Aksara Mila

Aksara Mila
Pertandingan


__ADS_3

Tian dengan emosi yang masih menggebu-gebu mencoba


menenangkan dirinya sendiri. Menyuruh Mila untuk segera naik ke motornya dan


secepatnya pergi dari sana. Yana dan yang lain melihat dengan cemas karna Tian


membawa kecepatan motornya sangat cepat. Di dalam Arsya menahan Bian untuk


tidak keluar dulu sebelum Yana dan yang lainnya pergi. Bian menolak tapi Arsya


menyembunyikan kunci motornya. Bian cuek dan tetap keluar dari tempat futsal.


Arsya mengejar Bian dan benar Yana masih menunggunya di luar.


“Mau lu apa?” Yana mendatangi Bian.


“Gue maunya Mila. Kenapa?” kata Bian dengan nada


nyolot.


“Sayko lu ya,” Seno menarik baju Bian.


“Jangan Sen!” Wahyu menahannya.


“Terus Asty mau lu kemanain? Jangan harap lu bisa


pacarin Mila sesuka lu! Bahkan jangan pernah berharap Mila bakal suka sama lu!”


Yana memperingatkan Bian untuk tidak macam-macam pada Mila, karna Yana akan


jadi benteng Mila paling depan.


“Nyatanya? Mila nyaman gue peluk tadi?” kata Bian yang


terdengar makin tak waras. “Jujur aja sama diri lu sendiri. Apa Mila bahagia


sama Tian?” Bian balik memperingatkan Yana.


“Lu gak tau apa-apa tentang hubungan mereka! Jadi gak


usah sok tau! Apalagi sok jadi pahlaman buat dia! Dia udah banyak pahlawan buat


ngelindungin dia!” Yana merapihkan baju Bian yang terlihat berantakan sambil


menatapnya tajam.


“Kita buktiin aja nanti,,,!” Bian melepaskan tangan


Yana dari badannya lalu pergi meninggalkan mereka bersama dengan Arsya.


Mereka saling bertukar pandang dengan tatapan penuh


amarah. Seno terlihat paling geram diantara yang lain. Yana terlihat sangat


kesal sambil meleparkan tasnya dan berteriak.


“Brengsek!” Yana menendang motornya untuk tak sampai


jatuh.


“Sabar, Yan. Mending kita balik deh,” Amar menenangkan


Yana.


Tian menghentikan mesin motornya di depan rumah Mila.


Mila turun dari motornya dan melepaskan helmnya. Tian hanya diam tak bicara.


Wajahnya terlihat lebam dibagian pipi dan bibirnya. Mila memegangnya tapi Tian


menolaknya dan memegang tangannya. Menggenggam erat seperti manahan marahnya


yang masih tersisa di hati.


“Mau masuk?” Mila menawarkan Tian untuk masuk ke


rumahnya dulu.


Tian hanya menatapnya tanpa berkata. Tak lama Ayah


memanggil Mila dari teras rumah. Mila menarik tangan Tian untuk ikut bersamanya


masuk ke dalam rumah. Ayah melihat Mila membawa teman lelakinya masuk.


“Assalamualaikum Ayah,” Mila menyalami Ayahnya dan diikuti


Tian.


“Temanmu kenapa? Kok babak belur begitu?” melihat muka


Tian yang bonyok seperti habis berantem.


“Tadi ada yang gangguin Mila, Yah. Tian yang


nolongin,” Mila memberikan alasan.


“Siapa yang gangguin kamu? Kamu gpp kan? Mana yang


sakit?” Ayah memeriksa anak perempuannya sekujur tubuh.


“Aduh Ayah, Mila gpp. Ini yang sakit,” Mila menunjuk


Tian.


“Terimakasih ya sudah tolongin Mila,” tutur Ayah yang


terdengar gengsi. Seperti belum siap jika anaknya punya cinta lain selain


cintanya.


Mila tertawa kecil melihat sikap Ayahnya yang seperti


malu-malu pada Tian.


“Sama-sama, Om. Udah jadi tugas saya untuk jaga Mila,”


ucap Tian dengan jujurnya.


Ayah seperti melotot mendengar kata-kata Tian tapi


Mila langsung menyuruh Ayah untuk tenang dan tersenyum pada Tian yang terlalu


jujur perkataannya.


“Yasudah masuk ke dalam dan obatin, temanmu!”


kata-kata teman terdengar penuh penekanan dari Ayah.


Ibu datang karna penasaran apa yang sedang mereka


bicarakan di teras rumah begitu lama. Ibu melihat Tian dengan keadaan wajah


yang terluka. Ibu menyuruh Mila segera ganti baju. Tian duduk di ruang tamu dan


tak lama Ibu datang membawakan kotak P3K. Saat Ibu ingin mengobati luka Tian,


ia menghindar.


“Bu, maaf kayanya Tian pulang aja deh. Soalnya kotor


banget habis main futsal juga tadi,”


“Kamu mau pulang dengan keadaan kaya gini? paksa Ibu


mengobati luka Tian.


“Biar Mila aja Bu,” Mila turun dari kamarnya. “Tian


malu mungkin takut bau asem abis main futsal” kata Mila sambil tersenyum.


“Oalah malu toh. Gpp, tenang aja. Ayah Mila jauh lebih


asem kalau habis main bulu tangkis,” canda Ibu membuka aib suaminya.


“Ngarang!” saut Ayah yang sedang menonton tv. Ibu dan


Mila tertawa.


“Ya sudah sama Mila aja di obatinnya ya,” Ibu


meninggalkan mereka.


Mila mengajak Tian ke teras rumahnya dan mengobati


wajahnya disana. Mila dengan telaten membersihkan wajah Tian lebih dulu baru


memberikan obat luka pada wajahnya yang terluka. Tian meringis kesakitan tapi


berusaha menahannya. Mila meniup-niup luka yang perih setelah di beri obat.


Mila tak sadar yang ia tiup adalah bagian sensitif tapi dengan polos Mila tetap


melakukannya dan tak merasakan apa-apa. Tian memperhatikan bibir Mila yang


sedang meniup-niup luka di bibirnya. Saat Mila tersadar Tian memperhatikannya,


ia menjauhkan bibirnya dari bibir Tian. Namun tian dengan sengaja memajukan


bibirnya.


“Kamu,,,! Masih aja! Lagi luka juga,,,,,” Mila menepuk


pundak Tian.


Tian tertawa dan memegang bibir Mila untuk menghapus


obat luka yang menempel di bibirnya. Setelah memberikan obat selesai, Mila juga


memberikan vitamin pada Tian. Tian melakukan senam wajah agar tak kaku, dia


melakukannya pelan-pelan. Mila melihatnya tersenyum menyesal pada dirinya


sendiri. Mengapa ia membiarkan Bian memeluknya meski hanya beberapa detik saja.


Mila tertunduk dan menutup wajahnya.


“Kenapa?” tanya Tian.


“Maaf ya, aku membiarkannya. Harusnya aku,”


Belum selesai dengan ucapannya Tian menutup bibir Mila


dengan jarinya. Tian seperti tak ingin membahas hal itu lagi. Setelah


keadaannya jauh lebih baik Tian berpamitan pada Mila dan orangtuanya. Mila mengantarnya


sampai ke motornya. Mila menatap Tian dengan cemas. Sebelum naik ke motornya


Tian memeluk Mila. Menghapus pelukkan Bian dari Mila.


“Lain kali, jangan biarkan orang lain memelukmu,”


ucapnya sambil memeluk erat Mila.


Mila mengangguk mengiyakan perkataan Tian. Mila


melambaikan tangannya dan Tian pergi menghilang dari pandangannya. Mila menghela


nafas dalam-dalam sambil menutup wajahnya. Tian menarik gasnya secepat mungkin.


Mengungkap kekesalannya hari ini pada Bian. Orang yang selalu saja mengganggu


hubungan dengan Mila. Pikirannya seolah berontak pada malam. Mengapa tak bisa


membiarkan hubungannya dengan Mila berjalan baik-baik saja tanpa masalah.


Sesampainya di rumah, Tian langsung berlari pergi ke


kamarnya. Tak ingin Bunda melihat keadaan wajahnya yang terluka karna


berkelahi. Tian masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Bunda hanya


berpikir, Tian masih marah pada Ayahnya. Tian juga tak ikut makan malam bersama


mereka lagi. Bunda menyuruh Bibi untuk membawakan makanan ke kamarnya. Tapi


Tian tidak membukakan pintu sama sekali.


“Biar Kian aja, Bi. Kian pastiin Tian makan ya, Bunda.


Oke,” Kian menenangkan Ibunya yang khawatir karna Tian yang menghindar dari


mereka seharian ini.


Kian mengetuk pintu kamar Tian, tak ada jawaban. Mau


berteriak sekencang apapun Tian tidak akan membukakan pintu untuknya. Kian tak


ke habisan akal dia mulai mengoceh mengancam Tian.

__ADS_1


“Kalau gak di buka gue bakal telphone Mila buat


kesini. Sekarang juga!” teriak Kian.


Tak ada jawaban juga dari dalam. Kian mulai kehabisan


akal. Dia berniat mendobrak pintu kamar Tian. Tapi dia ingat pernah menyimpan


nomor Mila yang ia pinta pada Yuna, adiknya Yana. Kian menelphone Mila dan


bilang padanya kalau Tian mengurung diri sejak pulang. Mila pun akhirnya


menelphone Tian untuk menanyakan padanya langsung.


“Engga,


Mil,,,! Aku gpp, itu Kian aja yang rese,” Tian berbicara pada Mila di telphone.


“Yaudah mana


aku mau ngomong sama Kian kalau emang dia bohong,” paksa Mila.


Tian menahan


kesal pada Kian yang sudah mengganggunya lewat Mila. “Oke,”


Akhirnya Tian membuka pintu kamarnya dan mendapati


Kian yang sudah siap masuk ke kamarnya dengan membawakan makanan untuknya. Lalu


merebut ponsel dan berbicara dengan Mila.


“Terimakasih,


Mila kerja samanya. Selamat malam,”Kian menutup telphonenya. Kian memberikan ponselnya


pada Tian dan melihat wajah adiknya yang terluka. “Kenapa muka lu? Siapa yang


ngelakuin!” nadanya seperti marah melihat adiknya terluka.


“Gue gpp. Gak usah cerita sama Bunda! Lagian ngapain


sih lu pake segala nelphone Mila segala. Rese lu,,,!” Tian pergi ke kasurnya.


“Lu boleh marah sama gue atau Ayah. Tapi gak bikin


Bunda khawatir juga! Makan tuh cepetan,” Kian duduk di sofa menunggu adiknya


memakan makanan yang dibawanya.


“Gue udah makan! Udah pergi sana,” Tian menutup


wajahnya dengan bantal.


“Masa gue harus telphone Mila lagi?” hardik Kian.


Tian dengan malas berjalan ke sofa. Duduk di depan


Kian dan memakan makanan yang dibawanya. Kian memperhatikan wajah adiknya.


“Ngapain sih lu berantem! Tumben banget! Bukan lu banget


tau! Lagian kek bisa aja, muka sampe luka gitu,” ocehan Kian mengirinya Tian


makan.


Tian melemparkan bantal ke muka Kian agar dia berhenti


mengoceh seperti Beo. Setelah selesai makan Tian melihat ke arah Kian dan


melemparkan pertanyaan padanya, “Kalau pacar lu di peluk cowo lain gimana?”


“Ya gue hajar abis-abisan lah! Enak aja dia maen


peluk-peluk Febby!” kata Kian dengan nada marah.


“Terus, kalau ada cowo yang bilang sama semua orang


kalau dia sayang sama pacar lu gimana?” tanya Tian lagi pada Kakaknya.


“Gila kali,,,! Mana ada orang kaya gitu!” Kian terdiam


sejenak “Ada?” matanya membelalak “Jadi, tadi lu berantem gara-gara itu?” Kian


bertanya balik pada adiknya.


Tian tidak menjawab dan hanya menenggak segelas penuh


air. Kian terdiam seperti tak habis pikir dengan itu. Jadi alasan wajah adiknya


babak belur karna berantem dengan cowo saingannya. Yang sama-sama mencintai


orang yang sama.


“Apa ini hukum alam?” Kian berucap lagi setelah


beberapa menit terdiam.


“Maksudnya?”


“Ya, alam sedang membalas perlakuan Luna ke lu dengan


cowo itu ke Mila,” Kian bicara tentang hal yang terlintas di pikirannya. “Gue


kira lu yang beruntung karna di cintai 2 wanita. Tapi ternyata gue salah. Mila


yang jauh lebih beruntung karna banyak yang mencintainya,” ucap Kian sambil


meninggalkan kamar Tian dan membawa piring kosong yang makananya sudah di


habiskan Tian.


Tian terpaku dan berpikir keras setelah mendengar


ucapan Kian. Apa benar ini balasan alam padanya? Setelah mengecewakan Mila,


kemarin? Meski itu bukan niatnya tapi alam begitu adil pada seseorang yang


tersakiti. Kian turun ke bawah dan menemui Bunda untuk laporan karna dia


berhasil membuat Tian menghabiskan makanannya. Bunda tersenyum pada Kian.


Hari ini Pertandingan futsal antar senior dan junior


di jam pertama class metting. Pertandingan pertama di mulai dari kelas 10


melawan kelas 11. Lapangan di penuh sorak-sorai penonton dari seluruh kelas. Yana


giliran mereka bertanding melawan yang akan memenangkan pertandingan pertama.


Cila and the genx berteriak paling heboh diantara penonton. Mereka datang hari


ini untuk tebar pesona pada adik kelas yang sedang bertanding. Cila bahkan


mengkriting rambutnya agar tampil beda. Cila, Naina dan Diana terlihat paling


semangat. Sedangkan Asty duduk di kursi depan kelas mereka di temani Ana yang


setia bersamanya.


Asty terus memandang ke arah Bian meski Bian bersikap


acuh dengannya. Tian duduk di dalam kelas, ia enggan untuk berkumpul karna


menghindari Bian yang bila melihatnya amarahnya langsung meningkat. Mila tak


bersamanya, dia sibuk di perpustakaan untuk membantu Pak Harry disana. Mila


membantunya mencatat dan merapihkan buku-buku yang di kembalikan anak-anak.


Meski di luar terdengar sorak-sorai gentapi Mila lebih memilih bersorai pada


buku-buku di dalam.


“Mil gak nonton teman-temannya tanding?” tanya Pak


Harry.


“Belum tanding juga kayanya, Pak” Mila menyusun


buku-buku sesuai genrenya.


Sorak penonton makin terdengar setelah kelas 10


berhasil mencetak gol pertama mereka. Permainan kelas 10 terlihat sangat baik


sekali. Meski mereka junior tapi cara bermain mereka lebih baik dari pada


senior mereka. Yana memperhatikan pemain kelas 10 yang terlihat jago dalam pertandingan


ini. Yana membaca strategi permainan mereka. Ia mendiskusikan permainan bersama


dengan Amar. Strategi apa yang akan mereka mainkan nanti. Amar mengusulkan pada


Yana, jika Bian menjadi penyerang tengah dan Tian harus menjadi penyerang


sayap. Amar mengubah posisi permainan karna di lihat peluang itu pada mereka


berdua, Yana setuju usulan Amar. Kali ini Wahyu akan menjadi penjaga gawang tim


mereka.


Yana membicarakan itu pada timnya dan mereka setuju


mengubah posisi mereka. Tian dan Bian saling memandang tajam. Mereka harus


menurunkan ego mereka berdua soal kemarin, saat pertandingan di mulai nanti.


Meski api kemarahan masih nampak jelas di mata Tian. Bian bersikap santai


seolah tak pernah terjadi apa-apa kemarin. Padahal bekas tinju masih terlihat


jelas di pipinya. Bian tersenyum sinis pada Tian, seolah pertanding


sesungguhnhya bukanlah melawan junior tapi melawannya. Entah apa yang akan


terjadi oleh mereka nanti. Yana hanya berharap mereka sportif seperti


pertandingan-pertandingan sebelumnya.


Di 15 menit terakhir skor masih setia di angka 0 untuk


kelas 11 dan 1 untuk kelas 10. Di menit-menit terakhir, kelas 10 benar-benar


berusaha mempertahankan skor mereka agar tidak tersusul. Penjaga gawang mereka


juga sekuat baja menjaga gawangnya agar tak mudah di masukkan bola oleh lawan.


Pertandingan selesai dengan skor 1-0 yang di menangkan oleh kelas 10. Kelas 11


dengan wajah kesal harus menerima kekalahan mereka yang di kalahkan oleh junior


tanpa bisa mencetak 1 gol pun.


Cila mendatangin kelas 10 yang berhasil mengalahkan


senior mereka. Jagoan mereka, Andra bahkan mendapat kesempatan bersalaman


dengan tangan mulus Cila yang tak sembarang orang bisa menggenggamnya. Andra


menjabat tangan kakak seniornya sambil tersenyum bangga. Cila bagaikan ulat bulu


di dahan pohon jambu, gatel. Gak bisa sebentar saja melihat yang


ganteng-ganteng itu nganggur. Apalagi bisa dibilang habis ini Andra akan famous


karna mengalahkan seniornya. Cila secepat kilat menyambar karna tak mau


bersaing dengan adik kelasnya yang levelnya di bawah.


Selang 1 jam setelah mereka beristirahat. Pertandingan


kedua di mulai. Kelas 10 melawan kakak paling senior mereka kelas 12. Andra


sebagai kapten kelas 10 dan Yana sebagai kapten kelas 12. Setelah wasit


melempar koin ke atas permainan di mulai. Sorak-sorai penonton kali ini


terdengar dua kali lipat lebih kencang dari sebelumnya. Pasalnya semua junior


mengidolakan senior mereka yang semuanya ada di dalam permainan ini. Asty


terlihat bergabung bersama Cila dan yang lain agar dapat melihat Bian lebih


jelas.


Permainan sudah terlihat jelas di awal, bagaimana


Andara sebagai kapten mengatur timnya. Jadi Yana dengan mudah dapat membaca

__ADS_1


permainan mereka. Bian mengiring bola dengan mudah sampai ke gawang lawan.


Mengopernya pada Tian untuk bisa mencetak gol tapi keberuntungan itu belum


berhasil mereka raih. Lawan dengan mudah merebut bola dan mengiringnya lagi.


“Mil, anak-anak udah main tuh,” panggil Ovie dari luar


perpustakaan.


Mila meninggalkan susunan buku dan berjalan keluar.


Melihatnya dari lantai 2 sekolah mereka. Mila tersenyum pada teman-temannya dan


ikut bersorak, menyemangati mereka seperti anak-anak yang lain. Tian mendengar


suara khas itu yang meneriaki namanya dan melihat ke arahnya sambil tersenyum.


Ana fokus melihat Yana yang terlihat sangat keren saat menjadi kapten di tim


kelas mereka. Asty melihat Ana yang menatap Yana dengan tatapan jatuh cinta.


“Lu suka ya?” suara Asty di tengah-tengah sorak-sorai.


“Ha? Suka? Sama siapa? Ngaco!” terlihat salah tingkah.


Asty tertawa kecil sambil menyenggol bahu Ana. Ana


menahan senyum agar tak ketahuan Asty. Mereka bersorak kencang saat Tian dengan


cepat menggiring bola menembus lawan dan mencetak gol pertama tim mereka. Mila


bersorai gembira sambil berjingkrak kegirangan. Tian melempar senyuman padanya sambil


melambaikan tangannya. Para wanita yang ada disana langsung mengarahkan


pandangan mereka pada Mila yang ada di atas. Lalu mengeluh kesal karna Tian


sudah ada yang punya. Dilihati banyak orang membuat Mila minder dan masuk lagi


ke perpustakaan.


Bian tersenyum sambil menendang bola. Hatinya panas


melihat Tian dan Mila yang mengalihkan pandangan anak-anak yang lain. Andra


dengan semangat yang membara merebut bola yang di tendang asal oleh Bian. Andra


terus mengiring bola untuk membalas lawan, mencetak gol dan menyeimbangkan


kedudukan. Tapi tidak semudah itu, ia harus menghadapi Amar yang terkenal mahir


menggocek lawan. Amar berhasil mengambil bola kembali dan mengoper pada Yana.


Ketampanan Amar terpancar saat menggocek bola, membuat


Cila terpukau dan meneriakinya. Cila melupakan permusuha antara genx mereka dan


mensupport penuh tim kelas mereka. Amar dengan kerja sama yang baik dengan Yana


berhasil membawa bola sampai ke depan gawang lawan. Tapi saat Amar ingin


menyundul bola tiba-tiba pelanggaran terjadi. Lawan dengan sengaja membenturkan


tubuhnya pada Amar dan ia tersungkur dengan kencang ke tanah, membuat bola juga


melesat jauh dari gawang.


Kartu kuning di berikan pada kelas 10.  Cila dengan sigap memapah Amar ke UKS. Amar


tak menolak karna tak fokus melihat siapa yang membawanya. Mendengar ada


pelanggaran terjadi di lapangan. Mila keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Ovie memberitahunya kalau Amar cidera dan ia melihat Amar yang sedang di papah


menuju ruang UKS.


“PINALTI,,,! PINALTI,,! PINALTI,,! Teriak mereka


serempak.


Tendangan pinalti akhirnya harus kelas 10 terima karna


kesalahan yang di sengaja. Yana memberikan tugas itu pada Bian untuk melakukan


tendangan pinalti. Bian menerimanya dengan senang hati karna sama-sama ingin


menorehkan gol untuk timnya dan juga untuk menyamakan kedudukannya dengan Tian


yang sudah mencetak gol lebih dulu.


Bian mengambil ancang-ancang dengan strateginya yang


mampu menendang bola menembus dinding lawan. Bian menatap tajam kiper di depan,


dan sengaja membuatnya terlihat takut akan tendangannya. Bian berdoa dalam hati


dan berhitung mundur, mengambil langkah mundur ke belakang lalu menendang bola.


Semua menanti dengan hati berdegup kencang. Asty


mengepalkan tangannya seraya berdoa agar Bian berhasil mencetak gol dan


menambahkan skor. Mila pun tak luput berdoa agar tendangan itu berhasil.


Teman-temannya pun berharap tendangan Bian dapat membalas cidera Amar pada


lawan. Dan Bian pun berhasil membuat kiper kesulitan menampik bola karna


tendangannya terlalu kuat dan berhasil masuk ke gawang.


Semua penonton bersorak kegirangan. Ovie memeluk Mila


di sampingnya. Bian pun berlari ke timnya dan bersorai senang. Melakukan


selebrasi dan melepaskan kiss bye pada Mila. Mila terkejut saat Bian melakukan


itu padanya. Bukan hanya Mila semua orang yang melihatnya juga pasti akan


terkejut. Mengapa Bian melemparkan ciuman jarak jauhnya pada orang yang sama


dengan Tian. Asty menatap Mila dengan kesal.


Tian menghampiri Bian dan menarik kerah bajunya.


Sepertinya perkelahian akan terjadi, Yana dan yang lain langsung memisahkan


mereka. Mila berlari turun ke bawah untuk menemui mereka. Begitu juga Asty yang


masuk ke lapangan untuk melerai mereka. Mila dengan cepat berlari ke lapangan


dan menahan Tian untuk tidak melakukannya lagi.


“Jangan Tian! Ini sekolahan, cukup!” Mila menahan


Tian.


            “Gak usah di tahan,,,! Biarin aja


dia lepasin,,,! Kenapa sih luh,,,!” tangan Mila di tarik Bian.


            “Mau lu apa sih,,,!” teriak Mila


sambil mendorong Bian.


            “Mending lu jaga pacar lu,,,! Jangan


main fisik,,,!” Asty tak terima Mila mendorong Bian dengan kasar.


            Peluit di tiup oleh wasit agar


mereka bisa melanjutkan permainan yang tinggal beberapa menit lagi. Jika


dipisahkan oleh teman-temannya saja, permasalahan mereka tidak akan


selesai-selesai. Seno masuk menggantikan Amar. Mila dan Asty keluar dari


lapangan. Ana menenangkan Asty dan Mila pergi ke UKS untuk menemui Amar.


Mila pergi ke UKS karna menghindari beradu argument


dengan Asty. Malah harus melihat trio kwek-kwek disana. Cila, Naina dan Diana


sedang menemani Amar yang sedang di obati. Mila menarik nafas lemas karna harus


bertemu dengan kawanan pemangsa. Mila berdehem sambil menyilangkan tangannya,


melototi mereka yang kegatelan sosoan peduli dengan Amar.


“Aduh males banget deh gue,” Cila melihat Mila ada


disini.


“Ya ampun emaknya harimau dateng lagi,” saut Diana


pelan.


“Pergi yuk, Cil” Naina menarik tangan Cila.


Amar tersenyum melihat mereka yang merasa terganggu


dengan kedatangan Mila. Mila tak berucap apa-apa, hanya melototi mereka sampe


matanya mau keluar. Agar mereka peka untuk secepatnya meninggalkan UKS dan


membiarkan Amar sendiri saja. Lagian ada angin apa coba, mereka bisa-bisanya


nempel-nempel dengan Amar. Merasa Mila seperti ingin memakannya, Cila dan yang


lain buru-buru keluar dari UKS. Lalu kembali ke lapangan melanjutkan menonton


permainan yang sebentar lagi selesai.


“Sakit, Mar?” Mila memegang kaki Amar.


Amar mengangguk dan menahan tangan Mila agar tak


memegang kakinya. “Bian berhasil tendangan pinaltinya?” Mila mengangguk dengan


wajah yang memaksa tersenyum.


Seno membuat suasana pertandingan menjadi lebih lucu


dengan tingkahnya. Taulah kalian dia memang si pencipta humor. Seno berusaha


mengoper bola ke Yana namun terpeleset dan membuat semua yang ada disana


tertawa terbahak-bahak. Melihat itu lawan menjadi mudah untuk terus menyerang


ke daerah lawannya. Andra mengocek bola dengan gigih sampai ia harus berhasil


mencetak gol. Wahyu bersiap menghadangnya dan Goooolllll. Wahyu tak mampu


lompat dengan lebih tinggi untuk menghadang bola. Kali ini gawang kelas 12


berhasil Andra tembus dan mencetak 1 gol di menit terakhir permainan.


“Jehhhh, Gendut! Gimana sih luh, bukannya tangkep,”


teriak Seno pada Wahyu dan terdengar oleh anak-anak yang lain.


“Berisik luh,” Wahyu mengeteki Seno dengan ketiaknya


yang basah.


Kelakuan mereka mengundang gelak tawa sehabis drama


percintaan terjadi sebelumnya. Peluit pun di tiup dan pertandingan pun  berakhir dengan skor 2-1. Kelas 12


memenangkan pertandingan. Penonton bersorak gembira karna kelas 12 memenangkan


permainan. Mereka semua membubarkan diri dengan rasa puas hati. Yana membuka


bajunya karna basah kuyup. Sontak membuat para wanita histeris teriak. Ana yang


melihat itu malah justru menutup wajahnya, Yana melihatnya dengan tertawa. Seno


ikut membuka bajunya berharap mereka berteriak yang sama tapi yang ia dapat


malah sorakan.


“Sen,,, Sen,,, ngaca luh! Maen juga cuma 25 menit, sok


jadi pahlawan. Nendang aja jatoh lu,” decak Wahyu dan di sambut tawa oleh


teman-temannya.


“Kampret lu,,,!” melempar bajunya ke Wahyu.

__ADS_1


Kalau kalian jadi Bola,


Pilih di Tendang apa di Sayang?


__ADS_2