After Reunion

After Reunion
Nikah Siri


__ADS_3

Pov : Widya


Huft, lega sekali rasanya melihatnya. Meskipun aku tahu, dia semakin kurus. Tapi, itu tidak masalah. Asalkan ia tetap sehat. Aku masih terbayang saat turun dari panggung. Tangannya dengan cekatan membantuku.


Aku menyunggingkan senyum di sudut bibirku. Ah, rasanya manis sekali. Ponselku bergetar, kubuka pesan yang masuk. Dari maminya Rania, ternyata mengirimkanku foto tadi.


Aku memperbesar gambar itu dan kuusap wajah lelaki yang selalu mengganggu pikiranku. Kudengar ada yang mengetuk pintu kamar. Lalu Gandi muncul di sebalik pintu.


"Ada apa, Nang?" tanyaku hendak turun dari ranjang.


Gandi mendekat ke arah tempat tidurku lalu masuk dalam selimut yang sama denganku.


"Mamah, oke?" tanyanya. Aku mengangguk ragu. Oke dalam hal apa dulu?


"Om Tompi kelihatan kurus ya, Mah. Pasti nggak ada yang masakin itu. Biasanya kan om Tompi selalu minta masakan Mamah."


Aku menggeser tubuhku lalu menghadap Gandi. Kenapa anakku tiba-tiba membicarakan Tompi? Aneh.


"Mamah nggak ada niatan gitu balikan sama om Tompi?" Pertanyaan Gandi membuatku salah tingkah. Anakku yang sudah remaja, tahu arti bahasa tubuhku.


"Kenapa dulu Mamah menyerah, Mah?"


Aku gemas sekali dengannya, kucubit pipinya lalu kuhujani dia dengan ciuman sayang.


"Kamu lebih setuju mana? Om Han atau om Tompi?" tanyaku. Sekali lagi aku ingin mendengar pendapat anakku.


Gandi menuturkan kelebihan dan kekurangan masing-masing lelaki yang dekat denganku. Jika aku tidak salah tafsir, Gandi lebih condong di pihak Tompi.


"Kamu ini sebenarnya anak siapa? Kenapa malah milih om Tompi?" tanyaku penasaran.


"Anak bapak dan Mamah. Tapi, kalau Mamah balikan sama bapak, Gandi yang tidak setuju. Om Tompi itu sayangnya sama Gandi tulus, Mah. Memang ada usahanya untuk mendekati Gandi. Kalau om Han, karena dia sudah mendapat sokongan dari akung dan uti, seperti seenaknya sendiri gitu."


"Jadi, datang ya tinggal datang, ngajak Mamah pergi, Gandi tidak pernah disapa kalau cuma diam di kamar. Kalau om Tompi kan nggak, Mah. Pasti mengganggu Gandi, tapi Gandi senang diganggu begitu. Berasa saja kedekatannya."


Panjang lebar Gandi membeberkan keunggulan dari Tompi. Ya, benar yang dikatakan anakku ini. Tompi memiliki effort yang lebih dalam hal Gandi. Dia memang seperti merasa, ini lho anakku. Berbeda dengan mas Han.


Mas Han lebih ke usaha untuk mendekatiku saja. Tidak peduli dengan perasaan anakku. Seakan-akan, yang penting dapat mamahnya, anaknya gampang.


"Mau Gandi bantu untuk meluluhkan hati akung dan uti, Mah?" tanya anakku lagi.


"Kesehatan akung dan uti nomor satu untuk Mamah, Nang. Biarkan saja keadaan begini adanya. Bagi Mamah, menikah lagi adalah nomor sekian. Penting akung, uti, dan kamu bahagia."


Bukannya aku tidak mau menikah, tapi saat ini itu bukan sebuah prioritas dalam hidupku. Aku ingin baktiku pada orang tuaku tersampaikan.

__ADS_1


Banun masuk ke kamar, membuat obrolan kami terhenti.


"Bu, ada Alya," kata Banun membuatku sedikit terkejut. Anak mas Han kesini dengan siapa?


Aku bergegas menemuinya. Seperti biasa, dia tidak akan mau bersalaman denganku. Itulah bentuk penolakannya padaku. Aku tidak masalah dengan hal seperti itu.


"Alya kesini sendirian, Nak?" tanyaku. Kuminta Gandi membuatkan minum untuk Alya.


"Mau es apa? Ditambahi bubuk sianida mau nggak?" tanya Gandi mulai nyolot. Aku memperingatkannya.


"Ya salah dia sendiri tidak sopan sama Mamah. Cium tangan orang yang lebih tua itu adalah bentuk kesopanan. Kamu kira mamahku juga mau sama ayahmu itu?"


"Gandi, Nang. Tolong, bisa buatkan Alya minum?" pintaku penuh dengan tekanan pada katanya.


Gandi masuk ke dalam dan membuatkan minum.


"Alya kesini untuk mengajak Tante berkenalan dengan bunda Alya."


Apa maksudnya anak ini mau mengenalkanku dengan bunda Alya? Bukankah istri mas Han sudah meninggal karena kecelakaan? Seorang wanita muncul di depan pintu rumahku. Cantik, seorang muslimah dengan pakaian yang menutupi auratnya.


Alya mempersilahkannya duduk, aku terkejut bercampur bingung. Ada apa ini?


"Ayah sudah menikah siri dengan Bunda Lia, Tante." Alya mengungkapkan kenyataan yang baru aku dengar hari ini.


"Me-menikah siri? Sama ayah? Kapan, Nak?" tanyaku benar-benar terkejut.


Apa ini? Kenapa mas Han tidak memberitahuku apapun? Sumpah, aku seperti orang bodoh disini. Kusingkirkan semua rasa penasaranku. Segera kusalami wanita yang sedari tadi diam itu.


Dia meminta maaf padaku, terbawa perasaan hingga menangis. Aku segera memeluknya. Tidak seharusnya dia menangis karena merasa bersalah padaku. Sampai saat ini, aku dan mas Han belum terikat apapun. Sampai detik ini, hatiku masih terpaut untuk lelaki yang bernama Tompi.


"Saya sama mas Han hanya dekat saja, tidak usah merasa bersalah. Cuma yang saya sesalkan, kenapa tidak ada pembicaraan di awal dengan saya? Nah, disini saya malah seperti orang bodoh," ungkapku.


Aku pamit sebentar ke kamar, kuhubungi mas Han agar datang ke rumahku. Kemana lelaki itu? Setelah beberapa waktu menunggu dia muncul. Wajahnya penuh rasa bersalah padaku.


"Aku it's okey, Mas. Cuma, kenapa kamu tidak cerita dari awal? Kenapa tiba-tiba nikah siri?"


Alya menjelaskan bahwa dirinyalah yang memaksa sang ayah untuk menikah dengan Lia. Anak itu sudah melakukan percobaan bunuh diri jika ayahnya tidak menikah dengan Lia. Alya membuka hijabnya dan menunjukkan padaku goresan di sekeliling lehernya.


"Astaghfirullah, Alya. Kenapa nekat sekali, Nduk?" tanyaku. Aku segera meminta Banun membawa kotak obat. Lalu dengan telaten ku obati dia.


"Tante ikhlas ayah sama bunda Lia. Jangan sembrono lagi ya, Cah Ayu? Janji sama Tante?" Dia mengangguk. Lalu kulihat dia menangis.


"Perih, ya?"

__ADS_1


Dia menggeleng. "Maaf membuat Tante seperti ini."


"Seperti ini bagaimana? Tante nggak papa, Sayang. Kita tidak bisa memaksa orang itu suka terhadap kita. Sudah, tidak usah diperpanjang. Tante turut bahagia dengan pernikahan ayah dan bunda. Sayangi bunda dengan tulus ya, Nak." Sudah selesai luka itu ku obati.


"Mas, dulu kamu datang ke rumah abah dan ibu bersama orang tuamu, kan? Sekarang aku juga minta kamu menjelaskan ke mereka. Aku tidak mau dipersalahkan lagi untuk hal perjodohan lagi."


Aku meminta mas Han bertanggung jawab atas perbuatannya. Dia harus menjelaskan pada orang tuaku. Semoga saja abah tidak terkejut lagi.


"Besok aku akan datang bersama bapak dan ibu, Dek. Sekali lagi aku minta maaf." Mas Han juga merasa bersalah padaku.


Semua orang kenapa, sih? Sudah aku katakan, aku baik-baik saja. Aku tidak mau dikasihani oleh mereka.


"Bunda Lia, saya minta nomornya ya? Siapa tahu kita bisa jadi sahabat," ucapku untuk mengakrabkan diri dengan istri mas Han.


Kami bertukar nomor, lalu kupeluk dia seperti adikku sendiri. "Semoga kebahagiaan dan keberkahan ada dalam rumah tangga kalian."


Mas Han mengamini do'aku. Aku tulus mendo'akan mereka.


"Aku tadi ketemu sama Tompi, Mas." Aku bicara jujur, mungkin ini adalah terakhir kali kami akan saling curhat.


"Oh, ya? Dimana? Kapan? Cie, yang ketemu mantan." Godanya padaku.


Aku menunjukkan foto yang dikirim kak Tisha. Mas Han berkomentar bahwa kami cocok untuk membangun keluarga.


"Nggak cocok untuk orang tua kami."


Gandi keluar dengan membawa tiga minuman. Kukenalkan dia pada keluarga baru mas Han.


"Tadi Gandi dengar ada yang mau bunuh diri siapa, Mah?" tanya Gandi. Sepertinya anakku menyindir Alya. Aku melarangnya bersikap seperti itu.


"Ajak adiknya beli jajan sana, Gan. Sepertinya Alya butuh coklat dan es krim biar stressnya sedikit mereda, Nang."


Gandi tidak mau, dia memilih pergi sendiri. Alya yang biasanya tidak pernah menunjukkan sikap baik, kini berubah menjadi manja.


"Mas, ikut!" Alya segera menyusul Gandi.


"Wid, besanan, yuk!" Kalimat Mas Han membuatku tertawa.


"Mau aku bantu dekat dengan Tompi lagi? Sepertinya hatimu memang untuknya, iya apa iya?" Goda Mas Han padaku.


Aku hanya tertawa, "Iya, sih. Dia punya tempat spesial jauh di lubuk hatiku."


"Oke, aku anggap kamu setuju aku bantu. Semoga kalian memang berjodoh, sekali lagi aku minta maaf, Dek. Aku hanya bisa membantu ini, untuk menebus rasa bersalahku."

__ADS_1


"Sudah dibilang nggak papa, Mbak Lia, suamimu memang!" Aku merasa tidak enak pada Lia, sedari tadi dia hanya diam.


Sesekali kugoda mereka. Agar obrolan kami menjadi lebih santai.


__ADS_2