After Reunion

After Reunion
After Reunion : Gandi Minggat


__ADS_3

Pov : Author


Cerdas Band yang terdiri dari Galang di vokal merangkap gitaris, Rocky bassist, Harsa keybord, dan Tompi sang drummer tampil unjuk diri. Sudah lama sekali mereka tidak tampil. Dua lagu mereka bawakan dengan sempurna meskipun tidak latihan. Ikan dalam kolam menjadi lagu favorit semua generasi.


Suasana khas reuni. Perbincangan yang identik dengan pamer, sombong, dan angkuh. Tergambar dengan sangat jelas di acara reuni tiga angkatan itu. Saling mengunggulkan diri dan tidak segan menjatuhkan harga diri kawan sudah mendarah daging disana.


Bagi yang dulu sering dibuli dan sekarang bisa sukses, ini merupakan ajang balas dendam yang sangat tepat untuk melakukannya. Reuni sekarang bukan hanya ajang untuk menyambung kembali silaturrahmi. Banyak yang salah mengartikan acara ini untuk memuaskan rasa dendam dan ingin pamer.


"Alhamdulillah aku sekarang menjabat menjadi kepala ruang VK, lho," ucap Arin saat berkumpul bersama Ria, Iyus, dan Widya.


Sumpah, Widya sudah muak dan ingin sekali lari dari sana. Dia tidak tahan berada di lingkungan toxic seperti itu. Hampir semua teman yang datang hanya untuk pamer dan membahas soal statusnya.


"Wid, pasti berat ya jadi single parent? Apalagi aku dengar anakmu sangat membencimu. Sabar, ya?" Arin mulai menghina takdir kehidupan Widya. Iyus memperingatkan agar lebih menjaga ucapan.


"Alhamdulillah sampai saat ini, aku bisa mencukupi semuanya sendiri. Berdiri di atas kakiku sendiri, tanpa ada embel-embel menjual diri demi harta. Ah iya, kalau aku jadi kamu, pasti sudah minta jabatan yang lebih pada pacar rahasiamu itu. Hanya dijadikan pacar rahasia saja kok bangga! Satu lagi, anakku tidak membenciku. Dia hanya mencari pelampiasan karena perpisahan kami." Widya menanggapi hal itu dengan kesal, tapi berhasil membungkam Arin.


April dan rombongannya datang ikut bergabung. Widya harus siap mental menanggapi ocehan orang tidak tahu diri itu.


"Wid, kamu ada hubungan apa sama Tompi?" tanya Nindi mulai mengulik yang telah mereka saksikan.


Ria melirik Widya. Wanita itu tersenyum dan menjawab dengan angkuh. "Hubungan kami? Janda bertemu dengan duda, kira-kira menjalin apa? Oh, itu menjawab kalimat kalian tentangku yang seolah mengatakan awas ada janda berkeliaran."


Widya meminun sedikit air untuk membasahi kerongkongannya. "Standarku menentukan pendamping hidup saat ini sangat tinggi. Tompi kalau dibanding dengan para suami kalian sepertinya lebih unggul, ya? Ah iya, boleh kalian hari ini merendahkan, menghina, menertawakanku. Silahkan lakukan. Suatu saat kalian akan menuai sendiri ucapan yang telah kalian lontarkan."


Widya berdiri dan mengambil tasnya. Berjalan menjauh memilih untuk hengkang dari acara itu. Ria dan Iyus mencoba membujuknya agar lebih santai, tapi wanita itu sudah dipenuhi amarah. "Aku hanya butuh menenangkan diri, guys. Nikmati hari ini. Aku pamit."


"Shof, aku pulang dulu. Kepalaku pusing." Pamit Widya pada Shofi.

__ADS_1


Shofi menjadi bingung dengan apa yang terjadi. Ada apa? Kenapa? Karena sedari tadi mereka terpisah.


Widya berjalan cepat agar segera keluar dari acara menyebalkan itu. Memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia memesan ojek online. Sesampainya di rumah ia terkejut melihat Banun yang tampak lesu.


Widya merasa ada yang tidak beres. Dia bertanya pada asistennya itu. Banun menjelaskan kronologi kejadiannya. Gandi, pergi membawa sebuah ransel. Saat ditanya Banun dia akan kemana, jawabannya hanya ke rumah mbah uti.


Hal itu tentu saja membuat Banun tidak curiga apapun. Dia asyik mengerjakan laporan persalinan, hingga Gata datang dengan anak-anaknya. Bertanya keberadaan Gandi.


Dari hal itulah Banun sadar bahwa Gandi membohonginya. Anak itu sengaja meninggalkan ponselnya agar tidak dapat dilacak.


"Jadi tadi yang telepon saya itu kamu, Nun?" tanya Widya. Banun mengangguk. Lemas tubuh wanita itu mendengar cerita Gandi menghilang dari rumah.


Tidak berselang lama, Gata datang bersama Ita-istrinya. Mereka mencoba mencari pesan yang ditinggalkan oleh Gandi. Tapi pencarian itu sia-sia. Widya khawatir anak itu akan meninggalkannya.


Wanita itu menyesal mengatakan alasan perceraian dengan bapak Gandi. Harusnya dia bisa lebih bersabar seperti biasanya. Mestinya ia tidak menghiraukan rengekan Gandi yang ingin tahu sekali tentang alasannya bercerai.


Widya segera menghubungi Rendi untuk menanyakan hal itu. Sayangnya, Rendi mengatakan bahwa Gandi tidak datang menemuinya. Malah menyalahkan Widya yang tidak becus menjaga anak.


"Gandi nggak sama Bang Rendi, Ta." Widya tampak putus asa mengatakan hal itu pada adiknya.


"Bisa jadi Gandi belum bertemu, Mbak. Coba telepon lagi, tanyakan dimana keberadaan Bang Rendi." Ita masih saja berasumsi kuat bahwa Gandi menemui bapaknya.


Gata menyampaikan ide gilanya. Widya harus meminta pertolongan Tompi agar cepat menemukan keberadaan Gandi. Wanita itu terdiam sambil berpikir keras.


"Coba hubungi Rendi dulu," ucap Widya. Kenapa tiba-tiba nomor mantan suaminya tidak aktif? Wanita ini semakin was-was.


Widya mengatur napasnya. Berusaha tenang sambil tetap berpikir positif. Mungkin saja ponsel Rendi habis daya. Dia tidak boleh terus diam seperti ini. Akhirnya dia menghubungi mantan kakak iparnya, bertanya apakah Rendi sudah berada di Sungai Ambawang?

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban mantan kakak iparnya, Widya yakin kalau Rendi masih berada di Semarang.


"Jangan bilang apapun ke abah maupun ibu kalau Gandi pergi dari rumah. Bisa?" pinta Widya pada Gata dan Ita.


"Iya, ini sekarang mau melakukan apa? Tidak mungkin kita hanya duduk diam." Gata kesal dengan kakaknya yang tidak mau meminta bantuan Tompi.


Mereka berpikir serius. "Cari dan susur jalan terlebih dulu." Gata akhirnya bersuara.


Ita pulang ke rumah mertuanya agar mereka tidak curiga. Sedangkan Widya dan Gata mulai menyusuri jalan. Berbekal keterangan Banun bahwa yang dipakai Gandi adalah kaos merah dengan jaket coklat dan ransel, mereka sangat berharap menemukan sosok Gandi. Mereka semua lupa jika anak itu bisa saja naik bus.


Hingga kota Semarang, mereka tidak menemukan Gandi. Widya sudah mulai putus asa. Kemana anak itu? Tidak tahukah bahwa mamahnya khawatir. Gata mencoba membujuk kakaknya lagi agar mau meminta bantuan Tompi.


Gatal telinga Widya mendengar ocehan Gata. Akhirnya dia menghubungi Tompi. Sayang sekali tidak diangkat, mungkin lelaki itu masih di acara reuni SMP mereka.


"Terus ini gimana, Mbak? Ya Allah Gan, kenapa sih kamu?" Gata ikut pusing memikirkan keponakannya.


Widya mencoba menghubungi nomor Rendi. Masih saja tidak aktif. Dia juga menelepon kembali Tompi. Berharap akan diangkat oleh lelaki itu. Sayangnya juga masih sama.


"Kita susuri jalanan lagi saja, Ta," jawab Widya pasrah.


Sementara itu, anak yang sedang menjadi perbincangan hangat sudah berada di alamat yang diberikan bapaknya. Gandi menemui Rendi. Entah untuk apa, tapi anak itu ingin mengetahui sesuatu tentang bapaknya.


"Bapak pesankan kamu kamar dulu. Tunggu disini sebentar." Rendi hendak menuju resepsionis tempatnya menginap.


"Kenapa kita tidak satu kamar, Pak?" tanya Gandi curiga.


Rendi berbalik dan tersenyum, "Barang jualan Bapak nantinya akan ditaruh di kamar ini. Terlalu sempit nanti."

__ADS_1


"Apa dulu Bapak berselingkuh dari mamah?" tanya Gandi membuat langkah Rendi langsung berhenti.


__ADS_2