After Reunion

After Reunion
Penolakan Banun


__ADS_3

Pov : Gusti


Dia masih terisak dipelukanku. Aku tidak bisa berkata apapun untuk menghentikan tangisan itu. Kubiarkan bajuku basah terkena air matanya. Pertama kali dalam hidupku, ada yang bersandar di dadaku dan menumpahkan kesedihannya. Hanya tinggal kami berdua di dalam kamar.


Tanganku masih menggenggam tangannya. Aku menunggu hingga dia tenang. Setelah tenang, aku melepaskan pelukanku. Aku memintanya duduk di tepi ranjang. Kuambil air dan tisu di depan cermin riasnya lalu aku berjongkok di depannya.


"Minum dulu," pintaku sambil memberikan air yang kubawa ke tangannya.


Menggemaskan sekali wajahnya saat menangis seperti itu. Persis seperti anak kecil yang minta permen tidak diberikan oleh ibunya.


"Kenapa tersenyum?" tanyanya padaku.


Aku membersihkan air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya. "Nggak papa, masih mau diteruskan nangisnya?"


Dia hanya terdiam sambil mengatur napasnya. Kembali kugenggam tangannya.


"Air matamu terlalu berharga menangisi orang kurang ajar seperti dia. Ehm, Dek ...," panggilku pelan. Aku canggung sekali mengatakan panggilan baru itu. Jika dia memperhatikan dengan seksama, maka semburat merahku akan nampak di pipi.


"Jangan menangis lagi, ya? Mau Mas ambilkan makanan?"


Istriku menggeleng, "Tolong panggilkan perias saja. Kepalaku pusing, aku ingin melepas semua ini."


"Lalu resepsinya?" tanyaku.


"Batalkan saja, toh kita hanya menikah siri. Maaf, tapi apa kamu bisa memanggil perias kemari sekarang?"


Aku mengangguk. Huft ..., sabar. Pahamilah, Gus. Istrimu sedang terluka, dan aku masuk di waktu yang salah, menurutku. Segera kupanggil perias yang dia minta. Lalu para orang tua memandangku penuh selidik.


"Bapak, dek Banun meminta agar resepsinya dibatalkan saja. Dia tidak enak badan." Aku menjelaskan keinginan istriku.


Bapak dan ibu mertuaku hanya bisa pasrah pada keinginan anaknya. Paklek Zuhri menyalamiku. Mengucapkan selamat padaku. Semua yang telah hadir menyalamiku dan mengucapkan kata sabar untukku. Ya, mungkin saat ini aku harus sabar, sembari menggantungkan harapan hati itu terbuka untukku.


Aku mendapatkan telepon dari rekanku dan menanyakan keberadaanku. Ah, iya. Aku sampai lupa, aku masih dalam posisi bekerja. Terpaksa diriku pamit terlebih dahulu. Aku mengantarkan bapak dan ibu pulang terlebih dahulu.


Saat di dalam mobil, ibu memberiku wejangan. "Perhatikan istrimu, temani setiap kamu senggang. Sembuhkan hatinya dengan cintamu. Butuh waktu memang, tapi Ibu yakin, kalian akan bahagia."


Bapak lebih banyak diam. Aku tidak berani bertanya apapun dalam perjalanan pulang itu. Sesampainya di rumah, barulah aku meminta maaf padanya.


Bapak hanya menepuk bahuku dan segera masuk ke kamar. Ibu berjanji akan membantuku untuk membicarakan hal ini pada bapak. Mungkin beliau terkejut, dan masih tidak menyangka.


Aku kembali ke polres. Segera membuat laporan dinas pengawalan. Masuk waktu duhur, aku telah selesai. Segera menuju mushola kantor dan bertemu dengan Rafka, teman satu tim ku.

__ADS_1


"Kamu dari mana saja?" tanyanya.


"Nikah," jawabku singkat.


Rafka menarik bahuku ke arahnya. Mencoba mengklarifikasi ucapanku. Aku hanya tersenyum dan memakai kaos kakiku.


"Beneran?" tanyanya masih mencoba memastikan kebenaran ucapanku. Aku mengangguk.


"Makan dulu lah, nanti aku ceritakan." Aku bergegas menuju kantin. Memesan makanan yang tersedia disana. Rafka mengikutiku, dan duduk berdampingan denganku.


Dia melihat tidak ada cincin yang melingkar di jariku. Aku menceritakan semuanya padanya. Semua serba mendadak. Tidak ada persiapan apapun.


"Duh, gimana ya, Gus? Aku mau mengucapkan selamat, tapi mendengar ceritamu kok ya kasihan. Mungkin bapakmu juga berpikiran sama denganku. Memikirkan nasib anaknya, yang mana sang istri tidak mencintainya."


Aku berdecak mendengar ucapannya. "Jangan bilang tidak mencintai, dong! Do'akan adik iparmu itu segera tumbuh benih cinta di hatinya untukku."


"Aamiin, tapi apa kamu kuat iman jika dia menolak kamu sentuh?"


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Rafka satu ini. Aku belum mencobanya. Bagaimana jika aku tidak kuat? Apakah jika aku memaksa akan berdosa?


"Pikirkan nanti sampai di rumah. Oh iya, jadi nanti kamu pulang ke rumah mana?" tanya Rafka lagi.


"Ke rumah Banun, dia sedang tidak sehat."


Aku berterima kasih padanya. Sudah mau menjadi teman berbagi ceritaku. Kami berpisah, aku menuju ruang BP4R untuk meminta formulir pendaftaran nikah kantor. Segera kupersiapkan berkas milikku.


Jam kerjaku berakhir. Aku pulang ke rumah sebentar untuk mengambil baju ganti dan bergegas ke rumah mertuaku. Ingin tahu keadaan istriku. Apakah dia masih sakit kepala? Atau masih menangis? Rasa penasaranku besar sekali.


Aku melihat tukang dekor dan tratak membongkar semuanya. Acara yang seharusnya berjalan meriah, malah menjadi bendungan emosi bagi pihak keluarga perempuan. Kasihan, tapi di satu sisi aku juga bahagia mendapatkannya.


Mimpiku semalam benar-benar terjadi. Duduk berdua dengannya di pelaminan, meski itu tidak terjadi persis seperti itu, tapi intinya aku menikah dengannya. Aku menyalami ibu dan bapak, dan aku diperkenalkan dengan adik Banun, Zaki.


"Kamu sudah makan, Nang?" tanya Ibu mertuaku.


Aku menggeleng, "Belum, Bu. Nanti saja, saya lihat keadaan dek Banun dulu."


"Dia baru saja selesai mandi, Nang. Ibu siapkan dulu makan untukmu, nanti ajak istrimu makan, dia belum makan seharian ini." Air mata ibu mertuaku meleleh lagi.


"Nggih, Bu." Aku mengetuk pintu kamarnya, dia berteriak dari dalam kamar memintaku untuk menunggu. Setelah itu aku dipersilahkan masuk.


Kusodorkan kembali tanganku padanya. Berharap dicium oleh istriku. Akhirnya, mau juga Banun menyalamiku.

__ADS_1


"Sudah salat ashar?" tanyaku.


Dia menggeleng. "Tunggu Mas mandi sebentar ya? Kita salat bersama. Boleh?"


Dia mengangguk. Aku memintanya menunjukkan kamar mandi. Mulutku dengan sengaja menggodanya.


"Mau menemani Mas nggak, Dek?" Aku mengerlingkan mata menggoda sambil cengengesan. Banun menajamkan matanya dan melengos. Segera kuraih tangannya.


"Jangan marah, Mas hanya bercanda. Ambil wudhu sana. Salatnya nunggu Mas selesai mandi."


Aku bergegas mandi dan segera menuju kamar lagi. Kulihat dia telah siap memakai mukena. Sajadah untukku beserta sarungnya juga telah siap aku pakai. Mungkin itu sarung Zaki atau bapak, padahal aku membawanya.


Aku segera membaca niat setelah siap. Aku mengimaminya sebagaimana tugasku sebagai seorang suami. Mendo'akan agar keberkahan selalu tercurah padanya. Hatiku ingin dimanja olehnya, ikut-ikutan trend yang sedang viral, mencoba merebahkan kepalaku di pangkuannya.


Jedug!


"Aduh ...." Aku meringis kesakitan karena kepalaku terbentur ke lantai.


"Astaghfirullah ..., kamu ngapain, sih? Sakit?" Tangan Banun mengusap belakang kepalaku. Aku tersipu dan tersenyum malu mendapat perhatian kecil itu. Ah, rasanya senang sekali.


"Sakitlah, Mas ingin rebahan di pahamu, kamu malah pergi."


Aku mendongak dan melihat wajahnya yang panik. Kukalungkan kedua tanganku ke pinggangnya, dan memeluknya. Nyamannya. Dia minta dilepaskan.


"Kenapa?" tanyaku.


"Jangan sekarang, aku belum siap."


Dia bangkit dan melipat mukenanya. Aku hanya terdiam karena ucapannya yang baru saja terlontar. Lalu menghela napas dan mengatakan sabar.


"Maaf," ucapnya seraya pergi dari kamar.


Akupun ikut keluar menuju meja makan. Tidak ada yang istimewa, aku makan sendiri, diapun makan sendiri. Selesai itu, aku membantu membereskan rumah. Petang menjelang, bapak mengajakku mengobrol dan memperkenalkanku dengan para saudara.


Mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Berpesan agar aku sabar dalam menghadapi Banun yang sedang terluka. Selepas isya' aku memilih berdiam di dalam kamar. Kuminta dia menyiapkan berkas yang kuminta untuk pengajuan nikah.


Setelah beres, aku memasukkannya ke dalam tas. Naik ke ranjang yang sama dengannya, tapi sikapnya seolah menolakku. Dia tidur membelakangiku, dan di tengah ranjang dibatasi oleh bantal dan guling. Sungguh, hatiku sakit menyaksikan sikapnya.


Kupilih mengabaikan sikapnya dan bermain ponsel. Kukirimkan pesan pada Rafka dan jawabannya sama seperti yang lain, memintaku untuk sabar.


Rafka : Itu pilihan hatimu, seharusnya kamu sudah tahu konsekuensinya. Kalau .sudah terlanjur begini, sabar-sabarlah hatimu menerima sikapnya. Sambil terus hujani dia dengan cintamu. Aku yakin, kamu pasti bisa membuatnya luluh.

__ADS_1


Aku mencari selimut lalu kugelar di lantai. Kuambil bantal dan memejamkan mata. Tidur terpisah darinya.


__ADS_2