
Pov : Tompi
Aku terbangun dari tidurku. Kulihat ranjang pasien yang ditempati Widya kosong. Kemana istriku? Aku segera bergegas ke kamar mandi, nihil. Kemana perginya?
Saat aku akan keluar untuk mencarinya, aku melihatnya berdiri dengan tegak di depan pintu kamar. Membawa sebuah kue tart sembari menyunggingkan senyumnya.
"Barakallah fii umrik, Sayang. Semoga Allah melimpahkan segala kebaikan dan keberkahan untukmu. Aamiin." Do'a yang baru saja dia panjatkan untukku, kuamini terlebih dahulu.
Yang membuat aku terkejut bukanlah ulang tahunku. Tapi, dia. Sejak kapan Widya sudah bisa berjalan dengan posisi tegak sempurna seperti itu? Perasaan kemarin dia masih sulit untuk menggerakkan kakinya.
Ya Allah, terima kasih atas kebesaran-Mu. Istriku yang hampir dua bulan sempat tidak bisa berdiri, kini Engkau berikan kenikmatan untuk bisa berdiri dan melangkahkan kakinya lagi. Kuambil kue itu dari tangannya, lalu kupeluk erat tubuh wanita itu.
"Hanya kue yang bisa aku berikan untukmu, itupun aku titip Nusa," ungkapnya.
"Tidak masalah, aku senang, akhirnya kamu bisa berjalan lagi. Padahal minggu ini adalah penentuan jika sampai kamu belum bisa berjalan, maka dokter akan melakukan tindakan operatif, bukan?" tanyaku memastikan ucapan dokter waktu itu.
Dia mengangguk, "Sebenarnya sudah empat hari ini aku bisa berjalan, hanya saja dokter belum mengizinkanku pulang. Makanya aku tidak memberitahumu. Empat hari lalu, waktu kamu pulang untuk membawa ASI perah. Maaf ya, aku tidak langsung memberitahumu."
"Tapi jalanku belum bisa sepeeti dulu. Harus pelan, dan juga dibantu sama korset khusus ini," imbuhnya.
"Iya, pelan-pelan saja."
"Duduk yuk, Mas," ajaknya, ah iya, dia tidak boleh berdiri ataupun duduk terlalu lama.
Kami masuk ke ruangan dan duduk berdua. Sekarang demi kesehatannya, dia harus patuh dengan aturanku.
"Ini kamu masih masa pemulihan, Mas minta sama kamu manut sama Mas dulu. Bisa to?"
Widya menganggukkan kepalanya, "Jangan yang berat-berat aturannya."
Aku tertawa mendengarnya. Belum juga aku mengatakan peraturan yang hendak aku terapkan untuk menunjang kesehatannya, sudah protes saja dia.
"Pertama, boleh nolong partus, tapi sebulan hanya tiga kali. Sisanya serahkan pada Banun, tularkan ilmumu padanya. Tidak mungkin anak itu akan selamanya menjadi asistenmu, bukan?" kataku.
Dia mengangguk, artinya ia setuju tanpa perdebatan. "Kedua, aku akan mengambil asisten rumah tangga, ibu sudah dapat orangnya. Usianya lima puluh tahun, sepasang suami istri, tidak memiliki anak, tetanggamu."
"Siapa? Aku kenal orangnya?" tanyanya. Aku mengangguk. Namanya Dhe Piah, orangnya memang sudah pengalaman dalam hal menjadi asisten rumah tangga. Dia berhenti karena majikannya sudah meninggal, dan sedang mencari pekerjaan. Selama ikut majikannya dulu, Dhe Piah tidak pernah aneh-aneh dalam bekerja. Semoga juga nantinya begitu.
"Oke, apa saja nanti yang Dhe Piah kerjakan?" tanyanya lagi. Kini Widya beranjak ke ranjang untuk rebahan. Aku mengikuti langkahnya dan duduk di sampingnya.
"Semuanya," jawabku singkat.
"Nggak, aku nggak setuju. Masak hak milikku. Itu bentuk cintaku pada kalian. Setidaknya, izinkan aku memasak."
Oke aku setuju dengan permintaannya. Dia bertanya lagi tentang syaratku. Sudah, aku hanya memberi dua peraturan baru untuknya. Dokter datang dan visit. Menerangkan kepada kami keadaan Widya. Alhamdulillah, tindakan operatif batal dilakukan.
Widya diperbolehkan pulang, tapi harus rutin menjalani terapi. Jadwal kontrol akan dijelaskan oleh petugas jaga sebelum kepulangan. Setelah dokter pamit meninggalkan ruangan, dia hendak turun untuk beberes.
"E, lupa kamu sama kata dokter? Kurangi aktifitas yang bisa menyebabkan cedera lagi. Rebahan disini. Biar aku yang bereskan. Mau kena hukuman?" Aku mengacungkan jari telunjuk dan memintanya tetap di atas ranjang.
__ADS_1
"Cuma beberes doang, Yang. Kamu kalau sudah mode galak nyebelin. Memang apa hukumannya?"
"Demi kesehatanmu. Hukumannya, melayaniku malam ini sampai pagi. Sekaluan biar kumat karena melanggar aturan." Aku tidak main-main dengan ucapanku, agar dia lebih memperhatikan kesehatannya lagi.
Widya protes. Hukumannya menguntungkanku semata. Aku tidak terima dikatakan begitu. Memangnya dia tidak rindu bercumbu denganku?
"Memang kamu tidak senang bercumbu dengan Mas? Menguntungkan salah satu pihak katanya, memang kamu tidak menikmati setiap sentuhan yang aku layangkan ke tubuhmu?"
Dia memanyunkan bibirnya. Aku terkekeh menyaksikannya. Setelah beres, kutinggalkan dia untuk melunasi administrasi, menandatangani beberapa dokumen, dan mengambil obat. Perawat yang bertugas menerangkan padaku jadwal kontrol terapi yang harus dijalani Widya. Setelah semua beres, aku kembali ke kamar. Melihatnya sudah berganti pakaian, siap untuk pulang ke rumah.
Dia menunggu di depan ruang poli. Aku memutar mobil dan menjemputnya disana. Aku membuka pintu untuknya dan memasangkan sabuk pengaman.
"Ah, terima kasih, Sayang. Perhatian sekali ya papahnya anak-anak kali ini," ungkapnya.
"Ha-ha-ha, iya deh iya, besok-besok seperti ini terus. Orang kan ya bisa berubah to. Sudah siap, kita pulang."
Aku kembali ke sisi kanan, mengemudikan mobil perlahan meninggalkan rumah sakit. Dia menggenggam tanganku lalu menciuminya. Aku mencubit pipinya karena gemas.
"Kenapa? Tiba-tiba mencium tangaku. Minta apa?" tanyaku.
"Nggak minta apa-apa. Aku berdo'a semoga kamu panjang umur, sehat jasmani dan rohani, berlimpah rezekinya, dan tetap menjadi Tompi yang aku kenal dulu. I love you, Tom." Ungkapan cintanya membuatku salah tingkah.
"Ih, panggilnya kok Tom, sih? Yang mesra dong!" protesku untuk menutupi kegugupanku.
"Hilih, protes mulu. Kamu sama aku tua aku kali. Aku kan lahir di bulan mei, kamu kan lahir di bulan ini."
Dia malah tertawa. Dasar Widya, suka sekali dia mendebatku perkara sepele seperti itu. Kami sudah sampai di rumah. Aku membantunya turun setelah menurunkan barang-barang yang ada. Pintu terbuka dan semua orang menyambut kami, kecuali Gandi karena anak sulungku sedang sekolah.
"Ibu, Abah, Mamah, Ayunda sayang, Ya Allah, terima kasih semuanya. Widya sampai kaget, lho." Widya mengambil Ayunda dari pangkuan Abah. Anakku itu dekat sekali dengan akungnya, selalu nyaman meski hanya dipangkuan abah.
Aku menyalami semuanya dan masuk ke dalam rumah. Mengangkuti barang-barang yang ada. Lalu setelah beres ikut berkumpul dengan mereka. Dhe Piah dan Dhe Lan datang, Widya tahu mereka dan setuju untuk aturan nomor dua.
Semuanya berkumpul sampai malam hari. Gandi yang baru masuk rumah selepas maghrib langsung memeluk mamahnya ketika tahu Widya sudah ada di rumah.
"Gandi kangen sama Mamah, sudah sehat kan, Mah?" tanyanya pada Widya.
"Alhamdulillah sudah, tapi Mamah masih harus terapi. Gimana sekolahmu, Mas? Lancar? Maaf ya, Mamah tidak bisa menemanimu saat kemarin lomba."
Kubiarkan mereka bercengkrama. Ibu mengatakan akan membawa Ayunda bersamanya. Tujuannya agar Widya bisa istirahat nyaman di rumah. Beliau memintaku untuk menyiapkan keperluan anak bungsuku.
Ya sudahlah, ku turuti saja keinginan mertuaku. Mungkin beliau juga ingin memanjakan Ayunda. Kusiapkan semua keperluan yang dibutuhkan. Kuminta Gandi ikut menemani Ayunda, berjaga-jaga jika nanti ibu kewalahan menjaga Ayunda.
"Aku kan ingin tidur sama Ayunda, Pah. Kok malah mau dibawa ibu?" protesnya.
"Turuti saja keinginan ibu. Hitung-hitung ini me time untukmu."
Aku pamit sebentar mengantarkan para orang tua kami pulang. Saat aku kembali ke rumah, suasana sudah petang. Mungkin dia lelah. Aku masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaannya.
"Wid? Sayang? Kamu dimana?" tanyaku. Aku mengecek ke dalam kamar mandi, kosong. Tiba-tiba saja ada yang memelukku dari belakang.
__ADS_1
"Aku disini, Mas."
Aku berbalik dan melihatnya sudah cantik dan menggoda. Aku tersenyum saat tahu dia memakai baju dinas yang telah aku berikan. Tubuhnya yang makkn berisi setelah melahirkan, membuat hasratku mendidih. Tanganku ditariknya menuju ke tempat tidur.
Dia menepuk bagian sebelah kanan untuk tempatku. Kurangkul bahunya lalu kucium rambut wangi itu. Suasana mendadak menjadi hangat dan romantis. Pintar sekali dia memberikan kejutan untukku.
"Kangen kamu?" tanyaku masih menciumi rambut hitam tebal itu.
"Memangnya kamu tidak?" jawabnya.
"Sangat, sudah di ubun-ubun hasratku ini. Lakukan malam ini, boleh? Tidak mengganggu kesehatanmu, kan?" tanyaku.
"Boleh, asal aku yang di bawah, aman."
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Tanganku yang sedang merangkul pundaknya mulai menjelajah. Kubaringkan dia, kuciumi wajahnya, bibirnya, lehernya, dadanya, perutnya, hingga bagian bawah. Dia mengerang kecil mendapatkan sentuhan dan cumbuan dariku.
Kubiarkan suaranya menjadi backsound percintaan kami malam ini. Aku mulai melepas bajuku. Tangannya meraba semua bagian tubuhku. Aku mencoba menyatukan milik kami.
"Ah," ucap kami bersama-sama. Sudah masuk. Aku mulai memainkan tempo perlahan. Dia masih mengerang kecil karena kenikmatan.
"Aku sudah tidak tahan," bisikku di telinganya.
"Luapkan."
Aku sedikit mempercepat tempo permainanku hingga tubuh kami sama-sama mengejang dan terjadi pelepasan. Aku mencabut milikku, tidak lupa memberikan kecupan lagi di bibir dan keningnya, mengatakan kata cinta dan berguling ke sampingnya.
Dia meminta lenganku sebagai bantalan. Menarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Ia meminta maaf baru bisa melayaniku sekarang dan juga ber-KB tanpa izin dariku.
Aku pikir itu tidak masalah, karena sebenarnya hak ber-KB itu seutuhnya milik perempuan. Aku mengizinkannya. Aku juga tidak menuntutnya harus memiliki anak lagi. Kasus persalinannya, ari-ari lengket saja bagiku sudah mengerikan, dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Jadi, cukup Gandi dan Ayunda saja yang menjadi permata kami.
"Apa do'amu untuk ulang tahunmu kali ini?" tanyanya.
"Aku memohon pada-Nya, agar istriku dan anak-anakku bahagia, sehat, dan terus bersamaku. Kalian permataku, harta paling berharga untukku."
Kami berdua terdiam. Apa dia sudah tidur? Tumben, belum bersih-bersih sudah tidur.
"Yang ...," panggilku.
"Dalem, Sayang."
Hmmm, sejuk sekali mendengarnya menjawab panggilanku seperti itu.
"Ayo bebersih dulu, lalu istirahat." Aku bangun dari tempat tidur dan menggandengnya untuk segera turun.
"Hawa-hawanya ada yang mau ronde dua di kamar mandi, nih," ucapnya membuatku tertawa geli. Tahu saja isi pikiranku. Inilah enaknya menikah dengan yang satu frekuensi. Tidak perlu banyak bicara, hanya perlu isyarat untuk mengungkapkannya. Jadi saranku bagi kalian yang belum menikah, pilihlah yang benar-benar bisa diajak menua bersama. Seumur hidup itu lama.
...--TAMAT--...
(Tamat untuk kisah mereka berdua ya, paling mereka nanti jadi selingan di ceritanya Banun dan siapa? Rizal atau Gusti?)
__ADS_1