After Reunion

After Reunion
Wali Nikah


__ADS_3

Pov : Widya


Kami sama-sama sibuk mengurus pernikahan. Aku dan mas Tompi sudah sama-sama sepakat tidak akan mengadakan pesta. Hanya mengundang teman dekat untuk syukuran atas pernikahan kami.


Akad akan berlangsung di rumah abah. Aku mulai dirias. Jujur saja, aku gugup. Padahal, aku sudah pernah menjalani proses ini sebelumnya. Gandi akan menjadi wali nikahku.


"Mamah cantik sekali," pujinya padaku.


"Makasih, Sayang. Coba telepon papah, sudah siap atau belum?"


Gandi segera menghubungi mas Tompi. Tapi, kata anakku, papahnya tidak mengangkat teleponnya. Dia mencoba lagi, dan hasilnya masih sama. Tidak diangkat. Kemana lelaki itu?


Aku mencoba tetap tenang. Menampilkan wajah bahagia meski hatiku sangat was-was. Selesai dirias, aku berganti baju. Kupilih gamis berbahan satin berwarna putih. Gandi sudah tampan memakai stelan jas yang dibelikan oleh mas Tompi.


Alhamdulillah, kekhawatiran di hatiku sirna ketika mas Tompi dan keluarganya datang. Naib dan modin datang, tanda akad akan segera terlaksana. Gandi sendiri yang akan menikahkanku dengan papahnya.


"Bisa kita mulai, ya?" Naib bertanya pada lelaki yang ada disana.


Aku mendengar suara mas Tompi meminta restu pada mamah Wanda dan juga orang tuaku. Selepas itu prosesi akad dimulai. Aku masih berada di dalam kamar.


"Mas Gandi, Pak Tompi, silahkan berjabat tangan." Naib meminta anakku dan calon suamiku berjabat tangan.


"Bismillahirrahmanirrahim." Kudengar suara Gandi bergetar. Jangan menangis Gandi sayang. Kuat, Nak.


"Papah Tompi Haryanto ..., aku nikahkan dan kawinkan engkau." Jelas sekali getaran suara anakku. Seperti menahan tangis haru.


"Dengan ibu kandungku yang bernama, Widyasari binti Purnomo, dengan mas kawin emas batangan sebesar sepuluh gram dan satu unit rumah dibayar tunai!"


Jantungku berdetak lebih cepat. Napasku tertahan di kerongkongan. Suasana langsung hening seketika.


"Saya terima nikah dan kawinnya Widyasari binti Purnomo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


"Sah!" Semua yang hadir langsung berkata sah sebelum naik bertanya pada para saksi.

__ADS_1


Kudengar isak tangis Gandi. Aku dijemput oleh ibuku dan mamahku. Dibawa menuju tempat akad berlangsung. Kulihat Gandi dan lelaki yang telah sah menjadi suamiku tersenyum ke arahku.


Aku melihat netra Gandi mengalirkan air mata. Dia tersenyum padaku. Mengacungkan kedua jempolnya padaku lalu bibirnya seolah bicara. Mamah cantik, mamah hebat, Gandi sayang mamah. I love you, Mah.


Aku membalas senyumannya. Nak, terima kasih ya. Terima kasih telah menjadi sahabat mamah sejak dalam perut. Terima kasih sudah mau menerima mamah yang banyak sekali kekurangannya. Terima kasih sudah mau menjadi wali mamah, mengantarkan mamah pada lelaki yang mamah cintai. Terima kasih ya, Nak. I love you too Gandi.


Itulah lukisan kalimatku jika aku bicara. Kini berganti kulihat lelaki disamping anakku. Pria yang selalu membuat hatiku cenat-cenut. Laki-laki yang tidak bisa aku lupakan semenjak kami pisah sekolah SMP ke SMA.


Mas, terima kasih sudah mau menerima kekuranganku. Bersedia menantiku. Dan berjuang bersama-sama. Makasih juga sudah mau menyayangi Gandi setulus hatimu. I love you, Tompi Haryanto.


Kini aku sudah berhadapan dengannya. Kusalami tangan besar dan lebar itu dengan khidmat. Dia mencium ubun-ubun kepalaku, keningku, pipiku, telapak tanganku, dan punggung tanganku.


Kulihat lelaki tua dan Gata di bawah yang juga sedang menangis. Aku tersenyum padanya. Lelaki yang selalu memberikan cintanya dengan penuh padaku.


"Abah, do'akan Widya dan mas Tompi dilimpahi keberkahan dalam rumah tangga kami," ucapku dengan suara sangat bergetar.


Abah mengangguk sembari menangis. Memegang kepalaku dan memejamkan mata. Lalu meminta dipeluk. Aku sangat sayang beliau.


Selesai menandatangani dokumen, kami telah sah dan tercatat sebagai pasangan suami istri di mata hukum dan juga agama. Kami mengabadikan momen berharga itu. Semoga ini yang terakhir dan untuk selamanya. Aamiin.


Meskipun kami tidak mengadakan pesta, tapi banyak yang mendengar berita kami. Hingga para sahabat dan rekanan datang. Memberikan selamat pada kami berdua.


Acara selesai sore hari. Meski begitu, masih ada juga yang datang di malam hari. Setelah tamu sudah mulai sepi, mas Tompi pamit pada abah, ibu, dan juga Gandi. Bahkan tasku sudah ada di depan pintu rumah abah.


"Mau kemana kita?" tanyaku.


"Menghabiskan malam hanya berdua." Mas Tompi menggandeng tanganku dan membawa tasku ke dalam mobil.


Aku sudah mulai gugup. Aku harus memulai darimana? Apakah aku yang harus meminta dulu atau bagaimana? Sungguh, aku sudah tidak bisa berpikir lagi.


"Kenapa, Sayang? Kok diam?" tanya Mas Tompi.


"Hmm? Ah, tidak. Tidak apa-apa. Mas, aku lapar, kita beli makanan dulu, ya?" pintaku. Entah kenapa, aku seperti ingin mengulur waktu.

__ADS_1


Dia menggeleng, makanan sudah siap semua di rumah kami. Aku beralasan lagi. "Peralatan makeup ku sudah kamu masukkan, Yang? Kok sepertinya belum."


"Sudah beres semua."


Kami telah sampai di depan rumah. Dia menurunkan koper kami berdua. Memintaku untuk membuka pintu rumah dan menghidupkan lampu.


"Tolong hidupkan air di kamar mandi, Yang. Aku gerah." Mas Tompi masih mendorong koper ke kamar kami. Aku hanya mengangguk dan menuruti perintahnya.


Dia segera masuk kamar mandi. Sedangkan aku membersihkan riasan. Cepat sekali mandinya. Lalu mas Tompi memintaku segera mandi dan mengambil wudhu.


"Oke," jawabku mencoba menutupi rasa gugupku. Kulihat bagian atas tubuhnya sangat menggoda. Ah, rasanya ingin kupeluk lagi tubuh itu.


Aku sudah ditunggu olehnya. Kucari mukenaku lalu berdiri di belakangnya. Kami salat isya' terlebih dahulu, lalu dilanjutkan salat sunnah zifaf.


Seusai salat, dia merebahkan kepalanya di pangkuanku. "Capek, Mas?" tanyaku.


Dia mengangguk. Kuberanikan diri untuk membelai rambutnya, lalu kucium keningnya, pipinya, dan terakhir mendarat di bibirnya.


Dia segera bangkit dan melepas sarungnya. Akupun segera melepas mukenaku. Kulipat sarung dan mukena itu terlebih dahulu. Pelukan dari belakang mengejutkanku. Kepalanya sudah bersandar di bahuku.


"Ayo," ucapnya mendamba.


Aku berbalik dan tersenyum. Kini dia menarikku ke kasur kami. Tanpa basa-basi, kami tahu apa yang harus kami lakukan. Kubiarkan dia melucuti pakaianku satu persatu, hingga tidak tersisa.


Kurasakan sentuhan demi sentuhan di tubuhku, yang sudah empat tahun tidak dijamah. Menegang, sesekali mendesah dan mengerang. Dia membalik tubuhnya. Meminta aku untuk memainkan peranku disini.


Gaya women on top kulakukan untuknya. Tanganku menjelajah tanpa rasa malu sedikitpun. Dan kulihat dia menikmatinya. Entah berapa lama kami pemanasan, hingga sama-sama merasakan puncaknya dan terkulai bersama.


"I love you, Widyasari." Kalimat yang selalu ingin aku dengar dulu, dari bapaknya Gandi, tapi tidak pernah terwujud.


"I love you too, Tompi Haryanto. Bagaimana?" tanyaku.


Dia menoleh ke arahku, lalu merapatkan lagi tubuhku dengannya. "Adikku sedang mengisi dayanya. Persiapkan dirimu, Sayang."

__ADS_1


Aku terkekeh mendengarnya. Oke, aku akan melayanimu, sesuai keinginanmu, suamiku.


__ADS_2