After Reunion

After Reunion
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Pov : Widya


Aku terduduk lesu, begitupun dengan Tompi. Hubungan kami diketahui oleh orang tuaku. Hatiku kesal setelah mendengar ucapan abah. Tidak memberikan kesempatan bagi kami untuk menjelaskan perasaan yang saat ini menggebu. Apalagi setelah mendengar peringatan darinya, yang akan mengambil Gandi dariku, serta menyuruhku untuk bertunangan dengan mas Han. Semakin kesal aku mendengarnya.


Ini lagi Tompi, kenapa dia bicara sembarangan akan mundur dari pekerjaannya? Bagaimana jika nanti abah menagih janji itu? Sembarangan saja kalau bicara.


"Gimana?" tanya Tompi.


Aku meliriknya, "Gimana apanya? Sudah ketahuan, abah marah. Kamu pakai acara bilang mau mundur jadi polisi lagi! Kalau abah sampai menagih janji itu bagaimana?"


Tompi menjambak rambutnya sendiri. Kami berdua sama-sama pusing. Urusan mamahnya Tompi belum beres, ini ditambah oleh abah. Huft, rasanya aku ingin menyerah. Tidak kuat menghadapi kenyataan yang ada.


Aku meneruskan masak udang yang sempat terhenti karena kedatangan abah. Tompi memilih diam di ruang tamu. Gandi datang bertanya padaku kenapa akungnya marah. Aku menceritakan padanya tentang masalah tadi.


"Memang Mamah mau tunangan sama pilihan akung? Kok Gandi tidak dikenalkan pada lelaki itu sih, Mah? Gandi kan berhak memilih siapa yang pantas mendampingi Mamah," protes Gandi padaku.


Aku menghela napas menanggapinya, Tompi tiba-tiba muncul dan merangkul anakku.


"Kamu ini sebenarnya ada di pihak siapa sih, Nak?" tanya Tompi dengan mimik wajah serius.


"Kalau ada calon lain ya harus lewat proses seleksi dari Gandi dulu dong, Om."


Aku sedikit menyunggingkan senyum. Kuminta mereka berdua mencicipi masakanku. Kata Gandi terlalu asin. Menurut Tompi pas. Siapa yang benar? Sudahlah aku cicipi sendiri saja. Benar kata Gandi, terlalu asin.


Kutambahkan potongan kentang untuk menetralisir rasa asin itu. Kubiarkan sejenak masakanku sembari menyiapkan piring. Dua lelaki itu sedang berdebat masalah perjodohan. Terserahlah, pikiranku sedang penuh cara menjelaskan pada orang tuaku.


Setelah matang, kuhidangkan masakan itu. Kulayani dua lelaki itu dan meminta mereka segera makan.


"Kamu nggak makan?" tanya Tompi padaku. Aku hanya menggeleng.


"Makan, pikirkan nanti setelah makan," pintanya.

__ADS_1


Aku tetap tidak mau makan. "Minta disuapkan?" Tompi mulai menggodaku.


Gandi terbatuk karena ucapan Tompi. Bisa-bisanya lelaki itu menggoda diriku di depan anak lelakiku.


"Om, nggak malu disini ada Gandi?" sindir anakku pada kami.


Tompi menggeleng, "Jomblo jangan iri, ya?"


"Dih, ngapain iri!" Gandi tidak terima atas tuduhan itu.


"Halah, eh Rania gimana?"


"Gimana apanya? Dia kan ponakan Om, kok tanya ke Gandi."


"Kamu nggak ada rasa gitu sama Rania?" Tompi langsung kucubit. Bisa-bisanya dia menanyakan hal itu pada Gandi.


"Nggak, kalaupun ada ogah. Papinya Rania nakutin. Lebih serem dari genderuwo!"


Aku dan Tompi langsung tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak? Mas Tugas orang yang berwibawa, dihormati, dan disegani oleh kebanyakan orang, eh menurut anakku dia menyeramkan. Lebih seram dari genderuwo.


"Ya nggaklah! Memang kakaknya Om begitu. Dari lahir juga begitu. Mamahmu pernah kena semprot dulu. Iya kan, Yang?"


Aku mencoba mengingat kejadian dulu. "Oh, waktu aku sama Lilid main ke rumahmu. Sepeda kami menghalangi jalannya masuk. Dia ngomel dari pintu masuk. Iya-iya-iya, aku inget. Sumpah, wajah mas Tugas pas itu kesel abis. Ha-ha-ha."


"Mamah kok ya betah gitu sama Om Tompi? Kan keluarganya galak semua, Mah." Ucapan Gandi memang ada benarnya. Kenapa aku sampai saat ini mau bertahan dengan Tompi? Padahal dari dulu keluarganya terkenal garang dan memandang materi.


Tompi menunggu jawabanku. Aku menjawab asal-asalan. Membuat lelaki itu protes.


"Mamahmu bertahan sama Om karena Om itu ca'em, baik hati, humoris, nggak pelit, romantis, dan yang paling penting, mamahmu itu bucin sama Om."


Hmm, obrolan ini cukup membuatku lupa sebentar terhadap masalah yang sebenarnya sudah menunggu kami. Setelah makan, Gandi memilih tidur. Aku bicara serius dengan Tompi.

__ADS_1


"Aku akan menemui abah. Kamu pulang saja, Mas," pintaku padanya.


"Ayo hadapi bersama," balasnya. Tidak dia tidak boleh ikut. Aku takut amarah abah semakin meledak nanti. Namanya Tompi, semakin dilarang semakin nekat. Percuma aku melarangnya.


Akhirnya kami berdua ke rumah orang tuaku. Sudah kuduga, kami pasti disambut dengan ocehan dan ceramahan. Beberapa pertanyaan yang menyudutkanku langsung terlontar dari mulut ibu dan abah. Abah langsung mengungkapkan bahwa dirinya tidak sudi menerima Tompi sebagai mantunya.


"Bagaimana kalau Tompi tetap akan menikahi Widya, Bah? Tompi akan mundur jika memang Abah tidak sudi memiliki mantu polisi!" Tompi mulai menunjukkan taringnya. Lelaki ini memang keras kepala. Sudah kubilang cukup diam, malah memberontak.


"Mimpi kamu! Widya anak saya! Kamu tidak berhak menikahinya tanpa restu dari saya!"


Abah tiba-tiba memegang dada kirinya. Lalu tubuhnya rubuh ke belakang. Kami panik. Aku meminta Tompi segera mengangkat tubuh abah. Ibu menangis histeris. Kami berangkat menuju rumah sakit.


Aku segera mendaftarkan abah saat orang tuaku mendapatkan perawatan di IGD. Abah harus masuk ICU karena ternyata mengalami serangan jantung, dan saat ini belum sadar.


Tompi meminta maaf padaku. Pikiranku sedang kalut, kuminta dia untuk pulang terlebih dahulu. Awalnya dia menolak, tapi aku mengatakan padanya bahwa jika ia tetap bersamaku keadaan akan semakin keruh.


"Kabari aku," pintanya.


Aku hanya mengangguk. Segera kususul ibu yang sedang menunggui abah. Tapi, saat aku hendak memakai baju gown, ibuku keluar dan memintaku untuk mengikutinya.


"Kamu ingin membunuh orang tuamu?" Pertanyaan yang sangat menyayat hatiku.


"Apa sih, Bu? Tidak ada yang tahu hal ini akan terjadi pada abah." Aku mencoba tidak tersulut emosi.


Ibu menajamkan ucapannya padaku, "Seharusnya kamu bisa berpikir hal ini bisa saja terjadi. Itu semua ulahmu yang membuat abah berpikir keras. Coba saja kamu manut sama orang tua, pasti hal ini tidak akan terjadi!"


Sekali lagi aku disalahkan oleh ibuku. Dimatanya aku ini selalu kurang, dan tidak pernah benar. Aku mengurungkan niatku masuk menemani abah di ICU. Kuputuskan untuk menyendiri di mushola. Bertemu dengan kawan-kawanku disana.


"Sabar, Wid. Semoga abah lekas sehat kembali." Begitulah do'a teman-temanku. Aku mengamini do'a mereka.


Setelah cukup tenang, aku mencoba untuk masuk ke ICU lagi. Mataku menangkap kejadian yang kutakutkan. Seorang dokter sedang melakukan RJP pada abahku. Abah mengalami serangan kedua dan sempat henti jantung. Setelah beberapa saat, akhirnya detak jantungnya kembali. Tubuhku lemas tidak berdaya.

__ADS_1


Air mataku tidak dapat lagi terbendung. Aku menangis melihat orang tuaku terkapar tidak berdaya akibat ulahku. Ya, ibu benar. Ini memang salahku. Coba saja kuturuti keinginan mereka, hal ini tidak akan terjadi.


"Ya Allah, selamatkan abah Ya Allah, tolong." Hanya itu kata yang mampu kuucapkan.


__ADS_2