
Pov : Tompi
Aku merebahkan diri di ranjang. Terputar kembali suara wanita itu. Mengatakan bahwa aku memiliki tahta sendiri di hatinya. Dan sampai saat ini masih belum bisa terganti oleh yang lain.
"Widya ..., bolak-balik aku berusaha melupakan kamu. Tapi, kamu selalu saja datang dan membuat usahaku selalu gagal."
Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Kesal terhadap diriku, kenapa sudah setahun berlalu masih saja terngiang dan selalu terputar memori kami.
Mamah memanggilku ke kamarnya. Aku kaget saat melihat bibirnya bengkak. Sampai untuk bicara susah. Aku meminta mamah untuk periksa ke dokter. Mamah setuju.
Dari dokter diberikan obat anti peradangan dan anti nyeri saja. Mamah mengkonsumsinya selama tiga hari. Saat obat habis, bengkak mamah tidak kunjung mengempis. Malah menurutku semakin besar.
Kuperiksakan mamah kembali ke dokter itu. Diberikan obat anti peradangan, anti nyeri, dan gatal. Dokter juga menyarankan untuk mengompres bengkaknya dengan air hangat. Masih sama saja menurutku, bengkak di bibir mamah tidak kunjung kempis.
Lalu, ada luka putih seperti sariawan. Dan saat coba kupegang dengan cotton bud, kok seperti lubang? Kuperiksakan kembali mamah, tapi kali ini ke dokter spesialis bedah di kota kami. Aku curiga ini bukan bengkak biasa, bisa jadi ada infeksi.
Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter bedah hasilnya adalah abses dan curiga ulkus diabetik. Abses itu peradangan yang isinya nanah, sedangkan ulkus diabetik adalah luka yang disebabkan oleh penyakit diabetes militus. Dokter bedah waktu itu menyarankan untuk diobati dulu. Setelah dicek gula darah sewaktu, ternyata gula darah mamah saat itu tinggi. Sebab inilah mamah belum bisa diberikan tindakan operatif.
Tiga hari mamah mengkonsumsi lagi obat itu. Hasilnya sedikit kempis dan luka putih itu malah memanjang. Aku sampai tidak tega melihatnya. Makan susah, minum susah, bicarapun menjadi susah bagi mamah.
Waktunya mamah kontrol, gula darah sewaktu hasilnya masih tinggi. Itulah kenapa luka mamah tidak kunjung sembuh.
"Gimana? Mau saya operasi?" tanya dokter bedah itu.
"Baiknya gimana, Dok?" tanyaku.
"Sebaiknya segera operasi. Mengingat ini adalah infeksi, dan bisa terus meluas, sebaiknya segera dilakukan tindakan."
Aku menghubungi kakakku. Kukatakan keadaan mamah karena saat ini dia tidak berada di Demak. Mas Tugas memberikan tanggung jawab penuh padaku. Baiklah, aku setuju mamah dioperasi di bagian bibirnya. Sebelum kusetujui, aku bertanya pendapat mamah.
"Mamah manut saja, Mamah sudah tidak tahan dengan sakit ini."
Oke, mamah setuju. Besok malam mamah akan dioperasi. Sekarang harus puasa terlebih dahulu. Dokter menjelaskan padaku bahwa nanti tindakan operasinya akan memakan waktu sekitar satu sampai dua jam. Mamah akan dibius total dan dilakukan pembedahan pada luka.
Bibir mamah nantinya akan berlubang, tapi dokter meyakinkanku bahwa nanti akan tumbuh jaringan baru. Aku bertanya makanan dan minuman apa yang harus dibatasi? Karena aku tahu mamah, makan nasi hanya sedikit.
Ternyata penyebab diabetes militus bukan hanya itu. Banyak gula tersembunyi di dalam makanan yang membuat gula darah tinggi, tiba-tiba terkena penyakit itu. Entah apa yang dikonsumsi mamah akhir-akhir ini karena memang semenjak pulang ke rumah, aku jarang berkomunikasi dengannya.
Aku tahu aku salah, tidak bisa memahami perasaan mamah. Sekarang, aku menyesal. Mamah mulai puasa jam sembilan malam, dan akan dioperasi besok jam sembilan pagi.
Hari berganti, kami bersiap menuju tempat praktik dokter bedah itu. Para tim operasi yang akan bertindak memperkenalkan dirinya padaku. Mamah mulai diinfus lalu dimasukkan ke ruang tindakan.
Operasi dimulai. Hatiku cemas memikirkan keadaan mamah di dalam. Satu jam yang biasanya terasa cepat, kini sangat lambat sekali. Akhirnya pintu ruang tindakan terbuka. Aku langsung melihat mamah. Mereka memindahkan mamah ke ranjang pasien.
__ADS_1
Kutunggu mamah sadar karena masih dalam pengaruh obat bius. Setelah mamah sadar, kutanya keadaannya.
"Mamah ini nanti bagaimana?" tanyanya. Aku juga bingung harus bagaimana. Dokter menyarankan agar mamah mengkonsumsi makanan cair dulu, dan meminta ganti balut setiap hari.
Setelah di rumah, mas Tugas yang baru pulang dari dinas melihat keadaan mamah. Aku sibuk mencari perawat yang lowong untuk membersihkan luka mamah. Kutanya pada istri rekan-rekanku yang seorang tenaga medis.
Alhamdulillah, kami diberikan kemudahan menemukan perawat yang mau datang ke rumah. Tapi aneh, setiap dua hari sekali mereka meminta berhenti. Apakah jasa yang kuberikan terlalu kurang untuk mereka? Ternyata tidak. Mereka tidak tahan pada sikap mamah.
Belum sampai dibersihkan sudah mengatur-atur mereka. Maka dari itu mereka meminta berhenti. Mamahku memang orangnya banyak mau. Sampai setiap hari ganti perawat. Aku sampai pusing. Sekarang, aku kesulitan lagi menemukan perawat yang bisa betah menghadapinya.
"Kenapa harus nyari sih, Widya aja suruh kesini. Dia kan bisa to?" Kak Tisha mengatakan hal itu dengan santainya.
Aku dan mas Tugas beradu pandang. Mamah pasti akan menolak jika dirawat oleh wanita itu.
"Gimana, Mah? Mau dirawat Widya?" tanya Mas Tugas.
"Terserah, siapa saja, yang penting bisa membuat mamah sembuh." Mamah hanya bisa pasrah.
Aku sedikit terkejut dengan jawaban mamah. Artinya setuju, kan? Meskipun terpaksa. Oke, kami sepakat menghubungi Widya. Tapi, aku tidak mau menghubunginya. Biar kak Tisha saja, kan itu idenya.
Kakak iparku satu ini memang istimewa. Dia menghubungi Widya tapi bukan memakai nomornya, melainkan memakai ponselku. Punyakua yang jarang kuberi sandi bisa dengan mudah digunakannya. Kalian ingin tahu isi chatnya? Nih isi chat nya.
Me : Wid, sibuk nggak? Aku perlu bantuanmu. Mamah kita sakit, Sayang. Kamu bisa obati mamah, kan? Kemarin habis operasi ada luka di bibirnya.
Me : Ini aku, Tompi. Siapa lagi?
Mantan : Oh, memang tante Wanda kenapa?
Me : Biasakan panggil calon mertua itu dengan kata Mamah. Kemarin bibirnya tiba-tiba bengkak, lalu gula darahnya tinggi. Jadi luka diabetes, dan sekarang tidak ada yang mau merawatnya.
Mantan : Memang tante Wanda mau aku rawat? Aku takut jika nanti aku sudah sampai sana, diusir sama mamahmu.
Me : Nggak akan, Sayang. Mamah sendiri yang minta diganti balut olehmu.
Mantan : Ini bukan Tompi, kan? Ini siapa sih?
Me : Nggak penting ini aku atau bukan, aku butuh bantuanmu, Yang.
Mantan : Mbuhlah! Berarti aku ganti balut tante Wanda?
Me : Iya,
Mantan : Oke, tiap sore saja ya?
__ADS_1
Me : Oke siap. Panggilnya mamah dong, Sayang. Manut sama calon papah Gandi, dong!
Aku membacanya berulang kali. Geli sendiri membacanya. Mana nama kontaknya sudah aku ganti menjadi mantan lagi. Masa mantan panggilnya sayang? Kan aneh!
Widya datang di sore hari untuk merawat luka itu. Hmm, apa aku juga harus perawatan luka dengannya? Agar lukaku sembuh total dan tidak membencinya.
Deru motornya sudah terdengar. Aku sengaja berlama-lama memakai pakaian. Malas bertemu dengannya.
"Assalamu'alaikum," ucapnya. Kujawab dari kamar. Kubuka sedikit pintu kamarku dan menyuruhnya masuk.
Wanita ini bagaimana, sih? Bukan masuk ke kamar mamah, eh malah masuk ke kamarku. Dasar Widya! Jangan salahkan aku kalau kamu menggoda seperti ini.
"Ya aku kan nggak tahu kamar tante Wanda, Mas. Santai besti, aku kesini bukan untuk menggodamu. Aku kesini diberi amanah untuk merawat luka mamahmu." Dia mulai galak lagi denganku.
Namun, kenapa aku senang dia galak terhadapku? Ah, hati, jangan mendekat lagi padanya. Cukup kemarin saja. Aku tidak mau terluka untuk kedua kalinya.
Kudengar dia berbincang dengan mamah. Lalu senyap, aku takut terjadi apa-apa. Segera aku keluar dan menuju kamar mamah. Oh, ternyata dia sedang membersihkan luka mamah.
Seperti biasa, mamah akan banyak tuntutan. Tapi anehnya, wanita ini selalu sabar dan diam menghadapinya. Seperti ini ya para tenaga medis jika bertemu dengan pasien yang rewel seperti mamah? Hebat sekali kalian. Sekali lagi aku terpesona oleh karisma dalam dirinya. Kuakui, mantanku satu ini tidak hanya cantik, tangannya cekatan dan terampil dalam setiap tindakan yang dilakukannya.
"Mas, tolong pegangi senternya."
Enak sekali dia main suruh begitu. Terpaksa aku memegangi senter agar terlihat dengan jelas. Aku tidak tega melihat luka mamah. Bibir mamah benar-benar habis digerogoti oleh infeksi.
Hampir setengah jam aku memegangi senter itu. Setelah selesai, segera kutinggalkan mereka. Aku tidak tahu yang mereka obrolkan. Hanya saja, wanita itu datang padaku dan memintaku membeli produk nutrisi makanan.
"Belikan itu biar tante kenyang, kasihan jika hanya jus buah. Kalau yang nutrisi itu kenyangnya lebih lama." Dia duduk dan menemaniku makan siang yang sudah terlewat.
Aku hanya mengangguk. Oke, akan aku belikan. Tapi, belinya dimana? Produk itu tidak dijual bebas di pasaran. Inginku tidak membangun komunikasi, tapi kok ya butuh dia.
"Belikan kamu saja, nanti aku ganti uangnya," kataku.
Dia mengangguk. Lalu matanya melihatku lama. Aku sampai salah tingkah dengan pandangan itu.
"Kamu kalau makan cuma sama telur begitu, doang? Sayurnya nggak ada?" protesnya padaku.
Aku hanya diam, tidak mau menjawab pertanyaan darinya.
"Besok aku bawakan makanan," ucapnya lalu pergi tanpa menunggu jawabanku.
Huft, hatiku sedang dipermainkan olehnya. Aku tidak boleh terjebak lagi dengannya. Nanti kalau sudah terlanjur sayang, sakit rasanya jika harus berpisah.
Hampir satu bulan wanita itu merawat mamah. Dan aku senang, lukanya semakin membaik.
__ADS_1