
Pov : Banun
Aku sedang membantu bu Widya menyiapkan bajunya. Dia akan berangkat capacity building bersama pengurus IBI Cabang ke Bali. Enak sekali, ingin juga aku ikut andil dalam organisasi profesiku. Aku memang menjadikan bu Widya sebagai contoh dalam hidupku. Yang baik aku serap, yang kurang baik kutinggalkan.
"Nun, nanti tolong kamu ke rumah pak Tompi, ganti balut mamahnya. Laporkan kepada saya perkembangan lukanya." Bu Widya memberikan alamat rumah pak Tompi padaku.
"Saya kesana sama siapa, Bu? Saya takut diterkam sama mamahnya pak Tompi. Dengar cerita Ibu saja saya sudah takut."
Aku serius mengatakan hal itu. Bu Widya malah tertawa.
"Kamu kira mamahnya pak Tompi singa?" tanyanya sambil terkekeh.
Hmm, aku mendengar curhatan bu Widya setiap hari saja sudah bergidik ngeri. Apalagi sampai bertemu orangnya langsung? Aku memang tidak begitu suka dengan orang yang galak. Bagiku itu menakutkan, karena mentalku yang diuji saat berhadapan dengan orang macam itu.
Gandi kuajak, tapi dia tidak mau. Alasannya tidak enak badan. Duh, pusing. Ya sudahlah, hadapi saja dengan senyuman.
"Gan, Mamah berangkat ya? Kamu Mamah tinggal sama mbak-mbak nggak papa kan, Nak?"
Kudengar bu Widya bertanya keadaan Gandi. Aku juga ikut masuk dan memeriksa suhu tubuhnya. Wah, lumayan panas.
"Saya jadi galau nih, Nun. Berangkat nggak ya? Kok keadaan Gandi mengkhawatirkan?" tanya Bu Widya padaku.
"Berangkat saja, Mah. Nanti setelah minum obat pasti turun panasnya." Bocah itu bersikeras meminta mamahnya berangkat.
Bu Widya mengecup kening Gandi. Berpamitan dengannya dan berpesan untuk makan dan minum obat teratur. Lima hari ke depan aku dan kawan-kawan ditinggal bu Widya. Hmm, sedih.
Aku mengantarkan bu Widya ke depan SMA 1. Mataku ini memang benar-benar tajam. Padahal, lelaki itu sedang makan di dalam mobil sambil melihat ke arah bu Widya. Tapi, dengan mudahnya aku tahu siapa dia.
"Bu, pak Tompi." Aku berbisik di telinganya karena beliau sedang bicara pada ketua IBI cabang.
"Mana?" tanyanya.
"Lihat mobil patwal di belakang bus ini, orangnya sedari tadi melihat Ibu terus."
Bu Widya mencari keberadaan lelaki itu. Nah, kan betul. Ibu mau apa jalan menuju mobil patwal itu? Apa mereka kembali merajut hubungan? Ah, mana mungkin. Kalau iya, pasti aku sudah tahu dari cerita ibu.
Entah apa yang mereka bicarakan, mataku kembali menangkap sosok lelaki yang lebih muda. Mungkin bawahan pak Tompi, tapi kenapa matanya terus menatapku? Akau sampai celingukan, mungkin ada orang di belakang atau sampingku. Ternyata tidak ada.
"Dek, Wid! Cie pacaran cie ..., kawal terus sampai halal Pak pol!"
Aku tertawa bu Widya diledek para seniornya. Yang diledek hanya santai dan melempar senyum. Mereka berjalan ke arahku. Aku menyapa pak Tompi.
__ADS_1
"Sehat, Nun?" tanyanya.
"Alhamdulillah, Pak. Gandi yang sakit," tuturku padanya.
"Nun, nanti kalau ada apa-apa sama Gandi, minta tolong sama pak Tompi ya? Gandi sudah punya nomornya kok. Perasaan Ibu nggak enak, nih!" Bu Widya menampakkan wajah khawatirnya.
"Tenang, ada pak Tompi. Calon papah siaga. Betul, Bapak?" Godaku pada komandan itu.
Bu Widya menjewerku karena berani menggoda mereka. Terdengar dengan jelas dari luar bus, guru panutanku itu sedang ditanya seputar pak Tompi.
"Hmm, perkumpulan kalian itu selalu saja heboh, Nun. Nanti kalau pulang hati-hati, nih buat beli bensin. Jagain adiknya di rumah. Kalau ada apa-apa kasih tahu saya. Jangan ibumu, biarkan dia bersenang-senang."
Wuis, ini lho yang aku suka dari pak Tompi. Royal! Pak bos, aku di pihakmu. Akan ku do'akan semoga kalian bersatu. Ha-ha-ha.
"Makasih, Pak. Eh, Pak Tom, mau tanya."
Pak Tompi berbalik ke arahku.
"Yang di dalam mobil itu siapa? Kok sedari tadi melihat saya terus ya?"
Pak Tompi hanya berkata oh. "Jomblo, Nun. Mungkin dia naksir sama kamu, kamu jomblowati kan?"
"Aku kamu undang, Nun?" tanyanya.
"Kalau ibu setuju, nama Pak Tompi tak masukkan daftar! He-he-he."
Aku pulang ke tempat praktik. Mengecek lagi keadaan Gandi. Alhamdulillah suhunya sudah mulai turun. Setelah itu, sesuai pesan ibu, aku merawat luka orang tua pak Tompi. Cerewetnya, pantas kemarin ibu cerita tidak ada perawat yang betah. Cepat pulang bu! Kayaknya aku tergolong dengan perawat yang tidak betah.
Aku kembali ke tempat praktik. Kami melakukan pelayanan sesuai jadwal. Beberapa ada yang pulang karena hanya mau dipegang oleh ibu.
Sudah pukul sembilan malam. Ibu meneleponku dan menanyakan keadaan Gandi. Segera ku cek lagi suhunya. Kok malah naik ya? Aku melaporkan sesuai hasil pemeriksaan. Hal itu membuat ibu galau ingin pulang. Kuyakinkan bahwa Gandi akan baik-baik saja.
Hari berganti, panas Gandi naik turun. Terkadang terlalu tinggi, terkadang normal tapi membuatnya menggigil. Aku curiga anak ini mungkin saja kena tipes atau demam berdarah. Sekarang kan musim kemarau, perkembangbiakan nyamuk itu sangat cepat.
Kucoba mencari bintik merah di sekujur tubuhnya. Ada, tapi hanya dua bintik di tangan. Hal ini membuatku ragu, anak ini benar terkena demam berdarah atau bukan?
Aku kembali melaporkan keadaan Gandi pada bu Widya.
"Nun, pasang infus gimana? Biar panasnya nggak naik turun terus." Ibu memintaku lewat panggilan video.
"Ya, Bu, siap." Aku mematikan panggilan itu dan bersiap memasang infus pada Gandi.
__ADS_1
Belum sempat aku memasangnya, Gandi sudah hilang kesadaran. Kami semua panik. Aku mencari keberadaan ponsel anak itu. Ku ketik nama om Tompi, tidak ketemu. Coba nama lain, pak Tompi, juga sama. Pak polisi, tidak ada.
Kami makin panik. Mereka menekanlu agar cepat bertindak. Aku memeriksa panggilannya. Papah? Mungkinkah itu panggilan Gandi untuk pak Tompi? Ah, mbuhlah. Kucoba menghubunginya, ternyata benar. Hmm, mau dicari pakai nama Tompi juga nggak bakalan ketemu. Ternyata sesayang itu anak ini dengan pak Tompi.
Wait, kembali ke kasus. Aku meminta pak Tompi segera ke rumah karena Gandi hilang kesadaran. Lalu kumatikan telepon itu. Temanku memakaikan oksigen ke Gandi. Berharap anak itu segera sadar.
Alhamdulillah, Gandi sudah sadar. Pak Tompi datang dan langsung membawanya ke dalam mobil. Aku ikut menemani Gandi ke rumah sakit. Saat disana, aku bertemu dengan sahabat ibu, bu Nusa namanya.
"Widya kemana, Nun?" tanyanya.
"Ke Bali, Bu. Capacity building."
Bu Nusa hanya mengangguk. "Nanti tunggu hasil laboratoriumnya, ya?"
"Nggih, Bu."
Ya Allah, Nang. Kenapa saat mamahmu pergi kamu sakit, sih? Bikin panik saja kamu Gandi. Untung saja kamu punya calon papah yang siaga. Semoga saja jalan jodoh mamahmu dan papahmu ada, biar kamu juga bisa merasakan punya keluarga lengkap.
Kuusap rambut Gandi saat dia mengigau. Pak Tompi memintaku untuk pulang saja. Beliau yang akan menemani Gandi. Aku setuju saja. Hanya, aku tidak membawa ponsel dan dompet. Bagaimana caranya aku pulan?
Apa polisi punya insting sehebat dewa? Tahu saja isi pikiranku, lalu pak Tompi menelepon seseorang.
"Nanti kamu diantar sama anak buahku, Nun. Oh ya, jangan laporan ke ibu. Biar aku saja yang bilang." Pesan Pak Tompi padaku.
Aku mengangguk paham, segera kutunggu jemputan di depan pintu masuk IGD. Ada sebuah mobil patwal menghampiriku. Ya Allah, kenapa harus pakai mobil dinas, sih?
Tidak ada obrolan apapun di dalam mobil. Aku merasa tidak asing melihat wajah itu. Tapi, dimana aku pernah melihatnya? Lelaki ini memang aneh, tanpa kutunjukkan jalan, dia sudah tahu arah rumah bu Widya.
Sesampainya di rumah, kuucapkan terima kasih padanya. Itu wajahnya apa memang diciptakan tanpa ekspresi? Ah sudahlah. Aku harus segera memberitahu mbah uti kalau Gandi masuk rumah sakit.
"Sekarang Gandi sama siapa, Nun?" tanya Akung padaku dengan bahasa yang kurang jelas.
"Sama ..., pak Tompi, Kung." Aku sedikit takut jika nanti akung marah.
"Ya sudah, Nun. Kamu urus tempat praktik. Nanti Uti kesana sebentar. Cuma nanti yang jaga Gandi kalau malam siapa, Nun? Uti nggak mungkin meninggalkan akung sendirian." Tersirat kecemasan pada wajah Mbah Uti.
"Tadi pak Tompi bilang akan berjaga disana, Uti. Tidak usah khawatir, Uti."
"Besok lagi bilang sama bosmu, nggak usah ikut-ikutan pergi jauh. Punya anak sedang sakit malah ditinggal pergi!" Protes Uti yang ditujukan pada bu Widya.
Hmm, begitulah uti kalau sama bu Widya. Siapa sih yang tahu Gandi akan sampai masuk rumah sakit? Sudahlah biarkan saja. Aku malas mendebat uti.
__ADS_1