After Reunion

After Reunion
Effort Mencintaimu


__ADS_3

Pov : Tompi


Aku sangat bahagia dengan kehamilan Widya. Dari pernikahanku yang pertama, aku belum dikaruniai penerus. Tapi, aku sangat menyayangi Gandi. Cintaku untuknya tulus, tidak dibuat-buat agar mengambil hati anak itu.


Aku bekerja penuh semangat. Ada aura positif yang selalu mengikutiku. Setiap ada waktu luang, aku selalu menelepon Widya. Kupandangi wajahnya lama-lama sampai dia menjadi salah tingkah sendiri. Terkadang aku geli sendiri mengingat kelakuanku. Kami ini bukan lagi pasangan muda, tapi kami senang melakukan hal seperti anak muda. Agar apa? Agar jiwa kami terus merasa muda.


Aku dan Gandi sepakat membuat ratu di rumah dan hati kami merasa nyaman dalam menjalani kehamilan ini. Aku tahu, usianya tidak lagi muda. Dokter kandungan juga memaparkan kepada kami resiko yang bisa saja terjadi. Banyak sekali, Widya bisa mengalami diabetes gestasional, hipertensi gestasional, pre eklampsia, eklampsia, keguguran, hingga kejadian down syndrom. Dokter juga menjelaskan pada kami hamil di usia kepala empat rentan terjadinya kecacatan.


Kenapa bisa terjadi resiko yang sangat mengerikan itu? Kata dokter, kualitas sel telur dan sel ****** akan menurun seiring bertambahnya usia. Maka, terkadang kromosom yang berkembang bukanlah kromosom yang benar-benar sehat. Makanan, vitamin, dan lingkungan mempengaruhi semuanya. Jadi, sebisa mungkin aku menjaga lingkungan rumah kami tidak terpapar asap rokok, kujaga makanannya, dan mengingatkannya untuk mengonsumsi vitamin setiap hari.


Tentu saja Widya sudah tahu lebih dulu, dan dia memilih untuk tidak memberitahuku. Ia merasa hal tersebut jangan dipikirkan, karena menurutnya Allah itu bekerja sesuai prasangka hambanya. Aku tersenyum dan memeluknya ketika istriku menggaungkan kalimat itu.


"Mah, ini Gandi buatkan jus alpukat tanpa gula. Hanya dikasih sedikit madu. Diminum ya, Mah. Kata mbak Banun alpukat itu buah yang tinggi asam folat, dan asam folat itu penting dalam kehamilan untuk mencegah terjadinya kecacatan pada otak. Benarkah?" Gandi menyodorkan jus itu saat aku dan mamahnya sedang bersantai di ruang tamu.


"Makasih, Sayang. Betul, apa yang dikatakan mbak Banun. Jangan lupa ucapkan terima kasih sudah memberi informasi penting padamu, Gan," jawab istriku.


"Oh, alhamdulillah, berarti pas pelajaran itu mbak Banun beneran melek, nggak ngantuk. He-he-he." Anak sulungku ini memang pandai sekali melawak.


"Besok kita renang sama-sama, ya?" Aku menawarkan olahraga yang aman untuk wanita hamil.


Mereka mengangguk. Sampai detik ini, rasa sayangku untuk mereka semakin meluap. Aku tidak menyesal sedikitpun meninggalkan pekerjaanku yang aku cintai. Aku bahagia bersama mereka.


Aku dan Gandi membagi tugas dalam hal beres-beres rumah. Widya melipat baju dan menyiapkan bumbu masak untuk makanan. Gandi menyapu, mencuci piring dan mengepel. Aku menjemur baju, membersihkan kamar mandi, mengelap perabot rumah dan menyiram tanaman. Untuk urusan setrika kami serahkan pada londry. Mencuci mobil dan sepeda motor kami serahkan pada showroom saja.


Tidak semua harus dikerjakan sendiri, membagi sebagian rezeki uang untuk para pelaku usaha juga perlu. Hanya itu yang bisa aku bagi, karena Widya tidak mau memakai jasa ART. Dia tidak mudah percaya dengan orang. Makanya kami memutuskan untuk membagi tugas itu.


Manajemen waktu sangat penting dalam hal ini. Makanya, kadang kami kerjakan saat malam agar paginya tidak terlalu menumpuk.


"Paket ..." Suara teriakan mas paket di depan pintu rumahku terdengar keras. Gandi cepat membukanya. Memberikan padaku karena memang aku yang memesan paketan itu.


Kuminta Widya membukanya. Paketan pertama berisi vitamin untuk ibu hamil, aku tahu di tempat praktiknya ada, tapi apa salahnya membelikannya yang lebih bagus dan lengkap isinya? Paket kedua berisi guling hamil, barang ini akan digunakan jika perutnya sudah membuncit. Paketan ketiga kuminta dia membukanya di dalam kamar saja. Aku malu ada Gandi bersama kami.

__ADS_1


"Memang apa isinya?" bisik Widya padaku.


"Lihat sendiri, dan coba pakai. Buruan masuk sana. Nanti aku susul dari belakang."


Ekspresi wajah Widya sarat akan kebingungan dan penasaran. Tapi, dia masuk juga ke dalam kamar. Gandi mendapat panggilan dari teman-temannya. Mengajaknya bermain bola di lapangan.


"Pulangnya jangan malam-malam, Mas. Sudah salat ashar?" tanyaku.


"Sudah, Pah. Iya, Gandi tahu. Assalamu'alaikum." Pamitnya padaku.


"Wa'alaikum salam."


Aku mengunci pintu rumah. Lalu menyusul istriku yang sudah lebih dulu di dalam kamar. Aku melihatnya sedang mencoba baju dinas itu. Aku tahu dia hamil, tenang saja, aku masih bisa mengendalikan hasratku. Kecuali Widya yang menggodaku, itu lain lagi. Ha-ha-ha.


Aku memegang pinggangnya dan kuusap perutnya. "Hamil begini, kenapa makin cantik, sih? Hmm?"


Kucium rambutnya yang panjang terurai. Dia berbalik menghadapku, mengalungkan tangannya di leherku.


"Setelah masa nifas selesai," kataku penuh percaya diri. Dia malah tertawa mendengarnya.


"Aku pakai sekarang ah, adem bahannya. Pintar kamu milih, Mas. Waktu milih, ada modelnya nggak?" tanyanya.


"Ya nggak ada to, Yang. Aku dari dulu kan terkenal pintar to, sahabat. Gimana sih? Masa lupa?"


Dia mencubit perutku.


"Jangan dipakai sekarang, takut adekku lepas kendali. Soalnya suasana mendukung, nih! Gandi lagi main bola sama teman-temannya." Aku mencoba menutupi rasa gugupku, sumpah aku takut tergoda. Takut kebablasan. Meskipun kata Widya dan dokter tidak apa-apa melakukan hubungan waktu hamil. Tetap saja, aku takut membahayakan calon anak kami.


Dia tertawa, lalu mengecup bibirku. "Yakin nggak mau?" tanyanya.


"Jangan menggodaku to, aku sedang istiqomah ini."

__ADS_1


"Ha? Istiqomah dalam hal apa?" Widya menatapku bingung.


"Istiqomah dalam hal meningkatkan keimanan agar tidak mudah tergoda oleh istri yang sedang hamil. Kamu itu tahu atau tidak? Sadar atau tidak? Kecantikanmu meningkat dua kali lipat lebih cantik. Jangan tanya kemarin kamu cantik atau tidak, cermati kalimatku. Oke, Sayang?"


Dia memanyunkan bibirnya. Lalu memelukku. "Makasih ya, sudah memberiku kasih sayang, perhatian, dan cinta yang luar biasa. Aku tahu kamu itu bukan orang romantis, tapi sikapmu sudah membuktikan bahwa romantismenya kamu itu beda. We love you, Pah."


"Sama-sama. Terima kasih juga sudah mau hidup bersamaku. Andai saja aku dulu mengungkapkan cintaku sama kamu, mungkin kesempatan aku memiliki banyak anak lebih besar."


Widya mengeratkan pelukannya padaku, "Kalau dulu kamu langsung menyatakan cinta, kamu tidak akan mungkin bertemu Gandi. Tidak akan mungkin kita bertemu kembali seperti ini. Syukuri yang sedang kita jalani. Jangan bicara seperti itu lagi ya, Mas?"


Aku mengangguk. Kukecup keningnya sangat dalam. "Aku bersyukur punya kalian."


Aku membawanya ke tempat tidur, masih memakai baju dinas itu. Kuberikan lenganku sebagai bantalnya.


"Empat bulanan nanti mau acara seperti apa?" tanyaku padanya.


"Selamatan biasa saja, undang bapak-bapak kompleks sama beberapa saudara. Mau catering dimana?" tanya istriku.


"Di tempat biasa saja, nanti biar aku hubungi. Eh, kamu sudah belajar apa saja dari channel bidankita?"


"Aku lagi mengikuti yang kelas hipnobirthing. Aku ingin lahiran normal."


Aku langsung menatapnya, melahirkan normal di usianya yang sudah tidak lagi muda? Bukankah lebih aman persalinan sectio?


"Aman?" tanyaku.


"Aman, Papah. InsyaAllah, tapi bantuin ...," rengeknya manja. Aku senang mendengar suara manjanya itu.


"Bantuin apa?"


"Olahraganya, he-he-he."

__ADS_1


Aku menyetujui keinginannya. Aku tahu, dia pasti sudah memikirkan lebih dulu hal-hal yang bagiku mengerikan. Ya sudah, mengalah saja. Ilmunya tentang kehamilan lebih tinggi dibanding aku. Jadi, pasti dia lebih tahu yang terbaik untuknya dan anak kami.


__ADS_2