
Pov : Widya
Mas Han menepati janjinya datang ke rumah abah dan ibu. Dia membawa semua keluarganya. Ku hidangkan semua makanan yang kami punya. Kujamu mereka sebaik mungkin, seperti perintah Rasul pada kita.
Sebelum mereka datang, aku sudah menjelaskan pada keluargaku terlebih dahulu. Aku memberitahu mereka dengan sangat hati-hati, agar kejadian yang lalu tidak terulang kembali. Abah hanya bisa diam, tapi satu yang pasti, kecewa.
Mau bagaimana lagi? Toh nyatanya kami tidak berjodoh. Jika tetap dipaksakan, korbannya adalah Alya.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucapan salam pembuka dari bapak Mas Han. Pertanda mereka akan memulai acara itu.
Jawaban salam terdengar dari semua orang. Bapak mas Han menjelaskan maksud dan tujuan mereka sekeluarga datang ke rumah kami.
"Kami selaku orang tua Johanto meminta maaf atas hal ini. Sungguh, ini di luar prediksi kami."
Ibu mewakili abah mengatakan tidak apa-apa. Sudah mengikhlaskan jalan yang telah terjadi. Mas Han juga menyampaikan maafnya secara langsung, sampai menangis di pangkuan abah.
Aku malah tidak enak hati pada Lia. Aku takut wanita itu akan berpikir bahwa mas Han sangat mencintaiku. Seharusnya mas Han tidak perlu melakukan hal itu.
"Mbak Lia, saya minta maaf, ya?"
Lia menggeleng, "Justru saya yang harusnya minta maaf, Mbak Wid. Saya yang masuk dan mengacaukan semuanya. Maaf, nggih?"
Aku tersenyum padanya. Sebenarnya dalam hal ini tidak ada yang salah. Begitulah takdir bekerja. Kuminta lelaki itu menghentikan tangisannya.
"Masak pak loreng nangis?" candaku padanya. "Ayo monggo dimakan, ini yang masak bukan Widya, lhoh."
"Lhah, aku kira kamu, Dek!"
Semua tertawa. Nah ini lho suasana yang aku inginkan. Semua bahagia, tidak ada kecanggungan, tidak ada kesedihan maupun penyesalan. Mereka menikmati makanan itu. Kulihat Alya dan Gandi sibuk bercanda di luar. Sejak kapan mereka dekat? Entahlah, biarkan saja.
Selesai makan, Lia membantuku mencuci piring dan membereskan semuanya. Dia menceritakan perkenalannya dengan Han. Wanita ini adalah guru les privat Alya. Usianya terpaut sepuluh tahun dengan mas Han.
"Dulu Alya itu sering bercanda akan menjodohkan ayahnya dengan saya. Saya hanya menganggapnya lelucon, ternyata anak itu benar-benar menjodohkan kami. Waktu itu, kalau tidak salah mas Han dan keluarga datang untuk bertemu dengan Mbak Wid." Lia memberikan gelas yang telah dicuci padaku untuk dibilas.
"Mulai dari situ Alya memberontak. Saya sempat berhenti menjadi guru privatnya. Tapi, saat nilainya keluar, anjlok semua, Mbak. Saya tidak tega, mana waktu itu ujian akhir di depan mata."
Aku tersenyum, "Nggak papa, Mbak. Justru Mbak Lia menyelamatkan saya. Jujur saja, sampai saat ini saya hanya menganggap mas Han teman. Tidak bisa lebih."
"Ya tetap saja, Mbak. Ada rasa bersalah, coba dulu aku menolaknya, pasti tidak akan seperti ini." Dia menghela napas.
__ADS_1
"Puncak pemberontakan Alya adalah itu tadi, dia mencoba gantung diri di dalam kamar. Saat ayahnya menemukannya, anak itu sudah kesulitan bernapas."
Aku membesarkan hatinya. Dia tidak seharusnya bicara begitu karena sudah menjadi istri mas Han. Lelaki itu mengagetkan kami.
"Bun, tolong buatkan Ayah kopi." Wah, lelaki itu menunjukkan padaku panggilan sayangnya pada Lia.
"Tuh, dengar. Panggilannya saja begitu mesra. Tenang saja, mas Han pasti akan mencintaimu, Mbak."
Mas Han terbatuk segera Lia mencuci tangannya dan menuangkan air untuknya. Sumpah, mereka tidak memikirkan jandawati yang ada di dekat mereka. Aku protes, tidak terima mereka pamer kemesraan di depanku.
"Tak panggilkan Tompi mau?"
"Hush! Nanti kalau abah dengar, Mas!"
Mas Han menutup mulutnya. Meminta maaf padaku. Selesai mencuci piring kami kembali bergabung bersama para orang tua kami. Mereka mendo'akan agar keadaan abah bisa lekas membaik. Setelahnya pamit.
Abah menanyakan bagaimana perasaanku. Aku mengatakan bahwa baik-baik saja. Ibu bertanya lalu akan seperti apa masa depanku?
"Widya ingin fokus mengurus Ibu, abah, Gandi dan tempat praktik saja, Bu."
"Ya sudah, terserah kamu saja, Nduk." Ibu pasrah dengan pilihan hidupku.
Sembilan bulan setelah kejadian malam itu, aku hanya bertukar kabar dengan Lia lewat pesan. Sengaja aku memblokir kembali nomor mas Han. Hanya untuk berjaga-jaga, melindungi diri sendiri dari gosip dan dugaan yang tidak perlu.
Sesekali aku berkumpul dengan sahabat lamaku. Menceritakan tentang masing-masing kehidupan kami. Waktu itu aku sedang berada di rumah Khusnul. Tiba-tiba saja suaminya memanggilku.
Katanya ingin mengenalkanku dengan seseorang. Aku yang dipaksa, terpaksa menuruti keinginan suami Khusnul. Betapa kagetnya aku, ternyata yang hendak dikenalkan padaku adalah Tompi. Dunia sempit sekali ya? Apa belum cukup setiap malam dia selalu mengusikku lewat mimpi?
"Kenalan, Wid," perintah Mas Nug.
"Kami sudah kenal, Mas. Eh, salah ding. Widya sudah kenal dengannya. Tapi nggak tahu kalau dia kenal Widya atau tidak." Aku bersikap agak sombong padanya.
Aku tahu dia masih marah padaku. Jika kupaksakan lembut, dia akan semakin marah. Aku kembali ke dapur dan membantu Khusnul menggoreng tahu bakso.
"Mas Nug kenal Tompi dimana, Nul?" tanyaku pada sahabatku itu.
"Dimana ya, Wid? Aku lupa. Tanya sendiri saja. Orangnya baik lho." Khusnul mencoba promosi padaku.
"Hubungan kami sudah lama berakhir."
__ADS_1
Khusnul terkejut dengan ucapanku. Aku menceritakan padanya kisah kami berdua. Sahabatku itu menyayangkan kandasnya hubungan kami.
"Lalu sekarang? Kamu masih cinta sama dia?" tanya Khusnul.
"Nggak tahu, satu hal yang pasti Nul, dia itu punya tahta tersendiri di hatiku. Posisinya sulit digantikan oleh lelaki manapun."
Aku mendengar ada gemercik air. Apakah ada orang di kamar mandi? Saat aku mencoba mencari tahu ternyata Tompi yang keluar.
"Kesini sama siapa?" tanyanya padaku. Hatiku kembali berdesir mendapatkan pertanyaan itu. Sudah lama kami tidak bersua. Dan kini dia menyapaku terlebih dulu.
"Sendiri, kamu minta sama mas Nug untuk mencarikan calon istri, ya?"
Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah melenggang pergi. Kesal sekali hatiku. Ah sudahlah, itu tidak penting bagiku. Kupilih menyajikan tahu bakso itu ke depan teras dan bergabung dengan yang lain.
Kami duduk berdampingan. Ingin rasanya aku pindah, agar tidak mencium aroma wangi parfum kesukaanku lagi. Mas Nug menginterogasi kami. Mulut Khusnul memang tidak ada filternya. Bisa-bisanya dia mengatakan hal yang kukatakan di dapur tadi. Dasar panci ompreng!
Dia melirikku. Aku tidak bisa berkutik lagi. Semua mata memandangku penuh intimidasi.
"Iya deh iya, dia paling spesial! Puas?"
"Percuma spesial, kalau nyatanya tidak bisa bersanding. Hanya bisa menemani tapi tidak bisa memiliki. Belum sempat dimiliki, tapi sudah harus mengikhlaskan," selorohnya begitu menusuk hatiku.
Kupilih pamit dari sana. Sepertinya kami benar-benar akan menjadi musuh. Aku langsung tancap gas pulang ke rumah. Kenapa harus bertemu dengannya lagi? Kesal sekali aku sama ucapannya.
Harusnya dia mengerti apa alasan kami tidak dapat bersatu. Tapi, dia masih saja tidak terima akan alasan itu. Eh, kenapa motorku bergoyang-goyang? Aku menepi, kulihat ban belakangku kempes.
"Aduh, dimana tukang tambal ban ya?" Aku celingukan sendiri karena tidak ada orang yang bisa aku tanya. Sebuah motor berhenti di samping motorku. Tompi lagi.
"Mau dibantu nggak?" tanyanya.
"Nggak!" Sungguh angkuhnya aku.
"Ya sudah, selamat mencari tukang tambal. Yang aku tahu sih, masih empat ratus meter di depan sana. Naik jembatan lagi."
Dia meninggalkanku seorang diri. Membuatku semakin kesal. Saat aku mendorong, motor itu berbalik. Dia memarkirkan motornya dan menggantikanku mendorong motor.
"Makasih, Mas."
"Hmm," jawabnya.
__ADS_1
Ya Allah, pelit sekali dia menjawab rasa terima kasihku. Sabar, kali ini aku memang butuh bantuannya.