
Pov : Gusti
Hari ini aku dan Banun bangun lebih awal. Bersiap untuk proses sidang BP4R. Pengajuanku kali ini tergolong cepat. Apa pak Tompi adalah alasan di balik hal ini? Entahlah, aku juga tidak tahu. Para orang tua kami sudah datang ke rumah kami. Aku apel dulu sebelum nanti sidang.
Aku pamit terlebih dahulu pada mereka. Kuperlihatkan kemesraan kami pada orang tua kami. Mereka mengucap syukur karena perlahan hubungan kami lebih hangat dan mesra.
"Cie yang hari ini mau nikah kantor, selamat ya." Komandanku datang menyalamiku. Aku mengucapkan terima kasih padanya.
"Sebentar lagi sunatmu tidak sia-sia, Gus! Kalau butuh ilmu mendalam, bisa hubungi saya. Tidak perlu malu, karena malu tidak membuat kita kenyang. Cukup bawakan cemilan saja ke rumah," imbuhnya membuatku menahan senyum.
Ya Allah, kenapa aku mendapatkan komandan model begini? Kocak sekali sih. Sok-sokan mau jadi guru privat bagiku. Mengajarkan hal tentang bercinta. Padahal, dia sendiri di kalangan kami, terkenalnya adalah suami takut istri.
Aku segera pamit padanya sebelum dia mendongeng lebih lama. Aku harus menjemput keluarga dan juga istriku tersayang.
Banun terlihat gugup. Dia beberapa kali menghela napas untuk menutupinya. Kugenggam tangannya dan berkata untuk lebih rileks. Lalu beberapa anggota yang akan melakukan sidang bersamaku telah hadir. Kami saling memperkenalkan pendamping kami.
Ternyata ada yang bertanya pada Banun kenapa kami menikah siri terlebih dahulu. Istriku menatapku, lalu menjawab bahwa waktu itu serba dadakan. Jadi, harus siri terlebih dahulu. Mereka dengan dari siapa? Rafka? Parah sahabatku satu ini.
Baru saja aku memikirkan namanya, dia sudah muncul untuk memberikanku selamat. Rafka menyalami bapak dan ibuku, serta mengucapkan selamat karena sudah memiliki mantu. Aku memperkenalkannya pada Banun.
"Oalah, ini calon adik ipar Gue? Gila! Dapat durian runtuh ya, Gus. Cantik, berhijab, vibes-nya ceria lagi. Halo Mbak Banun, saya Rafka. Sahabat suami jenengan. Panggil saja Kakak!" Rafka menyodorkan tangannya pada istriku. Kutepis keras, membuatnya tertawa.
Aku menarik tubuh Rafka menjauh dari keramaian. Bertanya apakah dia memberitahu orang lain bahwa kami telah menikah siri?
"Waktu itu aku lagi sama komandan. Nah, teman kita itu pada pengajuan kan, awalnya aku kira kamh sudah ikut yang kloter ini, eh, malah mau disetujui bulan September nanti. Aku bilang sama komandan, Gusti didulukan saja karena dia telah menikah siri. Lalu kuceritakan semuanya, waktu itu memang masih ada beberapa teman kita." Rafka menjelaskan duduk perkaranya.
__ADS_1
Pantas pengajuan kami cepat. Ah, komandan membuatku terharu. Beliau tidak membahas pernikahan siriku saat kami bertemu tadi selepas apel. Hanya mengucapkan selamat dan menggoda bahwa sunatku tidak sia-sia.
Para jajaran sudah hadir dan siap masuk ruangan. Rafka menyemangatiku. Aku melihat ada pak Tompi dan bu Widya. Ada apa? Kenapa mereka datang pada sidang nikah kantor kami? Apakah aku dan Banun akan terkena masalah karena kami menikah secara siri terlebih dahulu?
"Mas ...." Banun menggenggam tanganku. Aku menoleh dan tersenyum. "Nggak papa, InsyaAllah lancar. Jangan berpikiran macam-macam."
Kami dipersilahkan masuk ke ruangan bersama orang tua kami. Aku dan istriku duduk di tengah, berhadapan langsung dengan Bapak Kapolres. Pak Tompi dan bu Widya juga masuk. Mereka menyalami dan menyapa para jajaran yang kangen dengannya.
Giliran Banun ditanya oleh pak Tugas secara langsung. Pertanyaannya seputar tentang pertemuan kami. Aku tidak menyangka Banun ingat semua. Pertama kali kami bertemu, saat mengantarkan bu Widya pergi capacity building bidan. Aku juga pernah membantunya, mengantarkan pulang, dan merujuk pasien.
Ungkapan cinta dari istriku memang benar-benar membuatku terharu. Dia tidak pernah mengungkapkannya secara gamblanh, tapi ingatannya menyimpan memori tentang kami. Hal itu sudah cukup memberikanku bukti bahwa Banun telah mencintaiku dan menyayangiku sepenug hatinya. Bisa menerima kehadiranku dengan ikhlas.
Akh, senangnya hatiku. Terima kasih istriku. Bukti cintamu begitu nyata untukku. Giliranku ditanya tentang nikah siri kami. Dengan tegas kujawab iya.
"Kenapa kamu menikah siri terlebih dahulu?" tanya Pak Tugas.
Semua malah riuh bertepuk tangan. Apanya yang hebat? Pak Tompi diminta menceritakan kejadian awal pernikahan istriku yang gagal.
"Sejak kapan kamu jatuh cinta sama istrimu?" tanya yang lain.
"Siap! Sejak melihatnya dibawa ke rumah sepupu saya, tapi dia tidak mengenal saya,"
Semuanya kembali riuh, apanya yang hebat sih?
"Nah ini, contoh lelaki yang benar-benar bertanggung jawab. Tidak bergerak ketika masih dimiliki orang lain, langsung bergerak maju saat kesempatan datang." Bu Tisha berkomentar atas jawabanku.
__ADS_1
Komandanku memang ya, beliau membanggakanku dengan sombongnya. "Anak buah saya itu! Brother, kamu memang hebat. Bisa menyerap ilmu dari saya dengan baik!" katanya.
Ya Allah, ilmu apa yang beliau berikan sama aku? Semua tertawa karena ulahnya.
"Saya tidak masalah dengan nikah siri kalian, yang penting Mas Gusti sudah melakukan sesuai prosedur dan tidak dalam pelanggaran. Mbak Banun, sekarang sudah memiliki suami yang cintanya sudah terlihat di awal. Oh ya, saya lupa, jadi saat ini Mbak Banun sudah mencintai Mas Gusti atau belum?" tanya Bu Tisha lagi pada kami.
Banun menoleh ke arahku, lalu tertawa kecil. Aku melihat semburat merah di pipinya. Hatiku ikut jedag-jedug menunggu jawabannya.
"Siap, kalau waktu awal blas nggak cinta, Bu. Kalau sekarang, sudah mencintainya." Banun memegang tanganku. Dingin sekali tangan istriku. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Tanpa kontrol, aku langsung melayangkan ciuman di keningnya. Membuat semuanya heboh.
"Vibes-nya memang beda kalau sudah suami istri. Aduh, kalian membuat saya iri. Mi, habis ini ya?" Pak Tugas mengerlingkan mata pada istrinya.
"Bapak Ibu, titip anak-anak kami ini. Mohon bimbingannya, jika mereka salah mohon untuk dituntun ke jalan yang benar. Dari Mas Gusti dan Mbak Banun kita bisa ambil pelajarannya. Cinta itu datang karena ketulusan. Awalnya memang terpaksa, dari terpaksa kita belajar mengikhlaskan dan menerima, hingga jadinya terbiasa. Terbiasa mencintai orang yang dulunya adalah asing bagi kita," ungkap Pak Tugas.
"Dengan ini saya resmikan bahwa kalian dinyatakan lulus nikah kantor atau sidang BP4R," imbuhnya. Semua bertepuk tangan sambil mengucap hamdalah. Para jajaran berjalan keluar sambil menyalami kami. Mengucapkan selamat pada kami.
Pak Tompi meninju perutku dan memelukku. Bu Widya memasangkan selempang pada kami. Kubaca dengan keras tulisannya.
"Suaminya Banun, istrinya Gusti. BGF. Apa itu, Bu Wid?" tanyaku dengan singkatan itu.
"Banun Gusti forever! Cie ..., jadi sekarang sudah cinta sama Gusti, Nun?" tanya Bu Widya pada Banun.
"Ah, Ibu ..., makasih ya, Bu. Berkat saran Bapak sama Ibu, Banun akhirnya sadar, bahwa dia memang sudah menelisik masuk perlahan dan bersarang di hati Banun." Istriku memeluk bosnya itu.
"Sama-sama, Nduk. Jadi istri yang nurut sama suami ya. Kubur dalam-dalam egomu itu. Yang Allah pilihkan untuk kita itu adalah yang terbaik." Bu Widya menyeka air matanya.
__ADS_1
Aku terharu sekaligus beruntung, memiliki atasan yang menganggap kami anak sendiri. Terima kasih pak bos Tompi dan bu bos Widya. Semoga Allah membalas kebaikan kalian. Kalau dari kami, paling ya ingkunh satu cukup ya, Ndan? He-he-he.