
Pov : Widya
Mas Tompi pamit untuk menjemput mamah, ibu dan abah terlebih dahulu. Setelah sampai, kini berganti dia meminta izin menjemput anak lanangku. Aku masih sibuk menata makanan saat para orang tua kami sampai. Jika dulu mereka berseteru, kini mereka sedang asyik mengobrolkan kesehariannya. Bercanda sambil melihat televisi yang sedang menampilkan acara komedi.
Gandi pulang dari persami. Dia menyalami semua yang ada di rumah. Ia berbisik padaku, ada apa? Kenapa semua berkumpul?
"Mamah punya berita besar," jawabku.
"Ya sudah, Gandi mandi dulu deh, Mah." Gandi segera bergegas.
Mas Tompi memintaku untuk duduk dan menemani orang tua kami mengobrol. Dia menggantikanku menyiapkan piring, gelas, dan peralatan makan lainnya. Setelah menunggu Gandi selesai mandi, kami mulai memutar video akad pernikahan kami.
Kulihat orang tua kami menangis karena mendengar suara Gandi yang bergetar. Selesai melihat video itu, Mas Tompi memperlihatkan slide foto yang sudah digabungnya menjadi video. Slide foto yang menunjukkan hasil tespackku beberapa bulan ke belakang yang hasilnya negatif.
Ibu menoleh ke arahku. Mata kami sama-sama berpandangan. Aku tersenyum dan mengangguk. Di akhir video ada hasil terakhirku. Yang baru saja aku lakukan semalam. Mamah yang jarak pandangnya sudah berkurang, meminta diputarkan ulang di bagian akhir.
Mas Tompi menyodorkan kotak cincin merah marun itu di hadapan semua orang. Gandi bergegas membukanya. Dia membaca dengan keras memo yang kutulis semalam. Ia langsung menghampiriku dan memelukku. Ada isak tangis yang tersaring oleh gendang telingaku.
"Selamat ya, Mah, Pah. Gandi sangat bahagia," ungkapnya sambil masih memelukku.
Aku mengusap punggung anakku, lalu kukecup keningnya. "Terima kasih ya, Gan. Selamat juga untukmu, Nang. Setelah ini ada yang akan memanggilmu mas selain Nata, Naka, dan Najwa."
Aku melihat mamah menangis. Segera kupeluk beliau dan kusalami tangannya. "Minta do'anya agar Widya dan calon cucu Mamah sehat dan berkembang dengan baik ya, Mah."
Mamah malah menjewer telingaku. Katanya, aku menantu yang nakal. "Kenapa masih repot-repot mengirimkan Mamah makanan kalau sudah tahu hamil?" protesnya.
__ADS_1
"Widya baru tahu semalam, Mah."
"Mulai besok tidak usah masak, Tompi biar cari makan sendiri kalau lapar." Mamah sudah mewanti-wantiku.
"Cuma masak doang, Mah." Anaknya tidak terima jika disuruh cari makan sendiri.
Aku menyalami ibu dan abah. "Masak juga mengeluarkan tenaga ekstra, Nduk. Wes gini aja, kalau memang kuat ya masak, kalau merasa capek jangan dipaksa. Ingat umurmu sudah kepala empat. Kamu sedang mbobot. Ibu tidak bisa mendampingimu setiap saat. Kamu yang lebih tahu kondisi tubuhmu, ilmumu lebih tinggi dari kami semua. Jadi, jaga dengan hati-hati."
Panjang sekali wejangan ibu kali ini. Hmm, meskipun selalu membandingkanku dengan Gata, tapi inilah ibu. Dia akan selalu memberi pesan terbaik untuk anaknya. Abah tidak terima aku diberikan ceramah panjang lebar dari ibu.
"Anakku ojo mbok sengeni terus, atiku loro," ucap Abah. (Anakku jangan kamu marahi terus, hatiku sakit,)
Aku terharu dengan perkataan abah. Kupeluknya lagi lelaki kesayanganku itu. "Mau punya cucu lagi, jadi harus lebih semangat untuk sehat. Ingin gendong cucunya seperti menggendong Gandi dulu, kan? Pakai selendang, jalan kesana-kemari sambil menyuapi makanan?" tanyaku.
Abah mengangguk. Beliau kembali menangis. Itulah abah, hatinya sangat sensitif. Kalau kata saudara kami, abah itu orangnya cengeng. "Tapi aku cuma bisa duduk di kursi roda."
Mas Tompi mempersilahkan semua untuk makan. Jika dihari biasa aku akan melayaninya dan juga Gandi, kini dua lelaki itu sedang melayaniku. Keajaiban yang dibawa malaikat kecil di dalam perutku memang sungguh luar biasa.
Aku mulai mengalami ketidaknyamanan kehamilan. Punggungku sering sakit, jadi jika berdiri atau duduk terlalu lama, rasanya akan seperti orang yang punya saraf kejepit. Apa mungkin aku memiliki penyakit itu ya? Jujur saja, aku jarang memeriksakan keadaanku sendiri.
Mual iya, tapi tidak sampai muntah. Dan itupun kalau aku mencium bau wangi. Kalau ada yang pakai parfum di dalam rumah, pasti aku akan segera mual dan berlari ke kamar mandi. Mualku akan mereda jika bau wangi dari parfum itu hilang. Jadi, dua lelaki andalanku itu sekarang kalau memakai parfum di luar ruangan.
Semua makanan aku doyan. Tidak seperti kehamilanku dulu, yang suka sekali pilih makanan. Kini, aku membabat habis semua yang ada. Ikan, ayam, telur, tahu, tempe, dan segala macam sayuran dan buah aku suka. Sepertinya anak dalan perutku persis papahnya, yang doyan semuanya.
"Yanh, Mas belanja sayur bunga pepaya, bumbu untuk tumisnya apa saja? Ikannya hanya ada ayam dan tempe, ikan lautnya habis. Nggak papa, kan?" Lihatlah keajaiban lain ini, Mas Tompi sekarang rajin masak demi aku dan calon bayi kami.
__ADS_1
"Bamer, baput, cabai, lengkuas, daun salam, kecap, gula, dan garam besti. Bawa sini bahan-bahannya, aku bantu kupas." Aku duduk dan menyalakan lagu dengan judul dadi siji di youtube.
Dia mengambilkan yang aku minta. Sementara itu ia mencuci bunga pepaya, memotong tempe, dan merebus ayam.
"Tempat praktikmu akan kamu desain seperti apa, Yang? Mumpung ini masih hamil muda, bisa milih ini itu." Mas Tompi memang dari kemarin mendesakku untuk rencana ini.
"Minta tolong desainkan ya, Pah. Aku mintanya lantai satu itu full pelayanan. Nah nanti lantai dua ada aula dan kamar jaga. Aku ingin, nanti mereka tiga shift."
"Kalau kamu inginnya seperti itu, berarti sudah kamu pikirkan juga biaya tambahan untuk kenaikan gaji mereka?" tanya suamiku sambil menyalakan kompor gas.
Aku mengangguk, "Sampun, Mas. Mungkin kedepannya aku ingin menjadikannya klinik. Tapi, untuk saat ini perluas saja dulu."
Dia duduk dan membantuku memilih cabai yang masih bagus. "Kalau Mas ya, tidak usah dibangun lantai dua. Bekas kamar Gandi dijadikan VK saja, sambungkan dengan kamar belakang. Lalu, kamarmu biar menjadi kamar jaga."
Aku menatapnya. Mungkin dia memikirkan biaya. Oke, aku ikuti saja sarannya.
"Bukan perkara uang, Mas memikirkan kamu kalau nanti disana, naik turun tangga, apa tidak capek?" Mas Tompi membelai rambutku, seakan tahu isi pikiranku. Ah, lelaki ini memang sungguh bisa membuatku selalu meleleh.
Aku tersenyum dan mencubit pipinya. "Romantisnya bestiku ini ...,"
"Tanganmu bekas cabai besti. Panas pipi ini, dinginkan dengan ciumanmu." Dia mendekatkan pipinya ke bibirku. Aku menolak karena memang tanganku bekas cabai. Pastilah panas.
Aku memilih mencium kening dan pipi kirinya. Dia meminta lebih, hendak meminta bibirku, kuberikan satu kecupan. Mas Tompi ini memang ya, masih saja kurang.
"Ayamnya direbus dulu, Pah. Adeknya Gandi sudah lapar, nih," selorohku padanya.
__ADS_1
Dia langsung memanyunkan bibirnya. Aku hanya tertawa menyaksikan sahabatku kesal seperti itu. Kami bekerjasama memasak menu hari ini. Wah, perutku keroncongan. Doyan sekali anakku ini makan. Alhamdulillah, aku mensyukuri itu semua.