
Pov : Widya
Beberapa hari ini aku meninggalkan tempat praktikku. Sibuk dengan acara HUT IBI ke-72 tahun. Sebagai panitia, waktuku banyak tersita untuk acara ini. Apalagi konsep kali ini adalah pemberian bantuan. Program kerja yang akan kulaksanakan adalah peduli IBI terhadap Stunting.
Bertempat di Sukodono, Bonang, aku bersama temanku membuat video perjalanan kami. Sebuah mini vlog akan kami tayangkan sebagai bentuk kepedulian kami terhadap stunting. Meskipun dibentuk sebuah tim, tetap saja aku yang membuatnya sendiri. Tapi tidak mengapa, aku mengerti kesibukan para seniorku itu.
Selesai membuat mini vlog itu, aku juga harus mengeditnya agar lebih ciamik. Beruntung, aku memiliki pacar yang mau membantuku mengeditnya. Tompi memang bisa diandalkan dalam segala hal. Otak cemerlang, serba bisa, tampan iya, kurang apalagi coba?
Hari ini kerja kerasku selama seminggu terbayar. Mini vlog yang aku buat ditampilkan di depan bapak Kadinkes. Ketua IBI ku pun senang dengan hal ini. Semoga program kerja yang dibuat oleh seniorku bisa menurunkan angka stunting di desanya.
"Wid, yang daritadi bantu kamu itu siapa?" tanya salah satu senior padaku.
Aku tersipu. Hanya mampu kusunggingkan senyum malu untuk mengungkapkan perasaanku.
"Calon bapaknya Gandi! Suruh masuk Dek Wid. Suruh makan bergabung sama kita." Bidan desa Sukodono, mbak Ani menyuruhku membawanya masuk.
"Suruh kesini Dek, kasihan kamu tinggal sendirian." Bu ketua memaksaku membawanya masuk.
Oke, akan kuturuti. Aku menuju mobilnya dan memintanya bergabung bersama kami.
"Yakin aku ikut di perkumpulan kalian? Aku cowok sendiri lho, Yang." Tompi ragu saat kuminta turun.
"Mereka maksa, Mas. Sudah, turun saja." Aku menunggunya keluar dari mobil. Dia setuju dan segera ikut masuk ke rumah mbak Ani.
Tompi mengucapkan salam dan masuk. Semua seniorku bersemangat sekali menjawab salam darinya.
"Aih, calon bapaknya Gandi, mari masuk. Bergabung sama kami. Cakep amat sih, Wid. Pinter kamu milih laki dari dulu cakep-cakep," puji para bidan senior itu.
"Namanya siapa, Mas? Kerjanya apa? Duda atau perjaka?"
"Rumahnya mana? Masih punya saudara yang umurnya dua puluhan tidak?"
Aku tertawa mereka bertanya hal itu. Tompi bingung menjawabnya. Dia hanya menggaruk tengkuknya yang pasti aku yakin, tidak gatal.
"Dek Wid, coba kenalkan sama kami. Ini siapa?" Bu ketua menyentilku lagi.
Aduh, aku gugup. Haruskah aku langsung mengaku?
__ADS_1
"Namanya Mas Tompi, Bun. Dia seorang polisi. Kerjanya di polres. Duda." Kujelaskan dengan hati-hati pada mereka yang penasaran. Tompi melempar senyum pada mereka.
"Jadi ini?" tanya ketuaku lagi.
"Calon," ucapku sambil panas dingin. Mana hatiku rasanya berdesir hebat lagi. Haduh, salah aku membawanya masuk. Sudah tahu kelakuan para seniorku, masih juga nekat membawanya.
"Calon apa? Yang jelas kalau ngomong, Dek." Mbak Ani kini ikut-ikutan menggodaku.
"Calon papahnya Gandi," selorohku sembari tersipu. Pipiku panas sekali.
"Cie ..., selamat ya Dek. Kapan undangannya disebar ke kami? Nanti kami dijadikan pager ayu ya? Asyik punya keluarga baru," kata ketuaku.
Semuanya juga mengatakan hal demikian. Jadilah kami bulan-bulanan para bidan itu. Hmm, andai mereka adalah orang tua kami. Yang dengan lapang dada, tangan terbuka, hati gembira menerima hubungan kami.
Kenyataannya, keluarga kandung kami malah menentang. Mereka, yang bagi kami adalah keluarga bertemu jalan, malah menjadi keluarga yang sesungguhnya untuk kami.
Itulah kenapa aku suka dalam organisasi ini. Aku menemukan sebuah kenyamanan dalam keluarga.
Aku meladeni Tompi seperti biasa. Mereka masih saja mengulik tentangnya. Kubiarkan dia akrab dengan keluargaku, para senior bidan.
Bu ketua mendekatiku, "Sama yang ini serius, kan? Bunda nggak mau kamu nanti sakit hati lagi."
"Kenapa?" Ketuaku ini antusias sekali dengan ceritaku. Setelah mengetahui alasannya, dia bertanya padaku. Lalu akan seperti apa hubungan kami ke depannya?
"Entahlah, Bun. Saya belum mendapatkan cara untuk mengambil hati mamahnya mas Tompi."
"Jangan putus asa begitu to anakku, sayang. Tundukkan kepalamu lebih rendah dan lama. Biar Allah yang membantumu. Bunda hanya bisa memberi nasihat, tetap dekati meskipun ada penolakan. Kamu sudah dewasa, sudah pernah merasakan pahitnya berumah tangga, pasti tahu yang terbaik itu seperti apa."
Aku terharu dengan ucapan bundaku satu ini. "Terima kasih ya, Bunda."
"Sama-sama."
Tompi sudah mulai terbiasa dengan candaan mereka. Bu ketua memanggil namanya.
"Mas Tompi, titip jaga adik kesayangan kami, ya? Tolong jangan kamu biarkan air mata kesedihan menetes lagi dari mata cantiknya."
Tompi mengangguk, "Nggih, Ibu. InsyaAllah."
__ADS_1
Jamuan dari mbak Ani membuat kami kenyang, meski hanya menu sederhana tapi kami merasa bahagia. Kami semua pamit pada tuan rumah. Bu Susi, seniorku yang paling semlohay ini selalu saja menggodaku.
"Mbok ya gandengan." Tangan kami berdua disatukan olehnya. Semua bersorak gembira. Heran aku dengan mereka. Kenapa selalu heboh kalau berkumpul?
Aku masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan Sukodono. Tompi menggamit tanganku lalu mengecupnya.
Aku tersenyum, "Maaf ya kalau seniorku mengerjaimu."
"Nggak, mereka baik, kok. Lebih ke gokil sih? Kamu kalau sama mereka pasti begitu kan?"
Tebakannya benar. Ha-ha-ha. Itulah aku jika bersama mereka. Sama-sama jadi gila. Bernyanyi, berjoged, bercanda sampai tertawa keras. Bergosip masalah artis. Banyak hal yang akan dibahas jika sama mereka.
"Selamat ulang tahun untuk bidan, ya? Mau dikasih kado apa?" tanya lelaki di sampingku itu. Dia selalu saja romantis.
"Kirimkan saja ucapan dan do'a untuk kami. Itu sudah lebih dari kado. Makasih juga beberapa hari ini dibantu mengedit video."
Dia mengangguk dan mengucapkan sama-sama. Dasar! Baru saja kusanjung romantis, sekarang keluar sifat perhitungannya. Dia minta dimasakkan udang saus padang. Oke, kalau hanya masakan akan kuturuti.
Sesampainya di rumah, aku langsung mengeksekusi udang itu. Dia membantuku membersihkan udang, sedangkan aku membuat bumbunya. Gandi baru saja pulang sekolah, berniat membantu tapi tidak jadi.
Abah datang mengejutkan aku dan Tompi. Orang tuaku bertanya kenapa ada sahabatku disini.
"Apa kamu masih menjalin hubungan dengannya?" tanya Abah.
Tompi datang dari dalam dan menyalami abah. Aku seperti disidang karena melakukan perbuatan jahat. Patut diberi hukuman berat.
Tompi meminta izin pada abah untuk menjalin hubungan denganku. Reaksi abah benar-benar murka. Tidak habis pikir denganku.
"Kamu milih dia, Gandi Abah ambil. Abah datang kesini untuk memberitahukanmu bahwa tanggal pertunganmu dengan Han adalah satu bulan lagi."
Tompi menggelengkan kepala tidak setuju, begitupun aku.
"Bah, tolong jangan lakukan ini pada kami. Setidaknya, berikan Tompi kesempatan untuk membuktikan cinta Tompi untuk anak Abah." Tompi memohon pada abah agar orangtuaku mau membatalkan rencana pertunanganku dengan Han.
Abah tidak menjawab permohonan Tompi. Lebih memilih diam dan hendak keluar rumah.
"Tompi akan mundur dari kepolisian jika memang itu yang menbuat jalan kami teehalang."
__ADS_1
Tompi gila! Bukankah dia berjanji padaku tidak akan melakukan hal itu? Abah tidak menggubrisnya. Memilih melangkah keluar dan pergi dari rumahku.