
Pov : Banun
Rasanya badanku letih sekali. Tidur saja masih kurang, sudah harus bangun menyiapkan keperluan mas Gusti. Ditambah lagi aku shift pagi. Selesai salat, aku menghela napas panjang lalu tersenyum.
"Semangat!" ucapku pada diriku. Kutarik selimut yang masih menutupi tubuh suamiku. Kuberikan kecupan agar dia bangun.
"Bukan badanku yang bangun, Yang. Adekku juga ikut bangun. Jam berapa, sih? Masih ada waktu untuk sedekah subuh tidak?" tanyanya.
Aku menggeleng, "Sudah setengah enam. Kamu mau telat sampai di kantor?"
Aku tertawa saat melihatnya bergegas mandi. Segera kurapikan tempat tidur. Lalu memasak sarapan sederhana. Telur ceplok mata sapi dengan sambal bawang dan nasi putih panas. Aku membuatkan susu telur madu tanpa jahe untuk suamiku.
Setelah siap, aku menyuapinya makan. Tangannya sedang memakai sepatu. Selesai sarapan, mas Gusti langsung berangkat.
Cup-cup-cup-cup.
Aku tersenyum mendapatinya. Ciumannya mendarat di pipi, bibir, dan kening. Aku segera bergegas menyalakan mesin cuci, mencuci piring, dan mandi. Aku melihat jam, walah, kenapa kalau pagi cepat sekali waktu berputar?
Aku mengurungkan niatku untuk menjemur. Segera berdandan dan berangkat kerja. Saat akan menutup gerbang, seorang lelaki menghampiriku. Memanggil namaku. Aku berbalik menatapnya.
Ternyata Rizal lagi. Sudah berani pulang ke Demak dia? Lelaki itu mencoba akrab denganku. Sorry dori saja, aku malas meladeninya. Ia mengungkapkan keperluannya denganku. Tidak kujawab, mulutku sudah benar-benar terkunci bila kecoa itu yang bertanya.
Kunyalakan mesin motorku lalu berangkat kerja. Aku membagikan oleh-oleh pada rekanku, dan khusus untuk bu Widya. Aku digoda oleh bosku itu.
"Cie yang disusul mamas ayang ke Magelang. Diculik kemana?" tanya Bu Widya.
Aku menjadi tersipu karena pertanyaan itu. Kuceritakan semua pada sosok wanita yang sudah kuanggap ibuku. Beliau senang sekali akhirnya kami berdua bisa saling mencintai. Kegembiraanku berubah menjadi kesal karena kedatangan Rizal.
Nekat sekali dia. Bukan aku yang menemuinya, melainkan bu Widya. Tidak terima sekali bosku itu pada lelaki kurang ajar itu. Sukurin, kena ceramah mamah Dedeh kan lu kecoa, eh salah, mamah Widya.
Rizal dipaksa pulang oleh bu Widya, kebetulan sekali pak Tompi datang mengantarkan Ayunda yang baru saja selesai sekolah. Nasibmu Zal, hadapilah kedua bosku itu kalau masih enggan pulang.
"Hati-hati, jangan kamu berikan kesempatan untuk masuk lagi. Ingat, kamu sudah bersuami, Nun." Bu Widya menghembuskan napas kesal karena Rizal.
__ADS_1
"Nggih, Bu," jawabku singkat.
Tidak ada persalinan pagi ini. Alhamdulillah sekali, mereka memang tahu kalau aku sedang benar-benar butuh memulihkan tenagaku. Setelah jam kerja berakhir, aku bergegas pulang ke rumah, memasak dan menjemur pakaian.
Aku memilih menu mangut ikan panggang tahu tempe dan sayur bening. Aku melihat jam, wah, sebentar lagi suamiku pulang. Segera aku mandi dan bersolek untuk menyambut mas Gusti.
Ada yang mengetuk pintu, aku segera membukanya. Zonk. Aku kira itu suamiku, ternyata Rizal lagi. Mau apa lagi dia? Nekat sampai menemuiku di rumah.
"Aku butuh waktu berdua denganmu, Yang." Rizal menatapku penuh harap.
Aku menggeleng, bagiku waktu untuk cerita kami sudah habis tidak tersisa. Kenanganpun sudah aku kubur. Tak ada lagi kesempatan.
"Aku mohon, cuma satu menit. Aku hanya minta sama kamu, tolong kembali sama aku." Rizal memasang wajah sedih di hadapanku.
"Otakmu sudah meleleh atau bagaimana? Aku sudah menikah, salahmu sendiri kabur meninggalkanku. Sekarang kamu minta aku kembali sama kamu? Sepertinya tanpa aku jawab kamu sudah tahu jawabanku apa. Pergi sana. Sebentar lagi suamiku pulang."
Aku hendak menutup pintu, tapi tubuhnya mendorongku. Aku mulai panik. Saat dia berhasil mengintimidasiku, aku berhasil meninju dagunya. Hingga akhirnya aku berhasil kabur. Berlari ke rumah tetangga dan meminta pertolongan mereka.
Rizal memilih pergi. Aku lega bisa terlepas dari lelaki nekat itu. Astaghfirullah, aku memang ceroboh. Main bukakan pintu sebelum melihat siapa yang datang. Ku kabarkan pada mas Gusti. Suamiku sedang pengawalan dan belum sampai di kantor.
Aku memastikan semua pintu terkunci. Bapak RT perumahanku baik sekali, mau mengantarkanku sampai ke Polres. Makasih ya, Pak. Nanti kalau ada pemilihan lagi, Banun coblos. Aku bertemu dengan mas Rafka.
"Tunggu saja disini, Nun. Paling sebentar lagi sampai." Mas Rafka memintaku untuk menunggu di pos penjagaan.
Aku mengangguk, duduk terpisah dari para polisi itu. Kukirimkan pesan pada suamiku bahwa aku sudah berada di kantornya.
"Pak, mau mencari Gusti Ekawira, hari ini dia piket apa, ya?" tanya seorang wanita, mungkin sebaya dengan suamiku.
Mas Rafka menoleh padaku. Lalu menjawab pertanyaan wanita itu. Siapa dia? Ada urusan apa mencari suamiku? Apakah mereka ada hubungan? Aku tidak pernah bertanya masa lalu mas Gusti. Dan kini aku khawatir.
Wanita itu dipersilahkan duduk di sebelahku. Dia mencoba mengajakku mengobrol.
"Nunggu siapa, Mbak?" tanyanya.
__ADS_1
"Suami," jawabku singkat sambil melempar senyum.
Ada sebuah mobil patroli masuk ke dalam Polres. Saat pintu terbuka, wanita itu langsung meneriakkan nama mas Gusti. Mas Rafka bergumam, tapi masih bisa kudengar.
"Mampus, perang dunia ketiga, nih. Kabur dulu sebelum kena sasaran." Mas Rafka melewatiku begitu saja.
Kini mataku tertuju pada mereka, suamiku dan juga wanita itu. Tahu apa yang mereka lakukan? Mereka berpelukan. Hatiku menjadi mendidih melihat mereka. Tanpa pikir panjang, aku langsung menuju motorku.
"Yang ..., Sayang ...," panggil Mas Gusti.
"Mau kemana? Jangan marah dulu, biarkan Mas menjelaskan padamu," ucapnya. Wanita itu masih saja mengikutinya.
"Ini siapa?" tanya wanita itu. Mas Gusti bilang bahwa aku istrinya. Wanita itu tidak terima. Marah-marah terhadap lelakiku. Ah, kepalaku pusing. Aku meninggalkan mereka. Kulihat dari spion, mas Gusti mengejarku. Tapi masih saja wanita itu menghalanginya.
"Hish! Kesel-kesel-kesel!" Aku mengungkapkan kekesalan di atas motor. Sesampainya di rumah, aku masuk ke kamar dan memeluk guling. Sumpah, hatiku panas sekali. Aku benar-benar cemburu.
Mas Gusti pulang dan membujukku. Dia menceritakan semuanya. Ternyata memang benar, wanita tadi adalah orang yang pernah dekat dengannya. Mas Gusti tidak memberikan kabar apapun setelah menikahiku.
"Mas minta maaf, tolong dimaafkan, ya?" pintanya. Aku meliriknya sebentar. Lalu mengangguk.
"Bukan Mas lho yang minta dipeluk," imbuhnya. Kenapa harus dibahas, sih? Dasar Gusti Ekawira, tidak peka sekali jadi lelaki. Tidak usah membahas hal itu. Malah jadi ingat lagi, kan?
Aku menggigit lengannya dengan keras. Kesal aku dibuatnya. Dia malah tersenyum dan menanyakan cerita tentang Rizal.
"Gini saja, Mas antarjemput kamu. Biar lebih aman."
"Nggak usah, nanti malah merepotkanmu, Mas." Aku menolaknya, aku tidak ingin menjadi beban suamiku yang kerjanya dituntut berada di lapangan.
"Mas antarjemput kamu. Nggak ada penolakan. Mas lapar, siapkan makanan dong!" perintahnya.
Aku tersenyum, "Dasar! Awas saja kalau wanita itu ganggu kamu lagi."
"Nggak akan, Sayang. Mas sudah menjelaskan padanya. Terima atau tidak itu urusannya." Enteng sekali mulut lelakiku ini bicara. Aku tahu, pasti wanita itu juga sama hancurnya sepertiku dulu.
__ADS_1
Mas Gusti minta disuapi olehku. Katanya, lebih nikmat makan dari tangan seorang istri. Ya, memang hal itu betul. Akupun lebih senang saat disuapkan olehnya.