After Reunion

After Reunion
Semua adalah Nikmat


__ADS_3

Pov : Widya


Aku disibukkan oleh hal baru. Mengurus bayi perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan mas Tompi. Hidungnya, bentuk wajahnya, telinganya, dagunya, matanya semua mirip suamiku. Kemana bagian diriku? Hmm, begitulah. Aku yang mengandungnya sembilan bulan, miripnya dengan papahnya, ya sudahlah. Terima saja.


Kupasrahkan semua urusan pada Banun dan Nusa. Aku masih fokus untuk mengurus Ayunda. Sesekali jika Nusa berhalangan, aku ikut turun tangan membantu persalinan. Ibu, abah, dan mamah setiap tiga hari menjenguk Ayunda. Mengajaknya bermain dan bercerita. Terkadang, mamah memintaku tidur di rumahnya karena beliau ingin tidur dengan Ayunda.


Namun, aku masih memiliki keluhan setelah melahirkan. Terkadang aku minum paracetamol untuk meringankan nyeri itu. Kali ini lebih sakit dari biasanya. Posisiku sedang di kamar mandi mencuci baju ayunda yang terkena ompol, nyeri pinggangku kumat. Aku tidak kuat berdiri, kakiku lemas tidak dapat digerakkan, hingga teriak minta tolong Gandi. Waktu itu mas Tompi belum pulang dari kantornya. Anakku sampai panik.


"Mamah, Mamah kenapa?" Gandi mencoba mengangkat tubuhku.


"Pinggang Mamah sakit lagi, Gan. Ya Allah, Astaghfirullah ...," rintihku karena kesakitan, hingga air mata keluar dari pelupuk mataku.


"Ke rumah sakit, ya? Gandi telpon papah dulu."


Disaat yang sedang genting, Ayunda ikut menangis. Aku mencoba bergerak, tapi pinggangku nyeri sekali. Gandi yang selesai menelepon papahnya memberikan Ayunda padaku. Anakku perlu ASI. Aku menahan rasa nyeri sebisaku. Untuk duduk saja, aku tidak mampu.


Hampir empat puluh menit nyeri itu tak kunjung hilang. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku meminta Gandi menelepon ambulance karena mas Tompi tidak kunjung datang. Mungkin dia sedang terjebak macet, atau memang urusannya belum selesai.


Akhirnya aku dibawa oleh mobil ambulance rumah sakit. Sendirian karena Gandi harus menjaga Ayunda. Kuberikan identitasku pada perawat yang berjaga dan kuminta mereka menghubungi Nusa.


"Astaghfirullah, kamu kenapa, Wid?" tanya Nusa terkejut melihat keberadaanku disana.


"Nggak tahu Sa, tolong daftarkan aku. Mas Tompi sedang perjalanan, Gandi sedang menjaga Ayunda. Pinggangku nyeri sekali. Sakit banget, Sa," tuturku pada Nusa.


"Coba rontgen dulu ya? Aku kok curiga kamu HNP lumbal." Nusa mengusap pinggangku karena sedari tadi aku gusar sembari memeganginya.


Aku dibawa ke ruang rontgen, lalu menunggu hasil keluar. Mas Tompi datang dengan wajah panik. Aku menangis karena nyerinya timbul lagi. Nusa memberitahuku bahwa aku memang mengalami HNP atau lebih familiar disebut dengan saraf kejepit.


Hal ini sering menyerang kami, para bidan. Terkadang posisi badan kami saat menolong persalinan kurang betul, mengakibatkan saraf kami bisa terjepit. Aku ingat betul sebelum menikah dengan mas Tompi, hampir setiap hari ada partus atau lahiran. Aku sendiri yang harus menolongnya. Mungkin dari sanalah penyakit saraf kejepit ini menyerangku.

__ADS_1


"Dari dokter saraf visit nanti malam, kamu disarankan untuk rawat inap dan menjalani proses terapi." Nusa menerangkan pada kami hal yang harus dilakukan.


Aku menolak, bagaimana dengan bayiku? Dia masih butuh ASI-ku. Butuh perhatian dari kami.


"Pikirkan dulu kesehatanmu, Mah. ASI-nya diperah saja, nanti biar Papah yang urus semuanya." Mas Tompi mencoba menenangkanku dan mengubah cara pikirku.


Aku tetap menolak, dan hal itu membuatnya marah. Bentakan yang baru pertama kali aku dapatkan sebagai istrinya, membuatku sedih. Nusa pamit meninggalkan kami berdua agar suasananya sedikit lebih tenang. Air mataku menetes, kupalingkan wajahku dari suamiku.


Tangannya menghapus air mataku, "Maaf kalau aku membentakmu. Coba to, manut sama Mas. Pikirkan dulu kesehatanmu. Aku tahu dan paham, kita punya anak bayi yang belum bisa ditinggal. Tapi kamu lupa, banyak yang sayang dan bisa menjaga Ayunda. Mas yakin bayi kita akan mendukung kesehatanmu. Kalau kamu sudah sehat, Ayunda bisa kamu urus dengan baik. Tapi pikirkan jika keadaanmu seperti ini. Apa memungkinkan kamu merawat bayi kita?"


Aku memilih diam dan masih memalingkan wajah. Tangan lelaki itu kini berpindah ke telapak tanganku. Dibawanya menyentuh wajah pria yang sedang marah padaku.


"I love you, jangan seperti ini. Jangan egois. Aku juga tidak ingin terjadi apa-apa padamu. So please, turuti keinginanku."


Aku mengangguk atas jawaban iya. Dia mengucap syukur karena aku mau berubah pikiran.


"Mana senyumnya?" tanyanya lagi. Aku menyunggingkan senyum dan meminta maaf padanya karena keras kepala. Dia mengatakan sudah memaafkan meskipun aku belum melakukannya.


Aku dipindahkan ke ruang perawatan. Para perawat yang berjaga bergantian mengecek keadaanku. Sampai akhirnya aku bertemu dengan dokter sarafnya. Beliau memintaku untuk mencoba duduk, tapi aku belum mampu melakukannya.


"Harus terapi ini, Mbak. Agak lama sampai benar-benar sembuh. Terapinya nanti fisioterapi sama sinar. Kalau nanti hasil terapi kok masih kesakitan seperti ini terpaksa harus dioperasi." Dokter Warni menjelaskan padaku kemungkinan yang bisa terjadi.


Jujur saja, aku takut. Bagaimana jika nanti terapiku tidak berhasil? Suamiku menggenggam tanganku. Menciumnya sampai aku tenang.


"Hasbunallah wa ni'mal waqil, ni'mal maula wa ni'man nasir. Tidak perlu takut, kita masih punya Allah. Tugasmu dan aku adalah berusaha, sisanya biar Allah yang bekerja. Katamu, kita harus berprasangka baik pada Allah, agar yang terjadi pada kita adalah hal baik, bukan?"


Aku mengangguk. Kurentangkan tanganku minta pelukan darinya.


"Kuat, Widya yang dikenal Tompi itu tahan banting di segala cuaca, eh salah, keadaan maksudnya. He-he-he."

__ADS_1


Aku tertawa mendengarnya. "Bantu aku ya, Mas. Kuatkan aku."


"InsyaAllah."


Aku merasa dadaku basah. Ternyata iya, isinya sudah penuh dan belum diminum oleh Ayunda lagi. Ya Allah, kenyangkanlah perut anakku saat ini.


"Pompanya di rumah, bisa tolong ambilkan?" pintaku pada mas Tompi. Dia mengangguk. Pamit meninggalkanku sendirian untuk pulang dan mengabarkan pada Gandi.


Setelah setengah jam berlalu, akhirnya suamiku kembali. Aku segera melakukan pumping karena sudah kencang sekali. Huft, akhirnya.


"Yunda lagi apa? Dia nggak rewel, kan?" tanyaku.


"Tadi kata Gandi nangis. Dikasih ASI perah sama kakaknya. Pakai pipet, diam sebentar, lalu nangis lagi, mungkin mencarimu, akhirnya tidur."


Ya Allah, maaf ya, Yunda. Do'akan Mamah ya, Nak. Agar Mamah bisa cepat sembuh.


"ASI perahnya masih banyak nggak?"


"Stok untuk seminggu kayaknya aman, Yang. Tahu sendiri kan anakmu itu doyan sekali minum." Mas Tompi membantu melepas alat pompa ASI karena aku sudah selesai dan mulai kesakitan.


Hasilnya sedikit, mungkin karena aku stress. Ya, hal ini bisa mempengaruhi hasil ASI.


"Tuh, lihat. Makanya jangan overthinking. Biar ASI-nya melimpah. Oke?"


Aku tersenyum dan mengangguk. Rasa nyeri itu datang lagi. Aku mencoba bertahan menghadapinya. Sampai rasa nyeri itu hilang sendiri.


"Sabar, ya?" pinta suamiku. Aku hanya mampu mengangguk dan legowo menerima nikmat yang Allah berikan padaku.


Nikmat sakit, nikmat ditunggui suami, dan nikmat berpisah dengan anak. Aku menganggap cobaan ini adalah nikmat, dan aku harus berlajar mensyukurinya.

__ADS_1


__ADS_2