After Reunion

After Reunion
Lebih Akrab (Season 2)


__ADS_3

Pov : Banun


Aku dan mas Gusti mengurus administrasi pernikahan kami guna pengajuan nikah kantor. Sampai hari ini, aku belum bisa menggambarkan seberapa besar cintanya padaku. Sudah jauh langkahnya untuk serius terhadapku. Menikahiku, menyetujui saratku saat di dalam kamar, dan kini, mengajakku mengurus administrasi pernikahan.


Jika dia tidak serius, bisa saja mas Gusti tidak mengurus hal ini. Menjatuhkan talak padaku dan meninggalkanku. Tapi, semua hal itu tidak dilakukannya. Ia memang lelaki luar biasa. Pria yang bertanggung jawab atas apa yang telah dipilihnya. Sungguh, aku mengaguminya.


Pak modin membantu kami, ikut bersama kami ke KUA untuk mempercepat mendapatkan surat resmi pernikahan. Setelah selesai mas Gusti mengajakku menuju Semarang karena kami harus melakukan tes kesehatan.


"Nanti yang diperiksa apa saja, Mas?" tanyaku saat di atas motor. Dia menjawab semuanya.


"Buka maps coba, Dek. Arah Semarang macetnya parah atau tidak," pintanya dari balik helm, membuat tubuhku harus mendekat rapat dengannya.


Aku melaksanakan perintahnya. Memintamya untuk lewat jalan kampung saja karena macetnya sudah sampai Sayung. Kupijit pundaknya agar dia tidak mengantuk atau letih. Mas Gusti malah tertawa.


"Mbok ya kalau di rumah, pas pulang kerja, Mas dipijitin begitu."


"Ya kamu nggak minta ok, ya nggak tak pijitin to." Aku masih memijat tengkuknya. Dia tidak menjawab alasanku, apa dia marah?


"Kok diam, Mas?" tanyaku.


"Jangan pijit disitu, Yang. Merinding semua bulu kudukku. Ini masalahnya di jalan, bahaya nanti kalau adekku bangun."


Aku memukul punggungnya berkali-kali. Heran aku akan ucapannya, aku hanya berniat memijit, lho. Tidak ada niat apapun. Apa iya dia bisa terangsang?


"Kamu, ih! Ngeres mulu pikirannya. Ya sudah, aku tidak memijitmu lagi." Aku menghentikan pijatan itu tepat di lampu merah majapahit.


Mas Gusti menoleh padaku lalu menyatukan kedua tanganku ke pinggangnya. Kami melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi akan tiba di tujuan. Kami turun dari motor dan bersiap sebentar. Lalu menuju bagian pendaftaran.


Tanganku digamit olehnya. Kubiarkan, aku harus mengakrabkan diri dengannya. Dia tahu banyak tentangku, tapi berbeda denganku. Bahkan sampai hari ini, aku tidak tahu nama panjangnya. Kami dimintai kartu tanda pengenal di bagian pendaftaran. Dari sanalah aku tahu namanya Gusti Ekawira. Usianya terpaut dua tahun denganku. Lahir di bulan Agustus, tanggal tujuh belas.


"Kamu lahir bertepatan dengan kemerdekaan, Mas?" tanyaku sambil menghapalkan isi identitasnya. Mas Gusti mengangguk.


"Kenapa namanya nggak merdeka aja?" tanyaku penasaran. Dia hanya menjawab lebih keren Gusti dari pada merdeka.


"Ceileh, keren katanya." Aku berkomentar atas jawabannya.


"Tapi memang keren, kan?" tanyanya padaku. "Coba dilihat dengan seksama, ganteng nggak suamimu ini? Keren nggak?"


Aku memperhatikannya, baru hari ini aku benar-benar memperhatikannya, dia memiliki alis yang tebal dan hidung yang mancung. Kulitnya sawo matang, dan potongan rambutnya cepak. Ya, aku mengakuinya, bahwa dia keren dan tampan.


"Ya ..., standar lah, yang penting bisa digandeng ke kondangan."


Aku mencoba bercanda dengannya, kurahap dia tertawa. Dan ya, ia menertawakan jawabanku. Huft, aku tadi sempat takut mas Gusti marah, ternyata tidak.


Aku menampilkan senyum ceriaku. Dia malah mencubit pipiku. Katanya gemas melihatku yang masih seperti bocil baginya. Apa iya aku semenggemaskan itu baginya?


"Ih, sakit ...." Aku memegang tangannya dan kugigit sebagai pembalasan.

__ADS_1


"Waduh, Dek! Taringmu copot satu, tuh!"


"Ha?" Aku terkejut dan segera mengeluarkan cermin. Kulihat gigiku masih utuh. Hish! Suka sekali dia menggodaku.


Kami menghentikan candaan kami karena harus menuju ruang pemeriksaan terpisah. Mas Gusti akan menungguku di depan lobi jika dia dahulu yang selesai. Aku mengangguk, cukup gugup untuk menjalani pemeriksaan ini seorang diri.


Aku diharuskan melepas semua bajuku dan diperiksa oleh dokter wanita yang memang ditugaskan untuk menilai kesehatan fisik. Aku sudah selesai dan menunggu surat itu selesai ditulis. Keterangannya adalah aku sehat secara fisik. Setelahnya, aku diarahkan ke bagian laboratorium untuk menjalani tes urin.


Hasilpun keluar, aku dinyatakan negatif hamil. Iyalah, aku masih perawan. Setelah selesai, aku sudah ditunggu oleh mas Gusti. Dia meminta hasil pemeriksaanku.


"Setelah ini kemana?" tanyaku.


"Salat dulu, cari makan, ke toko perhiasan sebentar. Mas dari kemarin bingung sama ukuran jarimu."


Aku mengernyitkan dahi, bahkan dia sampai memikirkanku mendetail seperti itu. Aku merasa sangat kagum padanya. Sesuai rencananya, kuikuti saja kemana langkah lelaki itu pergi.


Saat di toko mas, dia mempersilahkanku memilih model yang aku suka. Setelah melihat sebentar, kuputuskan memilih model cincin dengan permata kecil di bagian tengahnya, dan polosan untuk milik mas Gusti.


Dia juga memintaku untuk memilih gelang dan cincin emas satu lagi. Aku bertanya untuk apa?


"Kemarin waktu akad, ibu memberikan gelang dan cincinnya sebagai imbuhan mahar. Sekarang pilihlah yang kamu suka, Dek. Nanti milik ibu kita kembalikan."


Aku tidak setuju dengan ucapannya. Lebih baik kami membelikan yang baru bagi ibu, dan yang sudah menjadi maharku akan aku pakai nantinya. Ya Allah, satu lagi kebaikan darinya yang Engkau tampakkan padaku. Ibunya belum mengenalku sama sekali, tapi dengan yakinnya merestui anak lelakinya meminangku.


"Aku pilih ini, cocok untuk ibu kayaknya, Mas."


Dia setuju dengan pilihanku. Mas Gusti membayar dengan kartu debitnya. Lalu mengambil cincin yang telah aku pilih. Memasangkannya di jariku. Ia menyodorkan jarinya untuk dipasangkan cincin.


"Foto dulu." Dia menarik tanganku.


Selesai berbelanja, kami pulang. Ternyata rumahnya masih ikut kelurahan Mangunjiwan. Dekat dengan kantornya. Mas Gusti membuka pintu dan masuk. Meninggalkanku sendirian di depan pintu.


"Assalamu'alaikum, Pak. Istrinya ketinggalan di depan pintu, lho." Aku sengaja mengetuk pintu rumahnya agar dia sadar sembari cengengesan.


"Ha-ha-ha, ngapain disitu? Masuklah! Masa nyonya rumah kok dipersilahkan masuk. Kan ya aneh, to?"


Aku memanyunkan bibirku. Aku melangkah masuk. Melihat setiap sudut ruangan yang tertata rapi dan bersih. Apa dia memiliki asisten untuk merapikan rumahnya?


"Mandi dulu sana, setelah ini ke tempat foto, pakai baju putih ya, Dek. Mumpung libur sekalian diselesaikan. Kamu pasti capek, ya?" tanyanya.


"Nggak, ke tempat bapak ibu sekalian, Mas. Kamu belum mengenalkanku pada mereka." Aku segera mengeluarkan baju di dalam ransel. Sayangnya, aku tidak membawa kemeja putih. Bagaimana ini? Masa harus pulang dulu ke rumahku untuk mengambil kemeja putih? Tidak efisien waktu dong!


Aku meminjam kemejanya. Dia malah bilang, bawa kemeja satu saja. Nanti fotonya gantian. Ya sudahlah, terserah mas Gusti saja. Kami sudah berada di studio foto. Pertama lelaki itu dulu yang melakukan sesi foto. Selanjutnya aku.


"Ih, kebesaran, Mas."


Dia hanya tertawa kecil melihatku. Ia masuk ke ruang ganti dan membantuku menata kemeja itu. Ya Allah, bisa-bisanya pria itu kepikiran memakaikan klip dokumen berwarna hitam untuk menjepit baju.

__ADS_1


Aku hanya bisa pasrah dan menahan tawa geli. Selesai foto, aku bergegas ganti baju dan duduk di sampingnya, menunggu foto kami jadi.


"Mas, ibu sama bapak dibelikan apa ini?" Aku melontarkan pertanyaan itu karena tidak tahu kesukaan mertuaku. Kami berhenti di pinggir jalan depan pasar.


"Ibu dan bapak suka singkong keju disini. Katanya enak sekali. Belikan tiga porsi. Satu mentah aja, yang dua digoreng."


Aku menuruti perintahnya. Wangi harum dari singkongnya sungguh menggoda. Pantas saja disini ramai. Aku tahu ada yang jualan singkong disini, tapi aku belum pernah mencobanya.


Aku disambut istimewa oleh mertuaku. Aku yang awalnya takut, malah menjadi terharu dengan sikap mereka. Bapak sampai pakai sepeda membelikan kami nasi goreng. Ibu sampai membuat gorengan karena kedatangan kami.


Ya Allah, apa lagi sekarang? Tidak cukupkah Engkau menghukumku? Aku semakin bersalah waktu kemarin menolak anaknya, sampai membuat mas Gusti tidur di lantai.


"Bu, sini Banun saja yang menggoreng. Ibu duduk sini, nikmati singkong kesukaan Ibu, dan ini, Banun minta tolong coba pakai gelang dan cincin ini ya, Bu?"


Aku meminta mertuaku duduk. Astaghfirullah, aku belum tahu nama mereka. Aku membisikkan sesuatu ke telinga mas Gusti yang baru saja datang menghampiriku.


"Nama ibu siapa, Mas?"


"Nama ibu? Ruqoyah," jawabnya dengan keras. Membuat ibu tertawa. Aku memukulnya dengan keras di bagian lengan. Suka sekali dia menjahiliku.


Bapak datang membawa nasi goreng itu, lalu dengan lantangnya dia juga menyebutkan nama bapak padahal aku belum bertanya. Dasar mas Gusti! Awas saja kamu!


"Bapak namanya Zakaria, Nduk. Nama paling keren diantara saudara Bapak."


Lhah, ternyata mas Gusti kepedean begitu nurun dari bapaknya.


"Besok lagi kalau mau kesini bilang, to. Jadi, Ibu bisa masak yang banyak." Ibu protes pada anaknya.


"Mantumu yang memaksa ingin kesini. Ingin kenalan sama mertuanya, takut nggak dianggap menantu."


Hish, mulut lelaki itu ingin aku sumpal dengan lap yang aku gunakan untuk memegangi wajan ini. Bapak memintaku tidak usah menggoreng lagi, sudah cukup katanya. Kami makan nasi goreng bersama-sama. Waduh, banyak sekali porsinya.


Aku menutup kembali bungkusan nasiku dan memilih makan berdua dengan mas Gusti. Aku tidak akan bisa menghabiskannya jika banyak begitu.


"Ak, Yang." Mas Gusti minta disuapi. Aku hendak memintanya makan sendiri, tapi malu ada mertuaku. Nanti dikira kami tidak akur. Akhirnya aku menyuapkannya.


Kulihat bapak menyeka air matanya. Apa yang telah membuatnya menangis? Maaf jika Banun membuat hati bapak dan ibu terluka. Kami pamit pulang, ibu memintaku membawa dua kresek hitam besar yang berisi jajanan.


"Yang satu buat kalian, yang satu berikan pada bapak dan ibu, Nduk. Bilang sama mereka, maaf kami belum sempat kesana untuk menengokmu." Ibu memberikan kresek hitam itu padaku.


Aku mengangguk, mengucapkan terima kasih dan menyalami mertuaku. Lagi dan lagi, aku diterima dengan penuh kehangatan oleh keluarga mas Gusti. Sesampainya di rumah, aku segera membersihkan wajah dan memakai krim malam. Dia, Mas Gusti, melihatku tanpa berkedip.


"Kenapa? Baru tahu kalau aku cantik?" Mulutku ini kenapa los dol sekali? Salah aku menggodanya.


"Cantik, sangat cantik. Hatinya, wajahnya, dan ..., tubuhnya."


Aku mulai susah menelan ludah ketika dia mengatakan hal itu. Ia memintaku mendekat lalu kami duduk berdua di ranjang. Mas Gusti ingin menanyakan semua hal tentangku.

__ADS_1


"Aku ingin kita lebih akrab. Aku akan menceritakan semua tentang diriku, dan aku juga ingin kamu menceritakan tentang dirimu," ucap Mas Gusti padaku.


Baiklah, aku akan mencoba akrab dengannya, suamiku.


__ADS_2