
Pov : Gusti
Pagi itu, aku bangun dari tidurku. Entah apa yang aku pikirkan, tapi aku tersenyum ketika mengingat potongan kecil dari bunga tidurku itu. Bagaimana mungkin aku bersanding dengannya? Wanita yang sampai saat ini belum tahu isi hatiku. Wanita yang hari ini akan menikah dengan sepupuku. Gila! Aku mungkin sudah gila.
Aku segera bangun dan merapikan ranjangku. Kudirikan salat subub dua rakaat, lalu melakukan olahraga ringan sebentar sebelum pergi dinas. Sepupuku akan menikah, tapi aku tidak bisa hadir. Alasannya yang pertama adalah tugasku yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Yang kedua, hatiku tidak siap melihat wanita itu akhirnya menjadi milik orang lain.
Sebenarnya aku memang sedang dekat dengan seorang perempuan, tapi bukan untuk menjalin hubungan serius. Hatiku mengatakan bukan perempuan itu yang bisa menjadi teman hidupku. Meskipun bapak dan ibu sudah memaksaku terus menerus untuk menikah, aku tidak menggubrisnya.
Aku membeli sarapan dan bertemu dengan komandanku, gantinya pak Tompi. Orangnya lebih gokil dibanding dengan yang dulu.
"Saban hari beli sarapan terus kamu, Gus. Makanya ..., buruan nikah! Biar ada yang masakin!" selorohnya.
Aku hanya tersenyum, dalam pikiranku, dia sudah menikah tapi kenapa masih juga beli sarapan setiap hari? Apa gas di rumahnya habis?
"Ya-ya-ya, aku tahu isi pikiranmu!" Suaranya menggelegar. Tuh, kan. Dia ini peramal atau polisi, sih?
"Aku beli sarapan karena ingin memanjakan istriku. Kasihan kalau dia capek, makanya aku memilih untuk beli makanan."
"Kalau begitu apa bedanya jomblo sama yang sudah menikah, Ndan?" tanyaku sambil menahan tawa geli.
Komandanku merangkulku, "Kalau jomblo itu belum teruji senjatanya. Kalau sudah punya istri, senjatamu itu akan selalu terasah. Tidak sia-sia sunatmu kalau sudah punya istri. Paham?"
Skakmat! Aku kalah. Oke, komandanku memang istimewa. Jangan sampai sunatku sia-sia. Cari Gus, cari. Agar tidak jadi bahan bulian komandan.
Aku menikmati sarapanku seorang diri di dalam rumah yang aku beli satu tahun lalu. Alhamdulillah cicilannya sudah berjalan satu tahun ini, dan masih harus mengangsur tiga tahun ke depan.
Aku tersenyum sendirie ketika mengingat wejangan komandanku. Sunatku bisa sia-sia kalau sampai aku belum menikah. Aku segera bersiap berangkat kerja. Seperti biasa, kami akan melaksanakan apel pagi terlebih dahulu sebelum turun ke lapangan untuk membantu mengatur jalan, setelahnya baru melaksanakan tugas masing-masing.
__ADS_1
Saat sedang bertugas pengawalan, aku mendapat telepon dari mantan komandanku. Ada apa? Tumben sekali menelpon di jam pagi begini. Aku mengangkatnya.
"Halo, assalamu'alaikum. Siap menerima perintah, Ndan!" Aku tertawa saat mendengar jawabannya yang mengatakan dia sudah tidak menjadi komandanku lagi.
"Ada perintah apa, Ndan? Posisi? Di daerah Karanganyar, pengawalan Kapolres. Sudah, sudah digantikan tim lain karena beliau hari ini luar kota. Ada apa sih, Pak Bos?" Aku masih penasaran dengan tuanku satu ini.
Pak Tompi itu bukan tipe orang yang menelpon lebih dulu hanya untuk menanyakan kabar. Aku mendengarkan dengan seksama ucapannya.
Deg!
Banun gagal menikah karena Rizal kabur dari rumah? Sial sepupuku itu. Beraninya dia membuat Banun kecewa. Awas saja kalau ketemu, aku akan menghajarnya. Darahku ikut mendidih ketika mendengar cerita pak Tompi.
"Ha? Menikah? Ma-maksudnya menjadi pengganti pengantin pria? Pak, mana mungkin bisa terlaksana. Kami saja hanya sebatas kenal. Saya belum pengajuan nikah kantor, saya belum meminta izin atasan, memangnya Banun mau menikah dengan saya? Jenengan itu kadang-kadang memang."
Aku tetap diminta datang terlebih dulu ke rumah Banun. Ya Allah, kini aku dalam posisi bimbang. Bukan, bukan aku tidak mau menikahinya. Sangat. Aku sangat ingin menikahinya. Tapi, aku juga ingin dicintainya layaknya lelaki pada umumnya. Aku berusaha tetap fokus pada jalanan.
Rizal memang kurang ajar. Bisa-bisanya dia melakukan hal memalukan itu. Kalau memang tidak ingin menikah dengan Banun, harusnya dia bilang di awal. Jangan pas hari H mengacaukan semuanya. Aku mencari keberadaan bapak dan ibu. Hanya ibu yang berhasil kutemui karena bapak mengantar paklek Zuhri ke rumah Banun untuk menghaturkan permintaan maaf.
Aku menarik tangan ibuku. Kuajak pulang karena ingin membicarakan penawaran pak Tompi. Kuceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi.
"Jadi, menurut Ibu bagaimana?" tanyaku.
Ibu malah tersenyum dan memegang pipiku. "Yang tahu jawabannya ya kamu, Gus. Kalau Ibu tugasnya hanya memberikan restu dan terus mendo'akanmu. Coba tanyakan pada hatimu. Kalau memang kamu mencintainya, nikahi. Tidak ada yang salah dalam hal itu. Kamu bukan merebutnya."
Ibu meyakinkanku bahwa akan memberikan restu dan do'a atas keputusan yang aku ambil.
"Temani Gusti ke rumah calon mantu Ibu, do'akan agar dia mau menikah dengan anakmu ini."
__ADS_1
Aku menggamit tangan ibuku lalu segera menuju rumah Banun. Saat aku tiba disana, terlihat bapak Banun sedang marah-marah kepada paklekku. Pak Tompi yang melihatku langsung mendatangiku, bersalaman dengan ibu.
"Gimana?" tanya Pak Tompi.
"Saya sudah disini, Ndan. Berarti saya mau menikah dengan Banun. Tapi, apa dia mau menikah dengan saya?"
Pak Tompi hanya menepuk pundakku, lalu melerai perdebatan antar orang tua itu. Bapak bingung kenapa aku dan ibu ada disana?
Aku dipersilahkan duduk di depan naib. Kukeluarkan mahar yang aku bawa, yaitu uang sebesar lima ratus ribu. Maaf ya Nun, aku tidak sempat mengambil uang. Ibu melepas gelang dan cincinnya sebagai tambahan mahar bagiku.
"Nanti Gusti ganti, Bu." Aku memberikannya pada pak naib.
"Sudah bisa dimulai?" tanya penghulu pada semua yang hadir.
Mereka menjawab sudah. Suasana tampak serius. Aku diajak salaman oleh bapaknya Banun, bertanya nama lengkapku dan nama bapak. Lalu beliau juga memberitahu nama lengkap Banun dan beliau. Sumpah, aku merasa gugup.
"Bismillahirrahmanirrahim, Gusti Ekawira bin Zakaria, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya, Banun Sarastika binti Supangat dengan mas kawin uang tunai sebesar lima ratus ribu rupiah, dan perhiasan emas seberat lima belas gram dibayar tunai."
Aku mengucap basmalaha di dalam hati lalu menjawab kalimat akad itu. "Saya terima nikah dan kawinnya, Banun ..., Sarastika binti Supangat dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Hampir saja aku lupa nama panjang wanita itu.
Para saksi mengatakan pernikahanku sah secara agama. Tapi belum sah menurut hukum negara dan kesatuanku. Aku yang masih memakai seragam polisi dan hanya dipinjami jas pak Tompi yang kebesaran untukku, dipersilahkan masuk ke kamar mempelai wanita.
Karena pernikahanku hanya siri, maka tidak ada dokumen yang wajib ditandatangani. Yang kedua, aku tidak ingin dia, istriku, merasa malu atas musibah yang menimpanya.
Aku berjalan dengan canggung ditemani bapak mertuaku. Aku melihat matanya sangat sayu. Sungguh, aku prihatin melihatnya. Aku menyodorkan tanganku, dia melihat ke arahku. Air matanya kembali mengalir. Ya Allah, kuatkan kami.
Aku menyentuh puncak kepalanya lalu ku do'akan dia diberkahi dan dirahmati oleh Allah. Kuhapus air matanya lalu aku melempar senyum padanya. Momen yang seharusnya haru karena bahagia, harus terkubur oleh kesedihan.
__ADS_1
Dia mencium tanganku sambil terisak. Aku ragu ingin memeluknya, hingga ibu mertuaku mengalungkan tanganku yang satu ke punggungnya. Terima kasih ibu mertua, sudah dibantu memeluk istri saya.