
Bu puspa masih dengan kesedihan dan ketakutan nya memandang sekitar, dia sangat takut bertemu setiap orang yang dulu pernah menghakimi nya.
"Nak sari, malam sebelum bapak meninggal,
Bapak menceritakan tentang dirinya yang sudah mengetahui segala nya yang telah terjadi kepada kakak mu dulu, " ucap nek imah,
"Maksud nek imah apa ,sari kurang paham" tanya sari.
Puspa pun yang mendengarkan ikut penasaran dengan kebenaran yang ingin nek imah ceritakan.
" Ya sebelum bapak kecelakaan, bapak sempat bicara dengan nenek ,kalau dia mengetahui apa yang sebenar nya terjadi dengan kakak mu dulu, Bapak ingin membicarakan nya dengan bapak mu, itulah sebab nya bapak bergegas menemui bapakmu dengan sepeda motor nya, namun ternyata , takdir allah berkata lain, bapak meninggal karena kecelakaan,sebelum bertemu dan menceritakan segalanya kepada bapakmu"
Nek imah menangis teringat suami nya pak hasan.
"Ia nek, nenek yang sabar ya, tapi apa nenek tahu , apa yang pak hasan ketahui tentang mba puspa?" Tanya bu sari,
" Nenek hanya di beri tahu bapak, bahwa dia mengetahui segalanya saja, tapi bapak tidak menceritakan apapun kepada nenek, karena dia ingin langsung bercerita dengan pak bahrudin, Bapak hanya menitipkan dua kancing baju laki-laki pada nenek" lanjut cerita nek imah,
Dia membuka bungkusan kain yang telah dia kasih tali , agar bisa di bawa kemana-mana,
"Nenek selalu membawa ini kemana pun nenek pergi, karena nenek berharap,barang ini bisa menjadi petunjuk atas segala sesuatu yang menimpa kakak mu nak" jawab nek imah menyerahkan 2 buah kancing baju itu kepada sari.
"Tapi apa hubungan nya dengan kancing ini nek?" Tanya sari.
" Bapak sempat bilang, jika terjadi sesuatu kepada diri nya, tolong berikan kancing ini kepada pak bahrudin , tapi sebelum nenek berhasil memberikan kancing ini, bapak mu juga tiada" lanjut nya,
" Itu sebab nya nenek berikan kepadamu, mungkin kamu bisa mencari jawaban dari rahasia yang bapak bawa mati" nek imah menutup kembali kain bertali nya,
Saat sari melihat kedua kancing itu dia teringat dengan almarhum suami nya.
" Rasa nya aku pernah melihat kancing ini?tapi dimana ya" ucap bu sari dalam hati,
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan ibu" tanya hati annisa penuh dengan teka teki.
"Sari terima kancing nya ya nek, biar sari simpan, barangkali suatu hari nanti , kancing ini bisa memberi petunjuk"ucap sari.
"Ia nak, setelah nenek menceritakan ini kepada kalian, rasanya nenek lega nak,nenek merasa tenang jika suatu waktu allah menjemput nenek" Ucap nek imah
"Hus ,nenek tidak baik bicara seperti itu," jawab sari
Karena di selimuti rasa takut dan penyesalan yang tak berujung, bu puspa semakin tidak karuan mendengar cerita nek imah tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan pak hasan.
"Sekarang mari kita pulang nek, biar sari hantar nek imah sampai rumah" ucap bu sari,
Nisa pun membantu bude nya memapah nek imah,
Nisa juga masih penasaran dengan lanjutan cerita ibu nya tadi, tapi dia tidak terlalu menghiraukan, karena yang sekarang ada dalam pikiran annisa , beralih ke rahasia yang di ceritakan tentang pak hasan dan ibunya,
__ADS_1
Annisa merasa ada yang aneh dengan segala sesuatu yang terjadi kepada ibunya dulu,
Tapi meskipun begitu, annisa tidak akan sok tahu, dan akan masih banyak bertanya tentang segala hal nya.
Bu puspa pun ikut mengantar nek imah ke rumah nya, yang letak nya tak jauh dari rumah ibu nya .
Merekapun bergegas pulang, karena cuaca pun sudah semakin gelap,
Mereka mengantarkan nek imah terlebih dahulu ke rumah nya sebelum mereka kembali ke rumah ibu nya.
"Allhamdulillah sudah sampai nek, lain kali nek imah kalau mau pergi kemana-mana jangan sendiri ya?" Pinta bu sari,
" Ia terimakasih ya nak, nenek berharap kamu bisa membantu ibumu nak," jawab nek imah kepada annisa,
"Maksud nek imah apa?" tanya bu sari,
Bu puspa pun langsung memeluk erat nek imah,
Air mata pun pecah,
Karena sedari tadi nek imah memang sudah menyadari kedatangan dirinya,
Berlinang air mata puspa dan nek imah dalam pelukan,
"Maafkan puspa nek" bisik puspa kepada nek imah,
"Tidak apa-apa anak ku, nenek sangat bersyukur bisa bertemu denganmu kembali dalam keadaan sehat" jawab nek imah tersenyum,
Bu puspa menganggukkan kepalanya dan mencium.tangan nek imah,
"Tatapan gadis itu yang membuat nenek menyadari kehadiranmu ,anakku" ucap nek imah,
" Bergegaslah temui ibumu sekarang" lanjut nya,
" Ia nek, kalau begitu puspa pamit , terimakasih nek, karena nenek masih menganggap puspa anak nenek" ucap bu puspa berlinang air mata,
"Sama-sama nak" nek imah memeluk puspa dan annisa.
Merekapun pamit menuju rumah ibunya (bu ayu).
Annisa yang sedari tadi diam ,kini mulai bicara,
"Bu sebenarnya apa yang sudah ibu rahasiakan dari nisa" tanya nisa serius,
"Sekarang bukan saat nya ibumu menceritakan semua ini kepada kamu nis, biar nanti di rumah kita ceritakan semua nya ya" jawab bu sari,
Nisa pun mengalah.
__ADS_1
Tibalah mereka di depan gerbang rumah ibunya.
Teriakan hinaan, cacian dan lemparan batu seakan masih terasa oleh puspa tatkala melihat halaman rumah yang di pakai untuk menghakimi nya.
Air matanya tak henti menetes, tangan nya menutup kedua telinga nya seakan suara-suara itu terdengar sangat jelas sekali oleh dirinya.
"Tidak,,tidak" bu puspa histeris ketakutan untuk masuk kedalam rumah.
"Tenang bu, annisa ada di samping ibu," annisa coba menenangkan.
"Ibu tidak sanggup nak, ibu tidak mampu melangkahkan kaki ini" ucap nya berat untuk melangkah,
" Bissmillah bu, ayo kita berjalan bersama dengan annisa" jawab nya tenang,
Bu sari pun ikut menenangkan.
Suasana kampung saat itu terlihat tidak terlalu ramai, tak terlihat warga berada di luar rumah, Karena mereka pasti masih bekerja di ladang nya masing-masing,hanya anak kecil yang berlarian kesana kemari menghangatkan suasana kampung tersebut.
Dari depan gerbang terlihat sosok wanita renta yang sedang berdiri,di bantu satu tongkat nya, seakan sedang menunggu kedatangan mereka,
Dia terlihat sedang berjalan pelan menuju pintu gerbang,
"ibu" ucap puspa,
Puspa pun memberanikan diri melangkahkan kaki nya ke dalam rumah ,untuk memeluk ibunya yang sudah renta,
Langkah demi langkah terasa berat di rasa puspa, tapi annisa menguatkan langkah nya yang rapuh,
"Ayo bu, ibu pasti bisa" ucap nisa memegang tangan ibunya.
Bu puspa pun tersenyum haru kepada annisa,
"Ayo mba, saya yakin mba kuat" ucap bu sari menyemangati.
Bu puspa pun mulai berjalan menuju ibu nya,begitupun dengan bu ayu, dia berjalan pelan dengan bantuan tongkat nya menuju puspa , anak yang sangat di rindukan nya,
Bu puspa langsung bersujud di hadapan ibu nya, Seraya memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah dia lakukan kepada keluarga nya dulu.
"Puspa mohon ampun bu" bu puspa tak kuasa membendung air mata nya ,
"Puspa mohon ampun atas segala kesalahan puspa bu" bu puspa menangis di hadapan kaki ibunya.
"Bangunlah nak,"ibunya membangunkan puspa,
"Puspa tidak akan bangun sebelum ibu mengampuni puspa" jawab puspa dengan sungguh-sungguh,
"Ibu sudah mengampuni mu nak, bangunlah"
__ADS_1
Jawab ibunya menyuruh puspa untuk bangun.
bersambung