
Pov : Widya
Tepat tujuh bulan setelah kami menikah. Aku dan Gandi memutuskan untuk pindah ke rumah pemberian mas Tompi. Setiap akan berangkat praktik, kusempatkan mampir ke rumah mamah, menyajikannya masakanku. Terkadang, beliau akan memuji, tapi tidak jarang pula mengomentari masakanku.
Aku sudah biasa dengan hal itu. Karena kalau di rumah juga ibuku selalu komentar jika rasanya kurang pas di lidah. Luka di bibirnya sudah sepenuhnya menutup, aku mengantarkannya kontrol gula darah puasa setiap bulan. Hasilnya sangat membahagiakan.
Mamah memang terkenal disiplin, dan itulah yang diturunkan pada anak-anaknya.
"Mah, besok aku mau masak garangasem. Di belakang rumah masih ada belimbing keris, kan?" tanyaku.
"Ada, ambilkan semua, Tom. Oh ya, untuk Mamah jangan ada kulit ayamnya, ya?" Aku mengangguk. Sudah kuhapalkan semua kesukaan mamah dan hal yang tidak disenanginya.
Mas Tompi beranjak dari tempat duduk dan menuju halaman belakang. Membawa sebuah baskom untuk tempat belimbing keris itu. Selesai menemani mamah sarapan, aku segera menuju tempat praktik.
"Kamu akhir-akhir ini kok suka sekali makan makanan asam dan pedas, Yang. Hati-hati, kamu punya penyakit maagh. Nanti kalau asam lambungnya naik malah sakit. Aku tidak mau ya hal itu terjadi padamu."
Lelakiku sudah mulai berdakwah padaku. Aku hanya mengangguk dan mengatakan iya.
"Mampir ke rumah abah dulu ya, Yang. Aku mau tanya soal sawah yang dijual itu, lho," ucapnya padaku.
Hmm, Mas Tompi semangat sekali ingin memiliki sawah. Padahal perawatannya itu tidak butuh biaya yang sedikit. Aku menurutinya. Kuberikan masakanku pada orang tuaku.
Ibu bertanya apa yang kubawa. "Asem-asem daging."
"Bu, mungkin nanti atau besok akan ada orang dari perusahaan gas daerah. Tompi sudah urus semuanya, aset ini untuk Gandi. Nanti Tompi boleh dibantu untuk mengurus penjualan, Bu? Mas Yoga juga sudah sanggup untuk mengantarkan gas kesana kemari."
Aku memakan mangga yang telah dikupas ibu. Kulihat ekspresi ibuku, sedikit terkejut karena memang kami tidak memberitahu mereka. Ibu mengangguk ragu.
Kalau ditanya pekerjaan suamiku, hanya kujawab, seorang serabutan. Aku melihat jam, sudah waktunya aku duduk di tempat praktikku. Segera aku beranjak dan meminta mas Tompi mengantarku. Kutanya apa kegiatannya hari ini?
"Meeting, ada yang minta pengawalan, tapi jadwalnya bentrok. Nanti aku telepon kamu. Jangan lupa salat, makan siang, dan istirahat sebelum jam buka sore." Mas Tompi mengecup keningku, pipiku, lalu bibirku.
__ADS_1
Kusalami tangannya dan melakukan hal yang sama, yaitu menghujaninya dengan ciuman. Aku segera turun dan melambaikan tangan padanya. Mobilpun melaju meninggalkanku.
Ada beberapa pasien yang telah menungguku. Kulayani mereka satu persatu. Lelaki itu selalu memberi kabar padaku.
Papah : Yang, sudah makan dan salat?
Me : Sampun Sayang, kepalaku kok agak pusing ya? 🤕
Papah : Kenapa? Darah kamu rendah? Atau banyak pasien tadi?
Me : Pasien lumayan sih, cuma ini rasanya kayak gempa gitu. Apa vertigoku mau kumat ya?
Papah : Minum obat nanti Mas pulang cepet. Tidur dulu gih, I love you.
Aku tidak membalasnya. Kepalaku sudah sangat berat. Kupilih memejamkan mata. Entah sudah jam berapa, kurasakan ada lengan yang besar dan hangat menjadi tumpuan leherku. Aku mencoba membuka mata, aduh, masih saja berputar.
Vertigoku kambuh lagi. Entah karena aku kecapekan atau terlalu kurang memerhatikan makan dan minumku, tapi rasanya memang sangat berat.
"Dalem, Sayang? Masih pusing?" tanyanya berbisik di telingaku. Aku hanya mampu mengangguk. Lengan itu menyingkir dari leherku. Terasa telapak tangan besar itu dengan lembut tapi penuh tekanan memijat kepalaku.
Perlakuan yang tidak pernah aku terima dari bapaknya Gandi dulu. Aku tersenyum sambil terpejam. Hmm, nyamannya. Aku masih terpejam sembari kusunggingkan senyum.
"Besok tidak usah praktik, biar dipegang Banun dulu. Bisa?" tanyanya padaku. Aku mengangguk. Baillah, aku akan ambil cuti untuk istirahat.
"Alhamdulillah jadwal pengawalan yang bentrok bisa tertangani. Kami terpaksa bekerjasama dengan biro lain, tapi ini beda dengan yang dulu. InsyaAllah yang ini amanah." Mas Tompi menceritakan permasalahannya yang baru saja terpecahkan.
Ya, dulu dia bersama timnya juga sering mengalami bentrok jadwal seperti ini. Sampai mereka sebagai pengelola harus, ikut turun ke lapangan ketika karyawan mereka sudah full job. Pernah dulu bekerjasama dengan biro sebut saja biro x, ada kasus pencurian uang ketika mengawal seorang mantan jendral. Dan saat itu, pihak jasa milik Mas Tompi disalahkan karena lalai dalam pengamanan.
Setelah kejadian itu, usahanya hampir saja bubar. Pernah aku melihatnya hanya diam, tidak semangat untuk apapun. Waktu itu aku teringat sebuah ucapan kyai besar. Kalau kamu ingin bahagia, maka ikutilah tarian alam.
Tarian alam itu seperti apa? Apakah sufi? Pikirku dulu. Kami menanyakan hal itu pada beberapa kyai, jawaban mereka sama. Tarian alam adalah apa yang sudah digariskan untuk kita. Jika memang mengalami musibah, terima saja dulu. Terima dengan ikhlas. Nanti saat hati kita sudah bisa menerima, maka jalan akan selalu ada di depan mata.
__ADS_1
Aku tersadar, oh, mungkin karena dulu aku menerima takdir yang Allah berikan untuk hubungan kami. Hingga akhirnya kami bersatu dengan mudahnya. Saat usaha Mas Tompi mengalami penurunan, dia mulai belajar untuk menerima segala sesuatunya. Alhamdulillah, sekarang rezeki berupa uang mengalir seperti air.
Kepalaku masih terasa berputar. Kuminta dia untuk mengambilkanku obat antimabuk.
"Kok obat antimabuk?" tanyanya.
"Vertigo memang gejalanya seperti orang mabuk, Sayang. Sama-sama hilang keseimbangan." Aku memintanya cepat agar rasa berputar itu hilang.
Dia kembali dan memintaku untuk bangun. Aku menolak. Mas Tompi memasukkan pil ke dalam mulutku dan langsung kutelan. Jangan tanya pahitnya, dia memberiku minum. Kusedot perlahan air dalam gelas itu.
"Kayaknya kamu memang kurang servis nih, Yang." Tangan Mas Tompi kembali memijatku.
Aku terkekeh kecil, "Aku atau kamu yang kurang servisan?" Kulayangkan pertanyaan itu untuk suamiku.
"Mau diservis sekarang?" Salahku juga kenapa memancing pertanyaan itu. Vertigoku bukan segera hilang, malah sepertinya akan semakin muncul karena ada gempa susulan dari suamiku.
Alu teringat belum menstruasi, dan aku segera berpikir. Mungkinkah ini bukan vertigo biasa, melainkan aku hamil?
"Mas, maaf ya? Aku tidak bisa melayanimu." Aku menolak ajakannya.
"Mas bercanda, aku tahu kamu sakit." Dikecupnya bibirku dengan lembut.
"Aku belum menstruasi, Mas." Aku merasakan pijatan itu berhenti.
"Kamu sudah cek?" tanyanya. Aku menggeleng.
"Kenapa belum kamu cek? Lalu bagaimana jika kamu ternyata hamil? Obat yang kamu minum aman untuk ibu hamil?" Terdengar nada kekhawatiran dari getaran suaranya.
"Sayang, aku baru telat lima hari. Nanti kalau sudah bulan depan, akan aku tes jika memang belum mestruasi. Aman, Mas."
Dia mengalah, tidak mendebatku lagi karena memang aku tahu mana yang aman dan tidak aman bagi ibu hamil. Kudengar Mas Tompi memanggil nama Gandi.
__ADS_1
"Mas Gandi, Papah di rumah praktik.ya, nyusul kesini aja, Nang. Mamah lagi sakit. Iya, hati-hati ya Cah Baguse, Papah."