
Pov : Gandi
Aku menangis terharu saat mendengar tangisan bayi dari luar ruangan. Ya Allah, hatiku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Aku sudah rindu dengannya. Bahkan, dia sudah menbuatku jatuh cinta meski belum pernah bertemu.
Aku menunggu mamah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Hampir satu jam aku melihat ke arah pintu ruang bersalin. Kenapa masih tertutup? Apa ada masalah dengan mamah ataupun adikku? Ya Allah, lindungilah mereka.
Akhirnya pintunya terbuka. Kulihat papah dan beberapa tim medis yang membantu persalinan mamah keluar. Bayinya masih digendong oleh salah satu bidan itu. Papah memintaku untuk menjaganya.
"Papah mau kemana?" tanyaku.
"Membawa pulang pakaian mamah yang terkena darah. Mengurus ari-arinya."
"Sudah diadzani belum, Pah?"
Papah mengangguk. "Mau mengadzankan Ayunda lagi?" tanya Papah. Hah? Siapa? Ayunda? Jadi benar mimpi aku punya adik perempuan?
"Cewek, Pah?"
"Iya cewek, gendut lagi. Sudah ya, Papah titip adikmu. Papah mau ngurus ari-arinya dulu." Papah menyodorkan tangannya untuk kusalami.
Alhamdulillah Ya Allah, aku sangat senang. Seperti ada yang meletup-letup di dadaku. Bibirku tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum di balik masker. Aku mengikuti bidan yang membawa adikku. Dia meletakkannya di box bayi.
"Bisa jaga adiknya, Mas?" tanyanya. Aku mengangguk dan mengatakan bisa. Mataku tidak henti-hentinya mengagumi gadis mungil yang gendut itu. Air mataku kembali mengalir.
Aku mengangkatnya dari box bayi. Kuadzankan lagi bayi cantik itu. Suaraku bergetar, sungguh, aku hampir tidak kuasa menahan rasa bahagiaku. Terima kasih adik cantik nan gemoyku. Terima kasih sudah lahir ke dunia ini.
Mamah kembali ke ruang perawatan. Melihatku menangis dan bertanya kenapa.
"Bahagia, Mah. Gandi merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan Ayunda. Mah, boleh tidak kalau Gandi yang memberikan nama tengahnya?" pintaku pada Mamah.
Aku sudah mendapatkan nama yang cocok untuk adikku selain nama Ayu yang didapatkan mamah dari mimpinya. Aku bertemu pertama kali dengannya lewat mimpi, di tengah malam, dan saat ini dia juga lahir di malam hari. Laili, nama yang berarti tengah malam. Aku mendapatkannya dari kata lailatul qodar.
__ADS_1
Mamah menyetujui saran dariku. Tinggal meminta izin dari papah. Kulihat lagi adikku itu. Cantiknya, membuatku selalu terbayang wajahnya.
"Mah, ajari cara gendongnya dong." Aku meminta mamah mengajariku cara menggendong yang benar. Agak kaku pertama kucoba. Apalagi pas bagian kepala, aduh, aku takut. Takut jika terjadi apa-apa dengan kepalanya.
Karena kaku, tanganku menjadi pegal. Bayi itu masih saja terpejam. Berbeda dengan bayi yang lain, mereka sudah merengek menangis. Ini kenapa si ndut belum minta ASI sih?
Mamah meminta Ayunda, hendak disusui. Akhirnya, mau juga dia. Tapi, matanya masih saja terpejam. Wah, sepertinya aku tahu hobi Ayunda, tidur.
Setelah puas, adikku itu kuletakkan kembali ke box bayi. Papah datang membawakan kami makanan. Bertanya apakah tadi Ayunda sudah melek?
"Belum, Pah. Habis perjalanan jauh dia, makanya tidur terus. Mbok ya bangun, disini lho ada kakaknya yang ganteng." Aku protes karena sedari tadi adikku tidur terus.
"Namanya juga bayi baru lahir, Gandi. Pastinya ya seperti itu," kata Mamah.
Ayunda menangis, mamah memintaku mengecek popoknya. Ah, ternyata dedek gemoyku mengompol. Ini bagaimana cara membersihkannya? Aku dan Papah bingung, meskipun kami sudah belajar, tetap saja ini pengalaman baru bagi kami.
"Lihat dulu Gan, ompolnya sampai membasahi bajunya tidak?" Mamah memintaku mengecek keseluruhan baju Ayunda.
Tante Nusa masuk, "Dedek gemoy bobotnya tiga lapan besti. Doyan makan ok ya, ponakan Tante yang cantik. Kasih nama siapa nih?" tanya Tante Nusa saat menjenguk mamah
"Ayunda," ucapku dan Papah bersamaan.
"Selamat ya Wid, Mas Tom, Gandi. Lengkap, nih. Sudah punya cowok sama cewek. Semoga dedek Ayunda jadi anak sholihah." Tante Nusa menyalami Mamah, Papah, dan juga aku.
"Aku pamit pulang dulu. Nanti kalau ada apa-apa, bilang saja sama yang jaga." Pesan Tante Nusa pada kami.
"Makasih ya, Sa," kata Mamah dan memeluk sahabatnya itu.
Enaknya ounya sahabat yang benar-benar tulus. Ada di kala susah dan senang, selalu berkabar meskipun tidak ada hal penting. Zaman sekarang, mencari yang benar-benar sahabat sangat susah.
Ah, aku teringat Rania. Kukabarkan padanya dengan mengirim foto Ayunda. Apakah dia belum tidur? Kutunggu balasan darinya. Tidak ada balasan. Oh, mungkin dia sudah tidur.
__ADS_1
Aku juga mengirimkan foto pada Alya, anak om Han. Gadis itu ternyata masih belum tidur. Dia membalas pesanku. Menanyakan semua hal tentang Ayunda.
Me : Ayunda Laili Haryanti, tapi ini belum pasti sih. Aku belum minta persetujuan Papah. BB 3800gr, PB 50cm. Gemoy mana sama adikmu?
Alya : Ya gemoy adikku to, Mas. BB dia sekarang udah lima kilo lhoh.
Me : 😔 Bandingkannya jangan sekarang dong. Pas lahir berapa?
Alya : 😂 Nanti aku sama keluarga jenguk Ayunda. Salam buat om Tompi sama tante Widya.
Me : Oke
Mamah terlihat sudah memejamkan mata. Mungkin mamah lelah. Bagitupun dengan papah. Kubiarkan mereka tidur. Ayunda kembali menangis. Kali ini bukan karena mengompol, tapi dia BAB. Aduh, ini bagaimana lagi cara membersihkannya?
Aku menenangkan diri terlebih dahulu. Kuputar video di yuotube untuk mempermudah langkahku. Aku menenangkan adik kecilku agar tidak mengganggu mereka yang sedang terpejam. Aku mulai menyingkirkan popok amyang kotor. Ingin muntah aku melihat bentuknya. Kucubo untuk menepis rasa jijikku ini. Mempercepat tanganku agar adikku tidak semakin rewel. Aku membersihkannya pakai tisu basah. Lalu kugantikan dengan popok yang baru. Aku membuang kotoran yang ada lalu mencuci tangan. Setelahnya kembali ke kamar mamah.
Setelah membersihkannya, Ayunda berhenti menangis. Anak yang manis. Tahu jika aku tidak bisa memberikannya ASI dia hanya diam sambil bermain mulut dan tangannya.
"Alhamdulillah adiknya Mas melek, kenapa, Yunda? Haus ya, Dek? Sabar ya? Biarkan mamah tidur sebentar saja."
Aku mencoba menggendongnya lebih luwes dari yang pertama. Aku menyenandungkan salawat dan kugoyangkan pelan tanganku, agar adikku nyaman.
Ternyata begini rasanya punya adik. Menyenangkan, menggemaskan, dan serba bingung. Ayunda menguap, ingin sekali aku mengabadikan momen itu, tapi sayang, ponselku berada di tas. Aku tidak ingin berisik dan membangunkan papah dan mamah.
Setelah sekitar setengah jam, Ayunda mulai gelisah. Sepertinya dia memang lapar. Terpaksa aku membangunkan mamah.
"Yunda terbangun sejak tadi, Mah. Sempat BAB juga. Gandi belum membersihkannya," ucapku.
"Ya sudah, biar besok dibersihkan papah. Kamu kalau ngantuk tidur saja." Mamah memintaku untuk tidur.
Aku segera mencari posisi di samping Papah. Kupejamkan mataku yang sudah berat ini, agar besok bisa mengurus bayi gemoy itu lagi.
__ADS_1