
Hari ini sekolah lebih cepat memulangkan murid-muridnya karna ada rapat antar guru tentang ujian sekolah mendatang. Murid-murid pun bersorak gembira. Sepulang sekolah Mila ingin membalas perlakuan Cila terhadapnya. Mila berniat untuk mengerjai Cila dengan membuat kempes ban mobilnya. Dia pun terlihat tergesa-gesa keluar dari kelas.
"Yan, gue balik duluan ya." pamitnya pada Yana. Sebelum menemui Bian di simpang jalan, dia mampir dulu ke parkiran sekolah untuk melakukan aksinya.
"Eh, Mil mau kemana? Gak pulang bareng gue?" tanya Yana heran. Namun tak terdengar oleh Mila yang sudah keburu pergi keluar dari kelas. "Milaaaaaa,,,!" teriak Yana.
Sampainya di parkiran Mila mengambil pulpen di tasnya. Dia mulai mengempesi ban mobil Cila. Setelah selesai dengan rencananya, buru-buru dia pergi meninggalkan parkiran yang sudah mulai ramai. Tanpa Mila sadari ada yang merekamnya dari balik mobil. Mila terlalu bersemangat melakukan aksinya tanpa melihat dulu di sekelilingnya.
Apakah ini akan jadi keuntung untuk Mila atau malah menjadi mala petaka baginya? Melihat Mila yang berlari keluar dari sekolah, Tian memanggilnya dari kejauhan. Tapi lagi-lagi tak terdengar oleh Mila. Dia pergi buru-buru seperti itu bukan karna sudah janjian dengan Bian tapi karna dia tak ingin ketahuan oleh Cila dan teman-temannya.
Mila berjalan menuju simpang jalan tempat janjiannya dengan Bian. Setelah saling menyapa Bian menyuruh Mila untuk naik ke motornya. Bian memarkirkan motornya di luar sekolah. Mila tak mengira bisa pulang bersama dengan Bian hari ini. Ada rasa senang yang teramat di hatinya. Begitu juga dengan Bian yang merasa hari ini adalah hari keberuntungannya. Bisa pulang bersama dengan Mila tanpa drama-drama dengan Yana. Bodyguard yang selalu ada di dekatnya. Di tengah perjalanan Mila mulai menanyakan tujuan arah mereka. Dilihat dari arah jalan yang berbeda dari arah jalan menuju rumahnya. Bian bilang ingin mengajaknya untuk makan dulu sebelum mengantarnya pulang. Cacing-cacing di perutnya sudah terdengar tak sabar dan berteriak minta diisi. Tanpa penolakan sama sekali, kali ini Mila menerima ajakan dari Bian. Perutnya juga berdemo minta makan. Memang aktivitas hari ini sangat mengeluarkan energi extra.
Kita balik lagi ke sekolah. Dari parkiran Netha menelepon Cila yang menunggu kabar darinya di toilet sekolah.
"Halo, Cil. Bener dugaan lu, kalau si Mila kempesin ban mobil lu!"
"Hah! Benerkan dugaan gue!" Cila mengepal tangannya. "Oke, sekarang lakuin rencana selanjutnya." Cila mematikan teleponnya. Liat aja dia atau gue yang menang sekarang. Gumamnya dengan percaya diri. Cila and the genk punya rencana picik yang tidak diketahui oleh Mila dan sepertinya akan terjadi hal buruk padanya.
"Cil, gimana?" tanya Netha setelah Cila sampai di parkiran.
"Udah lu semua masuk aja ke mobil." Cila membuka pintu mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. "Sekarang gue akan buat rencana seolah-olah ban gue oleng karna kempes. Gue bakal nabrak pohon trus mobil gue akan baret-baret. Gimana menurut kalian? Baguskan ide gue?" Cila menjelaskan idenya untuk membuat Mila kapok dan tunduk padanya.
"Tapikan Cil, itu fitnah?" Ayana mencoba mengingatkan Cila.
"Udah deh, Ay. Lu diem ajaaaa! Gak support banget deh!" tegur Naina sebagai tangan kanan Cila. Dia orang yang selalu mendukung Cila apapun kelakuannya. Mau sampe masuk ke sumur juga pasti bakal dia dukung terus.
"Jangan keterlaluan dong!" Qila sedikit tak setuju dengan rencana ketiga temannya.
"Duhhhh,,, lu sma Aya bawel banget sih, Qil. Ini tuh bisa jadi keuntungan juga buat lu. Kalau Bian pasti akan ilfil sama Mila. Udah deh, lu tinggal duduk diem aja, kenapa sihhhh? Gitu aja ribet!" kata Diana si tukang kompor.
"Eh, Tha. Lu udah rekam kan tadi pas Mila kempesin ban gue?" Cila memastikan bahwa Netha merekam Mila.
"Beressss Cil,,,,!" Netha menunjukkan ponselnya.
Cila tersenyum tenang. Genk AxePink pun menjalankan rencana mereka. Mereka mulai keluar dari Sekolah dan mencari lokasi yang jelas aman untuk melakukan rencana mereka. Aya yang dari awal masuk mobil, diam-diam sengaja merekam pembicaraan mereka. Dia orang yang paling punya hati di antara mereka berlima, tapi juga paling nurut dengan perintah Cila. Cila dan Ayana sudah berteman sejak kelas SD, jadi DIA yana menganggap Cila lebih dari sekedar teman untuknya. Perkataan Cila akan selalu didengar olehnya. Tapi kalau sudah kelewatan batas, Aya pasti akan menegurnya. Jika tidak bisa dengan mulut, ya dengan tindakan apapun.
Bian masih tak menyangka bisa berjalan berdua dengan Mila. Perasaan bahagia itu tak bisa di pungkirinya. Terlihat dari tarikan senyuman yang begitu lebar di pipinya. Tapi dia tetap berusaha santai agar tak terlihat begitu menonjol di depan Mila. Setelah sampai di salah satu mall, Bian mengajak Mila ke tempat makan siap saji.
"Mau makan apa, Mil?" tanya Bian di depan kasir
"Hmmm, apa yaaa?" Mila melihat-lihat menu di layar kasir. "Yakiniku aja deh sama lemon tea."
"Saya mau teriyaki minumnya air mineral aja, Mba." pesan Bian.
Kasir menekan layar dihadapannya sesuai pesanan yang di pesan mereka. "Baik, Mas. Mohon ditunggu ya. Nanti akan diantar jika sudah jadi. Terimakasih."
Setelah membayar makanan mereka mencari tempat duduk. Mila memilih tempat duduk paling pojok dekat kaca agar bisa melihat ke arah luar. Sambil makan mereka saling berbincang dan bertanya tentang kehidupan masing-masing. Saling mengenal lebih dalam, bertukar cerita dan juga berbagi rasa. Sepanjang Mila bercerita tak luput dari Yana. Mereka terdengar sangat dekat sudah seperti keluarga sendiri.
"Lu sedekat itu ya sama Yana?" tanya Bian di sela-sela makannya.
"Iya. Yana tuh udah kaya kakak buat gue. Maklumlah gue kan gak punya kakak. Namanya juga anak pertama." jawabnya santai.
"Yakin cuma kakak, gak akan lebih?" Bian bertanya seolah memojokkan Yana.
"Kok ngomongnya gitu?" kata Mila menghentikan makannya.
"Yakan sekarang banyak tuh. Temen rasa pacar, pacar rasa temen atau gak sahabat rasa jodoh?" kata Bian tanpa sadar. Kata-katanya makin memojokkan Yana hanya karna rasa cemburu dia terhadapnya.
"Stop ya. Lu makin lama makin aneh deh pembicaraannya." Mila yang tak terima dengan ucapan Bian yang terdengar makin menjelekkan Yana. "Gue mau pulang!" Mila mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Bian.
Bian masih tak sadar dengan ucapannya yang menyinggung Mila. Dia bingung melihat Mila pergi begitu saja. Tidak ingin memberikan kesan yang buruk, Bian akhirnya mengejarnya. Mila dengan cepat menuruni tangga jalan, disusul Bian dari belakang. Untungnya keadaan mall tidak terlalu ramai. Jadinya drama kejar mengejar itu tak jadi tontonan orang banyak.
"Mil. Mila. Mila." Bian memanggilnya terus menerus tapi tak dihiraukan oleh Mila. "Sorry. Sorry, Mil,,,!" Bian berhasil mengejarnya tapi Mila memutar balik. "Oke, okee Mil. MILA! Oke gue salah! Sorry!" Sangking tak tau harus berbuat apalagi, akhirnya Bian berteriak untuk menghentikan langkah Mila dan itu berhasil. Bukan hanya Mila tapi semua orang yang ada di sekitar ikut berhenti dan melihat ke arah mereka.
"Lu apaan sih, Bi?" Mila menoleh ke arah Bian.
"Sorry!" Bian mengucapkannya lagi dengan lirih.
__ADS_1
"Permisi Mas, kalau mau ribut jangan di sini. Gak enak sama penggunjung yang lain." tegur security mall.
"Iya, Pak. Maaf." Bian menarik tangan Mila untuk menghindari dari pandangan orang-orang. Dari belakang Mila menahan tawa melihat tingkah Bian yang panik seperti itu.
"Gue mau pulang sendiri,,,!" Mila melepaskan genggaman Bian.
"Mil. Gue kan udah minta maaf." suara Bian terdengar putus asa.
"Yaudah, gue udah maafin. Terus kenapa?" kata Mila dengan nada bicara jutek.
"Ya gak bisa pulang sendiri juga dong." Bian tak ingin masalah ini berkepanjangan dan merusak momentnya. "Gue anter yaa." Bian memasang wajah memohon.
"Gak perlu! Gue bisa sendiri." katanya sok ngambek.
"Padahal niatnya gue mau ngajak mampir beli buku." Bian tertunduk lesu.
"Apa? Gue gak salah denger?" Mila terperanga.
"Suka buku kan?" tanya Bian.
"Suka." jawabnya cepat. Milaaa, Mila segitu sukanya sama buku sampe ga ada malunya. Padahal semenit yang lalu dia lg marah.
"Yaudah, gue traktir beli buku. Tapi jangan ngambek lagi ya?" sogok Bian.
"Ceritanya nyogok nihhhh,,,,,?" goda Mila
Bian mengulurkan tangannya tanpa menjawab perkataan Mila. Mila menyambutnya dengan senyuman dan menggandeng tangan Bian pergi ke toko buku. Semudah itu hatinya luluh dengan sikap Bian yang mengerti kesukaannya. Mereka masuk ke toko buku. Mila berlari menuju lorong buku yang berisikan novel-novel cinta. Dia langsung sibuk dengan novelnya. Bian memperhatikan raut wajah bahagia Mila. Baru kali ini dia melihat wajah bahagia Mila sedekat ini. Senyum khas Mila yang membuat dia jatuh cinta padanya. Senyuman yang dia lihat saat pertama kali bertemu dengannya. Dapat dia lihat lagi sekarang dengan lebih jelas dan lebih dekat. Tanpa seseorang pun yang menjadi benteng di antara mereka.
Dan tanpa mereka juga sadari. Sedari tadi ada seseorang yang terus mengikuti mereka dari simpang jalan sekolah sampai ke toko buku. Dia yang bersembunyi di keramaian dan berada dalam kecemburuan. Dia yang tak rela melihat wanita yang disayanginya. Tersenyum bersama orang lain. Dia yang tak menyangka ada orang lain yang membuat Mila tersenyum lepas selain dirinya. Ya dia adalah Tian.
Tian yang mengikuti Mila dan Bian sampai ke sini. Hatinya patah. Melihat Mila bersama dengan orang lain. Penyesalannya muncul karna tak cepat mengambil keputusan untuk menjadikan Mila kekasihnya. Kecemburuan telah membuat sel-sel di otaknya kusut dan menganggu pikirannya. Tian tak sanggup lagi melihat semua itu. Dia memutuskan pergi dan meninggalkan mereka berdua.
Bian sedikit jenuh menunggu Mila selesai membaca novelnya. Dia melipir sebentar ke tempat alat-alat musik.
Mila melihat jam di tangannya. "Astagaaa! Udah jam 5, mampus gue!" Mila celingak-celinguk mencari Bian dan melihatnya sedang memperhatikan drum yang terpajang di depan toko. "Bi, pulang yuk. Udah sore banget."
"Gak usah. Udah selesai dibaca." Mila menggelengkan kepalanya.
Mila menarik tangan Bian keluar dari sana. Dia merasa sudah sangat kesorean untuk pulang. Mila meminta untuk segera pulang saja. Setelah mengantarnya sampai ke depan rumah. Bian langsung pamit karna langit terlihat sangat gelap dan angin bertiup kencang. Seakan hujan akan turun dengan derasnya.
Mila masuk ke dalam rumah dan di rumah ternyata sepi, tidak ada orang. Ibu menulis pesan yang ditempelkannya di kulkas. Ibu bilang jika mereka sedang mengantarkan makanan ke rumah tetangga baru yang rumahnya dekat dengan masjid komplek. Kalau Lana seperti biasa dia sudah pergi mengaji di masjid. Setelah membaca pesannya Mila segera naik ke kamarnya untuk pergi mandi.
Selesai mandi Mila duduk di atas kasur. Dia merogoh tas mencari ponselnya dan mendapati panggilan tak terjawab dari Tian sebanyak 15 kali. Tiann? Banyak banget, ada apa ya? gumamnya. Di luar hujan sedang turun dengan derasnya. Mila melihat jendela kamarnya masih terbuka lalu pergi menutupnya. Dia takut air hujan akan tampias masuk ke kamar sangking derasnya. Saat ingin menutup jendela kamarnya, Mila melihat seseorang di depan rumahnya. Sedang berdiri memakai seragam sekolah yang sama dengannya.
Tiaaannn? Ngapain dia disana? Tanyanya. Tapi segera dia menepis dan mengira itu hanya halusinasinya saja. Mila mengedipkan mata berulang kali. Memastikan dia tidak sedang berhalusinasi dan benar dia tidak berhalusinasi. Mila bergegas turun ke bawah untuk menemui Tian yang sedang hujan-hujanan di luar rumahnya. Mila membawa payung dan berlari keluar.
"Tiannn,,,,,! Kamu ngapain sih? Kenapa hujan-hujanan gini?" teriak Mila mendatangi Tian. Tapi dia tak menjawab apa-apa. Badannya mengigil karna kehujanan. "Masuk yukkkk." Mila memayungkannya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. "Kamu tunggu sini sebentar. Aku ambil handuk dulu."
Saat ingin beranjak pergi, tiba-tiba Tian memeluknya dengan sangat erat. Bahkan sampai menitihkan air mata. Sedih di hatinya sama seperti derasnya air hujan yang turun. Ketakutannya selama ini menjadi kenyataan. Dia hampir saja kehilangan orang yang paling disayangi saat ini. Mila bingung sebenarnya apa yang terjadi dengan Tian. Dia hanya bisa berdiam pasrah sampai Tian melepaskan pelukkanya.
Mila memeluk balik Tian untuk membuatnya lebih tenang. "Tian, tenang yaaaa. Aku disini kok." Mila mengelus punggung Tian.
Mendengar ucapan itu membuatnya jauh lebih tenang. Lalu perlahan melepas pelukkannya. "Sorry ya, Mil. Jadi basah."
"Gpp kok. Kamu duduk dulu di sini. Aku ambil handuk." Mila masuk ke dalam rumah mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Tian. Beberapa menit kemudian datang dengan membawa handuk juga teh hangat lalu diberikannya pada Tian. Baru saja Mila duduk telepon di rumah berbunyi lalu kembali ke dalam untuk mengangkatnya.
"Halo, Mila. Ayah dan Ibu sedang di masjid jemput Lana. Hujan deras sekali jadi tunggu hujan reda dulu baru kami pulang. Kamu gpp kan sendirian di rumah?" suara Ayah sedikit berteriak karna derasnya hujan.
"Gpp kok, Yah."
"Yasudah nanti kalau sudah berhenti Ayah segera pulang."
"Baik, Ayah. Oya, di rumah ada teman Mila. Dia kehujanan, gpp kan Yah kalau dia neduh sebentar?"
"Ya gpp, Nak. Suruh dia ganti baju dulu dan tunggu sampai reda hujannya baru pulang."
"Oke."
__ADS_1
Mila mematikan telepon dan kembali menemui Tian di luar. Dia sedang menghangatkan tangannya dengan menggengam gelas berisi teh hangat. "Tiann, dingin yaa? Ganti baju dulu gih." Mila memintanya untuk mengganti bajunya yang kuyup.
"Gpp kok, Mil. Bentar lagi juga hujannya reda. Aku ganti baju di rumah aja." Tian tak enak hati masuk ke rumah Mila karna mereka hanya berdua saja di sana.
"Tian, hujannya tuh masih deras banget, pasti lama. Lagian tadi aku udah bilang kok sama Ayah." paksa Mila melihat kondisi Tian yang mengigil kedinginan.
Melihat derasnya hujan yang tak kunjung reda. Padahal sudah berlangsung setengah jam yang lalu. Tian memutuskan menuruti ucapan Mila untuk mengganti bajunya yang kuyup. Mila pergi ke kamarnya mengambil baju untuk Tian dan juga mengganti bajunya yang ikut basah. Lalu dia turun kembali dengan membawa baju training dan memberikannya pada Tian. Hanya baju itu yang bisa dipakai Tian karna ukurannya yang agak besar di badan Mila.
"Tian, sekalian mandi aja ya." Mila mengantarnya ke kamar mandi. "Aku tunggu di ruang tamu ya." dijawab dengan anggukan Tian.
Sambil menunggu Tian mandi, Mila membersihkan lantai yang becek karna air dari pakaian basah Tian. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Tian sudah selesai berganti pakaian dan melihat Mila yang sedang mengepel lantai.
"Mil, sorry ya jadi ngerepotin."
"Gpp kok. Tunggu di sana aja dulu masih licin." katanya memberitahu Tian agar tak terpeleset. Setelah selesai mengepel lantai, Mila kembali ke kamar mandi untuk menaruh kain pel. Tapi baru beberapa langkah dia terpeleset karna lantai yang masih basah. Mila ingin terjatuhhh namun Tian dengan sigap memegang pinggangnya dan terjadi hal yang menegangkan.
Mereka saling berpandang dengan jarak yang begitu dekat. Jantungnya seketika berdetak sangat cepat membuat mereka diam tak berkutik. Seketika suhu tubuh mereka berubah menjadi panas yang semulanya dingin karna kehujanan. Suasana canggung nan romantis ini terjadi di saat mereka sedang berduaan saja dan ditemani dengan hujan yang setia di luar sana.
"Sorry, Mil." Tian melepaskan pegangannya.
"Mmhh,,, gpp, Tian." Mila sedikit menjauh.
Mereka salah tingkah, Tian menggaruk tengkuk lehernya dan Mila mengigit bibir bawahnya. Mila mengambil kain pel yang terjatuh tadi dan menaruhnya kembali. Saat dia berbalik tiba-tiba Tian mencium hangat bibirnya. Entah apa yang merasuki Tian sampai berani melakukan hal itu. Mila jelas terkejut akan ciuman yang membuat jatuhnya ingin copot. Tian yang secara tiba-tiba menciumnya, bagai sambaran petir di tengah derasnya hujan. Perasaan kaget luar biasa Mila rasakan di dalam dirinya. Membuatnya diam tak berkutik dan bingung harus berbuat apa. Beberapa detik kemudian Tian sadar akan perlakuannya yang salah dan melepaskan ciumannya. Ciuman 10 detik itu terasa 10 menit untuk Mila.
"Sorry, Mil." Tian menyadari kesalahannya.
Mila tak menjawab, tubuhnya masih membeku seperti patung es di Belgia. Dia tak percaya Tian menciumnya. Mila berjalan kembali ke teras depan dan duduk di sana. Disusul Tian yang duduk di sampingnya. "Tian, diminum tehnya." suara Mila terdengar bingung.
Tian meminum tehnya untuk menjernihkan pikirannya. Perasaannya menjadi tak enak hati pada Mila karna melakukan itu padanya. Pasti Mila sangat terkejud akan perlakuannya barusan. Namun karna kepalang tanggung Tian berpikir mungkin ini saatnya. Waktu yang pas untuk menyatakan perasaannya ke Mila.
Hujan terlihat sudah sedikit mereda. Genangan air membasahi tanah. Hujan menjadi saksi akan pengakuan seseorang kepada seseorang yang di cintainya. Tian memberanikan diri lagi menggenggam tangan Mila. Membuatnya makin terkejud lagi dan menatap Tian dengan tanda tanya besar. Apa maksud dari semua kejadian ini?
"Mil, sorry ya. Aku salah tadi. Maaf banget, aku terbawa suasana." kata Tian mencoba mencairkan suasana.
"Mmmh,,, iya. Gpp kok, Tian." kata Mila menatap tangan Tian yang memegang tanganya.
"Mil, aku mau ngomong sesuatu. Aku harap kamu jangan marah." Tian sedikit mengatur kata-katanya, gugup.
"Maksudnya? tanya Mila tak mengerti.
"Aku tau mungkin ini terdengar aneh buat Mila. Tapi aku gak bisa untuk nutupinya lagi. Aku pengen kamu tau perasaan aku yang sebenarnya, Mil. Aku sayang sama kamu, Mila." Dengan terbata-bata akhirnya Tian mengutarakan yang sebenarnya pada Mila. Beban yang selama ini dipendam akhirnya terlontarkan sudah.
Mila makin diam terpana. Hatinya meledak-ledak tak karuan. Serasa kembang api melintas di kepalanya. Belum selesai rasa kaget hatinya hilang, sekarang sudah di tambah lagi oleh Tian. Bagai hujan petir yang terus menyambar di kepalanya. "Tian, jujur ini tiba-tiba sekali. Semuanya, semuanya bikin aku bingung. Mila gak tau harus jawab apa. Mila bingung Tian." Mila ngerasa ini semua terlalu mendadak untuknya. Hujan ini, Ciuman itu dan sekarang Pernyataan ini.
"Gak perlu dijawab, Mil. Aku cuma mau kamu tau perasaan aku. Maaf kalau ini membuat kamu bingung dan juga kaget. Maaf juga atas sikapku yang gak sopan ke kamu tadi. Aku juga gak tau kenapa aku melakukannya. Tapi rasa sayang ini hadir sudah cukup lama dan lama-lama aku gak bisa terus memendamnya. Aku ingin kamu tau kalau aku sayang sama kamu. Sayang lebih dari sekedar persahabatan kita. Sayang sebagai seseorang yang normal pada umumnya. Sayang kepada wanita yang selalu ingin di lindunginya setiap saat." ungkapnya. Ini kali pertama baginya berbicara panjang lebar. Tidak seperti biasa yang hanya sekedar berbicara saja. Kali ini penting dan spesial jadi dia harus mengutarakan semuanya. Tian dan Mila kembali diam, memikirkan semua ini. Mereka mencoba mengontrol emosi, perasaan dan hati mereka masing-masing. "Aku pamit ya. Maaf udah ngerepotin kamu dan maaf juga untuk semuanya." Tian pergi meninggalkan Mila yang masih terdiam bingung.
Tian berjalan dengan rasa penyesalan di dalam dirinya. Berpikir apakah keputusannya ini salah? Apa benar ini hanya bertepuk sebelah tangan? Apa dia terlambat? Atau Mila teramat menyukai Bian? Tian menghela kecewa. Dia pasrah akan pilihan Mila. Yang penting sekarang semua beban di hatinya sudah terlepas. Walaupun dia mengharapkan lebih seperti jawaban Mila atas semua pernyataannya tapi setidaknya Mila sudah mengetahuinya.
Mila tersadar dari lamunanya. Dia bangun dari duduknya dan menggejar Tian. "Tiiiiiiannnnn!" Mila memeluknya dari belakang. Tian kaget Mila menyusul dan memeluknya. "Tiannnn! Maafin aku." kata Mila sambil menangis.
Mendengar itu membuat hati Tian mendadak berada di titik yang paling rendah. Dugaannya benar. Bahwa Mila tak memiliki perasaan yang sama padanya. Tapi Tian berusaha tegar di depannya. "Gpp kok, Mil." Tian melepaskan pelukkan Mila dan berbalik menghadapnya. Menghapus air mata di pipinya.
"Mila. Milaaaaaa,,," Mila takut akan ucapannya sendiri. Dia takut ucapannya akan melukai perasaan Tian.
"Gpp Milaaa. Gak perlu dipaksa." Tian mengusap-ngusap lengan Mila. "Sekarang kamu masuk ke dalam ya. Aku pamit pulang ya." Tian meninggalkan Mila lalu menyalahkan mesin motornya dan pergi.
Tian berselisih jalan dengan Ayah dan Ibu Mila. Mila masih berdiam di tempat sampai bayangan Tian menghilang. Tak lama Ayah, Ibu dan Lana pulang. Lalu mendapati Mila yang berdiri di luar dengan gerimis yang masih ada.
"Loh, Mila kok di luar?" Ibu bingung melihat anaknya bengong di luar tanpa payung.
"Masih gerimis Mil." Ayah menghampirinya dengan menggendong Lana yang tertidur di gendongannya.
"Ayah, Ibu." sadarnya. "Iya ini, tadi habis anterin temen pulang."
"Sudah pulang temannya?" tanya Ibu. "Yasudah masuk. Di luar dingin." Ibu bersama Mila masuk ke dalam rumah.
Untung saja mereka tidak menyaksikan drama romantik tadi. Kalau sampai Ayah melihatnya bisa-bisa tangannya melayang ke wajah Tian karna berani menyentuh anak gadis kesayangannya. Mila merasakan hal yang begitu menyakitkan di dalam hatinya. Rasa yang sebenarnya tak sempat dia ungkapkan pada Tian. Hatinya terasa berat memilih antara Bian atau Tian. Mana yang sebenarnya dia sayang? Bian yang diam-diam masih dia sukai atau Tian yang diam-diam menyayanginya lebih dari sekedar sahabat. Mila menangis di balik bantal tidurnya. Menangisi dirinya sendiri yang tak dapat memilih. Dia juga masih bertanya-tanya akan perasaan Bian terhadapnya? Haruskah dia terus mempertahankan perasaannya pada Bian dan mengabaikan perasaan Tian kepadanya? Ataukah dia harus melupakan Bian sepenuhnya dan merelakannya bersama dengan Aqila?
__ADS_1
Dipilih atau Memilih?