
Pov : Banun
Aku tidur awal malam ini. Mataku lelah seharian ini hanya menangis. Aku membiarkannya, suamiku terjaga sendirian. Aku masih belum mampu menerimanya, meski dia menjadi malaikat penolongku dari rasa malu yang tiada tara.
Kupilih tidur membelakanginya sambil mengucap maaf di dalam hati. Pada tengah malam, aku terbangun dan melihat dia tidak di sampingku. Ternyata, dia tidur di lantai. Ya Allah, apa yang dia lakukan? Kenapa malah tidur di lantai?
Aku memberanikan diri membangunkannya. "Kenapa tidur di bawah?"
Sambil terpejam dia menjawabku, "Aku takut lepas kendali dan melewati batas yang telah kamu siapkan."
"Kamu marah ya?"
Dia tidak menjawabku. Kugoyangkan tubuhnya, dan dia memilih bangun dan duduk berhadapan denganku.
"Kamu bicara sama siapa? Aku ini suamimu, tolong hargai sedikit, panggil aku dengan nama kalau memang tidak bisa memanggilku dengan kata mas. Kembalilah tidur, tidak usah memikirkan perasaanku. Yang penting kamu bahagia, sudah itu cukup untukku."
Aku merasa sangat bersalah padanya. Ya Allah, maafkan Banun. Aku seharusnya melampiaskan kemarahanku pada lelaki kurang ajar yang kabur itu, bukan padanya. Sekarang, aku harus bagaimana? Haruskah aku memintanya untuk naik ke ranjang?
Dia hendak kembali tidur. Aku berdecak dan marah akan sikapnya. Aku kembali ke ranjang berharap dia mengikutiku. Ternyata tidak. Kupikir dia lelaki yang akan romantis, mengejar pasangannya lalu menuruti keinginanku. Ternyata dia juga sama dengan lelaki lain, membiarkanku kesal karena tidak menuruti mauku.
Aku merasa kasihan padanya. Aku takut jika nanti dia sakit, masuk angin. Kulihat lagi dirinya sudah terpejam kembali. Sudahlah, biarkan saja. Sampai akhirnya adzan subuh terdengar. Aku melihatnya sudah bersiap memakai sarung.
"Kenapa tidak membangunkanku ..., Mas?" Aku mencari ikat rambutku.
"Aku melihatmu terlalu lelah, jadi kubiarkan tidur sebentar lagi. Aku ke mushola dulu. Assalamu'alaikum," pamitnya padaku. Panggilannya saja sudah berubah padaku. Aku benar-benar melukai hatinya.
Aku bergegas mengambil wudhu, dan hampir bertabrakan dengan Zaki. Adikku satu ini memang banyak polah.
"Lhoh, sudah wudhu aja sih, Mbak? Nggak mandi besar dulu?"
Astaghfirullah, anak ini! Bicaranya sembrono sekali. Kenapa bisa dia tahu sampai hal itu? Dasar!
"Berarti belum gituan, ya? Wah, kamu nolak mas Gusti, ya? Dosa kamu Mbak, dilaknat sama malaikat kamu, lho."
Aku tidak mendengarkan ocehannya. Kupilih masuk kamar lagi setelah wudhu. Selesai itu aku membantu ibu membersihkan rumah. Aku ditanya bagaimana malam kami berdua tidur satu ranjang?
Aku menjawab jujur, tidak ada yang terjadi karena memang mas Gusti paham keadaanku. Ibu memberikan nasihat untukku. Agar aku mau membuka hati untuknya dan melukapan Rizal.
Aduh, tolong jangan sebut namanya. Hatiku perih jika ingat kejadian kemarin. Tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku. Aku pastikan, lelaki itu akan aku buat menyesal membuat kami semua malu.
"Biarkan itu, suguhkan kopi atau teh pada suamimu. Layani dia layaknya seorang suami. Jika kamu memang belum bisa memberikan hatimu padanya, setidaknya hormatilah statusnya. Paham, Nduk?" Ibu memintaku untuk tidak memegang cucian piring. Aku mengangguk dan segera menyuguhkan kopi untuknya.
__ADS_1
Dia kembali, kuberikan kopi itu untuknya. Mas Gusti mengucapkan terima kasih padaku.
"Ehm ..., mau sarapan apa? Mas?" tanyaku, mencoba menerapkan nasihat ibu.
"Yang ada saja. Telur sama kecap kalau itu buatan dari tanganmu juga Mas makan kok, Dek." Panggilannya berubah lagi, apa dia sudah tidak marah padaku?
Entahlah, aku tidak berani bertanya padanya. Aku segera menyiapkan apa yang dia minta. Aku hampir bertabrakan dengannya saat akan membawa masakanku, berpapasan dengannya yang hendak ke kamar mandi.
"Mau mandi Mas? Pakai air hangat?" Aku mencoba menawarkan padanya.
"Nggak usah, Mas biasa mandi pakai air dingin, kok."
Aku hanya mengangguk. Bapak memanggilku, meminta aku untuk menyiapkan baju dinas suamiku.
"Nggih, Pak."
Aku masuk ke dalam kamar dan menyiapkan seragam dinasnya. Kupandangi nama itu. Gusti. Nama yang mulai akrab denganku dari satu hari kemarin. Keputusannya untuk menikahiku membuatku merasa berhutang budi padanya, karena menyelamatkan aku dan keluarga dari rasa malu berkepanjangan.
Aku sedikit terkejut saat mendengar suara pintu tertutup. Aku menoleh dan melihatnya sudah segar selepas mandi.
"Ini kamu yang menyiapkan, Dek?" tanyanya. Aku mengangguk. "Makasih ya, Sayang."
Aku mematung mendengar panggilan itu darinya. Seberapa besar cintanya untukku? Dan sampai saat ini, aku belum tahu alasannya mencintaiku. Ya Allah, aku semakin merasa bersalah padanya.
"Ini spesial buatan Dek Banun untuk Gusti, Pak. Hasil dari tangannya sendiri. Dibuatnya dengan penuh perhatian, kasih sayang, dan cinta." Lirikan matanya mengarah padaku.
Aku terbatuk mendengar ucapannya menyanjungku di depan bapak. Sedikit lebay menurutku. Tapi, kenapa semuanya malah senang?
Sebelum dia berangkat, ibu berpesan agar pulang tepat waktu karena hendak ada syukuran sepasar. Syukuran ini biasanya dilakukan oleh orang yang telah menikah dan usia pernikahannya mencapai selapanan.
Mas Gusti menepati permintaan ibu. Dia pulang tepat waktu. Acara selamatan digelas selepas maghrib. Ibu memintaku mengantar makanan untuk anak rumah bersalin dan bu Widya.
Aku berangkat dengannya memakai sepeda motor. Tidak ada percakapan yang terjadi.
"Mbak Banun ...," teriak para teman kerjaku itu. Mereka kangen akan kehadiran diriku. Aku segera pamit ke rumah bu Widya karena beliau tidak praktik hari ini.
Aku disambut pelukan hangat oleh ibuku itu. Diajaknya masuk ke dalam rumah dan mengobrol sebentar. Aku bercerita tentang hariku padanya.
"Nun, Ibu tahu kamu terluka. Sulit memang melupakan orang yang kita cintai. Tapi, alangkah baiknya kamu mengubur kenanganmu bersama Rizal. Kamu itu cinta sendiri. Sedangkan yang ini? Selalu memberikan cintanya padamu. Dan Ibu harap, kamu juga membalas cintanya yang tulus."
Aku hanya mengangguk dan berterima kasih sudah menjadi teman ceritaku. "Bu, apa yang harus saya lakukan kalau mas Gusti tidur di bawah lagi?"
__ADS_1
"Ya dicegah to, Nduk. Ajak dia satu ranjang denganmu. Mau kamu diapa-apakan sama dia, itu haknya sebagai suami. Dia juga telah menunaikan kewajibannya, to? Memberimu nafkah lahir berupa mahar kemarin."
Aku mengangguk. Aku pamit padanya karena sudah malam. Saat aku hendak keluar, aku mendengarnya dimarahi oleh pak Tompi.
"Kamu itu mbok jadi lelaki yang dewasa sedikit to, Gus. Kamu juga tahu keadaan istrimu. Hatinya remuk, butuh waktu baginya untuk proses penyembuhan. Perkara tidur dibatasi guling saja kamu marah. Aku tidak setuju kalau kamu tidur terpisah seperti itu. Kamu mau dosamu dicatat oleh malaikat karena marah pada wanitamu? Perempuan itu disayangi, Gus. Jangan malah kamu marah karena hal sepele. Tidur berdampingan dengannya!"
Aku menjadi tidak enak hati dan kasihan padanya kena semprot oleh pak Tompi. Kami pamit pulang, di perjalanan dia bertanya padaku, ingin jajan apa?
"Mampir ke indojuli aja, Mas."
Dia mengangguk. Kami bergegas turun, kutanya padanya mau beli apa?
"Adek saja yang pilihkan, pasti Mas makan, oh ya, belikan untuk ibu, bapak, dan juga Zaki," ucapnya.
Aku mengambil beberapa snack dan coklat. Lalu menuju kasir. Setelah transaksi belanja selesai kami kembali ke rumah. Dia sudah mengambil selimut dari lemariku.
"Mas ...," panggilku.
"Ya?" Dia menoleh padaku.
"Jangan tidur di lantai. Tidur di sampingku."
Aku menunggu sikapnya dalam mengambil keputusan. Akankah dia tetap tidur di bawah?
"Aku laporkan sama pak Tompi kalau kamu tidur di bawah lagi." Aku memaksanya untuk tidur satu ranjang denganku, memakai alasan pak Tompi agar dia mau.
"Yakin? Kalau aku melewati batas bagaimana? Aku seorang lelaki normal, melihatmu tidak memakai hijab saja sudah membuat gairahku bergejolak, bagaimana jika aku tidak bisa mengendalikan diriku?"
Aku teringat petuah bu Widya, tapi aku malu mengatakannya. Bagaimana ini? Ah sudahlah, coba katakan saja.
"Itu hakmu, silahkan." Hatiku bergemuruh saat mengatakannya. Banun, apa kamu yakin dengan yang kamu katakan?
"Oke," jawabnya lalu naik ke ranjang. "Tenang saja, tidurlah yang nyenyak. Oh ya, besok Mas libur, antarkan Mas ke tempat pak modin untuk meminta surat pengantar nikah."
Kami sama-sama tidur telentang. Aku mengangguk. Dia menoleh ke arahku.
"Besok pindah ke rumah Mas, kamu mau?" tanyanya.
"Ke rumah bapak dan ibumu maksudnya, Mas?"
"Bukan, Sayang. Ke rumah kita. Mau, kan?" Dia menjelaskan padaku rumahnya sendiri. Aku berpikir sebentar, lalu mengangguk.
__ADS_1
Aki istrinya, dan dia berhak atasku. Malam ini juga sama dengan malam sebelumnya. Mas Gusti menepati janjinya padaku untuk tidak menyentuhku, kecuali hatiku benar-benar telah siap untuknya.
Terima kasih, Mas. Sudah mau mengerti keadaanku.