksana. Sempat kecewa karena lelaki yang aku cintai tidak memperjuangkanku sebegitu kerasnya, seperti usahaku. Hanya pasrah pada keadaan dan mengikuti arus hubungan ini. Terkadang, sikapnya seolah sangat mencintaiku, tapi tidak jarang, seolah aku ini tidak pernah ada. Permintaan dari calon mertuaku yang mampu membuatku bertahan.
Aku masih bertahan dengan cintaku. Tapi ada yang berbeda, jika dulu aku selalu menunjukkan usahaku untuk cintaku, kali ini tidak. Aku lebih merasa bodo amat karena sikap mas Rizal. Zaki masuk ke kamarku. Melihatku dirias.
"Mbak, mbok ya jangan nikah sama dia to, Mbak. Mbok dibatalkan saja to, Mbak," rengeknya dengan wajah sedih.
Aku hanya tertawa mendengarnya. Dia masih takut jika aku salah pilih orang. Tapi, aku juga tidak bisa memungkirinya. Rasa cinta yang sudah tumbuh di hatiku menginginkan bersama dengan mas Rizal. Suasana bahagia sudah mulai merasuk hatiku. Mungkin mas Rizal akan berubah jika nanti sudah menjadi suami.
Aku selalu memanjatkan do'a pada Allah, agar melembutkan hati calon suamiku. Agar kelak, usahanya untuk mencintaiku lebih besar dari usahaku. Kulihat adikku terlihat frustasi. Aku membiarkannya melamun dan menungguku yang masih dirias. Bagian wajah telah selesai, kini tinggal memakai hijab.
Aku memilih solo hijab sebagai tema akadku. Saat resepsi aku akan menggunakan adat madura, karena kakek buyut mas Rizal asli orang sana.
"Mbak ...," panggil Zaki pelan.
"Apa to, Nang? InsyaAllah, mas Rizal akan bertanggung jawab dengan Mbak. Kalau Allah sudah berkehendak, yang mustahil akan benar-benar terjadi." Aku mencoba menenangkannya.
Zaki akhirnya pergi dari kamar tempatku dirias. Alhamdulillah aku telah selesai. Diambil beberapa gambar untuk testimoni dan juga kenang-kenangan. Setelahnya aku menunggu rombongan untuk datang.
Teman-teman seperjuanganku bersama keluarga bu Widya datang ingin menyaksikan akad. Gandi selalu absen jika ada acara penting seperti ini, ah tidak asyik adikku satu itu. Hmm, tapi aku memakluminya, dia sibuk dengan kuliahnya. Ayunda cantik sekali dengan dress warna hijau sage itu, serasi dengan bu Widya.
Aku terharu dengan teman-temanku, tidak ada yang absen untuk mengikuti akadku. Pak Tompi menyalamiku dan memberikan hadiah padaku. Apa ini? Amplopnya tebal sekali. Aku menjadi tidak enak hati.
"Halah, kenapa harus tidak enak hati, Nun? Apa tak ambil lagi aja amplopnya?" kata Pak Tompi.
__ADS_1
"Yo jangan to, Pak," sahutku. Semua tertawa mendengarnya. Mereka kembali meninggalkanku dan mencari tempat duduk. Aku sendirian lagi di dalam kamar. Kulihat jam dinding, tinggal lima menit waktu akad, tapi rombongan pihak lelaki belum juga ada tanda-tanda kedatangannya.
Pak penghulu bersama tim datang, ibu masuk ke kamarku dan memintaku menghubungi mas Rizal. Aku mulai gusar, kuhubungi calonku, sayangnya ponselnya tidak aktif. Aku mencoba menghubungi ibu calon mertuaku, kenapa suaranya terdengar seperti orang gugup?
Aku mematung mendengar penjelasan ibu mas Rizal. Air mataku menetes begitu saja. Tubuhku lemas dan aku terjatuh duduk di lantai. Perias dan ibu yang masih ada di kamarku terkejut mendapatu ekspresiku.
"Ada apa, Nun?" tanya Ibu panik.
Aku tidak dapat menjawab. Ibu mengambil ponselku yang masih terhubung dengan ibunya mas Rizal. Setelah mendengar penuturannya, keadaan ibu lebih histeris dibandingkan aku.
Membuat semua datang dan ingin melihat apa yang terjadi padaku. Bapak dan Zaki masuk ke kamar dan menanyakan keadaan kami.
"Ya Allah, Pak ..., bagaimana nasib anak perempuanmu ini. Rizal! Rizal kabur dari rumah, tidak ada yang tahu!" teriak Ibu membuat hampir seluruh undangan yang datang mendengarnya.
"Kenapa hal ini bisa terjadi, Bu? Apa kalian tidak memikirkan bagaimana nasib anak saya? Kami malu, Bu. Coba sekarang saya tanya ke Anda, apa bentuk pertanggungjawaban Anda ke keluarga saya?" Bapak mulai menguarkan aura amarahnya.
Aku hanya bisa menangis, Zaki memandangiku. Lalu memelukku.
"Maaf, Mbak, aku tidak bermaksud mendo'akanmu gagal menikah. Zaki minta maaf," isaknya terdengar ke telingaku.
Tiba-tiba pandanganku gelap dan aku tidak tahu lagi apa yang terjadi. Entah berapa lama aku terpejam, ketika aku terbangun, sudah ada bu Widya dan pak Tompi di sampingku.
"Kamu baik-baik saja, Nun?" tanya Bu Widya. Aku mengangguk. Bu Widya memberikanku minum.
"Ibu ikut prihatin atas masalahmu, begini ...," ucap Bu Widya, tiba-tiba berhenti dan tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
Pak Tompi memegang pundak istrinya, "Biar Papah saja yang menjelaskan. Nun, calon suamimu kan kabur, ini kalian sudah dipermalukan oleh pihak keluarga lelaki. Bapak dan ibumu menginginkan kamu tetap menikah."
"Ha? Lalu dengan siapa saya harus menikah, Pak?" tanyaku. Aku heran dengan orang tuaku, bagaimana mungkin mereka masih bisa memaksakan kehendaknya di saat seperti ini?
"Gusti." Pak Tompi menyebutkan nama mantan anak buahnya.
"Ha?" Aku sangat terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin dia akan menikahiku? Kami hanya sebatas kenal. Tidak pernah berkomunikasi apapun selama ini.
"Percaya sama saya, dia lelaki baik. Dan ..., dia mencintaimu. Tapi, kamu tahu kan Gusti seorang polisi, yang mana, jika kamu menikah dengannya harus proses sidang BP4R dulu? Dan jika kamu setuju dengan saran saya, kamu menikah siri dulu dengannya, sambil nanti setelah menikah mengikuti proses sidang BP4R agar bisa mendapatkan akta nikah dan diakui oleh negara dan juga kesatuan."
Panjang sekali penjelasan pak Tompi. Kepalaku semakin pusing mendengarnya, apa yang terjadi padaku hari ini? Rizal kabur, Gusti sebagai penggantinya, nikah siri, sidang apalah itu tadi. Ya Allah, hatiku baru saja remuk karena ulah seorang pria. Apa yang harus aku lakukan pada pria yang disarankan pak Tompi?
Haruskah aku menerimanya? Tapi, apakah aku sanggup untuk mencintainya nanti? Hatiku saja masih hancur berkeping-keping. Butuh waktu untuk menatanya kembali, dan aku tidak yakin bisa kembali sempurna.
Aku bimbang, bapak masuk ke kamarku dan menangis sambil datang memelukku. Air mataku tumpah lagi. Aku hanya mampu mengatakan kata maaf.
"Ma-af, Pak ..., Ba-nun, membuat Bapak malu ..." Aku terisak lagi kali ini lebih keras. Aku tidak peduli dengan makeup di wajahku.
"Bapak juga minta maaf tidak bisa melakukan apapun untuk menghajar lelaki kurang ajar itu, Nduk. Sudah, hal ini sudah terlanjur. Bapak dan ibu malu tidak apa-apa, tapi kami tidak sanggup mendengar ucapan orang tentang anak perempuan kami." Bapak menghapus air mata yang terus saja meleleh di pipiku.
"Kami tidak akan sanggup dan tidak akan rela anak kami dicela orang. Menikahlah dengan Gusti. Bapak tidak ingin kamu dicap sebagai wanita yang gagal menikah karena ditinggal kabur oleh calonmu, Nun. Bagaimana? Kamu bersedia, kan?"
Aku melihat sorot mata bapak, bu Widya, dan pak Tompi menginginkan jawaban iya dariku.
"Banun ...." Aku mengumpulkan keberanian untuk menjawab permintaan mereka.
__ADS_1