After Reunion

After Reunion
Kejutan (Season 2)


__ADS_3

Pov : Banun


Aku dan mas Gusti sudah mendiskusikan resepsi pernikahan setelah dinyatakan sah oleh KUA. Awalnya memang kami berpikir akan diadakan acara itu. Tapi, menimgingat kebutuhan yang ada, akhirnya hanya akan ada selamatan mengundang tetangga kompleks dan sedulur dari pihakku serta mas Gusti.


Kebutuhan kami setelah menikah ternyata banyak juga ya. Cicilan rumah, kebutuhan dapur, kebersihan rumah, perawatan kendaraan. Daripada uangnya untuk resepsi, lebib baik kami pergunakan untuk keperluan tersebut. Meski orang tua kami juga sebenarnya ingin diadakan resepsi, tapi kami berdua menolaknya dan kekeh tidak akan ada resepsi.


Acara yang sederhana itu terdiri dari pengajian ibu-ibu dawis dan juga bapak-bapak kompleks di malam harinya. Beberapa ibu yang pernah kutemui saat belanja bertanya kenapa batal acara resepsinya? Belum sempat aku menjawab, sudah dijawab oleh ibu yang lain.


"Mungkin Mbak Banun sedang mbobot."


Aku hanya mengamininya. Belum, aku belum belah duren dengan suamiku. Sama-sama sibuk dalam pekerjaan dan jarang memiliki waktu berdua, ditambah aku baru saja selesai menstruasi membuat hal itu tertunda. Dan setelah acara ini, sudah ada jadwal yang menantiku.


Capacity building bersama GOW alias gabungan organisasi wanita dan juga dinas sosial di Magelang, sudah menantiku. Seharusnya yang berangkat adalah bu Widya, tapi beliau tidak bisa karena ada jadwal terapi saraf. Sehingga aku diberikan tugas menggantikannya. Tentunya aku sudah mengantongi izin dari suamiku tercinta. Kata mas Gusti, ikut saja. Sebagai ajang tambah ilmu dan relasi. Dia juga kasihan padaku karena kami belum sempat bulan madu.


Hari itupun tiba. Aku diantar olehnya di depan kantor dinas sosial sebagai titik keberangkatan. Ternyata begini rasanya berat meninggalkan suami. Rasanya, hatiku berat melangkahkan kaki naik ke bus.


"Have fun ya, Sayang. Kalau senggang, wa. Nanti Mas telepon." Mas Gusti meyakinkanku untuk segera naik ke bus.


"Mas yakin ditinggal sendiri nggak papa?"


Dia mengangguk. Akhirnya akupun berangkat ke Magelang. Aku adalah perempuan paling muda sendiri di dalam organisasi itu. Semuanya sudah sepuh. Bahkan ada yang usianya hampir mencapai enam puluh tahun. Hebat, mereka memang sosok wanita berdikari. Masih semangat ikut dalam organisasi meski sudah renta.


Meskipun beda generasi, tapi mereka dan aku bisa membaur. Sesekali aku ikut bernyanyi dengan lagu pilihan mereka yang sangat lawas bagiku. Teman satu kursiku adalah istri purnawirawan polisi. Dulunya, suaminya adalah seorang kapolsek di daerah kecamatan di Demak.


Nantinya kami juga satu kamar. Perjalanannya mengasyikkan. Kukira aku akan bosan. Ternyata, aku sangat menikmatinya, hingga tidak terasa kami telah tiba di hotel, Atria Magelang. Sambutan hangat dan ramah dari pihak hotel membuat kami terpukau.


Aku dan bu Tanti memutuskan untuk mandi dan salat maghrib terlebih dahulu. Kukabarkan pada mas Gusti bahwa aku sudah sampai di hotel. Sayangnya, dia belum membaca isi pesanku itu. Kucoba menelponnya, tidak diangkat. Kemana lelaki itu? Tidak tahu apa istrinya disini khawatir? Eh, sejak kapan aku menjadi terlalu khawatiran begini?


Me : Sayang, kemana? Kok telpon Adek nggak diangkat. Masih pengawalan kah? Kalau iya, setelah luang telpon balik ya?


Bu Tanti yang telah selesai bersiap, mengajakku untuk turun ke lobi. Kami belum menyantap makan malam, dan sudah ditelpon oleh panitia. Aku bergegas dan sejenak membiarkan pesanku yang belum terbalas.


Selesai makan malam, kami diarahkan oleh petugas hotel naik ke lantai dua. Menunggu acara capacity building dimulai. Ada pesan masuk. Ah, dari suamiku, senang sekali aku mendapatkan balasan darinya.

__ADS_1


Suamiku : Maaf Sayang, tadi ada kecelakaan lalu lintas di jalan lingkar. Trucknya pecah ban dan menabrak pembatas jalan. Sopirnya luka-luka, agar parah.


Aku agak sedih mendengar kabar itu.


Me : Innalillahi, semoga bapak supirnya baik-baik saja. Sayang sudah makan? Adek baru saja selesai makan.


Suamiku : Belum, nantilah. Mas masih di kantor, baru selesai maghriban. Besok mas masuk pagi, lalu minggu libur, tapi nggak ada kamu. Sepi deh ..., 😥.


Me : Jangan lupa makan, Mas. Mau Banun suapi dari sini? 😅


Suamiku : 😂 aya-aya wae kamu, Dek. Iya Sayang, nanti Mas makan. Besok acaramu kemana saja?


Me : Pagi checkout hotel. Lalu ke kampung batik Girimulyo, terus ke HeHa Sky View, setelahnya pulang Demak. Sayang mau dibelikan oleh-oleh apa?


Suamiku : Girimulyo? Giriloyo kali ah, 🤣


Me : Girimulyo, Mas. Coba sama-sama googling.


Aku mencoba mencari nama kampung batik itu. Eh, ternyata benar kata mas Gusti. Ya Allah malunya aku.


Suamiku : 🤣🤣🤣 tuh kan! Kamu belum pernah kesitu ya?


Me : Ih jahatnya diketawakan, 😢😭


Suamiku : 😂😂 ya kamu lucu kok.


Me : Acara Adek sudah mau dimulai ini, dilanjut nanti ya? Mau dibelikan oleh-oleh apa?


Suamiku : Iya, beli oleh-olehnya sama Mas saja. Fokus belajarnya ya, Sayang, besok ke kampung batik Girimulyo, cari dah di gmaps kalau ada. 😂😂😂. I love you 😘😘😘


Aku memanyunkan bibir dan menyimpan kembali ponselku. Acara telah dimulai, kepala dinas sosial membuka acara tersebut. Berharap kami dapat menyerap ilmu yang akan disampaikan oleh motivator kami.


Ternyata motivatornya seorang ustadz. Dia mengajarkan kami arti dari kehidupan. Dimana intinya, kita itu jangan hanya menuntut, tapi lebih banyak memberi. Setelah acara selesai kami kembali ke kamar masing-masing. Lalu, aku dan bu Tanti, bertukar cerita.

__ADS_1


"Tapi sekarang sudah cinta?" tanya Bu Tanti. Aku tersenyum dan mengangguk.


"Jangan sia-siakan lelaki tulus seperti itu, Mbak. Kamu beruntung memilikinya. Kalau suami Ibu, setelah kami menikah, dia berubah. Ibu tidak pernah mendapatkan nafkah lahir darinya. Jadi ya, Ibu usaha sendiri untuk keperluan Ibu. Dia hanya mau membiayai anaknya." Bu Tanti menyeka air matanya.


Ya Allah, miris sekali aku mendengarnya. Alhamdulillah, aku mendapatkan yang seperti mas Gusti, meski terkadang seperti anak kecil yang suka ngambek, tapi dia tidak pernah lalai untuk menunaikan kewajibannya. Aku turun dari ranjang dan memeluk teman sekamarku itu.


Aku menikmati perjalanan capacity building ini, hingga akhirnya saat akan keluar dari HeHa Sky View, aku melihatnya sudah berdiri di depan pintu bus. Merentangkan tangan sambil memanggilku.


"Banun ..., Sayang ...," panggilnya. Mataku berbinar senang mendapati kehadirannya.


Aku berlari memeluknya. Ah, kangen sekali rasanya berpisah dua hari darinya. Kejutannya benar-benar membuatku senang.


"Kok bisa disini?" tanyaku. Beberapa ibu yang sudah naik bus melihat kami. Kutarik tangannya dan memperkenalkannya pada mereka. Banyak yang menggodaku karena kami manten baru.


Bu Tanti meyuruhku untuk pulang bersama suamiku saja. Minta izin dengan panitia karena acara juga telah selesai. Aku bertanya padanya, tujuannya menjemputku apa?


"Mas mau mengajakmu ke Yogyakarta. Kita liburan sehari disana. Minggu malam kita pulang." Mas Gusti mengungkapkan alasannya padaku. Akhirnya aku meminta izin panitia untuk turun terlebih dahulu. Melanjutkan perjalanan bersama suamiku.


Entah dia sudah menyiapkan semuanya atau belum, tapi aku dibawanya menuju hotel dekat malioboro. Nanti malam dia akan mengajakku berkeliling.


"Mandi dulu, sana." Mas Gusti mencoba menarikku dari tempat tidur, tapi malah kutarik dia jatuh ke ranjang.


"Capek, ya?" tanyanya. Aku mengangguk dan membenamkan diriku dalam pelukannya. Parfum yang kurindukan.


"Besok kalau cicilan rumah sudah lunas, mau nyicil beli mobil tidak? Biar kalau pergi tidak kepanasan, kehujanan, dan bisa istirahat." Mas Gusti membelai rambutku.


"Terserah kamu saja, Mas. Adek manut."


Kami sama-sama terdiam. "Kangen, ya? Padahal cuma dua hari, lho," selorohnya.


"Dua hari tanpa kamu itu ada yang kurang. Kurang usilnya sama aku." Aku mendongak dan menatap matanya.


"Sekarang?" tanyanya. Seakan tahu apa yang ada dalam isi kepalanya, dan aku mengiyakan ucapannya. Caranya mencintaiku sungguh luar biasa. Tiba-tiba menikahiku, memanjakanku dan mengajakku bulan madu tanpa persiapan.

__ADS_1


Kini, dia telah memberikanku nafkah batin, yang selalu tertunda karena belum adanya kesempatan. Bayangkan sendiri saja ya. Penulisku takut kena tolak sistem lagi karena episode dua hari lalu.


__ADS_2