
Pov : Gandi
Aku sedang les di sebuah lembaga bimbingan. Kelemahanku di matematika, kenapa pelajaran itu susah sekali, sih? Tapi anehnya, om Tompi alias calon papahku bisa dengan mudah mengajariku, memberiku contoh agar aku pahan dengan materi itu.
Terkadang, aku malah lebih paham jika diterangkan olehnya daridapa guru les ku. Beda cerita kalau belajar sama mamah, bukannya ketemu jawaban yang tepat malah terkadang tidak ada jawabannya.
Aku baru mengenalnya, sekitar satu tahunan lebih. Tapi, rasa sayangku melebihi rasaku terhadap bapak kandungku sendiri. Awalnya aku memang tidak setuju mamah dengannya, tapi aku merasakan kasih sayang yang tulus darinya.
Setelah hubungannya dengan mamah berakhir, aku meminta nomornya dan diberikan. Bagiku, itu sebuah perhatian dan pemikiran, meskipun sedang berseteru dengan mamah, tapi perhatiannya padaku tetap ada. Mamah ya mamah, aku ya aku.
Saat aku memanggilnya papah, dia juga tidak marah. Malah membalasku memanggil anakku sayang. Jujur saja, setelah bapak berpisah dengan mamah, beliau kurang perhatian padaku. Om Tompi selalu menanyakan, bagaimana hariku? Pelajaranku? Ada kesulitan apa? Uang saku cukup tidak?
Itu yang selalu om Tompi tanyakan padaku. Sudah bisa kalian bayangkan bukan rasa sayangnya sebesar apa untukku? Kalau dibanding dengan bapak, ya tidak ada apa-apanya. Harus aku dulu yang bertanya dan memberikan perhatian barulah ada balasan.
Saat aku baru selesai salat maghrib, aku mendapat pesan dari om Tompi.
Papah : Nang, sudah pulang?
Me : Belum Pah, baru selesai salat.
Papah : Mampir ke rumah Papah ya? Nenek mau kenalan sama Gandi. Oh ya, sudah makan?
Me : Belum, Pah. Ini beneran Gandi mau dikenalkan nenek? Memang ada angin apa? Kok tiba-tiba ingin kenal Gandi, Pah.
Papah : Nanti Papah beritahu. Kesini dulu, ya?
Me : Nggih, Pah.
Papah : Oke makasih, Nak. Papah sayang kamu.
Aku segera keluar dari tempat les. Kuikuti Rania yang sudah mengayuh sepeda lebih dulu dariku.
"Cewek ..., baru pulang les ya? Eh, kok sendirian? Jomblo, ya?" Aku sengaja menggodanya.
Dia kaget dan menoleh padaku. "Hish, aku kira siapa! Iya, jomblo! Habisnya punya sahabat juga nggak peka, sih! Eh, kok kamu lewat sini, sih?"
Aku langsung kicep kalau Rania berkata seperti itu. Bukannya aku tidak peka, tapi saat ini aku memang mau fokus pada sekolah.
"Mau ke rumah nenekmu, mau ikut? Temenin, dong!"
"Boleh, apa sih yang nggak buat kamu?" katanya.
__ADS_1
Duh Ran, jangan begini. Aku belum bisa membalas perasaanmu. Aku malah takut kalau sampai menyakitimu.
"Lebay, deh." Aku tidak tahu harus menjawab ucapan Rania.
Kami sudah sampai di rumah om Tompi. Senyuman dan rentangan tangan dari lelaki itu sudah menyambutku. Kubalas dengan senyuman dan menyalami tangannya setelah pelukan mendarat di tubuhku.
Om Tompi dan Rania langsung mengantarkanku di kamar nenek. Jujur saja aku gugup. Tanganku dingin dan sedikit gemetaran. Om Tompi merangkul pundakku.
"Ada Papah," ungkapnya seakan tahu yang kurasakan.
"Nenek ...," sapa Rania pada bu Wanda.
Sahabatku itu menyalaminya. Kuikuti apa yang Rania lakukan. Kutanyakan kabar bu Wanda. Aku masih melihat ada perban di bibirnya. Ya Allah, kasihan sekali beliau.
"Ibu, eh salah, Mbah, duh apa ya?" Aku gugup sampai bingung memanggil bu Wanda dengan sebutan apa.
"Panggil nenek, Gan. Kamu sudah makan?" tanya Bu Wanda padaku.
Hah? Apa ini? Bukannya mamah kalau cerita itu katanya bu Wanda sangat galak? Cerewet? Kenapa ini lembut sekali?
Apa ada bu Wanda yang lain selain yang ada di depanku ini? Aku sangat kaget, dan ekspresi wajahku tertangkap dengan jelas olehnya.
"Gandi, Gandi sayang sama om Tompi?" Bu Wanda menggenggam tanganku. Matanya menatapku dalam.
Aku mengangguk, "Gandi sayang sama papah, eh maksudnya om Tompi. Memang kenapa, Nek? Nggak boleh, ya?"
Bu Wanda tersenyum dan membelai pipiku. "Boleh, tolong terima anak Nenek dengan tulus ya, Gandi? Bisa?"
Aku menoleh ke kanan, om Tompi tersenyum padaku. Beliau menjelaskan bahwa bu Wanda telah memberikan restunya untuk mamah dan om Tompi. Ah, benarkah? Ini artinya, mamah dan om Tompi bisa bersatu? Kenapa mamah belum cerita apapun padaku?
Alhamdulillah, aku senang mendengarnya. Kusalami bu Wanda berulang kali dan mengucapkan kalimat terima kasih. Tinggal satu lagi halangannya, akung. Aku harus membantu mamah dan om Tompi. Mungkin saja hati akung bisa lebih lembut jika aku yang meminta.
Setelah makan malam bersama, aku meminta om Tompi mengantarku. Bukan ke rumah mamah, melainkan ke rumah akung.
"Pah, Gandi capek pakai sepeda. Boleh minta tolong dianterin?" tanyaku.
"Tentu saja jagoan Papah. Ayo, kita beli martabak dulu buat mamah, ya?"
Aku mengangguk. "Boleh, sama akung juga ya, Pah? Nanti anterin ke rumah akung dulu."
Aku melihat kebingungan di wajah om Tompi. Aku hanya mengatakan semua akan baik-baik saja. Aku hanya akan mengantarkan martabak. Sudah itu saja, untuk malam ini, tidak tahu kalau besok.
__ADS_1
Om Tompi menepati janjinya. Akung dan uti sedang bersantai di luar. Aku dan om Tompi turun dari mobil, kami menyalami akung dan uti.
"Abah dan Ibu sehat?" tanya Om Tompi pada akung dan uti.
"Sehat, alhamdulillah. Kok Gandi bisa sama Nak Tompi?" tanya Uti.
"Gandi yang minta diantar pulang sama papah, Uti. Akung, tidak marah kan kalau Gandi dekat dengan papah?" Aku sengaja memanggil om Tompi dengan sebutan papah. Aku ingin, akung dan uti tahu seberapa besar rasa sayang dalam diri kami. Aku juga ingin menunjukkan kedekatan kami pada mereka.
Akung yang bicaranya terbata-bata hanya bisa menangis. Om Tompi berjongkok di depan akung lalu mencium lutut akung.
"Maafkan Tompi ya, Bah? Karena Tompi Abah jadi sakit seperti ini. Maaf, Bah."
Uti segera menghapus air matanya, "Abah tetap tidak bisa merestuimu, Nak."
Aku sedih mendengar hal itu. Kutanyakan pada mereka kenapa om Tompi tidak bisa menjadi papahku? Padahal aku sudah sayang sekali dengannya. Aku tidak mau jika harus ada orang baru lagi yang dekat dengan mamah.
Aku mengutarakan bentuk rasa protesku. Agar akung dan uti bisa menerima om Tompi. Apa sih salahnya om Tompi? Sampai akung tetap tidak dapat memberikan restunya untuk mamah dan om Tompi?
"Akung punya alasan, Gan." Uti masih menyeka air matanya.
"Apa karena saya seorang polisi, Bu?" tanya Om Tompi.
Uti mengangguk. Oh, ternyata memang benar kabar yang aku dengar. Akung tetap tidak akan mau punya menantu seorang polisi.
"Tompi akan mundur dari pekerjaan Tompi saat ini. Apakah Tompi akan direstui jika hal itu terjadi?" tanya Om Tompi sambil menatap mata akung dan uti.
Akung dan uti sama-sama berpandangan. Aku harap mereka berubah pikiran.
"Akung, Uti, kalau papah sudah tidak menjadi polisi lagi, Akung dan Uti mau memberikan restu, kan?" Aku mencoba mendesak mereka.
Om Tompi masih menatap orang tua mamah dengan penuh pengharapan. Suasana menjadi hening, lalu akung mengangguk.
Om Tompi sangat senang hingga memelukku dengan erat. Om Tompi kembali menangis haru di pangkuan akung. Tangan Akung mengusap punggungnya. Om Tompi menyalami berulang kali tangan akung.
"Jaga Widya dan Gandi. Abah titipkan mereka sama kamu," kata Akung terbata-bata. Om Tompi mengangguk.
Ya Allah, terima kasih atas jawaban dari do'a-do'a Gandi selama ini. Meskipun banyak rintangan, selangkah lagi, mamah dan papah bisa bersatu. Gandi sudah bahagia dengan hal ini. Gandi tidak ingin hal lain lagi. Terima kasih Ya Allah.
Alhamdulillah, Allah menjawab do'aku. Setiap malam aku meminta agar mamah dipertemukan dengan lelaki yang bisa menjaga kami. Dan itu semua terjawab dengan hadirnya om Tompi di keluarga kami.
Pah, selamat datang di keluarga kecil kita. Gandi, papah, mamah, dan mungkin akan ada adik kecil untuk Gandi.
__ADS_1