
Pov : Banun
Hari ini, aku menunggu lelaki itu datang ke rumahku bersama keluarganya. Persiapan sedari pagi telah kami lakukan untuk menyambut mereka. Makanan, minuman, baju terbaik, dan penyambutan yang meriah sudah ada di rumahku. Ada apa sih sebenarnya?
Hari ini aku bertunangan dengan pacarku, kami sudah menjalin hubungan selama dua tahun. Rizal akan datang melamarku sesuai janjinya. Aku sengaja mengambil cuti hari ini. Bu Widya tidak masalah dengan itu. Malah katanya, nanti anak-anak tempatku kerja akan datang sebagai among tamu.
"Cie ..., perawan tua mau dilamar hari ini. Selamat, ya!" ucap Zaki, adikku. Sembarangan sekali dia mengatakan aku perawan tua.
Kulemparkan bantal doraemonku padanya. Dia menangkapnya dengan cepat dan kembali melemparkan padaku. Lalu ia duduk di sampingku.
"Mbak, yakin mau dilamar pacarmu itu?" tanyanya padaku.
Aku mengambil kutek dan memoles kuku tanganku. Hanya kujawab dengan anggukan pertanyaan bocah itu. Dia mengatakan padaku, kalau masih bisa ditolak, lebih baik ditolak. Kenapa?
"Mbok ya dilihat dari wajahnya to, Mbak. Dia itu tidak tulus mencintaimu." Anak ini sepertinya ingin aku hajar.
"Sok tahu kamu!"
"Bukan sok tahu, Mbak. Aku ini juga laki-laki. Pasti aku itu bisa menilai mana yang tulus mana yang pura-pura. Sekarang aku ingin bertanya, ini dia yang ingin melamar, atau kamu yang mendesak?"
Aku tidak menjawabnya. Aku tidak butuh komentarnya. Yang penting bapak dan ibu setuju. Jujur saja, memang lamaran ini aku mendesaknya karena umurku itu sudah 28 tahun. Dengar sendiri kan julukanku apa? Perawan tua. Aku sudah lelah dipanggil seperti itu.
Rizal yang awalnya beralasan a sampai z akhirnya setuju untuk melamarku. Kuminta Zaki keluar dari kamarku. Aku tidak ingin dia merusak suasana hatiku. Semoga memang ketakutan Zaki tidak benar adanya.
Selepas maghrib, aku sudah selesai rias. Menanti rombongan calon tunanganku tiba. Ah, aku terharu dengan teman-temanku rumah bersalin. Mereka sudah datang, berseragam yang sama, mungkin dibelikan oleh bu Widya, entahlah.
Aku juga melihat bosku yang tengah hamil datang bersama keluarganya. Mereka memberikanku selamat.
"Makasih, Ibu. Ibu cantik banget sih, aku kalah cantik ini." Aku mengakui, bu Widya semakin cantik saja setelah menikah dengan pak Tompi.
"Ha-ha-ha, bisa saja kamu, Nun. Gimana persiapannya? Lancar?" tanyanya. Aku mengangguk.
"Hati aman kan?" tanya Bu Widya lagi.
__ADS_1
"InsyaAllah, Bu."
Obrolan segera kami hentikan ketika para rombongan dari calon tunanganku tiba. Aku semakin gugup dari dalam kamar. Terdengar riuh ramai orang bercakap-cakap. Suasana menjadi khidmat ketika perwakilan dari keluargaku memulai acaranya.
Acara diawali dengan pembukaan, lalu pihak lelaki dipersilahkan memperkenalkan diri dan keluarga. Setelahnya, gantian keluargaku yang kini memperkenalkan diri. Acara mencapai pada intinya, aku dipanggil keluar untuk bertemu dengan keluarga pihak lelaki yang akan meminangku.
Aku tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Kulihat lelaki tampan itu juga melempar senyumnya padaku. Pembawa acara mempersilahkan Rizal untuk segera meminangku.
"Aduh, gimana caranya ngomong, ya? Nun ...," ucapnya.
"Lha kok Nun, to? Mbok ya yang mesra dikit gitu lho. Minimal Dek." Pembawa acara itu protes atas panggilan Rizal padaku.
"Emm ..., Dek Banun, cie ..., malam ini Mas Rizal datang kesini, sama keluarga ingin melamarmu, kamu mau nggak jadi istriku nantinya?" kata lelaki itu dengan wajah yang sudah memerah karena menahan malu. Sorak sorai dari teman-temannya membuat suasana semakin pecah.
Kini giliranku bersuara, "Nggih, Mas. Adek mau."
Tepuk tangan dan sorakan semakin riuh. Kami berdua saling memasangkan cincin di jemari masing-masing. Acara dilanjutkan ramah tamah dan foto bersama. Aku melihat sosok mas Gusti disana. Kok mereka saling kenal? Ternyata, aku baru tahu jika dua lelaki itu masih saudara sepupu. Mas Rizal memintanya berfoto dengan kami. Awalnya dia menolak, lalu kupaksa dan akhirnya mau.
"Selamat, ya." Mas Gusti menyalami mas Rizal dan aku. Kami mengucapkan terima kasih dan minta do'a agar berlanjut ke tahap pernikahan.
Pihak keluargaku dan keluarga mas Rizal masih tinggal dan membahas tanggal pernikahan. Ada seorang yang dituakan untuk membantu mencari tanggal yang pas. Ya, seperti itulah adat kami, masih menggunakan perhitungan weton sebagai penentu hari pernikahan.
Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya ditentukan bahwa pernikahan akan segera digelar, satu bulan tidak genap.
"Apa tidak terlalu cepat, Yi? Saya takutnya nanti dikira ada apa-apa sama mereka." Bapakku mencoba bernegosiasi dengan orang yang mencarikan hari pernikahan kami.
"Kalau tidak tanggal ini, berarti harus nunggu dua tahun lagi. Karena perhitungan anak kalian yang bagus hanya di tanggal ini. Lihatlah hari lainnya, semua kena sakit, kematian, kelaparan, kalian ingin anak-anak kalian nantinya susah menjalani rumah tangga?" Orang yang bernama Yi Jono itu memaparkan pada keluarga yang hadir.
"Ya sudah, Pak. Begini saja, yang penting nikahan dulu. Sah sebagai suami istri dulu, nanti untuk resepsi kan tidak masalah mau di tanggal berapa. Sambil kita mempersiapkan dananya dulu," sahut calon mertuaku.
Akhirnya mereka sepakat. Mulai besok aku akan disibukkan dengan urusan administrasi pernikahan. Tapi sepertinya akan seru.
"Besok kamu yang urus sendiri ya ke KUA," kata Mas Rizal sebelum pamit pulang.
__ADS_1
"Lho, ya bareng-bareng to, Mas." Aku protes dengan permintaan itu.
"Ya kan Mas kerja, Nun. Mbok ya pengertian dikit, jam kerja pabrik mana bisa fleksibel to?"
Aku sejenak terdiam. Ya memang benar, tapi apa salahnya izin satu hari untuk mengurus berkas itu? Aku mulai teringat akan ucapan Zaki. Takut jika yang dikatakan adikku benar adanya.
Aku menghela napas dan menepis pikiran jelekku padanya. Akhirnya aku mengalah dan mengiyakan permintaannya.
Esoknya, sebelum aku berangkat kerja, terlebih dulu aku diajak bapak ke rumah mbah modin untuk bertanya syarat administrasi mendaftar di KUA. Mbah modin bersedia membantu, asal surat pindah nikah dari pihak lelaki sudah ada.
Aku mencoba menghubungi mas Rizal untuk menanyakan apakah dia sudah meminta surat pindah nikah? Ternyata belum. Ia malah memintaku menguruskan hal itu juga. Astaghfirullah, sabar. Ya sudah, aku mengalah lagi dan datang ke rumahnya.
Untung saja calon mertuaku pengertian padaku. Mereka membantuku untuk meminta surat pindah nikah. Di tempat kerja, aku dibayang-bayangi lagi dengan kalimat Zaki. Takut jika hal itu menjadi kenyataan.
"Calon manten kenapa sedih?" tanya Bu Widya yang telah selesai menelepon pak Tompi.
"Ah, nggak papa bu. Cuma terpikir sesuatu saja," jawabku.
"Sesuatu apa? Coba cerita sama Ibu."
Aku berterus terang pada bu Widya. Mengatakan masalahku, dan ternyata hal ini membuatku sedikit lega.
"Kalau saran ibu, mending kamu undur rencana pernikahanmu. Mendengar ceritamu kok Ibu ikutan berpikiran negatif sama calonmu. Sesibuk apapun bapak, nyatanya dia memberi kabar ke Ibu, kan? Beda dari bapaknya Gandi dulu, Nun. Mumpung, belum terikat, kenali lebih dalam siapa calonmu. Mereka tidak akan menampakkan sifat buruknya di depan kita. Keluarganya juga tidak akan mau memberitahu kita."
Aku terhenyak akan ucapan bu Widya. Apa perlu aku minta pada bapak agar menunda pernikahan ini? Tapi umurku? Akan semakin bertambah. Aku yang awalnya semangat mengurus ini itu, sekarang kubiarkan. Sudah hampir seminggu dan bapak menegurku.
Selesai bekerja aku banyak merenung di dalam kamar. Kupikirkan kembali saran bu Widya beberapa waktu lalu. Setelah lama berdiam diri, kuberanikan diri untuk bertemu bapak.
"Pak, rencana pernikahannya diundur saja."
Bapak dan ibu terkejut mendengar permintaanku. Mereka bertanya alasanku meminta pernikahan ditunda.
"Banun ingin mengenal lebih jauh sosok mas Rizal. Sebelum nanti Banun benar-benar menyesal."
__ADS_1
Aku berbalik dan meninggalkan mereka yang masih terkejut. Kukabarkan pada mas Rizal tentang keinginanku, dia menurutinya. Aneh bukan? Kalau dia memang benar cinta denganku, pasti akan disegerakan. Kini aku benar-benar meragukan cintanya.