
Air mata tak terasa mengalir deras di pipi,hatinya begitu sedih mengingat semua yang telah anisa dengar.
Dalam hati nya terus bertanya, siapa aku?.
" Astagfirullah" di hela nya napas dalam dalam.
"Kuatkan aku ya allah" nisa terus berucap istighfar untuk menenangkan hati nya.
"Ini pasti tidak mungkin, tadi aku pasti hanya salah dengar?" gumam hatinya pada ilahi menguatkan diri.
Di lain tempat,bu sari yang menyadari nisa tidak ada menanyakan keberadaan nya
"Oh ya mba,anisa nya kemana?" tanya bu sari.
"Ia, kemana ya nisa" jawab bu ratih.
"Nis, sayang sudah buat minum nya nak" panggil bu ratih dengan nada serak.
Sempat tak ada jawaban, "Biar saya lihat ke belakang mba" ucap sari.
Saat bu sari hendak terbangun dari duduk nya tiba-tiba nisa pun datang.
"Maaf bu tadi nisa kehabisan daun untuk obat ibu,jadi nisa pergi keluar sebentar ambil di kebun" ucap nisa.
Kegiatan mereka disana memang bercocok tanam, ada yang berkebun, menanam padi dan sayur mayur, semua mereka lakukan demi kelangsungan hidup mereka masing-masing.
Jadi bukan sesuatu yang aneh lagi,jika disana banyak sekali daun daun yang bisa di jadikan obat.
(Seperti nya nisa habis menangis)
Ucap hati bu sari melihat nisa.
(Apa jangan-jangan tadi nisa mendengar percakapan kami , dan asstagfirullah apa yang sudah aku lakukan, di tengah perjalanan, kamipun sempat bercerita tentang mba puspa, apa mungkin nisa tahu) bu sari cemas mengingat semua pembicaraan mereka di jalan tadi.
"Yasudah sini nak,duduk temani ibu" suruh bu ratih, nisa pun duduk di samping ibu nya.
Bu ratih :"Nak,ini adik ibu nama nya sari, kamu bisa panggil dia bude"
Bu sari :"Kami tadi sudah saling mengenalkan mba, ia kan nis ?".
Anisa :" Ia bu,tapi saya tidak menyangka ternyata bu sari,eh maksud saya bude adalah adik ibu saya" nisa pun tersenyum.
"Maafkan ibu nak, ibu sama sekali tidak terus terang bahwa kamu masih memiliki banyak saudara di luar sana " ucap bu ratih.
"Jadi nisa punya banyak saudara bu?" tanya nisa.
"Ia nak,kamu mempunyai banyak saudara di rumah Yogya" jawab bu ratih.
Nisa terkejut dan senang ,karena dirinya masih memiliki banyak saudara, tapi yang membuat hatinya bertanya lagi,kenapa ibunya tidak pernah menceritakan tentang saudara-saudara nya yang lain.
Nisa pun menerima dan tidak terlalu banyak bertanya.
"Kabar ibu dan bapak bagaimana disana dik?" tanya bu ratih
"Sebenar nya bapak sudah meninggal mba" jawab bu sari sedih.
"Innalilahi, apa benar itu dik" bu ratih menangis teringat sosok ayah nya.
__ADS_1
Ingatan bu ratih seakan flashback ke masa lalu, saat dimana dirinya dan bapak nya sedang mengaji,makan bersama,solat berjamaah,canda tawa,dan semua nasihatnya.
Teringat jelas saat pak suhendar memeluk bu ratih seraya berkata (Jadilah diri yang solehah dan mulia nak) nasihat yang bapak nya ucapkan.
Bu ratih semakin larut dalam kesedihan, pikiran nya campur aduk antara penyesalan dengan ketakutan nya dari masa lalu.
Bu sari memeluk kakak nya
"Sabar mba,ini semua sudah takdir yang maha kuasa, allah lebih menyayangi bapak, Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi umatnya " bu sari coba menenangkan kakaknya.
" Tapi mba belum bisa membahagiakan bapak" jawab bu ratih larut dalam kesedihan.
"Doakan saja bapak,semoga dia senantiasa berada di sisi allah s.w.t." ucap bu sari.
"Lalu bagaimana kabar ibu?" tanya bu ratih.
"Ibu sekarang sudah mulai sakit-sakit an mba, dia terus menanyakan kabar mba dimana?bagaimana?keadaan mba,ibu ingin sekali bertemu mba" jawab bu sari.
Bu ratih pun terdiam seakan tak tahu harus bagaimana dengan kondisi nya sendiri yang memang sedang sakit-sakit an.
"Tapi bagaimana kamu bisa tahu keberadaan mba disini" tanya bu ratih
"Ia bude, kenapa bude bisa tahu ibu ada disini" anisa pun ikut bertanya.
"Sebenarnya saat mba pergi dari rumah, bapak mengutus kawan nya untuk mengikuti mba kemanapun mba pergi,tapi naas kawan bapak meninggal saat perjalanan menuju rumah,apa mba masih ingat dengan pak hasan?" tanya bu sari.
"Ia dik, mba masih ingat" jawab bu ratih.
"Sebelum bapak meninggal,pak hasan selalu memberi kabar tentang mba kepadanya,mba dimana,bagaimana keadaan mba, tapi pada saat pak hasan hendak pulang ke rumah bapak, untuk menyampaikan kabar terakhir mba, tiba tiba motor pak hasan ada yang menabrak,pak hasan meninggal di tempat, sampai saat ini polisi pun belum tahu siapa pelaku tabrak lari pak hasan" bu sari menjelaskan.
" Innalilahi pak hasan , jadi selama ini pak hasan selalu ada di dekat mba dik?jadi apa itu tanda nya bapak tidak membenci mba?, tidak marah dengan mba?" tanya bu ratih.
"Tapi kenapa pada malam itu bapak seakan murka dengan mba dik,mba sangat takut sekali melihat bapak marah,mba sangat sedih saat bapak tidak mau melihat mba dan tidak mau mempercayai mba sedikitpun".
Bu ratih teringat kejadian saat dimana dirinya di usir oleh seluruh warga termasuk bapak nya sendiri,dia sangat ingat dimana tak ada satu orangpun yang percaya pada dirinya kalau dirinya hanya jadi korban kebiadaban laki-laki bejat yang menodai nya, bahkan bapak nya sendiri ikut mengusir dan menolak keras keberadaan dirinya karena malu.
Orangtua puspa(bu ratih)dan sari memang seorang tokoh yang di hormati warga nya.
Pak Suhendar begitu warga memanggil nya, istri nya bernama bu ayu (ibu puspa dan sari).
" Aku juga ikut sedih saat melihat mba di marahi oleh bapak,saya merasa bersalah andai saja saat malam itu aku tidak meninggalkan mba, jika saja saat itu aku masih bersama mba mungkin kejadian itu tidak akan terjadi" ucap bu sari.
"Maksud bude dan ibu kejadian apa?nisa jadi bingung" tanya anisa.
Karna terbawa suasana,mereka pun tak sadar percakapan yang mereka tutupi dari anisa mulai nisa curigai,meskipun sebenarnya anisa sudah menduga,tapi anisa tidak menampakan bahwa dirinya sudah menyadari hal yang bude dan ibu nya rahasiakan.
" Tidak apa apa nak, ibu hanya sedang rindu dengan kakek nenek mu,ibu jadi terbawa suasana" jawab bu ratih.
"Oh ya bu bude bilang kakak nya bernama puspa, tapi kenapa ibu merubah nama ibu jadi ratih" tanya anisa serius.
" Sebenarnya nama ibu memang puspa nak, tapi seseorang telah memberi nama baru (ratih) saat ibu datang ke tempat ini,kamu masih ingat dengan almarhum nek juleha? beliau yang memberi nama baru itu kepada ibu saat ibu tiba disini, beliau pula yang memberi nama kamu anisa putri qirani" jawab bu ratih.
"Ya nisa masih ingat dengan alm.nek juleha, andai nek juleha masih ada ya bu,mungkin suasana rumah begitu ramai dengan omelan nya." anisa mulai menghangatkan suasana.
"Fatihah buat nek Juleha nak" suruh bu ratih.
"Bude silahkan di minum air nya mumpung masih hangat, ibu di minum juga obat nya ya, nisa masak dulu ke belakang" ucap nisa.
__ADS_1
"Terimakasih nis" jawab bu sari.
"Baik nak,hati-hati ya di luar hujan jangan sampai kamu terpeleset di belakang" jawab bu ratih.
Nisa pun pergi ke belakang untuk memasak hidangan, kemudian air mata nya pun kembali menetes setiap dia teringat semua yang dia dengar " Ya allah tenangkan lah hati hamba,berilah hamba petunjuk mu " doa dalam hati anisa.
Di lain tempat bu sari dan bu ratih pun kembali berbincang.
Namun batuk bu ratih seakan sudah terlalu parah.
"Mba kita periksa yah, takut nya batuk mba semakin parah" ajak bu sari.
" Ndak usah dik, mba sudah biasa di obati anisa " jawab bu ratih.
"Terus bagaimana dengan kamu sendiri? apa kamu sudah menikah dik?" tanya bu ratih.
"Allhamdulillah mba saya sudah menikah ,saya sudah punya 2 anak perempuan 1 anak laki laki" jawab bu sari.
"Allhamdulillah,selamat ya dik semoga pernikahan mu berkah, kamu kesini,bagaimana dengan suami dan anak anakmu?" tanya bu ratih.
"Anak-anak sudah mondok semua mba, yang perempuan kelas 1 aliyah yang k 2 kelas 3 tsanawiyah dan bungsu baru kelas 1 tsanawiyah, mereka semua mondok di satu pesantren, itulah sebab nya kenapa saya bisa kesini menyusul mba" jawab bu sari.
"Allhamdulillah ya semoga menjadi anak anak yang pandai dan taat akan agama" ucap bu ratih.
"Aamiin mba makasih doa nya,"
"Suami mu bagaimana?" tanya bu ratih
Bu sari tertunduk sedih mengingat suami nya.
"Mas fikri sudah tiada mba?" jawab bu sari.
"Innalilahi" Bu ratih ikut sedih mendengar kabar duka suami adik nya.
Namun meskipun begitu, Bu sari tidak terlalu menampakan rona kesedihan di wajah nya,
Bu sari nampak tegar menguatkan diri
"Mba,nanti mba mau ikut saya pulang kan ?" tanya bu sari.
"Rasa nya mba belum sanggup untuk pulang dik, mba terlalu malu untuk menginjakan kembali kaki mba ke rumah ibu" jawab bu ratih yang terus menerus batuk.
"Saya mohon mba , mba mau pulang ya dengan saya, ibu sangat ingin bertemu mba" Bu sari memohon.
"Dosa mba terlalu besar dik, mba malu untuk pulang, nanti nisa bagaimana? mba mau bicara apa nanti jika seandainya nisa bertanya tentang semua yang terjadi " jawab bu ratih sedih.
Selama ini anisa memang mengetahui kalau bapak nya sudah meninggal saat dia di lahir kan.
Itu alasan nya kenapa anisa tidak banyak bertanya perihal bapak nya kepada bu ratih.
bersambung
note:
pak Suhendar \= bapak sari dan Ratih /puspa
Bu ayu \= ibu sari dan Ratih
__ADS_1
nek Juleha \= nenek angkat Bu ratih di kampung
pak Hasan \= kawan pak Suhendar yang di utus untuk menjaga puspa