After Reunion

After Reunion
Rencana Wanda


__ADS_3

Pov : Author


Wanda memandang tajam lurus ke depan. Raut wajahnya menampakkan kekesalan dan kekecewaan. Saat ini, Tompi lebih memilih untuk melawannya. Tidak mau meninggalkan Widya yang hanya seorang anak pensiunan PNS itu.


Hidup Wanda dulu sangat bahagia. Mendapatkan suami seorang polisi dengan jabatan tinggi. Memiliki dua anak laki-laki yang menurut dengannya. Mertua yang sayang padanya. Impian semua wanita untuk memiliki itu semua.


Dia memastikan kedua anaknya tidak mengalami kesulitan apapun dalam hidup, termasuk menggapai mimpi mereka. Menyekolahkan mereka ke sekolah favorit, lalu mengarahkan mereka masuk ke kesatuan brimob. Itu adalah cara-cara Wanda mensejahterakan hidup anaknya.


Namun, kini salah satu anaknya menjadi pembangkang. Itu semua karena Tompi, anak bungsunya bertemu dengan sahabat sewaktu SMP. Widya mengubah pendirian Tompi dan menjadikannya melawan terhadap kehendak ibunya.


Dulu, dia bisa dengan mudah menyingkirkan Widya. Seharusnya kali ini juga berhasil. Hanya Tugas yang menjadi bala bantuannya saat ini. Dia sudah menyusun rencana dan berharap sangat besar keberhasilan berpihak padanya.


"Mah," panggil Tugas saat melihat mamahnya melamun.


Wanda menoleh dan tersenyum,"Sudah makan? Bagaimana pekerjaanmu?"


Dia menanyakan hal yang umum ditanyakan seorang ibu. Terdengar perhatian yang mendalam, pada wanita dengan usia hendak menginjak tujuh puluh tahun itu. Tugas menjawab sesuai yang diharapkan mamahnya.


"Tompi masih menjalin komunikasi dengan Widya?" tanya Wanda. Tugas mengangguk, bahkan kemarin juga dia mendapati adiknya mendekati Gandi untuk mendapatkan simpatinya.


"Jadi dia ingin melawan mamah?" Wanda masih tidak habis pikir dengan anak bungsunya itu. Sudah diberikan jalan yang enak dan mudah, malah memilih jalan sulit dengan menjadi pembangkang.


Wanda memerintahkan pada Tugas untuk melimpahkan beberapa tanggung jawab. Intinya agar Tompi semakin sibuk. Menyedot waktu dan perhatian Tompi agar terfokus pada pekerjaan saja.


"Aku tidak bisa membantu Mamah terus menerus. Kalau Tisha sampai tahu, rumah tanggaku bisa terancam, Mah." Tugas mengutarakan isi hatinya. Jujur saja, dia juga takut kehilangan Tisha dan anak-anaknya.


Wanda menenangkan anaknya, "Lakukan dengan hati-hati." Senyuman Wanda membuat Tugas tidak berkutik.


"Oke, hanya satu kali saja. Dasar Tompi! Ada lagi yang mau Mamah sampaikan?"


"Kamu sudah bertemu om Susilo?" tanya wanita tua itu.


Tugas mengangguk. Dia menjelaskan pada mamahnya tentang keluarga Susilo, seorang anggota DPRD. Entah untuk apa Wanda menanyakan soal itu. Yang jelas, informasi yang diberikan Tugas cukup membantu.


Anak sulung Wanda pamit untuk pulang. Dia mengirimkan pesan pada adiknya yang tidak tahu keberadaannya.


Tompi : Maksudnya apa ini, Mas?


Me : Besok berangkat menggantikanku untuk kunjungan ke desa dengan kasus stunting tinggi.

__ADS_1


Tompi : Biasanya Mas Bagyo yang kamu suruh.


Me : Mas Bagyo pengawalan Bupati.


Tompi : Siap.


Tidak ada kecurigaan apapun pada adiknya itu. Dia siap menerima perintah dari atasannya.


Tompi melaksanakan perintah dari atasannya. Bertandang ke desa dengan kasus stunting tinggi. Cukup membuat prihatin, karena lokasi desa itu tidaklah jauh dari kota. Seharusnya gizinya tercukupi dengan baik.


Menilai dari status ekonominya, bisa dibilang anak yang dikatakan stunting itu berasal dari keluarga berkecukupan. Setelah wawancara dengan bidan desanya, ternyata banyak faktor. Terutama mulai saat hamil.


Selesai kunjungan ke desa, Tompi kembali ke polres. Masuk ke ruangannya yang berukuran dua kali tiga dan melihat beberapa tumpuk dokumen. Segera lelaki itu memeriksanya satu persatu.


Ada beberapa dokumen yang bukan ranahnya. Membuatnya berpikir, mungkin salah taruh. Segera dia memberikan ke petugas di bidang yang menangani urusan itu.


Hingga satu minggu berlalu, pekerjaannya semakin hari makin menumpuk. Tompi selalu saja menemukan berkas yang bukan bagiannya. Dia sampai heran, siapa yang bekerja kurang teliti seperti itu?


Setelah diselidiki, ternyata semua itu ulah kakaknya sendiri. Tompi menggerutu sepanjang hari karena kelakuan Tugas.


"Apa ini atas perintah mamah?" batin Tompi.


"Oke, terus saja lakukan usaha kalian. Aku juga akan berusaha keras agar tetap mendapatkannya." Tompi menjadi lebih bersemangat lagi untuk segera menyelesaikan tumpukan berkas di depannya.


Tompi juga bersikap sewajarnya ke mamahnya. Kembali menjadi anak penurut agar orang tuanya mengira bahwa dia sudah tidak menginginkan Widya lagi.


Meski waktunya sempit, Tompi tetap menjalin komunikasi dengan Widya. Terkadang, yang mereka bicarakan tidaklah penting. Seperti saat ini, mereka sedang melakukan chatting.


Tompi : Mah,


Widya : Sebentar, aku mandi dulu, habis selesai partus.


Tompi : Ikuuut, partus? Apa tuh?


Tidak ada balasan lagi. Setelah menunggu selama tiga puluh menit, Widya menghubunginya.


"Sudah tidur?" tanya Widya.


"Lama banget mandinya, partus apaan?" balas Tompi

__ADS_1


Widya menjelaskan partus adalah nama lain dari proses lahiran. Tompi mendengar suara Widya agak sengau serak.


"Kamu lagi pilek?" Lelaki itu begitu perhatian dengan pacarnya.


"Iya, ingusnya nggak mau keluar. Agak bindeng suaraku."


"Banyak ingusnya?" Pertanyaan random Tompi sudah dimulai.


"Banyak, mau? Kukirim ya?"


"Ha-ha-ha, dasar bocah gendeng! Ingus pakai acara dibagi-bagi. Yaudah coba paketin ke rumah," selorohnya dari seberang.


"Paketin, yang ada datang-datang jadi keripik!" Widya tak mau kalah random.


Mereka tertawa bersama-sama. Keduanya telah menjadi budak cinta. Itu hanya sepenggal kerandoman mereka. Masih banyak lagi yang belum terungkap. Perkara Widya makan mie kepanasan, Tompi membantu meniup mie itu lewat panggilan suara.


Terkadang mereka juga bisa romantis. Widya akan memberikan perhatian lebih jika Tompi belum mengirimkan pesan padanya.


Widya : Kabari aku kalau sudah sampai rumah ya, Mas.


Widya : Aku kangen sama kamu.


Tanpa mereka ketahui, ternyata Wanda membaca gerak-gerik Tompi. Dia berani bertaruh bahwa anaknya hanya akting di depannya. Rasanya sesak dan kesal dibohongi oleh anak sendiri.


"Baiklah, kamu sendiri yang bermain peran di belakang Mamah. Jangan salahkan Mamah jika suatu saat nanti kalian sama-sama terluka dan menyesal." Widya menghubungi seseorang. Terlihat kehangatan saat mereka bercakap-cakap.


Ternyata Wanda ingin bertemu dengan sepupu jauhnya. Dulu mereka bersahabat. Bahkan anak-anak mereka saling kenal.


"Gimana kabar mas Sus? Sepertinya semakin sibuk saja." Wanda mengaduk teh hijau tanpa gula dengan tenang.


Rustini, teman Wanda tersenyum mendapati pertanyaan itu. "Dia makin banyak keluar kota, Mbak."


"Hati-hati, selalu temani mas Sus. Takutnya ada pelakor yang mendekat." Wanda menatap Rustini penuh arti


Rustini malah tertawa, "Halah, siapa to Mbak yang mau sama orang tua bangkotan begitu?"


Mereka berbalas senyum. Wanda menikmati waffle original itu dengan anggun. Meskipun usianya sudah renta, tapi postur tubuhnya saat duduk masih bisa tegap sempurna.


"Ada apa mengajakku bertemu, Mbak?" tanya Rustini penasaran. Sedari tadi Wanda belum mengatakan maksud dan tujuan mereka bertemu.

__ADS_1


Wanda meletakkan pisau dan garpunya. Mengelap bibirnya dengan tisu. Meneguk teh hijau yang masih hangat, lalu tersenyum pada Rustini.


"Aku ingin menjodohkan Tompi dengan anakmu," lontar Wanda secara jelas yang membuat Rustini terkejut.


__ADS_2