
Pov : Banun
Aku memperkenalkan diriku. Kusebutkan identitasku persis seperti yang ada di KTP. Entah apa yang sedang kami lakukan ini, seperti mahasiswa baru yang sedang perkenalan saja. Tahu tidak? Sampai hari ini, aku belum memiliki nomor ponselnya. Ya Allah, istri macam apa aku ini? Sampai nomor suami sendiri tidak punya.
Gilirannya memperkenalkan diri padaku. Oh, ternyata dia anak bungsu dari dua bersaudara. Pantas saja manja sama ibu Ruqoyah. Kakaknya perempuan, tapi tinggal di Lombok. Menemani sang suami yang bekerja disana.
Dia menghubungi kakaknya dan mengenalkanku sebagai istrinya, padahal disana sudah larut. Sama seperti penyambutan bapak dan ibu, ternyata mbak Rini juga hangat terhadapku.
"Titip bontot ya, Nun. Pukul saja pantatnya kalau nakal sama kamu." Itulah pesan mbak Rini padaku. Kami hanya tertawa.
Mas Gusti memberikan ATM gajinya padaku. Haruskah aku menerimanya? Nanti bagaimana jika dia butuh sesuatu?
"Nanti tinggal minta sama istriku to, yo. Gunakan sesuai kebutuhan rumah dan kebutuhanmu."
Aku mengangguk, kusodorkan ponselku agar kami bisa berkomunikasi.
"Istriku," ucapnya menulis nama kontakku di ponselnya. Aku ragu menulisnya, tapi, aku takut dia kecewa jika aku tidak menulis hal yang sama dengannya.
"Coba lihat nama kontaknya." Mas Gusti mengecek nama kontak di ponselku.
"Cie ..., ditulis suamiku nih ye?" Dia kembali menggodaku. Aku merasa pipiku memanas.
"Ih, aku hapus saja kalau begitu."
Dia mencegahnya, memegang tanganku lalu mengecupnya. Apa ini? Aku baru merasakannya, sengatan listrik yang membuat tanganku tremor.
"Jangan, makasih ya, sudah mau mengakui lelaki ini sebagai suamimu."
Mas Gusti melempar senyumannya padaku. Aku canggung dan mengangguk ragu.
"Terima kasih juga sudah mau menikahiku. Menyelamatkanku dan keluarga dari rasa malu. Aku ..., berhutang budi banyak padamu, Mas."
Mas Gusti mengelus rambutku dan mendaratkan ciuman di keningku. Tubuhku bergetar lagi karena ciumannya. Tadi tangan, sekarang tubuh. Apa dia manusia listrik? Ah, mana mungkin.
Aku belum mengantuk, begitupun dengannya. Kami menonton televisi, tapi bosan sendiri dengan acaranya. Mas Gusti bertanya kapan aku masuk kerja.
"Masih tiga hari lagi, kenapa?"
__ADS_1
"Mmm ..., mau nonton bioskop, nggak? Aku ingin kita kencan. Bisa?" tanyanya. Sorot matanya mengharapkan jawaban iya dariku.
Kutanya jadwal kerjanya terlebih dahulu. Mas Gusti malah bertanya padaku film apa yang ingin kutonton. Aku membuka jadwal film di bioskop. Kupilih Kudus karena jadwalnya tidak bentrok dengan jadwal mas Gusti.
Oke, jadwal sudah fix. Kami kembali terdiam tidak tahu obrolan apa yang harus dibahas. Dia menggenggam tanganku. Lalu merebahkan dirinya. Membawa tanganku ke atas kepalanya.
"Kenapa?" tanyaku. "Pusing?"
Dia menggeleng sambil memejamkan matanya. Lalu kepalanya bergeser ke pahaku.
"Minta tolong kepala suamimu ini dielus-elus. Boleh?"
Hatiku berdenyut ketika kepalanya menempel ke pahaku. Aku harus bagaimana? Ucapan bu Widya, ibu, dan Zaki, terngiang di telingaku. Dia berhak atasku. Aku halal untuknya.
Aku mencoba menuruti keinginannya. Mengelus perlahan kepalanya. Rambutnya halus. Kulakukan itu berulang-ulang hingga aku mendengarnya mendengkur. Perasaan kemarin dia tidak mendengkur, apa karena lelah ya?
Aku memindahkan kepalanya secara perlahan agar dia tidak terbangun. Kupandangi wajahnya. Tampan. Aku mengakuinya, dia tampan. Aku mengubah posisi tidurku, menghadap padanya. Lalu memejamkan mata.
Aku terbangun dari tidurku. Astaghfirullah! Aku terkejut melihat posisi tidur kami. Tangannya aku gunakan sebagai bantal, sedangkan tanganku melingkar di perutnya. Sebelum dia terbangun, aku segera menarik tubuhku menjauh darinya.
"Sebentar saja, biarkan aku memiliki semangat untuk menjalani hari ini," pintanya dengan mata masih terpejam.
Aku membiarkannya lagi memeluk tubuhku. Sengatan itu terasa kembali. Mas Gusti mencium leherku dengan sengaja. Aku sampai terkejut mendapatkan tindakannya itu. Reflek kudorong tubuhnya agar aku lepas dari pelukannya.
"Maaf-maaf, Dek. Mas nggak bermaksud membuatmu ...." Kuangkat tanganku dan memintanya berhenti bicara.
Aku segera turun dari ranjang dan memintanya bersiap ke mushola karena adzan sudah berkumandang. Mas Gusti menolak. Dia ingin salat bersamaku di rumah. Kusiapkan keperluannya dan menunggunya siap. Kami salat subuh bersama.
Mas Gusti merasa canggung atas perbuatannya padaku. Selesai salat dia bergegas berolahraga keliling jalan komplek rumah. Aku masuk kamar mandi, menyegarkan diri dengan air dingin. Kupegang leherku, masih terasa kecupan itu disana.
"Apa yang harus aku lakukan jika dia memintanya nanti malam?" Aku bicara sendiri di depan cermin. Menghela napas bingung. Dia memang suamiku, tapi hatiku belum menerima kehadirannya.
Aku baik padanya karena dia baik padaku. Aku mengizinkan tanganku dipegang karena pikirku, hanya sebatas tangan. Tapi, subuh ini berbeda. Aku ingat ucapannya malam kemarin. Apa dia benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya?
Aku menggelengkan kepalaku. Segera keluar dari kamar mandi dan berganti baju. Saat aku baru saja memakai kaos, dia masuk membuatku terkejut. Kami sama-sama membalikkan tubuh. Aku tahu perbuatan kami itu konyol.
"Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sedang ganti baju." Mas Gusti berbicara sambil menghadap pintu.
__ADS_1
Aku tidak menjawabnya. Memilih keluar dan menyiapkan sarapan. Kusuguhkan kopi, aku membuatkannya roti bakar dengan selai coklat. Mas Gusti datang ke meja makan sudah rapi dengan seragam dinasnya.
Tidak ada obrolan yang terjadi pagi itu. Hanya kecanggungan yang ada. Dia pamit pergi bekerja, dan aku terkejut saat mendapati sikapnya. Tidak menyodorkan tanganmya seperti biasa.
Apa dia marah padaku? Atau aku keterlaluan memperlihatkan bentuk ketidaksiapanku padanya?
Aku pergi berbelanja waktu ada tukang sayur lewat. Beberapa ibu kompleks heran melihatku.
"Warga baru disini ya, Mbak?" tanya salah seorang ibu.
"Iya, Bu," jawabku singkat sambil memilih ikan yang akan kumasak.
"Oh, pantas Ibu tidak pernah lihat. Rumahnya yang mana?" tanyanya lagi.
Aku menunjuk unit rumah mas Gusti. Mereka semua saling pandang. Aku menjadi takut sendiri dengan sorot mata mereka.
"Istrinya mas polisi? Nikahnya kapan? Kok kami tidak tahu? Kok kami tidak diundang?" Beberapa ibu lain ikut mencecarku dengan pertanyaan.
Aku sampai tergagap menjawab mereka. "Kami kemarin hanya akad sederhana, Bu. Belum resepsi, nanti kalau resepsi Banun undang ibu-ibu semua. He-he-he."
"Oalah ..., tak kira mas pol lupa sama kami. Benar ya, Mbak ..., Hanum?"
Aku tersenyum dan mengangguk, meski aku tidak tahu kapan acara respsi itu akan digelar.
"Bukan Hanum bu, tapi Banun." Aku membenarkan namaku.
Selesai berbelanja, aku mencuci pakaian dan membersihkan rumah. Sambil kelabakan mencari benda yang aku butuhkan, aku mulai menyiang bahan belanjaku. Kulihat waktu sudah siang, segera aku memasak sayur lodeh, goreng tempe, dan goreng ikan pindang banyaran. Aku mengambil gambarnya lalu kukirimkan ke Mas Gusti.
Me : Sudah matang dan siap disantap. Tolong nanti kalau pulang belikan kerupuk ya, Mas. Tadi aku lupa beli. Makasih.
Aku menantikan jawabannya.
Suamiku : Maaf, aku sedang pengawalan dan sepertinya tidak bisa makan siang di rumah. Jangan menungguku, makanlah jika lapar.
Aku kecewa membaca pesan itu. Dari bahasanya saja sudah ketahuan bahwa dia sedang marah padaku. Kecupan yang membawa kekecewaan. Salahkah aku menolaknya jika belum siap? Apa mas Gusti lupa dengan janjinya?
Entahlah! Selera makanku menjadi hilang.
__ADS_1