
Perangkat desa bersama beberapa polisi datang ke rumah bu ayu untuk melerai dan mendamaikan mereka,
Pak Anjar selaku ketua desa setempat,mencoba untuk mengamankan Annisa dan puspa terlebih dahulu ke tempat yang aman.
Karena takut amarah warga tak mampu mereka redam.
"Mohon ibu dan adik tunggu disini sebentar ya, jaga ibu nya" ucap pak Anjar kepada puspa.
Mereka masuk ke dalam kamar nya, bi Ijah pun menjaga mereka di luar pintu kamar.
"Warga ku sekalian,mohon tenang, jangan sekali lagi emosi kalian membuat kalian tidak sadar dengan semua perbuatan kalian yang merugikan orang lain," ucap pak Anjar kepada warganya.
"Kami tidak mau kampung kita di datangi lagi oleh tukang zinah seperti puspa pak" jawab pak Yanto tetap menolak keberadaan puspa dan nisa,
Pak Anjar terus menjelaskan kepada warga nya untuk sedia memaafkan dan menerima kembali puspa dan nisa, karena bagaimana pun ,mereka juga mempunyai hak yang sama seperti warga lain nya untuk tinggal dimana pun yang mereka inginkan.
Dengan kata-kata yang sopan dan bijaksana,pak Anjar terus coba mendamaikan dan membuat hati warga nya terketuk akan indah nya kedamaian dan saling memaafkan,
Mencoba melupakan semua yang telah berlalu,dan menata masa depan yang indah bersama-sama,dengan saling menghargai satu sama lain.
Pak Anjar pun tak lupa mengingatkan,akan penting nya mengontrol emosi dan main hakim sendiri itu tidak di benarkan,meskipun orang tersebut salah,
Pak Anjar membalikan pandangan warga nya,
"Bagaimana seumpamanya ,jika kejadian yang terjadi kepada puspa ,terjadi kepada anggota keluarga kalian?apa yang akan kalian lakukan?apa kalian akan tega dan kuat,melihat anggota keluargamu di hakimi ramai-ramai seperti yang kalian lakukan kepada puspa dulu?" Ucap pak Anjar.
Sebagian warga meratap sedih, mendengar ucapan pak Anjar yang mengingatkan mereka kepada keluarga perempuan nya, mereka ikut membayangkan hal yang serupa terjadi kepada anak atau keluarganya.
Sungguh di luar dugaan, sebagian warga langsung diam tanpa kata mengingat nya,Bahkan ada yang langsung meminta maaf kepada puspa dan mengijinkan nya kembali tinggal di kampung nya.
"Maafkan saya pak,saya hanya terbawa emosi saja" ucap salah satu warga.
"Alah sekali noda tetap menjadi noda" pak Yanto tetap kekeuh dengan pendirian nya untuk mengusir puspa.
"Usir puspa dan anaknya" teriak pak Yanto.
Seketika polisi pun mengamankan pak Yanto yang menjadi provokator dalam aksi main hakim sendiri di kampung itu.
Dan sebagian warga yang membantu pak Yanto ,juga ikut di amankan oleh polisi.
Warga yang sadar akan hak puspa dan anaknya untuk tinggal disini pun meminta maaf kepadanya .
"Bisakah kami bertemu dengan puspa?" Tanya Bu Ratna.
"Tentu, jika kalian benar-benar tulus untuk meminta maaf kepadanya, kalian bisa temui mereka di dalam" jawab pak Anjar.
Akhirnya setelah pak Yanto dan kawan-kawan nya di amankan kepolisian, warga pun membubarkan diri, pulang ke rumah nya masing-masing.
Di tempat lain, Bu sari ,puspa dan nisa coba menyadarkan Bu ayu yang sedari tadi belum sadarkan diri,
"Bu, bangun bu" ucap sari.
Nampak puspa begitu masih ketakutan melihat warga yang masih ada di depan rumah nya, dia sangat takut jika sampai dirinya di usir paksa lagi oleh mereka,
__ADS_1
Bu Puspa takut di arak dan di lempari batu lagi.
Ingatan nya sangat buruk, pada saat itu.
Saat seseorang mengetuk pintu kamar puspa, nisa ikut terkejut,
"Tok tok tok nak puspa" ucap bi ijah.
Ternyata bi Ijah mengetuk pintu kamar untuk memberitahu kalau warga sudah bubar, jadi mereka sudah aman,
Sari pun membuka kunci pintu kamar nya,
Saat sari membuka pintu, terlihat pak anjar,Bu Ratna dan ibu-ibu yang lain nya sedang menunggu kehadiran kakak nya.
Sari agak cemas melihat mereka,
(Apa yang akan Bu Ratna dan yang lain nya lakukan kepada Mbak puspa) pikir sari.
"Nak sari,boleh kah kami bertemu dengan puspa?" Tanya Bu ratna.
Sari terdiam sejenak,dia berusaha berprasangka baik,melihat pak Anjar ada bersama mereka,jadi mungkin kakak ku tidak akan mereka apa-apakan.
"Mbak puspa ada di dalam" jawab sari.
Puspa dan annisa pun keluar dari kamar nya,
"Nak puspa,ibu minta maaf ya?" Ucap bu Ratna.
Dengan suka rela puspa dan annisa pun memaafkan mereka semua, termasuk Bu Ratna.
Bu Ratna bersimpuh di kaki puspa meminta maaf,
"Sudah bu,bangunlah,saya sudah memaafkan Bu Ratna" jawab puspa membangunkan nya.
"Kami minta maaf,karena selama ini ,kami sudah berbuat dzolim kepadamu puspa, kami terlalu terbawa emosi,hingga kami tidak bisa berpikir dengan baik," ucap bu Ratna,
"Semoga ada hikmah di balik semua ini bu" jawab nisa.
"Aaminn"
Bu Ratna dan lain nya pun pamit pulang.
Karena puspa tidak tau kenapa bu Ratna dan yang lain nya meminta maaf, ahirnya bu Ijah menjelaskan yang terjadi di luar tadi kepada para warga,
Bi Ijah menceritakan tentan pak Anjar yang mengajak para warga nya untuk tidak main hakim sendiri, dan menyadarkan warga nya,bahwa apa yang mereka lakukan itu salah.
Bu sari pun sangat bersyukur,karena pak Anjar dan aparat nya telah memberi perlindungan dan hak nya kepada puspa dan annisa.
Sementara itu pak Anjar dan beberapa polisi masih ada di rumah bu ayu,
"Sebelum nya saya ucapkan terimakasih banyak atas bantuan nya " ucap puspa pada pak Anjar.
"Itu sudah kewajiban saya puku" jawab pak Anjar dengan memanggil nama kecil nya kepada puspa.
__ADS_1
"Tapi saya merasa berhutang Budi kepada kamu" ucap puspa.
Ternyata Puspa dan pak Anjar adalah kawan sedari kecil, mereka satu sekolah dan satu pondok saat menimba ilmu,
Maka tak heran jika panggilan pak Anjar kepada puspa,terlihat sangat dekat dan akrab, meski masih sedikit canggung.
Pak Anjar mengetahui, bahwa puspa kawan nya, tidak mungkin melakukan hal yang warga nya tuduhkan,mustahil,pikir pak Anjar jika puspa bisa melakukan hal tak senonoh seperti itu, meskipun Annisa ada, sebagai bukti dan hasil hubungan haram yang warga nya tuduhkan.
Namun pak Anjar tetap mempercayai,puspa tidak akan melakukan hal yang di larang agama, karena dia tahu ,puspa adalah gadis yang solehah, bahkan dirinya sempat jatuh hati kepada puspa karena kesalehan dan akhlaknya yang baik.
"Tidak usah merasa berhutang Budi, aku ikhlas ko" ucap pak Anjar,
"Kalau begitu,sekali lagi saya ucapkan terimakasih untuk semuanya ya" jawab puspa.
Annisa ingin mengetahui kejadian yang sebenarnya,
"Bu nisa ingin tahu yang sebenarnya?apa benar nisa anak haram?" Tanya nisa sedih,
Bu sari memeluk nisa,mencoba menenangkan ny,
Nisa menangis dalam pelukan sari.
Puspa pun tak kuasa menahan air matanya,
"Maafkan ibu nak,ibu sudah menyimpan rahasia ini dari kamu" ucap bu puspa .
Dia menceritakan segalanya kepada nisa dan semua orang yang ada di dalam rumah,termasuk pak Anjar dan beberapa polisi yang masih ada di rumah bu ayu,
Puspa berani bersumpah,jika seandainya dia berbohong,maka Allah akan memberinya azab.
Sedih rasanya menerima kenyataan pahit, bahwa dirinya terlahir atas kehendak yang di paksakan,
Terlahir dari hubungan yang di larang agama,
Terlahir sebagai anak yang sering orang bilang anak haram.
Annisa tak mampu menahan air matanya ,mendengar semua yang ibunya katakan.
"Jadi benar,nisa adalah anak dari hasil hubungan yang di larang agama" nisa sedih dalam ratapan nya.
Puspa terus meminta maaf kepada anaknya,dia memeluknya erat, sedangkan nisa tak berdaya menerima kenyataan hidup nya.
"Percayalah nak,ibu mu sangat menyayangimu,itu sebabnya ibumu tidak ingin kamu tahu yang sebenarnya" ucap pak Anjar.
kata-kata pak Anjar seakan membuat hati anisa merasa lebih tenang.
bersambung.
note :
pak Anjar \= kepala desa, teman sekolah puspa
Puku \= panggilan puspa kecil
__ADS_1