
Pov : Widya
Sampai hari ini aku belum mendapatkan menstruasi. Jika dihitung dari menstruasi terakhirku, berarti aku sudah telat dua bulan. Aku ingin mengeceknya, tapi juga takut terhadap hasilnya. Mas Tompi sempat marah padaku karena sampai hari ini aku belum melakukan tes urin.
Jika ditanya kondisi tubuhku, aku merasa baik-baik saja. Hanya saja, sekarang aku mudah lelah. Dan itu tanda tidak pasti dari kehamilan. Mungkin saja aku kekurangan zat besi. Ternyata saat aku meminta petugasku untuk melakukan cek, hasilnya memang kurang.
Siklus menstruasiku setelah menikah dengan mas Tompi memang ada perubahan. Jika biasanya aku rutin mendapatkan menstruasi, kini terkadang dua bulan sekali baru haid. Sudah beberapa kali aku melakukan tes urin, tapi hasilnya negatif semua. Makanya aku ingin nanti saja melakukan tes ini, jika sampai tiga bulan aku tidak menstruasi.
Ternyata pemikiranku ini bertolak belakang dengan mas Tompi. Dia ingin aku segera mengeceknya, agar segera mendapatkan kabar baik.
"Mas, nanti pulangnya tolong belikan aku martabak telur, tidak pakai daging, ya?" Aku mencoba manja dengan suamiku. Dia hanya mengangguk.
"Kamu masih marah sama aku, Yang?" tanyaku.
Dia masih saja diam, dan itu tandanya dia memang marah. Kukecup bibirnya berulang kali, ia tetap bergeming.
"Oke, besok pagi aku tes urin. Rapat sama bapak-bapak kompleks nggak usah lama-lama. Gandi lagi persami nih, aku sendirian di rumah. Nggak takut istrimu yang gemoy ini diculik orang?" tanyaku.
"Kenapa harus nunggu besok pagi? Kenapa nggak malam ini saja? Toh kalau memang hamil pasti garisnya dua kan?" Dia mendebatku.
"Yawes, nanti kalau kamu pulang dari kumpulan bapak-bapak sudah ada hasilnya. Sudah puas Komandan?" Aku bergelayut manja di lengannya.
Mas Tompi tersenyum dan mencium keningku. Dia bergegas menuju rumah tetangga kami. Kubereskan terlebih dahulu piring kotor dan sampah yang ada di dapur. Lalu aku mengunci pintu dan segera ke kamar mandi. Kuambil testpack yang kemarin aku minta dari tempat praktikku.
Huft, aku sempat was-was. Kutunggu hingga air seniku naik mencapai batas maksimumnya. Aku memejamkan mata dan takut akan hasilnya. Setelah menarik napas panjang, aku memberanikan diri mengintip hasilku. Hah? Ini serius?
Garis dua, yang satu masih samar. Ini hasilku benar-benar garis dua? Aku segera keluar dari kamar mandi, kunyalakan senter ponsel. Ingin benar-benar memastikan bahwa hasilnya memang garis dua.
Alhamdulillah, Ya Allah. Segala puji bagi Engkau. Aku melompat kecil karena terlalu senang. Air mataku sudah tidak terbendung karena menangis bahagia. Kulihat jam yang ada di dinding. Masih satu jam lagi acaranya mas Tompi dan bapak-bapak kompleks.
Ya Allah, bagaimana aku memberitahu kabar menggembirakan ini? Aku ingin memberikan kejutan untuknya. Aku mondar-mandir mencari ide untuk memberitahunya. Ini sangat menggembirakan. Aku mencari kotak hadiah. Tidak ada, adanya kotak cincin. Ya sudah, pakai itu saja dulu.
__ADS_1
Aku meletakkan hasil tes urinku di dalam kotak itu. Lalu aku mencari secarik kertas. Kutuliskan memo disana.
12 Juli 2023.
'Ini hasil kita, Pah. Ada benih yang sedang tumbuh di dalam rahimku. Kita rawat dan jaga bersama ya, Sayang. Terima kasih telah menjadikanku istri yang bisa merasakan hal hebat ini lagi. Perjalanan akan segera dimulai, Pah. Are you ready?'
Istrimu Widyasari dan calon anak kita.
Aku tersenyum dan masih tidak menyangka. Usiaku sudah menginjak 41 tahun, dan aku masih dianugerahi Allah untuk merasakan hal hebat sepanjang hidup, yaitu hamil. Umurku tidak muda lagi, mungkin aku akan kesulitan di beberapa hal. Tapi aku percaya kami pasti bisa.
Ada suami hebat yang selalu mendampingiku. Aku punya Gandi yang menyayangiku tanpa syarat. Aku punya mereka, dan aku percaya akan bisa melalui kesulitan yang ada. Kuusap perutku sendiri lalu tersenyum.
"Assalamu'alaikum calon anak Mamah, kita berjuang bersama ya, Nak. Kuat ya. Sayang. Ada mas Gandi, ada papah yang selalu sayang sama kita. I love you, Sayang." Aku melihat ke arah cermin, dan kuusap lagi perutku.
Aku tidak sabar menunggunya cepat kembali. Kuletakkan kotak itu di nakas samping kanan, ah tidak. Jangan disana. Kemungkinan besar mas Tompi tidak akan melihatnya.
Aku menaruhnya di atas nakas kiri, ah tidak, tertutup tubuhku saat aku merebahkan diri. Aku berpikir akan aku letakkan dimana? Ah, tengah tempat tidur saja. Nah begitu, pasti akan terlihat olehnya.
"Yang, lagi apa?" tanya Mas Tompi.
"Lagi tespack. Kamu bawa martabaknya nggak?" tanyaku dari dalam kamar mandi.
"Bawa dong. Hasilnya gimana?"
"Garis satu, Yang." Aku mencoba mengelabuinya. Aku menyiram air ke lantai agar terdengar seperti orang yang selesai buang air kecil.
"Tolong taruh di atas tempat tidur ya, Mas. Aku lapar sekali," bohongku padanya.
Aku segera keluar dari kamar mandi. Kulihat dia sedang membuka kotak cincin berwarna marun itu. Dia membaca memo yang aku letakkan di dalamnya. Lalu mengambil hasil tespackku.
Aku duduk di tempat tidur. Kulihat air matanya menetes di pipinya. Kuhapus air mata itu.
__ADS_1
"Ini ..., ini punya kamu, Yang?" tanyanya terbata-bata. Aku tersenyum dan mengangguk.
Dia langsung memelukku. Menangis di pundakku. "Makasih ya ...," ucapnya. "Kenapa tadi berbohong?"
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu, Pah. Maaf ya? Tadi pasti kamu kecewa, ya?"
Mas Tompi mengangguk. Dia menghujaniku dengan ciuman dan pelukan. Kini dia berbaring di pangkuanku. Wajahnya menghadap ke perutku. Ia mencium perutku sangat lama.
"We love you, Nak. Besok mas Gandi pulang dari persami, kita kasih kejutan ya adik kecil." Mas Tompi kembali mengusap perutku.
Dia kembali duduk dan tersenyum padaku. Mencium bibirku hingga kini ciuman itu menjadi panas. Aku memberanikan diri duduk di atas pangkuannya.
"Emang boleh?" tanyanya disela-sela ciuman itu.
Aku menggeleng, "Tahan dulu ya, Mas. Kita periksa ke dokter kandungan dulu. Mengingat umurku yang sudah tidak lagi muda, dan usia kandunganku baru delapan minggu."
Mas Tompi setuju. Aku segera turun dari pangkuannya. Tidak berani menggodanya karena aku kasihan padanya. Saat ini kondisiku belum bisa melayani hasratnya.
Mas Tompi menyuapkan martabak pesananku. "Habiskan untuk kalian berdua. Papah sangat senang."
"Kalau kebanyakan muntah, Sayang."
"Ya pelan aja makannya Mamah, Adek, makan yang banyak ya, Nak. Do'akan rezeki Papah lancar, biar bisa menuruti keinginan kalian berdua." Mas Tompi kembali mengusap perutku.
Aku membelai rambut suamiku. Kucium keningnya dengan penuh kelembutan. "Terima kasih sudah menemaniku dan memberikan aku kesempatan merasakan hal luar biasa ini untuk kedua kalinya. InsyaAllah, aku akan menjaganya seperti kamu menjaga kami."
"Terima kasih juga sudah mau berusaha bersamaku. InsyaAllah aku dan Gandi akan menjadi lelaki siaga untuk kalian. I love you, istriku." Mas Tompi kembali mencium bibirku.
Kubiarkan dia menikmati bibirku, sampai akhirnya ia berhenti sendiri. "Sudah ah, aku takut kebablasan."
Aku tertawa mendengar hal itu.
__ADS_1