
Saat sang pria berhasil melarikan diri,
Kini hanya puspa sendiri di kepungan warga.
"Sudahlah puspa, hapus air mata buaya mu,kami tidak akan mengasihi mu" teriak bi ijah,
"Ayo kita lempari dia"ucap warga,
Puspa di ikat pada satu tiang, dia di lempari batu kerikil oleh warga sekitar ,bentuk hukuman agar si pelaku jera.
Hukum rajam pada era 1970/1980 an memang masih di lakukan, namun seiring berjalan nya zaman,
Di tahun 2000 an hukum rajam itu mulai sudah di tinggal kan, karena hukum setiap kesalahan sudah di rangkum dalam UUD indonesia, meskipun begitu ,masih ada juga kota-kota tertentu yang masih melakukan hukum rajam berupa cambuk.
Setelah puspa di lempari batu , kini dia mulai di arak keliling kampung nya,
Bu ayu tak kuasa melihat anak nya di perlakukan seperti itu, batin nya sakit, air mata nya tak henti mengalir,
"Anakku" ucap nya,
Pak suhendar yang kala itu merasa kecewa dengan apa yang di lakukan anak nya,berupaya berbuat adil kepada anak dan warga nya, karena pak Suhendar memang salah seorang tokoh disana.
"Sudahlah bu"ucap pak suhendar kecewa.
Saat warga mengarak puspa,
Sari yang sedari siang pergi ke rumah teman nya untuk daftar pondok, tiba di rumah, dia dapati keadaan rumah yang berantakan.
"Asstagfirullah, ada apa ini bu" tanya sari kepada ibu nya,
"Kakak mu nak" jawab bu ayu menangis,
"Mbak puspa kenapa bu? kemana mba puspa" sari bulak balik kamar puspa mencari nya,
"Mbak mu ,di hakimi warga nak" jawab bu ayu semakin tak kuasa menahan tangis nya,
"Innalilahi, apa yang terjadi dengan mba ku " tanya sari,
Bu ayu pun menceritakan segala nya tentang apa yang sudah terjadi kepada sari.
"Ini tidak mungkin, mbak ku pasti tidak akan melakukan hal seperti itu, ini tidak mungkin kan bu" Ucap sari bertanya kepada ibu nya, tangisan bu ayu pun semakin menjadi.
"Pak,apa bapak percaya begitu saja dengan semua ini pak,mba puspa tidak mungkin melakukan hal terhina itu pak" tanya sari kepada bapak nya membela,
" Sudahlah,semua sudah terjadi, "pak suhendar masuk ke dalam kamar nya, mengunci diri,
"Tapi pak,ini semua tidak mungkin, mba puspa tidak akan melakukan ini, ini semua pasti fitnah pak" teriak sari di depan pintu kamar pak suhendar, sambil menangis.
Sari begitu terpukul dengan apa yang ibu nya ceritakan, dia menangis mencari kakak nya.
" Bu,sari harus mencari mba puspa bu, kasihan mba puspa" ucap nya,
Bu ayu pun menganggukkan kepalanya,
"Carilah mbak mu nak, bantulah dia" ucap bu ayu dengan air mata nya yang tak henti menetes.
Sari pun menyusul mencari keberadaan kakak nya yang sedang di arak warga mengelilingi kampung,
Dia berlari dengan segenap tenaga nya, air mata nya tak henti menetes,
__ADS_1
"Mbak , mbak puspa" sari terus berteriak memanggil kakak nya,
Sari dapati kakak nya sedang di arak warga berkeliling, dengan cacian dan hinaan yang warga ucapkan , puspa nampak pasrah karena sudah tidak bisa membela diri,
Tak ada yang mempercayai nya , namun yang lebih membuat hati nya pasrah, puspa melihat di mata bapak nya, tak ada rasa percaya untuk dirinya, Sehingga dia menerima segala hukum yang warganya berikan.
(Pak , andai bapak tahu, puspa tidak berbohong pak) ucap hati puspa kala itu.
"Hentikan " teriak sari ,menghentikan arakan kakak nya,
Sari memeluk kakak nya erat,
"Apa-apa an ini, kamu sok menghadang kami menghukum kakak mu yang bersalah" ucap bi ijah marah,
"Ini tidak benar bu, ini semua tidak benar" jawab sari menghentikan coba membela kakaknya,
"Alah kamu jangan membela kakak mu yang sudah benar-benar bersalah sari" jawab salah seorang warga,
"Ini tidak benar kan mba?" tanya sari pada kakak nya,
Puspa hanya menganggukkan kepala nya,karena tubuh nya sudah lemah.
"Kamu percaya pada mba kan dik?" tanya puspa pelan dalam kelemahan nya.
"Sari percaya mba" jawab sari,
Puspa pun tersenyum,
Tiba-tiba salah seorang warga menarik tangan sari dan memisahkan nya dari puspa.
Mereka melanjutkan arakan nya,
"Mba," "Mbak ku tidak bersalah" teriak sari, namun tak ada satupun yang mendengar.
"Mba" sari menangis sedih, air mata nya terus mengalir, sampai hujan pun turun,
Namun warga tidak menghentikan hukuman nya.
Kini warga pun kembali membawa puspa ke depan rumah nya untuk menunggu keputusan pak suhendar.
"Kita harus mengusir puspa dari kampung ini" teriak bi ijah,
"Ya setuju," teriak warga lain,
"Puspa hanya menjadi sampah masyarakat disini" ucap bi ijah lagi,
"Sudah, sebaiknya kita tanyakan dulu kepada pak suhendar, puspa mau kita usir dari sini atau bagaimana?" salah seorang coba mendamaikan.
Pak suhendar pun keluar dari rumah nya.
"Kita usir saja puspa dari kampung ini , karena puspa sudah membuat kampung kita tercemar" ucap warga
"Ya,usir usir usir" teriak warga mengepal kan tangan nya mengusir puspa.
Pak suhendar tak mampu banyak bicara, diapun menyetujui keputusan warga nya untuk mengusir puspa dari kampung nya.
Puspa yang saat itu sudah terlihat lemas ,berlari memohon ampun kepada bapak nya agar tidak mengusir nya,
"Puspa mohon pak, jangan usir puspa, puspa tidak bersalah" ucap puspa memohon di kaki bapak nya.
__ADS_1
Air mata pak suhendar tumpah, melihat anak kesayangan nya memohon ampun kepada nya, begitupun bu ayu dan sari,
Mereka mencoba menahan kakak nya agar tidak di usir , namun keputusan bapak nya membuat semua itu nyata.
"Lebih baik kamu pergi dari sini,karena kamu sudah membuat kampung ini ternoda" ucap pak suhendar dengan pelan namun tegas, nampak sangat pak suhendar menahan air mata dan emosional nya.
Seakan tak percaya dengan ucapan bapak nya, puspa pun terdiam sesaat, dia berharap bahwa semua ini hanya mimpi sesaat.
Namun teriakan warga yang terus menyuruh nya untuk pergi dari kampung nya ,membuat puspa tersadar bahwa semua ini bukan mimpi.
(Aku tidak percaya ,bapak) puspa menangis terisak di kaki bapak nya,
Dia tidak percaya dengan semua ini.
Bi ijah pun menarik puspa dari pangkuan pak suhendar, dia menarik puspa hingga terjatuh lemah tak berdaya,pikir nya kosong dan pasrah.
"Pergi kamu dari sini" warga mengusir nya,
"Ya pergi kamu" sahut warga sekitar.
Puspa pun bangkit dari jatuh nya, dia mulai berdiri dan melangkahkan kaki nya,
Saat dia hendak pergi dari rumah, puspa memeluk bapak nya erat sebagai tanda perpisahan.
"Ampuni puspa pak, demi allah, demi Rasulullah, puspa tidak melakukan perbuatan hina itu" ucap puspa dalam pelukan bapak nya,
Sari pun ikut memeluk kakak nya, begitupun bu ayu, dia coba menaham kepergian anak nya,
"Jangan pergi nak" ucap bu ayu,
"Maafkan puspa bu, dik" pamit puspa.
Warga pun kembali menarik tangan puspa dan mengusir nya.
Puspa pun pergi dari kampung itu tanpa membawa apapun, hanya pakaian yang dia pakai, namun bu ayu menyelipkan sedikit bekal di kantung baju nya saat dia memeluk nya tadi.
Suasana sedih begitu terasa oleh pak suhendar,
"Didik anak nya saja gagal, apalagi didik warga nya" Celoteh warga kampung kepada pak suhendar
Namun pak suhendar tidak membalas,
Pak hasan yang saat itu datang bersama istri nya (Imah)menyaksikan semua tanpa bisa membantu ,coba membubarkan warga.
"Sudah sudah sekarang bubar" ucap pak hasan membubarkan warga.
Ahirnya warga pun membubarkan diri ,setelah puspa pergi.
Lamunan bu puspa terpecah saat annisa mengagetkan nya.
"Jadi ibu ada disini toh" tanya annisa kepada ibu nya yang sedang mengenang kejadian malam itu.
"Mmh ia nak, tadinya ibu hendak istirahat" jawab bu puspa menyeka air mata nya,
"Ibu kenapa menangis" tanya annisa,
"Tidak nak, ibu hanya terharu, ternyata kamar ibu, masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah sama sekali" jawab bu puspa,
Annisa menyadari, ibu nya sedang berbohong pada dirinya.
__ADS_1
bersambung
jangan lupa vote nya ya sahabat semua 😁