
Pov : Tompi
Aku baru saja sampai rumah. Gerah sekali tubuh ini karena mandi keringat. Segeralah aku mandi agar lebih segar. Aku nyalakan shower dan mengatur tombol untuk air hangat. Ah, nyaman sekali.
Kepala dan pundakku yang tadinya sedikit kencang, kini mulai rileks. Hampir lima belas menit aku berada dalam kamar mandi. Setelah menyelesaikan ritual memanjakan badan, aku segera berganti baju.
Ternyata aku sudah ditunggu mamah di ruang tamu. Entah apa yang ingin beliau katakan, tapi hatiku merasa ada yang tidak beres. Aku melihat sebentar ponselku. Ada dua kali panggilan tidak terjawab dari Widya. Ada apa? Aku putuskan mengirim pesan padanya.
Me : Aku baru selesai mandi, ada apa? Kangen?
Kembali kuletakkan benda elektronik itu. Aku segera menghampiri mamah. Beliau menyambutku dengan senyumannya. Menanyakan hariku seperti biasanya. Gambaran seorang ibu yang sangat sayang dengan anak lelakinya bukan?
Itu menurut pemikiran kalian. Bagiku? Itu adalah sebuah interogasi. Inilah kelemahanku pada mamah, tidak pernah bisa berbohong. Ingin sesekali aku menyembunyikan sesuatu, tapi tetap saja tidak tega.
"Ketemu sama teman-teman lama," jawabku ketika mamah menanyakan siapa saja yang aku temui.
Aku tahu arah pembicaraan ini. Mamah pasti ingin tahu aku bertemu dengan Widya atau tidak. Hatiku ingin menyembunyikannya.
"Jangan mencoba berbohong pada Mamah, Tom." Matanya terpaku pada buku yang sedang dibaca, tapi seakan tahu apa yang ada di dalam hatiku.
Aku mengambil nastar sisa lebaran kemarin. "Kami bertemu, Mah," jawabku seperlunya.
"Dia seorang janda, anaknya satu, laki-laki dan sekelas dengan Rania. Betul?" Mamah tahu segalanya tentang wanita itu. Siapa yang memberitahunya? Pasti mas Tugas.
Aku mengangguk sebagai pembenaran atas fakta yang diucapkan mamah. Kami berdua terdiam. Lalu mamah menutup bukunya.
"Mamah berharap kamu bisa cerdas dalam memilih pasangan hidup. Sudah berulang kali mamah katakan, cari wanita yang dapat membantumu untuk menaikkan pangkatmu." Mamah mengatakannya dengan begitu santai.
Bagiku ini kejam. Dengan kata lain, mamah menyuruhku untuk menikah dengan anak seseorang yang berpengaruh, agar pangkatku bisa naik dengan cepat. Apakah hatiku sama sekali tidak berharga di mata ibu kandungku sendiri?
Aku berusaha tetap tenang meskipun ingin memberontak. Selama ini aku selalu menuruti kata mamah. Sampai menentukan pasangan hidup juga aku hanya mampu manut.
Apakah suaraku tidak akan pernah dipedulikan untuk selamanya? "Iya, Mah." Aku memilih kalimat itu agar mamah tetap tenang.
"Mamah peringatkan kamu sekali lagi, Tom. Mamah hanya akan merestuimu kalau pilihanmu itu pantas dan bisa berada di sampingmu."
__ADS_1
Jika mamah sudah bicara seperti ini, itu artinya dia tidak akan merestuiku dengan wanita pilihanku. Jujur, aku mencintai Widya, menyayangi dia sama seperti dulu. Kenapa tembok pemisah kami kuat sekali?
"Sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, Mah?" tanyaku ingin segera mengakhiri perbincangan malam ini.
"Sudah, Mamah mau istirahat." Mamah beranjak menuju kamarnya. Aku merangkul bahunya lalu mengantarkan sampai tempat tidur. Menyelimuti kaki mamah dan tidak lupa mencium keningnya.
"Selamat malam, Mah. Tompi pamit ke tempat mas Tugas sebentar."
Mamah mengangguk. Aku segera keluar dari kamar mamah. Ingin bertanya pada saudara kandungku, kenapa mulutnya tidak bisa menjaga rahasia?
Rumah kami hanya berjarak sepuluh meter. Dekat sekali. Ya, karena dia menempati rumah dinas. Beberapa anggota yang berjaga memberi hormat padaku. Aku hanya mengangguk.
"Komandanmu ada, kan?" tanyaku.
"Siap, ada Ndan." Mereka menjawabnya dengan tegas.
Aku dipersilahkan masuk, mencari keberadaan kakakku. Ternyata mereka sedang makan malam. Akhirnya aku ikut makan bersama mereka. Tidak ada obrolan yang terjadi di meja makan. Hanya dentingan sendok dengan piring yang beradu.
Selesai makan, aku menunggu kakakku di gazebo belakang. Memberi makan ikan koi yang kini semakin banyak. Dia menghampiriku dan ikut memberi makan ikan.
"Kamu pasti mengadu ke mamah soal Widya, kan?" cecarku tidak sabaran.
Dia hanya tersenyum kecut lalu memilih duduk. "Duduk, sini. Mas mau tanya sama kamu."
Aku menuruti saudaraku, duduk berdampingan dengannya. "Apa keunggulan Widya? Kenapa kamu sampai detik ini mencintainya? Apa dia bisa mendampingimu dalam masa tugasmu?"
"Satu-satu kalau nanya, Mas." Aku protes karena dicecar dengan berbagai pertanyaan darinya. "Jawab dulu, kamu yang mengadu ke mamah?"
Dia hanya diam. Aku artikan itu sebagai jawaban iya.
"Dia wanita mandiri, kuat, dan tangguh. Mungkin karena dulu perasaan ini tidak bisa kusampaikan, hingga jadinya mengendap di dasar hati. Untuk pertanyaanmu yang ketiga aku tidak bisa menjawabnya, karena belum pernah aku coba."
Mas Tugas manggut-manggut mendengar penuturanku. "Mau mencobanya?"
Aku menoleh ke arahnya. Dasar bunglon! Sebenarnya dia ini di pihak siapa, sih? Seolah-olah mendukungku, tapi menjatuhkanku di depan mamah. Lelaki satu ini ingin aku hajar.
__ADS_1
"Ingin mencoba atau tidak?" Dia menunggu jawabanku.
"Pikirkan dengan matang. Jangan hanya mengandalkan emosi cintamu yang baru mau merekah. Tantanganmu di depan adalah restu mamah. Ah, iya. Aku lupa, bukan hanya restu mamah. Tantanganmu itu tentang restu. Mamah, Gandi, dan orang tua Widya. Kamu mampu?"
Aku merenungkan hal yang dilontarkan kakakku. Benar juga ucapannya. Kak Tisha datang dan bertanya obrolan kami.
"Kamu ingin dengar pendapat Kakak, nggak?" tanya Kak Tisha.
Aku menatapnya. "Hanya satu kata, perjuangkan."
Rania tiba-tiba saja muncul dan memberitahu kami hal mengejutkan. Widya menghubunginya, mengatakan bahwa Gandi kabur dari rumah. Aku langsung terlonjak kaget. Mencari keberadaan ponselku.
Ah, sial. Ponselku masih ada di dalam kamar. Apakah dia meneleponku karena hal ini? Aku bergegas pamit dan kembali ke rumah. Segera kucari benda pipih itu.
Aku membuka pesannya, ternyata memang benar. Dia membutuhkan bantuanku. Kuletakkan ponsel ke telinga.
"Sudah ketemu? Tenang dulu, jangan panik. Ponselnya di rumah?" Aku mondar-mandir tidak tenang. "Kamu dimana? Barusan pulang? Sudah makan?"
Dia menjawabnya asal-asalan. Tidak ada semangat dalam setiap kalimat yang kudengar. "Tunggu aku, bukakan pintu untukku. Assalamu'alaikum."
Aku bergegas mengambil kunci motor. Kupacu dengan kecepatan sedang, lalu mampir sebentar untuk membelikannya makan. Setelahnya aku menuju rumah Widya. Kuketuk pintu kayu jati itu, seorang wanita muda membukakannya untukku.
"Pak Tompi?" tanyanya. Aku mengangguk. Dia mempersilahkanku masuk dan pintu tertutup kembali. Aku diarahkan berjalan menuju dapur.
Ternyata dia sedang memasak mie instan. Wanita tadi meninggalkan kami berdua. Dia menuangkan air untukku. Kutarik tangannya dan menyuruhnya duduk. Kini aku yang akan melayaninya.
Aku mematikan kompor. Mengambil piring untuknya lalu menyajikan makanan yang kubawa.
"Gandi pergi dari rumah, aku harus gimana?" Wajah sedih bercampur air mata lagi yang aku lihat.
Jika tadi aku menutupinya dengan jas, kini kuberanikan diri menghapus air mata itu dengan tanganku sendiri. "Tenang, makan dulu setelah itu kita bicara."
Hatiku berkata, peluk dia, peluk! Sedangkan otakku berkata, jangan melebihi batas, ingat peringatan yang diberikan mamah dan mas Tugas!
Sial memang, kenapa mereka berdua selalu tidak bisa sinkron? Hei, kalian diamlah! Biarkan aku menenangkannya lebih dulu. Kulihat wajahnya seksama, dan aku putuskan malam ini, aku akan mengabaikan peringatan itu.
__ADS_1