Aksara Mila

Aksara Mila
Aksara Mila


__ADS_3

Bau tanah saat hujan membuat rasa nyaman itu hadir. Teh dan suara gemuruh hujan saling menemani. Menatap hujan membuat pikirannya nyaman, menceritakan sebuah kisah. Tentang seseorang yang mencari jati dirinya. Mencari apa yang diinginkan untuk dirinya sendiri. Tentang Cinta, Cita dan Mimpinya.


Sapa saja dia Mila, Aksara Mila. Cewek jutek tapi baik hati dan sedikit manis. Cewek yang berusaha mengejar apa yang diinginkannya. Mimpinya menjadi sebuah penulis selalu terlintas dalam benaknya. Namun karna lain hal, dia harus mengurungkan cita-citanya itu. Menguburnya dalam-dalam dan sejenak melupakan.


Mila dan Ibunya berada di ruang tamu. Mereka terlihat serius membicarakan sesuatu. Sepertinya terjadi percekcokan antara mereka. Entah masalah apa yang mereka debatkan. Setelah perdebatan panjang, Mila bergegas pergi ke kamarnya dengan wajah kesal. Sedangkan Ibu terlihat sedih setelah beradu argumen dengan Mila.


Di kamarnya, Mila menutup wajahnya dengan bantal dan berteriak sekuat-kuatnya, mengungkapkan kekesalannya. Mila mencari ponselnya dan menelepon seseorang tapi sepertinya tidak ada jawaban. Lalu dia melempar ponselnya ke kasur. Mila merasa mengapa tidak ada satu orang pun yang mengertinya saat ini.


Pagi menjelang...


Mila melangkah dengan tenang menyusuri koridor sekolah yang tampak sepi pagi ini. Mila melihat jam di tangannya dan ternyata dia datang kepagian. Mila menghela nafas, seolah ada beban dipikirannya saat ini. Tiba-tiba dari belakang dia dikagetkan oleh Yana, sahabatnya yang kebetulan satu kelas dan satu tempat duduk dengannya.


"Lusuh banget sih Mil." Yana menepuk bahu Mila.


Mila hanya tersenyum tipis. Yana merangkul Mila dan berjalan masuk ke dalam kelas. Ternyata kelas masih tampak sepi dan tidak ada orang. Mila menaruh tasnya lalu duduk dan meletakkan kepalanya di atas meja, seperti ingin melanjutkan tidurnya.


Melihat sahabatnya lesu seperti belum sarapan, Yana mengajaknya keluar. "Mil, sarapan yuk! Laper nih gue. Lu juga belum sarapan kan pasti?" Yana berdiri di sampingnya.


"Males ah, Yan. Lu aja gih,,,!" kata Mila dengan mata terpejam. Tanpa basa-basi, Yana langsung menarik tangan Mila yang hendak menaruh kepalanya lagi di meja. "Lu rese banget sih, Yan. Males tau gue!" Mila ngedumel karna Yana memaksanya.


"Udah lah ayo! Temenin gue bentar." Yana membangunkan Mila dari duduknya.


Dengan lesu akhirnya Mila mengikuti keinginan sahabatnya itu. Mereka bergegas keluar sekolah untuk makan di warung nasi uduk langganan mereka. Yana duduk di kursi panjang yang menghadap etalase warung dan memesan sarapan untuk mereka berdua.


"Bu, nasi uduknya dua ya pake sayur tahu." kata Yana sedikit berteriak.


"Bu, Mila kuahnya aja ya. Gak usah pake tahu." sambung Mila.


Si ibu hanya mengangguk dan tak butuh waktu lama, dua piring nasi uduk pesanan mereka datang ke hadapan mereka. Yana menerima piring itu dan melihat isi piringnya lalu tersenyum. Dia memberikan satu piringnya pada Mila.


Mila menerima dengan cemberut sambil berdecak. "Bu, Mila kan tadi bilang kuahnya aja."


Namun Ibu penjual nasi uduk itu tidak mendengar apa yang Mila katakan dan sibuk melanjutkan melayani anak-anak yang lain.


"Ya lu juga sih, Mil. Udah tau si ibu kurang denger. Ngomongnya kecil banget, mana kedengeran!" kata Yana. Dia tertawa melihat Mila yang terlihat kesal. Mila lalu memindahkan tahunya ke piring Yana.


Ibu penjual nasi uduk itu namanya Bu Wiwit. Bu Wiwit memang sedikit kurang pendengarannya. Jadi kalau mau beli harus sedikit teriak biar dia bisa dengar dengan jelas. Bukannya gak sopan, tapi emang harus gitu konsepnya.


Dengan lahap Yana menghabiskan makanannya lebih dulu. "Cepet kenapa, Mil! Buset lama banget makannya." katanya lalu menenggak segelas teh tawar hangat.


"Sabar!" teriak Mila dengan ketus.


"Nah gtu dong, Galak! Itu baru Mila,,,"


Yana menggoda Mila yang keluar sifat aslinya. Yana sangat tau bagaimana sifat asli sahabatnya itu, galak juga jutek. Jadi jika melihat sahabatnya itu lesu, tidak ceria. Malah membuatnya heran dan juga tidak asik. Setelah membayar makanannya. Yana berniat mengajak Mila untuk nongkrong sebentar di warung tongkrongan mereka. Untuk sekedar membakar sebatang rokok, aktivitasnya setelah makan.


"Mil, nongkrong dulu bentar." menggerakan tangannya seolah sedang merokok.


"Lu aja deh, Yan. Gue males,,,! Gue ke kelas aja ya." Mila menggeloyor pergi meninggalkan Yana.


Melihat sahabatnya pergi begitu saja. Yana secepatnya merangkul dan memaksanya untuk ikut. Dengan ukuran badan yang 2x lipat lebih besar dari badannya. Mila hanya bisa pasrah dan tidak dapat menolak.


Di tempat tongkrongan sudah ada Seno, Tian, Wahyu dan Amar. Mereka adalah teman-teman dekat Yana dan Mila. Mila menjadi satu-satunya cewek yang ada di antara mereka. Sebenarnya mereka adalah teman-teman Yana di kelas 10. Nah karna kebetulan di kelas 11 mereka semua satu kelas. Jadi Mila ikut bergabung dan ikut bermain bersama mereka.


Oke kita kenalan dulu sama 6 sekawan ini,


Yana, dia cowok yang memiliki postur badan paling tinggi di antara mereka. Tinggi badannya kira-kira 180cm. Dia jago futsal dan juga jago berantem. Suaranya paling sering didengar. Ya bisa dibilang, paling di segani  di tongkrongan karna sikapnya yang berani. Sangat dekat dengan Mila. Sahabat, tetangga, tukang ojek sekaligus pelindungnya Mila.


Tian, cowok yang sikapnya paling dingin di antara yang lain. Penampilannya yang lembut dan teduh selalu membuat hati cewek terpikat, dan juga nyaman bila dekat dengannya. Partner futsal yang jago bagi Yana dan dia diam-diam menyukai Mila. Tapi teman-temannya tau hal itu, meski dia hanya menyukainya dalam diam. Sorot matanya saat menatap Mila yang berbicara dan berbisik.

__ADS_1


Amar, si pencinta olahraga, terutama renang. Kita sering sebut dia, manusia air. Dia juga jago booling. Paling keren dan modis di antara yang lain. Tapi kalau urusan percintaan, dia paling payah. Alias gak pernah pacaran. Ya bisa di bilang 11-12 dengan Tian.


Wahyu, si pencipta tawa yang mempunyai badan tinggi besar macem pelatih gym. Dia juga berwajah lucu dan berkumis tipis. Tingkahnya yang kocak, selalu saja mengundang tawa. Apapun akan terlihat lucu jika dia yang melakukannya. Meski di awal badannya di bilang mirip pelatih gym tapi dia cowok yang paling males kalau urusan olahraga. Yang dia suka itu cuman makan dan main PS, ya begitu aja kerjaannya. Kalau di paksa main futsal, paling ujung-ujungnya selalu jadi kiper gak mau jadi pemain. Nafas dia terbatas katanya. Ya banyaklah alasannya. Tapi yang jelas dia penghibur kita semua.


Seno, nah cowok yang terakhir ini adalah si pembuat onar. Paling pendek di antara teman-temannya. Si manusia emosian, tukang ribut, dan partner berantem setianya adalah Wahyu tapi paling dekat juga dengannya. Seno sering perang dingin dengan Wahyu karna dia selalu nyolong cemilannya. Manusia narsis dengan segudang gombalan dan puisi absurdnya.


Dan yang spesial di antara semuanya, dia adalah...


Mila, cewek satu-satunya di antara cowok-cowok ini. Paling galak, paling cerewet, paling jago bikin mereka merinding disko kalau udah ngamuk. Tapi dia cewek paling perhatian dan selalu memikirkan keadaan teman-temannya. Hobinya baca novel sampe lupa waktu. Dia yang selalu diandalkan kalau soal pelajaran. Ya otaknya sangat berguna untuk teman-temannya. Sedikit manja tapi bukan pengeluh. Pendiriannya yang teguh kadang membuatnya sedikit keras kepala.


Oke segitu aja perkenalan singkat dari mereka.


"Dari mana aja lu, Yan. Baru nongol." kata Seno. Melihat Yana datang bersama dengan Mila.


"Ini abis sarapan sama Mila." Yana menghampiri mereka sambil membakar rokoknya.


Mila yang tak suka dengan asap rokok menjauh darinya dan duduk di antara Seno dan Tian.


"Abis sarapan, tapi kok si Mila lemes gitu? Tadi makan apa sih, Mil?" dengan nada menggoda, Seno menyenggol tangan Mila.


"Makan Ati,,,!" jawabnya ketus. Langsung disambut tawa oleh teman-temannya.


"Galak banget sih, Mil? Masih pagi kali." Seno bete melihat Mila pagi-pagi sudah marah-marah padanya.


"Udah lu diem aja. Lagi PMS dia." Yana duduk di motor dan memperhatikan teman-temannya yang sedang bergurau.


"Ooooohhhh, pantes,,," kata Seno. Mengiyakan perkataan Yana. "Eh tapi PMS kok tiap ?" tanyanya dengan wajah sok dibuat-buat.


"Tiap hari?" kata Tian yang kali ini bersuara.


"Galaknya,,,!" godanya lagi. Lalu tawanya terdengar sangat puas setelah menggoda Mila.


Yana tersenyum kecil melihat sahabatnya digoda oleh Seno dan yang lain.


"Hah luh! Ngamukkan! Lu gangguin mulu sih, Sen!" kata Yana yang juga ikut tertawa.


"Canda sih, Mil. Gitu aja ngambek. Aku kan godain kamu biar kamu gak bete." kata Seno dengan sok manis sambil bibirnya monyong hendak mencium Mila. Tapi gagal karna langsung di tangkis oleh tangan Mila. Yana yang melihat hal itu juga buru-buru menarik rambut Seno. "Sakit napa, Yan! Etdah,,, lu maen jambak aeeee." rintih Seno dengan logat betawinya. Mila pun tersenyum kecil melihat tingkah temannya itu yang sedikit mengusir gundahnya. "Tuh kan, dia senyum." dengan senang Seno hendak merangkul Mila. Tapi lagi-lagi terbantahkan karna Mila buru-buru mendaratkan kepalanya di pundak Tian. Sekali lagi Seno kecewa dan meninju kecil dinding di sebelahnya. "Mil, Mil. Lu mah tega banget sama gue." Seno yang iri melihat kemesraan mereka berdua.


"Udah lu terima nasib aja sih, Sen. Gombalan lu gak bakal mempan sama Mila." kata Amar. Menepuk-nepuk pundak Seno sambil tertawa melihat temannya patah hati.


Tian hanya tersenyum melihat tingkah Seno. Dia mengelus lembut rambut Mila. "Kenapa sih, Mil? Lagi Berantem?" tanya  Tian dengan suara lembut khasnya dan Mila hanya mengangguk lesu.


Tanpa mereka sadari gerbang sekolah akan ditutup. Mila yang melihat hal itu langsung berdiri dan berlari. Yana yang melihat Mila berlari menuju sekolah mengikutinya bersama dengan yang lain. Untung jaraknya tak terlalu jauh. Jadi mereka sampai tepat sebelum penjaga sekolah mengunci gerbangnya. Mas Dedi, panggilan dari anak-anak sekolah untuknya karna dia masih muda dan juga belum menikah. Mas Dedi hendak mengunci gerbang sekolah tapi Mila datang dan menahannya. Dia bicara dengan suara yang terengah-engah sehabis lari cepat dari warung sampai ke sekolah.


"Mas Dedi, maaf tadi Mila ke warung dulu, beli dan minum obat." katanya berbohong. "Mila boleh masuk ya, Mas. Please,,,,," Mila memohon.


Dengan rasa iba Mas Dedi pun membukakan gerbang untuknya. "Besok jangan telat lagi ya."


"Mila gak telat, Mas! Buktinya Mila gak bawa tas." Menunjukkan tangannya.


"Bukan Mila, tapi mereka." mengarahkan pandangannya ke arah anak-anak yang ada di belakang Mila.


"Oke, Mas Dedi. Siap,,,,,!!!" teriak mereka bersamaan.


Mereka segera berlari menuju kelas mereka. Tapi ternyata teman-teman kelas mereka sedang dijemur di lapangan oleh wali kelas mereka, Pak Hamzah. Dia wali kelas galak yang hobinya suka bicara dengan teriak-teriak. Entah nada bicaranya yang emang tinggi atau emang kupingnya yang kurang jelas pendengarannya. Yang jelas belum ada yang berani menanyakan hal itu padanya secara langsung. Mereka yang ada di lapangan sedang di hukum karna tidak mengumpulkan tugas yang seharusnya di kumpulkan hari ini. Lalu dengan mengendap-endap dan tanpa bersuara sedikitpun Mila juga yang lain masuk ke dalam kelas. Namun sebelum mereka melangkah masuk, sudah lebih dulu ketahuan oleh Pak Hamzah.


"Mau kemana kalian! Baris di sini,,,!" teriak Pak Hamzah. Jelas membuat mereka semua kaget dan gagal masuk ke dalam kelas. Mila dan teman-temannya ikut bergabung bersama dengan yang lain di lapangan. "Kalian ini tidak ada kapoknya. Setiap hari selalu saja terlambat!" emosinya makin naik begitu melihat ulah murid-muridnya yang terlambat. "Ini lagi Mila,,,! Kamu itu perempuan. Kenapa mainnya sama laki-laki? Kenapa juga kamu bisa bareng mereka?" suara Pak Hamzah terasa menggema sampai ke sudut-sudut sekolah.


"Mila cuma keluar untuk beli obat, Pak." kata Tian membela Mila. Dia mendengar alasan Mila dengan Mas Dedi di depan gerbang tadi.

__ADS_1


"Lalu mana obatnya? Kenapa kamu tidak ke UKS atau ke ruang guru untuk minta obat?" katanya sambil bertolak pinggang.


"Tadi sekalian sarapan, Pak." giliran Yana yang membela Mila.


"Ini lagi,,,! Saya tanya ke Mila,,,! Kenapa kalian yang jawab?" mata Pak Hamzah membelalak seakan ingin menerkam mereka semua yang terlambat.


Dari barisan belakang satu orang sedang menatap Mila sambil tertawa sinis padanya.


"Maaf, Pak." kali ini Mila yang menjawab. "Tadi memang sarapan dulu bareng Yana. Terus ke warung beli obat dan ketemu sama mereka." Mila membenarkan perkataan Yana dan Tian.


"Baik kalau begitu. Bapak akan tanyakan langsung dengan pemilik warung. Apa benar seperti itu ceritanya?" seolah tak yakin dengan alasan mereka.


Seno mulai geram dengan wali kelasnya. Kupingnya terasa sakit mendengar dia berteriak marah-marah daritadi. Ingin sekali dia membuka mulut untuk melawannya tapi bajunya di tahan oleh Amar dan juga Wahyu. Mereka tau pasti Seno akan berulah. Kalau sampai dia berulah itu akan menjadi masalah untuk mereka berenam. Dengan rasa was-was Mila dan teman-temannya saling berpandangan. Jika ketahuan berbohong pasti Mila dan teman-temannya akan di hukum. Jalan jongkok keliling lapangan. Tapi Mila berusaha menyakinkan Pak Hamzah dengan menatapnya tanpa ragu. Merasa sedikit terpojok, Yana lekas berpikir keras mencari alasan yang masuk diakal. Tapi untungnya keberuntungan datang secepat mungkin. Mereka terselamatkan oleh kedatangan Bu Yanti. Guru Bahasa Indonesia mereka yang berjalan menghampiri Pak Hamzah.


"Pak Hamzah, maaf di panggil Bapak Kepala Sekolah. Ada rapat dadakan sepertinya."


"Baik, Bu."


Pak Hamzah bergegas pergi bersama Bu Yanti menuju ruang kepala sekolah. Pak Hamzah dikenal sangat taat dengan Kepala Sekolah. Sangking taatnya sampai melupakan murid-muridnya yang sedang dia jemur di lapangan. Sampai muridnya harus berteriak untuk mengingatkannya.


"Pak, ini kita masih dijemur?" teriak Gani ketua kelas.


"BUBARKAN! Masuk ke kelas!" teriak Pak Hamzah.


Dengan senang mereka semua membubarkan diri dan masuk ke dalam kelas. Betapa leganya Mila dan kawan-kawannya, bisa lolos kali ini berkat Bu Yanti. Sedari tadi ada yang memperhatikan Mila tanpa berpaling sedikitpun. Dia adalah Bian, Sebastian Prakasa. Cowo pintar versi 2 on the spot. Hahaha canda. Mila menyadari jika ada yang memperhatikannya tanpa lepas. Tapi dia enggan untuk berpaling sedikitpun.


Pelajaran kedua dimulai.


Bu Yanti masuk ke kelas untuk memberikan pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Yanti adalah guru favorite Mila. Mila menyukai Sastra Indonesia sejak duduk di akhir semester kelas 9. Saat itu dia membaca satu novel yang ditemukannya di perpustakaan sekolah. Mila benar-benar jatuh cinta saat membaca ceritanya. Sejak saat itulah Mila mulai mengoleksi novel-novel cinta remaja dan selalu meluangkan waktu saat libur sekolah untuk datang ke toko buku. Dia akan memilih spot paling pojok untuk diam-diam membuka novel yang ingin dia baca tanpa dia akan membelinya. Kalian pasti pernah kan ngelakuin hal itu juga atau cuma Mila doang. Hahahaha maaf ya untuk toko buku yang Mila datangi untuk sekedar membaca tanpa membeli. Maklumlah kantong anak SMP kala itu hanya cukup untuk jajan sehari-hari. Mila bisa menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan ataupun toko buku untuk membaca novel yang sangat menyita perhatiannya. Ataupun hanya sekedar membaca kutipan di belakang novel. Yang paling parahnya lagi. Mila gak bisa diganggu gugat kalau sudah urusan baca novel. Pernah sekali dia dilempar penghapus papan tulis oleh gurunya. Gara-gara dia asik baca novel di jam pelajaran.


Balik lagi dengan Bu Yanti. Selain karna Bu Yanti ini guru perempuan, beliau juga masih muda, cantik, baik, dan ramah. Tapi dibalik kelembutannya, beliau sangat tegas dan juga adil. Yang paling disukai Mila adalah Bu Yanti ini asik. Bisa menjadi guru sekaligus temannya bercerita. Beliau selalu membuatnya nyaman untuk menerima pelajaran. Bu yanti adalah guru pengganti karna guru sebelumnya berhenti bertugas setelah melahirkan.


Bu Yanti menerangkan pelajaran seperti biasanya dengan pembawaan yang lembut, dan menyenangkan. Murid-muridnya memperhatikan dengan seksama. Sangking cantiknya Bu Yanti. Anak-anak yang nakal aja mau nurut kalo pelajaran beliau. Mau belajar dan juga mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Beliau sangat menginspirasi Mila. Mila bercita-cita ingin menjadi sepertinya kelak. Menjadi guru bahasa yang baik hati dan disukai oleh murid-muridnya.


Bu Yanti menerangkan pelajaran sambil sesekali memperhatikan murid-muridnya. Perhatiannya terfokus pada Mila yang sejak awal pelajaran dimulai, hanya sibuk dengan kertasnya. Tapi sepertinya beliau tau jika Mila sedang tidak fokus, pasti karna sedang ada masalah. Mila termasuk salah satu anak muridnya yang dianggap sangat menyukai pelajarannya. Tapi entah mengapa tidak dengan hari ini. Selesai menerangkan pelajaran pun Mila masih fokus mencoret-coret kertasnya.


"Baik anak-anak. Sekarang kerjakan tugas di halaman berikutnya." Bu Yanti menutup bukunya. "Mila, kamu tulis apa? Ibu perhatikan kamu fokus sekali menulis sesuatu? Bisa Ibu lihat hasil tulisan kamu?" tegur Bu Yanti dari mejanya.


Mila tidak menjawab. Dia bahkan tidak mendengar Bu Yanti memanggilnya.


Yana yang duduk di samping Mila menepuk pundaknya. "Dipanggil tuh sama Bu Yanti. Kenapa sih, Mil?" Yana heran dengan Mila yang terlihat beda hari ini.


"Hah?" jawabnya bingung.


Mila tidak menyadari hal itu. Yana menunjukkan pandangannya ke arah Bu Yanti. Dengan tertunduk lesu Mila berjalan mendatangi meja Bu Yanti. Mila menyadari kesalahannya. Bian memperhatikan Mila dengan cemas.


"Maaf, Bu. Mila gak fokus hari ini. Mila cuma coret-coret buku tadi."


"Kamu sakit?" Bu Yanti memeriksa kening Mila. Beliau tidak memarahinya melainkan memberikan perhatian padanya. Ini salah satu alasan, kenapa Mila sangat menyukainya. Tidak hanya pada Mila dengan murid-murid lain pun beliau memperlakukannya dengan sama. "Tidak demam? Lalu apa yang membuat kamu lesu dan tidak memperhatikan pelajaran Ibu hari ini?"


Mila menatap ke lantai. "Maaf, Bu." katanya.


Dia tak mau bicara tentang alasannya yang hari ini tidak fokus menerima pelajaran dan hanya meminta maaf. Mila enggan menceritakan masalahnya di depan kelas. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Bu yanti yang memperhatikannya langsung mengerti dengan keadaannya. Lalu segera menyuruhnya pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"Ya sudah kamu sekarang ke kamar mandi dan cuci mukanya." perintahnya.


Dengan cepat Mila bergegas ke kamar mandi. Air matanya tak dapat terbendung lagi. Saat seseorang yang cukup dekat dengannya mengetahui keadaannya. Mila membasuh wajahnya dengan rasa kesal yang terpendam. Ponsel di sakunya berdering. Mila membuka pesan dari Bu Yanti.


"Menangislah Mila, jika itu membuat kamu lebih tenang."

__ADS_1


Akhirnya air mata yang semalaman ditahan mengalir juga dengan deras di pipinya. Di kamar mandi Mila menangis tersedu-sedu. Mengeluarkan semua kesedihannya. Hatinya terasa sesak mengingat kejadian semalam. Mila mendekap mulutnya karna tangis yang mulai tak tertahankan. Dia takut suara tangisnya terdengar sampai keluar.


Ada apakah dengan Mila ? Tampaknya ada yang serius sampai membuatnya menangis pilu hari ini.


__ADS_2