
Pov : Widya
Aku menunggu balasan darinya. Hatiku sedari tadi gusar. Bagaimana aku akan mengatakannya? Sanggupkah aku menghancurkan hatinya? Rasanya, aku ingin kabur dan menghilang saja.
Aku tidak sanggup membuat hati itu retak, bahkan hancur. Cintanya terhadapku sangatlah tulus. Ya Allah, tidakkah ini terlalu berat untukku? Aku baru menemukan lelaki yang baik dan tulus terhadapku. Tapi kenapa Engkau atur kami harus berpisah?
Tompi tidak pernah memandang harta dan statusku. Menyayangi Gandi seperti anaknya sendiri. Ponselku berdering. Kupilih menolak panggilan itu. Kukirim pesan padanya.
Me : Wa saja.
Tompi : Lagi sama abah dan ibu ya? Oke deh,
Tompi : Mau bertemu jam berapa? Nanti pas aku buka puasa gimana?
Oh, ternyata dia sedang puasa sunah tarwiyah. Aku sampai lupa akan hari ini. Kemana saja pikiranku? Hari penting malah kutinggalkan.
Me : Boleh.
Tompi : Oke, Sayang. Bagaimana keadaan abah? Aku dengar dari Gandi, abah sudah dipindah ke ruang perawatan biasa.
Me : Nanti aku ceritakan.
Tompi : Kamu baik-baik saja, kan?
Me : Iya.
Tompi : Kok cuma iya, panggilan sayangnya mana?
Aku tidak membalasnya lagi. Memilih mengabaikan pesan itu dan segera menghapus air mataku sebelum ketahuan oleh ibu maupun Abah. Aku pamit pada ibu untuk pulang. Sepupuku membantu ibu untuk menjaga abah. Aku berpesan agar segera memberi kabar jika terjadi sesuatu.
Aku memilih berendam menggunakan air hangat. Sengaja aku berlama-lama di dalam kamar mandiku. Ah, rasanya sedikit rileks. Ponselku berbunyi, kulihat nama yang muncul di layar. Dari Tompi.
Aku tidak mengangkatnya. Memilih membilas diri lalu bergegas memakai pakaian dan berdandan. Aku memeriksa kembali ponsel untuk mengetahui kabar.
Tompi : Aku jemput dimana, Mah?
Me : Jemput di rumah, Mas. Aku tunggu.
Tompi : Oke, Sayang. Aku meluncur.
Aku mempercepat dandananku. Setelah beberapa saat menunggu, Tompi tiba. Aku segera keluar rumah dan masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, wanginya. Dandan cantik lagi, kita mau kencan beneran ini?" sapanya sewaktu aku memakai sabuk pengaman.
Aku menyunggingkan senyumku, untuk menutupi luka yang sudah menganga lebar di hatiku. "Wa'alaikum salam. Iya, kencan. Ke swalayan dulu ya, Yang. Belanja untuk keperluan abah di rumah sakit dan juga keperluanmu."
"Oke, siap!"
Aku lebih banyak bicara saat di mobil. Membuatnya curiga ada apa denganku. Aku mengelak bahwa tidak terjadi apapun. Kami berbelanja, dia yang mendorong troli aku yang mengambil barangnya. Kuambil beberapa coklat untuknya. Aku juga menambahkan camilan kesukaannya.
"Kamu mau bikin aku gendut? Hmm?" Aku mengerang kesakitan karena pipiku dicubit olehnya.
"Biar kau gendut, pipimu bulat kutetap suka ..." Aku melantunkan sebuah lagu yang tidak tahu judulnya.
Dia tertawa. Setelah mendekati waktu berbuka kami menuju rumah makan dekat rumah sakit. Seperti biasa, Tompi akan menjamuku dengan sangat istimewa. Mungkin aku yang akan sangat merasa kehilangannya.
Waktunya berbuka. Kutemani dia makan. Kulayani dia sebaik mungkin, karena ini adalah waktu terakhir bagi kebersamaan kami. Selesai makan, dia mulai menanyakan keadaan abah. Kuceritakan semua, baik itu permintaan abah maupun ibu.
"Aku ingin mengakhiri hubungan kita, Tom." Sekuat tenaga kucoba mengatakan hal itu.
"Apa, Mah? Papah nggak dengar," jawabnya masih mencoba bercanda.
Aku memejamkan mata sambil.menarik napas. "Aku ingin putus."
"Apa ini? Kenapa tiba-tiba minta putus?" tanyanya dengan intonasi naik.
"Kamu sudah berjanji tidak akan meminta berhenti. Atau salah satu dari kita akan terluka. Apa kamu lupa dengan janji itu?"
"Kamu pikir hanya kamu yang terluka? Aku juga, Tom. Jangan kamu kira, aku mengambil keputusan ini secara asal. Aku memikirkan akan seperti apa ke depannya. Kamu punya tante Wanda yang harus kamu jaga, begitupun denganku." Aku menaha agar air mataku tidak jatuh.
"Tante Wanda masuk rumah sakit. Orang tuaku jatuh sakit, serangan jantung dua kali, ibu sampai panas, itu karena ulah kita. Kita ini terlalu egois, sehingga lupa apa yang menjadi amanah kita."
Tompi menatapku penuh amarah. Kubiarkan dia melakukan hal itu. Akan kubiarkan dia membenciku. Itulah caraku agar masing-masing dari kami menjadi asing kembali.
"Aku mohon, ikhlaskan hubungan kita berakhir. Demi orang tua kita." Kutatap dia dengan pandangan sendu.
"Aku pernah menemukan sebuah dalil. Setiap diri kita adalah Ibrahim. Dan, kepemilikan kita atas harta, tahta, dan juga cinta itu adalah Ismail. Allah tidak pernah meminta Ibrahim untuk membunuh Ismail. Allah hanya minta, Ibrahim membunuh rasa kepemilikan atas Ismail." Aku menunggu dia beranjak dan pergi. Nyatanya Tompi masih menunggu kalimatku.
"Aku ingin, kita menjadi Ibrahim yang ikhlas mengorbankan Ismail, yaitu cinta kita demi kebahagiaan orang tua kita, Tom."
Dia berdecak dan menganggap ucapanku hanya karanganku belaka.
"Terserah kamu sajalah, Wid. Aku sudah tidak bisa berkata apapun. Terima kasih atas apa yang telah kamu lakukan terhadapku. Keluar dari rumah makan ini, aku akan menganggap tidak pernah kenal denganmu. Sungguh, aku benci. Aku sangat membenci kamu."
__ADS_1
Tompi mengambil tas dan kunci mobilnya. Bergegas membayar makanan kami. Aku hanya bisa tarik napas dan berkata sabar untuk diriku sendiri. Saat aku berada di parkiran, kulihat mobilnya sedang mundur, lalu dia mengeluarkan kresek berwarna putih. Membuangnya di tong sampah.
Maaf, Tom. Maaf membuatmu terluka. Bukan hanya kamu, akupun demikian. Kuambil kresek itu dan kulihat, itu adalah belanjaanku untuknya.
"Pak, ini buat Bapak saja. Masih bersih kok, Pak." Aku memberikannya pada tukang parkir.
"Oh, makasih, Bu. Kenapa dibuang sama Bapak? Kalian sedang ada masalah?" tanyanya.
Aku hanya tersenyum dan menggeleng.
"Bu, setiap pasangan pasti punya ujiannya sendiri-sendiri. Semoga kalian cepat menemukan jalan keluar untuk masalah kalian."
Aku mengamini do'a tukang parkir itu. Kutinggalkan rumah makan itu bergegas menuju rumah sakit. Aku mencoba untuk tegar, nyatanya, air mata ini meleleh juga. Tumpah sampai rasa sesaknya. Aku berlari mencaei toilet.
Kubiarkan rasa sesak bercampur sesal keluar. Aku sudah tidak mampu lagi membendungnya. Setelah agak tenang, aku membersihkan wajahku, mataku terluhat sembab sekali.
Aku menuju kantin dan membeli es batu. Aku mengompres sebentar mataku agar tidak ketahuan habis menangis. Setelah lumayan kempes, aku memberanikan diri ke kamar abah.
"Abah dan Ibu sudah makan?" tanyaku. Aku lupa membelikan makanan untuk ibu.
"Sudah," jawab mereka hampir bersamaan.
"Kamu dari mana saja? Abah mencarimu terus." Ibu bertanya padaku.
Aku mendekat ke ranjang abah. Lalu melempar senyum padanya. "Widya tadi merujuk pasien dulu."
Abah mengedipkan matanya. Lalu memintaku untuk mendekat. Aku mendekatkan wajahku.
"Makan," kata Abah lirih.
"Sudah, Widya sudah makan. Abah tidak usah memikirkan Widya. Yang perlu Abah lakukan, fokus untuk kesembuhan dulu."
Ada yang bersuluk salam dari luar. Kami menoleh. Mas Han, dia datang menjenguk abah. Dia menyapa dan mengobrol dengan orang tuaku. Setelah agak lama bercerita, ibu memintaku untuk membawa mas Han berjalan-jalan.
Baiklah, kuturuti saja permintaan ibu. Aku dan mas Han mulai menyusuri area rumah sakit.
"Kamu sudah makan, Dek?" tanyanya padaku.
"Sudah," jawabku singkat.
"Nomorku kamu blokir ya?"
__ADS_1
Aduh iya, aku lupa akan hal itu.