
Saat ku terdiam di kesunyiannya malam
Menatap langit penuh bintang
Entah kenapa mereka diam
Seakan membisu tak mau terus terang
Apakah mereka tahu dengan kesedihanku?
Luka hati terasa kian mendalam
Tatkala kehidupan tak seperti yang di bayangkan
Sakit hati ini mendengar kenyataan
Kenyataan bahwa aku memang tak seharusnya dilahirkan.
Annisa merasa lebih tenang saat pak Anjar mengingatkan nya untuk tidak menyalahkan ibunya,
Sakit memang di rasa Annisa mengetahui seluruh kebenaran tentang dirinya, namun apalah daya,semua sudah menjadi garis takdirnya, nisa harus berusaha ikhlas menerima kenyataan hidupnya.
Annisa larut dalam pelukan ibunya,
"Maafkan ibu nak" ucap bu Puspa memohon kepada anaknya agar tidak membencinya,
"Nisa sangat sedih Bu,nisa tidak tahu apa yang harus nisa lakukan saat ini" air mata nisa masih tak terhentikan,
Bu sari coba menenangkan nisa dan membuatnya kembali tersenyum,
"Aku harus melakukan sesuatu untuk membuat annisa tidak sedih lagi" pikir bu sari
"Tapi apa?" Tanya nya lagi.
"Nak nisa,maafkan lah ibu, lupakan lah masa lalu nya,percayalah semua yang ibumu lakukan adalah yang terbaik untuk kamu" ucap pak Anjar coba menenangkan nya lagi,
"Maafkan nisa Bu," ucap nisa meminta maaf,
"Kenapa kamu harus meminta maaf, kamu tidak bersalah nak" jawab bu Puspa,
"Nisa minta maaf,karena kehadiran nisa,hidup ibu jadi hancur,hidup ibu jadi menderita,bahkan ibu rela berpisah dengan keluarga ibu karena nisa" ucap nisa sedih.
"Kamu jangan bicara seperti itu nak, sungguh ibu sangat menyayangimu," jawab bu Puspa kembali memeluknya.
"Nisa juga sangat menyayangi ibu" jawab nisa membalas pelukan ibunya.
Suasana semakin haru,hingga Bu ayu yang sedari tadi sudah sadarkan diri ikut terharu melihat anak dan cucunya berurai air mata karena saling menyayangi,
Semua orang yang melihat momen Annisa dan bu Puspa saling menyatakan permintaan maaf dan saling menyayangi nya membuat mereka menitikkan air matanya, termasuk pak Anjar,
Dia merasa terharu bahagia melihat kawan kecilnya kembali tersenyum,
"Allhamdulillah,semoga tidak akan ada yang menggangu kebahagiaanmu lagi Puku" ucap hati pak Anjar ,
Kemudian setelah itu, aparat kepolisian yang membawa pak Yanto dan rekan-rekan nya,melapor kepada pak Anjar,kalau mereka sudah di tahan di sel untuk sementara waktu dan akan di interogasi.
"Baiklah kalau begitu,kami pamit permisi ya Bu" ucap pak Anjar kepada Bu ayu,
__ADS_1
"Terimakasih sudah menolong kami,nak Anjar" Bu ayu berterimakasih kepada pak Anjar,
Bu ayu pun ternyata masih mengingat Anjar sebagai kawan Puspa sedari kecil hingga dewasa,dia sangat ingat betul betapa Anjar dulu sangat mengejar cinta Puspa,namun Puspa tidak menghiraukan nya,karena dia memang benar-benar fokus untuk menimba ilmu,
Namun meskipun begitu,anjar selalu menjadi kawan terbaiknya Puspa,yang siap membela dan melindunginya jika puspa sedang dalam kondisi buruk,mau itu di sekolah atau di pondoknya.
Namun saat kejadian naas yang menimpa Puspa tempo dulu, Anjar sedang tidak ada di kampungnya, dia sedang menemani ibunya berobat ke Jakarta.
Akhirnya,aparat kepolisian dan perangkat desa pun pamit undur diri
"Kami permisi Bu,jika terjadi sesuatu, yang tidak di inginkan,mohon hubungi kami kembali" ucap pak Yudi (ketua kepolisian setempat)
"Baik pak,sekali lagi terimakasih" jawab bu ayu dan sekeluarga.
"Sudah jadi kewajiban kami Bu, assalamualaikum" salam pak Yudi.
"Pak Anjar,kami undur diri,mohon jika terjadi sesuatu lagi,harap hubungi kami" pak Yudi pamit kepada pak Anjar,
"Baik pak,terimakasih"
Mereka pun kembali ke tempat nya bertugas, sementara itu, saat pak Anjar hendak pamit pulang, Puspa memanggilnya,
"Mas Anjar" panggil Puspa,
Pak Anjar pun menoleh ke arah Puspa,
Puspa mendekati pak anjar untuk sedikit berbincang, melepas rindu pertemanan mereka,
"Maafkan aku Puku" ucap pak Anjar,
"Saat aku mendengar berita tentang dirimu,sedikit pun aku tidak percaya,aku yakin kamu tidak akan melakukan hal seperti itu," lanjut pak Anjar,
"Sampai saat ini,aku masih merasa bersalah pus, aku tidak bisa membantumu saat kamu terpuruk dulu," pak Anjar melanjutkan percakapannya,tanpa menjawab pertanyaan puspa,
Pak Anjar memang selalu ada untuk puspa jika di butuhkan,itu sebabnya pak Anjar merasa bersalah saat dirinya tak bisa menolong puspa saat itu.
"Aku paham mas,sudah lah, selamat ya,ternyata sekarang kamu sudah berhasil menjadi kepala desa disini" Puspa memberi selamat kepada pak Anjar,
"Itu semua karena kamu juga " jawab pak Anjar
"Loh ,kenapa saya?"tanya puspa
"Karena doamu juga aku bisa sampai sekarang" jawabnya tak banyak menjelaskan,
"Sebelum wafat, ibuku sempat titip salam untukmu
Puku" ucap pak Anjar,
"Wafat,maksud kamu?" " Innalilahi,ibu kamu sudah meninggal mas?" Tanya puspa,
"Ya,tepat dimalam kamu pergi dari tempat ini" jawab pak Anjar,
"Itulah sebabnya, aku tidak bisa menolong mu dulu,maafkan aku" lanjut pak Anjar,
"Semoga surga untuk ibumu mas," jawab puspa,
"Aamiin"
__ADS_1
Mereka saling berbincang menanyakan kabar tentang kawan-kawan nya yang lain,terlihat akrab namun agak sedikit canggung, mungkin ,karena sudah terlalu lama tidak bertemu, jadi mereka masih merasa kaku,
"Allhamdulillah, jadi kamu sudah menikah dengan Desi,anak Kobong 1" ucap puspa mengingat temannya itu,
"Ya ," pak Anjar seolah tak bersemangat membahas istrinya,
Tiba-tiba handphone pak Anjar pun berdering,
"Maaf ,aku jawab dulu telpon nya ya" ijin pak Anjar,
Puspa pun menganggukkan kepalanya,terlihat cemas raut wajah pak Anjar saat berbincang di telpon,Puspa pun bertanya-tanya apa yang terjadi dengannya,
"Puku,maaf sepertinya aku harus cepat kembali ke kantor" ucap pak anjar pamit,
"Ya mas, tapi tidak ada sesuatu yang kamu khawatirkan kan? " Tanya puspa,
"Tidak,"jawab nya,
"Assalamualaikum" salam pak Anjar pamit,
Puspa sangat sadar,pak Anjar menyembunyikan sesuatu darinya,Puspa menyadari,saat cara bicara Anjar yang gugup dan terbata berarti sesuatu sedang terjadi pada dirinya,
"Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu mas" harap Puspa
Pak Anjar pun,pergi dari rumah bu ayu dengan terburu-buru,
Di lain tempat, nisa yang masih dalam kesedihannya bertanya kepada ibunya,
"Bu ,siapakah ayah nisa?"
Pertanyaan nisa seakan menyayat hati puspa yang sebenarnya juga tidak mengetahui siapa ayahnya, dia merasa bingung harus menjawab apa pada nisa,
Air mata pun kembali menetes,namun bu Puspa mencoba tegar,
"Ibu tidak tahu nak" jawab puspa sedih,
Annisa terdiam membisu dengan jawaban ibunya,
"Bu,ibu mau kan coba menceritakan segalanya lagi kepada nisa dengan sebenar-benarnya?" Pinta Nisa,
Bu puspa pun menyetujui permintaan nisa,untuk menceritakan kejadian malam itu dengan sebenar-benarnya.
Saat bu puspa selesai menceritakan segalanya,nisa pun kembali termenung,
Sejenak pikiran nya menerawang sosok yang menjadi ayahnya.
"Apakah ibu tidak ingat, bagaimana ciri-ciri pria itu?" Tanya nisa,
"Ibu sama sekali tidak mengingatnya nak,ibu tidak pernah melihat pria itu" jawab puspa,
"Bagaimana nisa bisa mencari nya,kalau begini" ucap nya penasaran dengan sosok ayahnya.
"Ibu ingat nak, saat pria itu membekap mulut ibu, ibu sempat melihat di jari nya memakai cincin perak dengan batu berwarna ungu,dan di sisi batu itu ada inisial huruf R" jawab bu Puspa mengingat kembali,
"Allhamdulillah ,syukurlah ,itu sudah cukup untuk nisa bu," jawab nisa berterimakasih kepada ibunya,karena sudah mau mengingat ciri-ciri ayahnya.
"Memang nya,kamu mau mencari kemana nak?" Tanya Bu puspa.
__ADS_1
Bersambung