After Reunion

After Reunion
Mendamba


__ADS_3

Pov : Gusti


Badanku terasa sangat dingin hingga aku menggigil. Aku bersin tiada henti. Sampai hidungku terasa pengar dan sakit karena sedari tadi kupencet terus menerus. Aku memilih tidur di dalam kamarku. Ini hari minggu, jadi aku pulang ke rumah orang tuaku.


Ibuku membangunkanku karena badanku sangat panas. Memaksaku untuk minum obat. Kuminum pereda panas itu dengan terpaksa. Aku jika sedang sakit paling malas minum obat. Kubiarkan sampai hilang sendiri penyakit itu. Paling hanya minum madu jika sudah parah.


Niat hati ingin tidur, tapi sayangnya hidungku mampet. Membuatku susah untuk bernapas. Kupilih tidur dengan posisi setengah duduk. Tetap saja tidak bisa tidur. Aku membuka ponselku dan mencari dokter yang buka di hari minggu. Hmm, semuanya tutup. Aku tidak mau jika harus di rumah sakit. Aku takut jika harus dirawat inap.


Kemana aku harus memeriksakan diri di hari libur seperti ini? Kucoba bertanya di grup polisi, mereka menyarankan ke bidan. Entah kenapa pikiranku langsung teringat akan istri mantan komandanku, bu Widya. Baiklah aku akan coba berobat ke sana.


Bapak bersedia mengantarku kesana memakai mobil. Segera aku bersiap dan berangkat untuk berobat. Sesampainya aku disana, kulihat ada sebuah mobil yang sedang terparkir. Tapi itu bukan mobil komandan, oh mungkin saja milik pasien lainnya.


Aku mendaftar lebih dahulu. Kulihat dia, Banun maksudku, sedang berlari dari ruang belakang ke depan. Wajahnya sangat panik. Lalu dia kembali berlari entah membawa apa, aku tidak melihatnya dengan jelas. Aku mendengar suara tangisan bayi. Dia kembali berlari lagi, kini larinya lebih kencang, menuju tempat pendaftaran. Dia langsung mengambil gagang telepon. Aku sampai tidak fokus ditanya petugas pendaftararannya.


Selesai mendaftar, aku duduk menunggu untuk dilayani. Wajah wanita itu kelihatan sangat panik, dia menggigit bibir bawahnya. Saat aku sedang sakitpun, dia tetap bisa mencuri perhatianku. Sadar Gus, ia calon sepupumu.


Banun menutup telepon dengan keras dan berlari segera kembali ke kamar belakang. Terdengar teriakan dari kamar itu. Ada apa? Kenapa sampai panik seperti itu? Beberapa karyawan datang menolong. Ternyata ada yang pingsan, seorang lelaki. Mungkin itu suami dari pasien yang melahirkan.


"Ada yang bisa menyetir?" tanya Banun dari sebalik kerumunan orang itu. Tanganku reflek terangkat. Semua menoleh kepadaku. Bapak sampai menyenggolku karena aku ini sedang sakit, apa mungkin bisa aku menyetir dalam keadaan flu berat dan badan panas?


"Ah, maksud saya, bapak saya bisa." Aku menjawab asal untuk menutupi rasa maluku.


"Bisa minta tolong antarkan kami ke rumah sakit? Pasien kami butuh pertolongan segera," ucap Banun.

__ADS_1


Bapak mengangguk. Lalu wanita itu hilang lagi. Bapak segera memutar mobil. Banun, bu Widya, dan seorang pasien nampak hampir tidak sadarkan diri dan memakai oksigen keluar dari kamar belakang. Aku melihat tangan bu Widya yang satu ada di dalam jalan lahir. Tangan lainnya berada di atas perut. Banun tampak kerepotan mendorong brangkar dan oksigen. Kucoba membantunya.


"Biar aku yang mendorong." Kutawarkan bantuan padanya.


"Cepat!" Bu Widya setengah teriak karena panik.


Kami juga kerepotan saat membawa masuk pasien ke dalam mobil. Setelah dicoba dengan berbagai cara akhirnya semua dapat masuk.


"Nun, perdarahannya masih aktif. Lakukan kompresi bimanual eksterna!" Bu Widya meminta tolong pada Banun, sungguh aku dan bapak hanya tercengang saat tangan Banun seperti meninju perut pasien itu. Sumpah, dua bidan ini benar-benar keren. Apa yang sedang mereka perlihatkan padaku?


Aku akhirnya ikut menemani bapak merujuk pasien. Sesampainya di rumah sakit mereka sudah sibuk sendiri-sendiri. Panasku sepertinya naik lagi. Aku mencoba memejamkan mata. Lalu ada orang yang duduk di sebelahku.


Aku menoleh dan kubuka mataku. Banun sedang meluruskan punggung dan kakinya. Aku pura-pura terpejam ketika dia melihatku.


"Wajah kamu pucat sekali," katanya. Tiba-tiba saja tangannya memegang dahiku. Aduh, jantungku hampir saja mau copot.


"Bu Widya?" tanyaku.


"Gampang, ibu bisa pulang sendiri. Disana masih ada pasien yang butuh pertolongan, seperti dirimu."


Akhirnya kami pulang. Dia langsung melayani pasien sesuai urutan. Giliranku diperiksa olehnya. Degup jantungku memang tidak bisa dikondisikan.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil masih memakai stetoskop.

__ADS_1


Aku mengangguk. Banun mengatakan suhu tubuhku sudah mencapai 38 derajat. Ada peradangan dalam tenggorokanku.


"Sudah berapa hari?" tanyanya lagi.


"Mulai terasa dua hari lalu, bersin-bersin dan panas mulai semalam." Aku meminta tisu untuk mencegah ingusku keluar.


"Ini obatnya, ada antibiotik harus dihabiskan sehari tiga kali setelah makan, pilek panasnya sehari tiga kali setelah makan, dan antiradangnya sehari tiga kali setelah makan. Perbanyak minum air putih dan madu. Tidak ada alergi obat kan?" Banun menjelaskan obat yang harus kuminum.


Bukannya fokus pada apa yang dijelaskannya, aku malah terpaku pada cara bicaranya. Enak sekali didengar. Aku mengangguk dan berjanji akan kuminum sampai habis obat itu. Aku bertanya berapa biaya yang harus kubayar, tapi dia menolak.


"Kami terima kasih, kalau tidak ada Mas Gusti, mungkin nyawa pasien tadi tidak tertolong. Suami pasien saja sampai pingsan melihat darah yang keluar dari rahim istrinya seperti keran air yang jebol. Maaf ya merepotkan dan membuat mobil Mas Gusti terkena darah." Sekali lagi aku terpaku padanya. Dan, aku juga tersadar, yang aku kagumi itu sudah akan bertunangan dengan saudara sepupuku.


"Tidak apa-apa. Alhamdulillah kalau kami bisa membantu sesama. Ini benar saya tidak usah membayar? Nanti kalau kamu dimarahi oleh bu Widya bagaimana?" tanyaku.


"Tidak, tidak akan dimarahi. Sudah, uangnya untuk mencuci mobil saja. Sekali lagi, makasih ya?"


"Sama-sama," jawabku. "Boleh minta nomornya?" tanyaku lagi.


Dia bertanya alasanku meminta nomornya. Dengan bodohnya mulutku menjawab, jika nanti bu Widya meminta biaya agar bisa menghubungi nomorku. Kenapa tidak jujur kukatakan saja aku ingin dekat dengannya? Sebenarnya salah atau tidak sikapku ini? Mendambakan tambatan hati orang.


Banun menolak memberikan nomornya karena dia merasa alasanku tidak akan terjadi. Huft, gini ya rasanya kecewa? Kucoba untuk menerima keputusannya, untuk tidak memberikan nomor ponselnya.


Setelah selesai, aku pulang bersama bapak. Kuminum obat yang aku dapatkan, tanpa makan. Sungguh tenggorokanku sangat sakit untuk menelan. Sampai di rumah juga aku tidak makan. Hanya minum air putih dan madu sesuai perintah Banun.

__ADS_1


Aku mencoba untuk tidur, tapi pikiranku masih terpaut pada perempuan muda itu. Tindakannya yang cekatan, wajahnya yang panik, perhatiannya yang nyata, ah, semua itu mengganggu pikiranku.


"Banun ..., Banun ..., Banun ..., kenapa tidak bertemu denganku terlebih dahulu?" Dengan sadar kuucapkan kalimat setengah penyesalan itu.


__ADS_2