
Nek imah pun sampai di rumah bu ayu. Nampak terlihat jelas kekhawatiran nek imah,
"Assalamualaikum" salam nek imah,
"Waalaikumsalam " jawab bu ayu dari dalam rumah.
Bu ayu merasa senang,nek imah ahirnya datang juga menemui dirinya, ada banyak yang ingin Bu ayu ceritakan kepada nek imah,
Namun sebenarnya,ada hal yang lebih penting lagi yang ingin nek imah ceritakan kepada Bu ayu dan sekeluarga.
Bu ayu mempersilahkan nek imah duduk,dan mencoba bertanya apa gerangan yang membuat dirinya terlihat khawatir.
Nek imah pun menceritakan semua yang dia dengar dari warga tentang keberadaan puspa di rumah ini.
"Tadi saya sempat dengar warga membicarakan tentang puspa,sepertinya mereka sudah curiga dengan keberadaan nak puspa di rumah ini" ucap nek imah kepada Bu ayu.
Bu ayu pun merasa kebingungan harus berbuat apa,mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada anaknya dan annisa jika sampai warga tahu kalau mereka ada di rumah nya.
Sari terus berpikir mencari jalan keluar.
Tanpa sengaja Bi Ijah mendengar seluruh pembicaraan mereka,bi Ijah menawarkan bantuan kepada mereka untuk menyembunyikan puspa di rumah nya sementara waktu,sampai warga sudah mulai tidak mencurigai nya lagi.
"Bagaimana dengan saran saya bu" tanya bi ijah
"Tapi bagaimana dengan nisa " tanya bu ayu cemas,
Sari nampak tidak bisa mempercayai saran bi Ijah, dia takut sesuatu akan terjadi dengan kakak nya,mengingat dulu sikap bi Ijah begitu kasar kepada kakak ny, meskipun memang sekarang bi Ijah sudah berubah.
Tapi tetap dalam hati bu sari,masih ada kekhawatiran.
"Terimakasih banyak sebelum nya bi, tapi sepertinya itu bukan jalan keluar yang tepat" ucap sari.
"Lalu kita harus bagaimana nak?" Tanya bu ayu semakin gelisah,
Bi Ijah merasa sedih karena saran nya untuk menolong puspa tidak di terima oleh mereka,
Akhir nya bi Ijah pun memberanikan diri untuk membela puspa,jika seandainya ada warga nya yang mengetahui dan coba mengusir nya lagi.
"Baiklah Bu,saya paham,kenapa semua tidak menerima saran saya, biar saya yang akan membela puspa nanti jika seandainya warga coba mengusir nya lagi" ucap bi ijah dengan yakin.
Semua di buat yakin oleh ucapan bi Ijah, sementara itu, annisa yang tidak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi,merasa bingung dengan kegelisahan dan kecemasan yang ibu,nenek dan bude nya rasakan.
Dia mencoba bertanya kepada bude nya.
"Bude ini ada apa?" Tanya annisa.
Saat bu sari hendak menjawab pertanyaan annisa ,tiba tiba jendela kaca rumah bu ayu di lempari batu.
"Keluar kamu puspa" teriak pak Yanto dengan membawa sekelompok warganya ke rumah bu ayu.
Seketika itu,keadaan di dalam rumah berubah,mereka begitu khawatir dan terkejut dengan lemparan batu yang mengenai jendela nya.
"Asstagfirullah" ucap annisa melindungi Bu ayu yang hampir terkena pecahan kaca jendela.
__ADS_1
"Nenek tidak apa-apa kan?" Tanya nisa,
"Tidak apa-apa nak,kamu masuk saja ke kamar ya sayang"
Bu ayu menyuruh Anisa masuk ke kamar ibunya.
Namun Annisa menolak,dia ingin tahu,kenapa warga kampungnya sampai melempari batu ke rumah neneknya.
Apa yang terjadi? Pikir annisa.
Dia ingin melindungi ibu dan yang lain nya.
Bu sari menarik tangan kakak nya untuk melindungi,
"Sini mba,"dia menyuruh mbak nya untuk sembunyi sebelum ada warga yang masuk ke dalam rumah nya.
Puspa pun tidak ingin bersembunyi,dia ingin tetap berada disana dengan yang lain nya, puspa bertekad untuk menghadapi semua dan menjelaskan yang sebenar-benarnya tentang kejadian masa lalu yang menimpa dirinya itu tidak benar.
Dan ternyata pak yanto pun berhasil memasuki rumah bu ayu dengan menendang pintu rumah nya secara kasar,
"Mana sampah itu" tanya pak Yanto dengan nada tinggi,
Puspa yang saat itu berada di belakang adiknya ,nampak masih trauma ,meski dalam hatinya bertekad ingin melawan,
Namun rasa takutnya ternyata mengalahkan tekad nya,
Annisa yang berdiri paling depan menjadi sasaran pak Yanto.
"Apa kamu anak nya puspa" tanya pak Yanto kepada nisa.
"Lebih baik kalian pergi dari rumah ini,sebelum kami menelpon polisi" ucap bi ijah membela keluarga bu ayu.
"Berani sekali kamu,coba saja kalau kamu berani" jawab pak Yanto menantang bi Ijah.
Meski dulu sudah ada himbauan dari pemerintah setempat untuk tidak main hakim sendiri,warga disana seakan tidak menghiraukan himbauan tersebut,
Mereka seolah sudah menjadikan main hakim sendiri sebagai kebiasaan dan tradisi yang tidak bisa mereka tinggalkan.
Bahkan karena saking sering nya terjadi main hakim sendiri di kampung tersebut,warga di kampung sana sudah di cap sebagai kampung yang beringas,meski sudah beberapa kali di beri peringatan oleh kepolisian setempat.
"Maaf pak sebelum nya,ini ada apa?" Tanya annisa dengan sopan kepada pak Yanto.
"Kamu masih bertanya ada apa?,tanya sendiri kepada ibumu" pak Yanto sudah bisa menebak bahwa Annisa adalah anak puspa,karena kemiripan wajah mereka Memang membuat semua orang bisa menerkanya.
"Sebenarnya ini ada apa bu?" Nisa bertanya kepada semua orang,
"Alah jangan sok berlaga polos, dasar anak haram" celoteh salah seorang ibu yang ikut mendemo.
"Asstagfirullah, sudah cukup, hentikan"
Puspa dari belakang sari meluapkan amarah nya,dia tidak ikhlas anaknya di sebut anak haram.
"Sudah cukup kesabaran saya menghadapi sikap kalian, nisa bukan anak haram, nisa adalah darah daging saya, keturunan saya" puspa dengan tegas dan berani membela diri dan anaknya.
__ADS_1
Warga tersentak dengan jawaban puspa yang begitu menegaskan status anaknya,
"Sekali lagi kalian bilang anak saya anak haram, maka kalian akan terima akibatnya" puspa sedikit mengancam.
"Terima akibat apa puspa, toh memang benar anakmu anak haram,kalau bukan anak haram lalu dimana bapak nya?" Tanya pak Yanto membuat puspa terdiam.
"Sudah ,usir saja mereka dari sini" teriak salah seorang warga memprovokasi warga lain.
"Ya usir ,usir" warga lain mendukung.
Bu ayu sangat terpukul,dia tak sadarkan diri dan jatuh pingsan.
"Nenek" Annisa menahan tubuh nenek nya yang hendak jatuh.
Warga pun coba menarik tangan puspa dan annisa,namun bi Ijah melindungi nya.
"Kalian jangan berani-berani mengusir mereka,asal kalian tahu,puspa itu adalah korban,dia tidak bersalah" tegas bi Ijah membela puspa.
Sari membantu melindungi kakak nya dan keluarganya,
"Alah Ijah,kamu sekarang membela karena nasib anakmu serupa dengan meraka ,ya kan?"jawab pak Yanto.
"Demi Allah, puspa hanya korban fitnah disini,saya mohon kalian minta Maaf pada puspa" pinta bi Ijah dengan sumpah nya.
"Saya percaya,puspa tidak melakukan apa yang laki-laki bejat dulu katakan,mereka bahkan tidak saling mengenal" bi Ijah coba menjelaskan pada warga lain.
"Tak Sudi " jawab pak Yanto meludah,
Puspa coba menahan amarah dan air mata nya, dia terus beristigfar menghadapi warga yang sedang panas akan kehadiran dirinya dan annisa.
"Baiklah kalau memang kalian keberatan dengan kehadiran saya dan anak saya disini, saya minta maaf,saya sendiri akan pergi dari kampung ini" ucap puspa mengalah.
"Nah,lebih baik kamu tahu diri sebelum kami yang mengusir mu langsung dari sini" ucap pak Yanto.
Puspa tidak ingin kejadian dahulu terulang kembali,dia merasa,mengalah akan jauh lebih baik daripada membela dirinya sendiri.
"Jangan Bu, jika ibu memang benar, ibu harus bisa membela ibu dan membuktikan pada semua nya kalau ibu memang tidak bersalah." Nisa menahan langkah ibunya untuk pergi.
Warga pun di buat geram dengan jawaban nisa yang menahan langkah ibunya,
"Tahu apa kamu tentang benar atau salah anak haram" tanya salah seorang warga.
"Kalian boleh anggap saya anak haram,tapi di mata Allah tidak ada yang namanya anak haram," Annisa membela dirinya.
"Mungkin menurut kalian dulu ibuku bersalah,tapi sebenarnya ibuku tidak bersalah,dan menyayangkan sikap kalian yang main hakim sendiri."lanjut nisa.
"Tidak usah membela dirimu sendiri nak," ucap pak Yanto , "kamu terlalu kecil untuk mengatakan hal seperti itu" lanjutnya.
Namun saat warga hendak menyeret puspa dan annisa, petugas desa setempat pun datang untuk mendamaikan.
Bersambung.
note :
__ADS_1
pak Yanto \= provokator yang membenci keluarga pak suhendar