After Reunion

After Reunion
Sepi & Kangen


__ADS_3

Pov : Author


Kepergian Tompi dari rumah membuat suasana semakin sepi. Hanya berteman guling, wanita renta itu menatap arah pintu. Berharap anak bungsunya pulang dan meminta maaf padanya. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan kembali manut padanya.


Setengah jam wanita itu menunggu, tak ada seorangpun yang mengetuk pintu kamarnya. Sedih, di usianya yang sudah tidak lagi muda, dia hanya tinggal seorang diri. Kesuksesan yang ia bekalkan pada anak-anaknya tidak membuatnya diingat oleh mereka.


Justru, orang yang dibenci olehnya memberikannya makanan tadi sore. Wanda mendapatkan kiriman makanan dari Widya, wanita yang selalu dia benci.


"Mungkin rasanya tidak seenak masakan Tante, tapi itu makanan kesukaan Tante." Widya meletakkan makanan itu di atas meja. Lalu balik badan dan hendak pulang.


"Widya pamit, Tan." Janda yang selalu diremehkannya itu justru datang dan baik kepadanya.


Widya mencoba mencium tangan Wanda. Meski sedikit yang bisa tercium, tapi itu membuatnya senang.


Setiap hari, Widya mencoba membujuk Tompi agar pulang. Wanita itu tahu sorot kerinduan seorang ibu terhadap anaknya. Mereka sama-sama keras, hingga tidak ada yang mau mengalah.


"Huft ..., berat ya ujian kita?" Widya menyandarkan kepalanya di bantalan sofa.


Tompi beranjak dari duduknya, lalu kembali bersila di depan Widya. Bertanya ada masalah apa?


"Aku ini seorang ibu, Mas. Kelakuan kita ini menggores hati orang tua kita apa tidak, sih?" tanya Widya.


Tompi mulai menghela napas. Inilah yang terjadi. Seharusnya mereka sudah punya solusi untuk bisa mendapatkan restu itu. Tompi hanya mampu berkata sabar. Berharap dari sikap itu akan membuahkan hasil mendapatkan restu.


"Bagaimana jika keadaannya dibalik? Gandi punya pacar dikenalkan ke aku tapi aku tidak merestuinya. Gandi lebih memilih pacarnya. Kira-kira aku sakit hati tidak ya?" tanya Widya pada Tompi.


"Sudah to sudah, sabar, Mah."


"Pasti yang dirasakan mamahmu dan abahku begitu. Sakit hati. Orang kalau sudah sakit hati, susah untuk menerima segala hal. Mau itu sebaik apapun." Widya langsung diam mengatupkan bibirnya saat mata lelaki itu menatapnya tajam.


Tompi menatap Widya sangat lama. Sampai wanita itu menjadi salah tingkah sendiri.


"Kamu ingin menyerah?" Suara pria itu sangat mengintimidasi.

__ADS_1


Widya tidak bermaksud meminta menyerah. Dia hanya membayangkan jika keadaan itu terjadi pada dirinya. Agar bisa mendapatkan solusi yang tepat. Mendapatkan apa yang mereka inginkan, yaitu restu.


Widya menggelengkan kepalanya pelan, "Nggak, Sayang. Aku hanya mencari jalan keluar dari masalah kita. Coba kamu telaah, apa yang akan kamu lakukan jika posisimu sebagai abah?"


Tompi terdiam dan melamun, dia juga memikirkan alasan orang tua Widya yang tidak akan mengizinkan anaknya menikah dengan polisi. Apakah dia harus mengundurkan diri dari kesatuannya itu? Sudah siapkah pria itu kehilangan jati dirinya?


Ah, pembahasan kali ini membuat kepalanya pusing. Tapi, rasa cinta Tompi lebih besar terhadap Widya, ketimbang pekerjaannya. Dia masih bisa mendapatkan pekerjaan lain jika mundur dari kesatuannya. Kalau Widya? Jika ia tidak segera menentukan pilihan, bisa-bisa sahabatnya itu diambil lelaki lain.


"Aku akan mundur dari pekerjaanku," kata Tompi membuat Widya terkejut.


Tidak, Widya tak akan setuju dengan ide Tompi. Dia merasa sudah banyak hal yang dikorbankan oleh lelaki itu agar mereka tetap bisa bersama.


"Kalau dicerna ucapannya abah, kamu itu hanya tidam boleh menikah dengan polisi. Polisi lho ya, bukan orangnya. Ngerti maksud aku, kan?" Tompi mengingat betul cerita yang dilantunkan Widya.


Widya berdecak sebal, "Aku nggak setuju kamu mundur! Aku tahu tentang kamu, Mas. Menjadi polisi adalah hal yang kamu cita-citakan sejak SMP. Jangan hanya karena aku, kamu melepaskannya. Awas saja kalau sampai kamu melakukannya!"


Tompi beralih duduk di sebelah wanita itu. Tersenyum lalu mengacak-acak jilbabnya. Ah, senangnya dalam hati memiliki wanita yang bisa mengerti dirinya.


Widya akhirnya tersenyum setelah mendengar hal itu. Mereka hanya harus bersabar. Meluluhkan hati orang itu ya tidak bisa sekali langsung luluh. Butuh proses mencairkannya terlebih dahulu.


**


Tugas menemui adiknya saat masih di kantor. Bicara empat mata dengan saudara kandungnya itu. Lelaki itu mengatakan kondisi ibu mereka.


"Mamah sakit," ucap Tugas sambil mengawasi gerak-gerik adiknya.


Mata Tompi memang tertuju pada layar monitor di depannya. Tapi, gerakan tubuhnya terlihat terkejut. Sudut matanya jelas terlihat seperti menunggu Tugas membeberkan berita selanjutnya.


"Tadi malam mamah telepon, bilang badannya panas. Aku bawa ke IGD. Suhunya sudah mencapai 39 derajat."


Tugas menghentikan ucapannya. Ingin tahu reaksi adiknya setelah dia mendengar cerita itu. Ternyata Tompi memiliki jiwa gengsi juga. Tapi, kenapa itu tidak berlaku untuk Widya?


Malah, kalau adiknya ini sedang berada di dekat Widya mirip anak seumuran Gandi. Yang suka cari perhatian, senang dipuji, apa adiknya sedang puber kedua?

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa menit, Tugas tidak mendapatkan balasan apa-apa. Ya sudahlah, dia mengerti perasaan adiknya. Siapa yang mau dijodohkan dengan wanita yang memiliki sakit mental seperti itu?


"Pulang kalau marahmu sudah reda," seloroh Tugas saat hendak keluar ruangan.


Tompi langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menghela napas dan menatap kosong ke arah depan.


"Maafkan Tompi, mah."


Dia segera meraih ponselnya. Menghubungi Widya dan menceritakan apa yang terjadi. Wanitanya ingin menjenguk sang mamah. Akankah Wanda meremehkan mereka lagi.


Wanda memilih diam saat mereka datang. Membiarkan mereka menjenguknya. Menanyakan keadaan Tompi dan menyuruhnya pulang.


Sayang, anak lelakinya masih saja bungkam. Wanda sakit menyaksikan hal itu. Tompi lebih memilih Widya daripada dirinya.


"Cepat sembuh, Tante." Widya mencubit perut Tompi karena masih saja diam.


"Lekas sehat, Mah." Tompi menyalami mamahnya.


Wanda menyadari satu hal. Anaknya menjadi keras seperti itu karena dirinya sendiri. Seorang anak akan menjadikan kita sebagai kiblatnya. Mereka akan mencontoh apa yang kita lakukan.


"Tom," panggil Wanda.


"Pulang, Nak. Mamah kangen sama kamu." Wanda mengatakan hal itu saat pintu kamarnya terbuka dan anaknya sudah di luar ruangan.


Wanda menangis sendiri di dalam kamarnya. Sesepi itu hidupnya di masa tua ini. Bahkan hanya untuk mengambilkan minum, dia harus memencet bel pasien.


Widya telah merebut anaknya, membuatnya seorang diri dan tidak dihargai lagi. Tugas juga sekarang jarang memperhatikannya.


Setelah seminggu di rawat, Wanda pulang ke rumah. Tidak ada yang berbeda. Masih saja sepi dan sunyi.


"Widya, tolong kembalikan anak Tante. Hanya dia yang bisa mengerti Tante. Tolong."


Wanda menangis sendirian tanpa ada yang tahu. Semakin lama suara wanita itu semakin keras tangisannya.

__ADS_1


__ADS_2