
Tian dengan emosi yang masih menggebu-gebu mencoba
menenangkan dirinya sendiri. Menyuruh Mila untuk segera naik ke motornya dan
secepatnya pergi dari sana. Yana dan yang lain melihat dengan cemas karna Tian
membawa kecepatan motornya sangat cepat. Di dalam Arsya menahan Bian untuk
tidak keluar dulu sebelum Yana dan yang lainnya pergi. Bian menolak tapi Arsya
menyembunyikan kunci motornya. Bian cuek dan tetap keluar dari tempat futsal.
Arsya mengejar Bian dan benar Yana masih menunggunya di luar.
“Mau lu apa?” Yana mendatangi Bian.
“Gue maunya Mila. Kenapa?” kata Bian dengan nada
nyolot.
“Sayko lu ya,” Seno menarik baju Bian.
“Jangan Sen!” Wahyu menahannya.
“Terus Asty mau lu kemanain? Jangan harap lu bisa
pacarin Mila sesuka lu! Bahkan jangan pernah berharap Mila bakal suka sama lu!”
Yana memperingatkan Bian untuk tidak macam-macam pada Mila, karna Yana akan
jadi benteng Mila paling depan.
“Nyatanya? Mila nyaman gue peluk tadi?” kata Bian yang
terdengar makin tak waras. “Jujur aja sama diri lu sendiri. Apa Mila bahagia
sama Tian?” Bian balik memperingatkan Yana.
“Lu gak tau apa-apa tentang hubungan mereka! Jadi gak
usah sok tau! Apalagi sok jadi pahlaman buat dia! Dia udah banyak pahlawan buat
ngelindungin dia!” Yana merapihkan baju Bian yang terlihat berantakan sambil
menatapnya tajam.
“Kita buktiin aja nanti,,,!” Bian melepaskan tangan
Yana dari badannya lalu pergi meninggalkan mereka bersama dengan Arsya.
Mereka saling bertukar pandang dengan tatapan penuh
amarah. Seno terlihat paling geram diantara yang lain. Yana terlihat sangat
kesal sambil meleparkan tasnya dan berteriak.
“Brengsek!” Yana menendang motornya untuk tak sampai
jatuh.
“Sabar, Yan. Mending kita balik deh,” Amar menenangkan
Yana.
Tian menghentikan mesin motornya di depan rumah Mila.
Mila turun dari motornya dan melepaskan helmnya. Tian hanya diam tak bicara.
Wajahnya terlihat lebam dibagian pipi dan bibirnya. Mila memegangnya tapi Tian
menolaknya dan memegang tangannya. Menggenggam erat seperti manahan marahnya
yang masih tersisa di hati.
“Mau masuk?” Mila menawarkan Tian untuk masuk ke
rumahnya dulu.
Tian hanya menatapnya tanpa berkata. Tak lama Ayah
memanggil Mila dari teras rumah. Mila menarik tangan Tian untuk ikut bersamanya
masuk ke dalam rumah. Ayah melihat Mila membawa teman lelakinya masuk.
“Assalamualaikum Ayah,” Mila menyalami Ayahnya dan diikuti
Tian.
“Temanmu kenapa? Kok babak belur begitu?” melihat muka
Tian yang bonyok seperti habis berantem.
“Tadi ada yang gangguin Mila, Yah. Tian yang
nolongin,” Mila memberikan alasan.
“Siapa yang gangguin kamu? Kamu gpp kan? Mana yang
sakit?” Ayah memeriksa anak perempuannya sekujur tubuh.
“Aduh Ayah, Mila gpp. Ini yang sakit,” Mila menunjuk
Tian.
“Terimakasih ya sudah tolongin Mila,” tutur Ayah yang
terdengar gengsi. Seperti belum siap jika anaknya punya cinta lain selain
cintanya.
Mila tertawa kecil melihat sikap Ayahnya yang seperti
malu-malu pada Tian.
“Sama-sama, Om. Udah jadi tugas saya untuk jaga Mila,”
ucap Tian dengan jujurnya.
Ayah seperti melotot mendengar kata-kata Tian tapi
Mila langsung menyuruh Ayah untuk tenang dan tersenyum pada Tian yang terlalu
jujur perkataannya.
“Yasudah masuk ke dalam dan obatin, temanmu!”
kata-kata teman terdengar penuh penekanan dari Ayah.
Ibu datang karna penasaran apa yang sedang mereka
bicarakan di teras rumah begitu lama. Ibu melihat Tian dengan keadaan wajah
yang terluka. Ibu menyuruh Mila segera ganti baju. Tian duduk di ruang tamu dan
tak lama Ibu datang membawakan kotak P3K. Saat Ibu ingin mengobati luka Tian,
ia menghindar.
“Bu, maaf kayanya Tian pulang aja deh. Soalnya kotor
banget habis main futsal juga tadi,”
“Kamu mau pulang dengan keadaan kaya gini? paksa Ibu
mengobati luka Tian.
“Biar Mila aja Bu,” Mila turun dari kamarnya. “Tian
malu mungkin takut bau asem abis main futsal” kata Mila sambil tersenyum.
“Oalah malu toh. Gpp, tenang aja. Ayah Mila jauh lebih
asem kalau habis main bulu tangkis,” canda Ibu membuka aib suaminya.
“Ngarang!” saut Ayah yang sedang menonton tv. Ibu dan
Mila tertawa.
“Ya sudah sama Mila aja di obatinnya ya,” Ibu
meninggalkan mereka.
Mila mengajak Tian ke teras rumahnya dan mengobati
wajahnya disana. Mila dengan telaten membersihkan wajah Tian lebih dulu baru
memberikan obat luka pada wajahnya yang terluka. Tian meringis kesakitan tapi
berusaha menahannya. Mila meniup-niup luka yang perih setelah di beri obat.
Mila tak sadar yang ia tiup adalah bagian sensitif tapi dengan polos Mila tetap
melakukannya dan tak merasakan apa-apa. Tian memperhatikan bibir Mila yang
sedang meniup-niup luka di bibirnya. Saat Mila tersadar Tian memperhatikannya,
ia menjauhkan bibirnya dari bibir Tian. Namun tian dengan sengaja memajukan
bibirnya.
“Kamu,,,! Masih aja! Lagi luka juga,,,,,” Mila menepuk
pundak Tian.
Tian tertawa dan memegang bibir Mila untuk menghapus
obat luka yang menempel di bibirnya. Setelah memberikan obat selesai, Mila juga
memberikan vitamin pada Tian. Tian melakukan senam wajah agar tak kaku, dia
melakukannya pelan-pelan. Mila melihatnya tersenyum menyesal pada dirinya
sendiri. Mengapa ia membiarkan Bian memeluknya meski hanya beberapa detik saja.
Mila tertunduk dan menutup wajahnya.
“Kenapa?” tanya Tian.
“Maaf ya, aku membiarkannya. Harusnya aku,”
Belum selesai dengan ucapannya Tian menutup bibir Mila
dengan jarinya. Tian seperti tak ingin membahas hal itu lagi. Setelah
keadaannya jauh lebih baik Tian berpamitan pada Mila dan orangtuanya. Mila mengantarnya
sampai ke motornya. Mila menatap Tian dengan cemas. Sebelum naik ke motornya
Tian memeluk Mila. Menghapus pelukkan Bian dari Mila.
“Lain kali, jangan biarkan orang lain memelukmu,”
ucapnya sambil memeluk erat Mila.
Mila mengangguk mengiyakan perkataan Tian. Mila
melambaikan tangannya dan Tian pergi menghilang dari pandangannya. Mila menghela
nafas dalam-dalam sambil menutup wajahnya. Tian menarik gasnya secepat mungkin.
Mengungkap kekesalannya hari ini pada Bian. Orang yang selalu saja mengganggu
hubungan dengan Mila. Pikirannya seolah berontak pada malam. Mengapa tak bisa
membiarkan hubungannya dengan Mila berjalan baik-baik saja tanpa masalah.
Sesampainya di rumah, Tian langsung berlari pergi ke
kamarnya. Tak ingin Bunda melihat keadaan wajahnya yang terluka karna
berkelahi. Tian masuk ke kamarnya dan langsung mengunci pintu. Bunda hanya
berpikir, Tian masih marah pada Ayahnya. Tian juga tak ikut makan malam bersama
mereka lagi. Bunda menyuruh Bibi untuk membawakan makanan ke kamarnya. Tapi
Tian tidak membukakan pintu sama sekali.
“Biar Kian aja, Bi. Kian pastiin Tian makan ya, Bunda.
Oke,” Kian menenangkan Ibunya yang khawatir karna Tian yang menghindar dari
mereka seharian ini.
Kian mengetuk pintu kamar Tian, tak ada jawaban. Mau
berteriak sekencang apapun Tian tidak akan membukakan pintu untuknya. Kian tak
ke habisan akal dia mulai mengoceh mengancam Tian.
__ADS_1
“Kalau gak di buka gue bakal telphone Mila buat
kesini. Sekarang juga!” teriak Kian.
Tak ada jawaban juga dari dalam. Kian mulai kehabisan
akal. Dia berniat mendobrak pintu kamar Tian. Tapi dia ingat pernah menyimpan
nomor Mila yang ia pinta pada Yuna, adiknya Yana. Kian menelphone Mila dan
bilang padanya kalau Tian mengurung diri sejak pulang. Mila pun akhirnya
menelphone Tian untuk menanyakan padanya langsung.
“Engga,
Mil,,,! Aku gpp, itu Kian aja yang rese,” Tian berbicara pada Mila di telphone.
“Yaudah mana
aku mau ngomong sama Kian kalau emang dia bohong,” paksa Mila.
Tian menahan
kesal pada Kian yang sudah mengganggunya lewat Mila. “Oke,”
Akhirnya Tian membuka pintu kamarnya dan mendapati
Kian yang sudah siap masuk ke kamarnya dengan membawakan makanan untuknya. Lalu
merebut ponsel dan berbicara dengan Mila.
“Terimakasih,
Mila kerja samanya. Selamat malam,”Kian menutup telphonenya. Kian memberikan ponselnya
pada Tian dan melihat wajah adiknya yang terluka. “Kenapa muka lu? Siapa yang
ngelakuin!” nadanya seperti marah melihat adiknya terluka.
“Gue gpp. Gak usah cerita sama Bunda! Lagian ngapain
sih lu pake segala nelphone Mila segala. Rese lu,,,!” Tian pergi ke kasurnya.
“Lu boleh marah sama gue atau Ayah. Tapi gak bikin
Bunda khawatir juga! Makan tuh cepetan,” Kian duduk di sofa menunggu adiknya
memakan makanan yang dibawanya.
“Gue udah makan! Udah pergi sana,” Tian menutup
wajahnya dengan bantal.
“Masa gue harus telphone Mila lagi?” hardik Kian.
Tian dengan malas berjalan ke sofa. Duduk di depan
Kian dan memakan makanan yang dibawanya. Kian memperhatikan wajah adiknya.
“Ngapain sih lu berantem! Tumben banget! Bukan lu banget
tau! Lagian kek bisa aja, muka sampe luka gitu,” ocehan Kian mengirinya Tian
makan.
Tian melemparkan bantal ke muka Kian agar dia berhenti
mengoceh seperti Beo. Setelah selesai makan Tian melihat ke arah Kian dan
melemparkan pertanyaan padanya, “Kalau pacar lu di peluk cowo lain gimana?”
“Ya gue hajar abis-abisan lah! Enak aja dia maen
peluk-peluk Febby!” kata Kian dengan nada marah.
“Terus, kalau ada cowo yang bilang sama semua orang
kalau dia sayang sama pacar lu gimana?” tanya Tian lagi pada Kakaknya.
“Gila kali,,,! Mana ada orang kaya gitu!” Kian terdiam
sejenak “Ada?” matanya membelalak “Jadi, tadi lu berantem gara-gara itu?” Kian
bertanya balik pada adiknya.
Tian tidak menjawab dan hanya menenggak segelas penuh
air. Kian terdiam seperti tak habis pikir dengan itu. Jadi alasan wajah adiknya
babak belur karna berantem dengan cowo saingannya. Yang sama-sama mencintai
orang yang sama.
“Apa ini hukum alam?” Kian berucap lagi setelah
beberapa menit terdiam.
“Maksudnya?”
“Ya, alam sedang membalas perlakuan Luna ke lu dengan
cowo itu ke Mila,” Kian bicara tentang hal yang terlintas di pikirannya. “Gue
kira lu yang beruntung karna di cintai 2 wanita. Tapi ternyata gue salah. Mila
yang jauh lebih beruntung karna banyak yang mencintainya,” ucap Kian sambil
meninggalkan kamar Tian dan membawa piring kosong yang makananya sudah di
habiskan Tian.
Tian terpaku dan berpikir keras setelah mendengar
ucapan Kian. Apa benar ini balasan alam padanya? Setelah mengecewakan Mila,
kemarin? Meski itu bukan niatnya tapi alam begitu adil pada seseorang yang
tersakiti. Kian turun ke bawah dan menemui Bunda untuk laporan karna dia
berhasil membuat Tian menghabiskan makanannya. Bunda tersenyum pada Kian.
Hari ini Pertandingan futsal antar senior dan junior
di jam pertama class metting. Pertandingan pertama di mulai dari kelas 10
melawan kelas 11. Lapangan di penuh sorak-sorai penonton dari seluruh kelas. Yana
giliran mereka bertanding melawan yang akan memenangkan pertandingan pertama.
Cila and the genx berteriak paling heboh diantara penonton. Mereka datang hari
ini untuk tebar pesona pada adik kelas yang sedang bertanding. Cila bahkan
mengkriting rambutnya agar tampil beda. Cila, Naina dan Diana terlihat paling
semangat. Sedangkan Asty duduk di kursi depan kelas mereka di temani Ana yang
setia bersamanya.
Asty terus memandang ke arah Bian meski Bian bersikap
acuh dengannya. Tian duduk di dalam kelas, ia enggan untuk berkumpul karna
menghindari Bian yang bila melihatnya amarahnya langsung meningkat. Mila tak
bersamanya, dia sibuk di perpustakaan untuk membantu Pak Harry disana. Mila
membantunya mencatat dan merapihkan buku-buku yang di kembalikan anak-anak.
Meski di luar terdengar sorak-sorai gentapi Mila lebih memilih bersorai pada
buku-buku di dalam.
“Mil gak nonton teman-temannya tanding?” tanya Pak
Harry.
“Belum tanding juga kayanya, Pak” Mila menyusun
buku-buku sesuai genrenya.
Sorak penonton makin terdengar setelah kelas 10
berhasil mencetak gol pertama mereka. Permainan kelas 10 terlihat sangat baik
sekali. Meski mereka junior tapi cara bermain mereka lebih baik dari pada
senior mereka. Yana memperhatikan pemain kelas 10 yang terlihat jago dalam pertandingan
ini. Yana membaca strategi permainan mereka. Ia mendiskusikan permainan bersama
dengan Amar. Strategi apa yang akan mereka mainkan nanti. Amar mengusulkan pada
Yana, jika Bian menjadi penyerang tengah dan Tian harus menjadi penyerang
sayap. Amar mengubah posisi permainan karna di lihat peluang itu pada mereka
berdua, Yana setuju usulan Amar. Kali ini Wahyu akan menjadi penjaga gawang tim
mereka.
Yana membicarakan itu pada timnya dan mereka setuju
mengubah posisi mereka. Tian dan Bian saling memandang tajam. Mereka harus
menurunkan ego mereka berdua soal kemarin, saat pertandingan di mulai nanti.
Meski api kemarahan masih nampak jelas di mata Tian. Bian bersikap santai
seolah tak pernah terjadi apa-apa kemarin. Padahal bekas tinju masih terlihat
jelas di pipinya. Bian tersenyum sinis pada Tian, seolah pertanding
sesungguhnhya bukanlah melawan junior tapi melawannya. Entah apa yang akan
terjadi oleh mereka nanti. Yana hanya berharap mereka sportif seperti
pertandingan-pertandingan sebelumnya.
Di 15 menit terakhir skor masih setia di angka 0 untuk
kelas 11 dan 1 untuk kelas 10. Di menit-menit terakhir, kelas 10 benar-benar
berusaha mempertahankan skor mereka agar tidak tersusul. Penjaga gawang mereka
juga sekuat baja menjaga gawangnya agar tak mudah di masukkan bola oleh lawan.
Pertandingan selesai dengan skor 1-0 yang di menangkan oleh kelas 10. Kelas 11
dengan wajah kesal harus menerima kekalahan mereka yang di kalahkan oleh junior
tanpa bisa mencetak 1 gol pun.
Cila mendatangin kelas 10 yang berhasil mengalahkan
senior mereka. Jagoan mereka, Andra bahkan mendapat kesempatan bersalaman
dengan tangan mulus Cila yang tak sembarang orang bisa menggenggamnya. Andra
menjabat tangan kakak seniornya sambil tersenyum bangga. Cila bagaikan ulat bulu
di dahan pohon jambu, gatel. Gak bisa sebentar saja melihat yang
ganteng-ganteng itu nganggur. Apalagi bisa dibilang habis ini Andra akan famous
karna mengalahkan seniornya. Cila secepat kilat menyambar karna tak mau
bersaing dengan adik kelasnya yang levelnya di bawah.
Selang 1 jam setelah mereka beristirahat. Pertandingan
kedua di mulai. Kelas 10 melawan kakak paling senior mereka kelas 12. Andra
sebagai kapten kelas 10 dan Yana sebagai kapten kelas 12. Setelah wasit
melempar koin ke atas permainan di mulai. Sorak-sorai penonton kali ini
terdengar dua kali lipat lebih kencang dari sebelumnya. Pasalnya semua junior
mengidolakan senior mereka yang semuanya ada di dalam permainan ini. Asty
terlihat bergabung bersama Cila dan yang lain agar dapat melihat Bian lebih
jelas.
Permainan sudah terlihat jelas di awal, bagaimana
Andara sebagai kapten mengatur timnya. Jadi Yana dengan mudah dapat membaca
__ADS_1
permainan mereka. Bian mengiring bola dengan mudah sampai ke gawang lawan.
Mengopernya pada Tian untuk bisa mencetak gol tapi keberuntungan itu belum
berhasil mereka raih. Lawan dengan mudah merebut bola dan mengiringnya lagi.
“Mil, anak-anak udah main tuh,” panggil Ovie dari luar
perpustakaan.
Mila meninggalkan susunan buku dan berjalan keluar.
Melihatnya dari lantai 2 sekolah mereka. Mila tersenyum pada teman-temannya dan
ikut bersorak, menyemangati mereka seperti anak-anak yang lain. Tian mendengar
suara khas itu yang meneriaki namanya dan melihat ke arahnya sambil tersenyum.
Ana fokus melihat Yana yang terlihat sangat keren saat menjadi kapten di tim
kelas mereka. Asty melihat Ana yang menatap Yana dengan tatapan jatuh cinta.
“Lu suka ya?” suara Asty di tengah-tengah sorak-sorai.
“Ha? Suka? Sama siapa? Ngaco!” terlihat salah tingkah.
Asty tertawa kecil sambil menyenggol bahu Ana. Ana
menahan senyum agar tak ketahuan Asty. Mereka bersorak kencang saat Tian dengan
cepat menggiring bola menembus lawan dan mencetak gol pertama tim mereka. Mila
bersorai gembira sambil berjingkrak kegirangan. Tian melempar senyuman padanya sambil
melambaikan tangannya. Para wanita yang ada disana langsung mengarahkan
pandangan mereka pada Mila yang ada di atas. Lalu mengeluh kesal karna Tian
sudah ada yang punya. Dilihati banyak orang membuat Mila minder dan masuk lagi
ke perpustakaan.
Bian tersenyum sambil menendang bola. Hatinya panas
melihat Tian dan Mila yang mengalihkan pandangan anak-anak yang lain. Andra
dengan semangat yang membara merebut bola yang di tendang asal oleh Bian. Andra
terus mengiring bola untuk membalas lawan, mencetak gol dan menyeimbangkan
kedudukan. Tapi tidak semudah itu, ia harus menghadapi Amar yang terkenal mahir
menggocek lawan. Amar berhasil mengambil bola kembali dan mengoper pada Yana.
Ketampanan Amar terpancar saat menggocek bola, membuat
Cila terpukau dan meneriakinya. Cila melupakan permusuha antara genx mereka dan
mensupport penuh tim kelas mereka. Amar dengan kerja sama yang baik dengan Yana
berhasil membawa bola sampai ke depan gawang lawan. Tapi saat Amar ingin
menyundul bola tiba-tiba pelanggaran terjadi. Lawan dengan sengaja membenturkan
tubuhnya pada Amar dan ia tersungkur dengan kencang ke tanah, membuat bola juga
melesat jauh dari gawang.
Kartu kuning di berikan pada kelas 10. Cila dengan sigap memapah Amar ke UKS. Amar
tak menolak karna tak fokus melihat siapa yang membawanya. Mendengar ada
pelanggaran terjadi di lapangan. Mila keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ovie memberitahunya kalau Amar cidera dan ia melihat Amar yang sedang di papah
menuju ruang UKS.
“PINALTI,,,! PINALTI,,! PINALTI,,! Teriak mereka
serempak.
Tendangan pinalti akhirnya harus kelas 10 terima karna
kesalahan yang di sengaja. Yana memberikan tugas itu pada Bian untuk melakukan
tendangan pinalti. Bian menerimanya dengan senang hati karna sama-sama ingin
menorehkan gol untuk timnya dan juga untuk menyamakan kedudukannya dengan Tian
yang sudah mencetak gol lebih dulu.
Bian mengambil ancang-ancang dengan strateginya yang
mampu menendang bola menembus dinding lawan. Bian menatap tajam kiper di depan,
dan sengaja membuatnya terlihat takut akan tendangannya. Bian berdoa dalam hati
dan berhitung mundur, mengambil langkah mundur ke belakang lalu menendang bola.
Semua menanti dengan hati berdegup kencang. Asty
mengepalkan tangannya seraya berdoa agar Bian berhasil mencetak gol dan
menambahkan skor. Mila pun tak luput berdoa agar tendangan itu berhasil.
Teman-temannya pun berharap tendangan Bian dapat membalas cidera Amar pada
lawan. Dan Bian pun berhasil membuat kiper kesulitan menampik bola karna
tendangannya terlalu kuat dan berhasil masuk ke gawang.
Semua penonton bersorak kegirangan. Ovie memeluk Mila
di sampingnya. Bian pun berlari ke timnya dan bersorai senang. Melakukan
selebrasi dan melepaskan kiss bye pada Mila. Mila terkejut saat Bian melakukan
itu padanya. Bukan hanya Mila semua orang yang melihatnya juga pasti akan
terkejut. Mengapa Bian melemparkan ciuman jarak jauhnya pada orang yang sama
dengan Tian. Asty menatap Mila dengan kesal.
Tian menghampiri Bian dan menarik kerah bajunya.
Sepertinya perkelahian akan terjadi, Yana dan yang lain langsung memisahkan
mereka. Mila berlari turun ke bawah untuk menemui mereka. Begitu juga Asty yang
masuk ke lapangan untuk melerai mereka. Mila dengan cepat berlari ke lapangan
dan menahan Tian untuk tidak melakukannya lagi.
“Jangan Tian! Ini sekolahan, cukup!” Mila menahan
Tian.
“Gak usah di tahan,,,! Biarin aja
dia lepasin,,,! Kenapa sih luh,,,!” tangan Mila di tarik Bian.
“Mau lu apa sih,,,!” teriak Mila
sambil mendorong Bian.
“Mending lu jaga pacar lu,,,! Jangan
main fisik,,,!” Asty tak terima Mila mendorong Bian dengan kasar.
Peluit di tiup oleh wasit agar
mereka bisa melanjutkan permainan yang tinggal beberapa menit lagi. Jika
dipisahkan oleh teman-temannya saja, permasalahan mereka tidak akan
selesai-selesai. Seno masuk menggantikan Amar. Mila dan Asty keluar dari
lapangan. Ana menenangkan Asty dan Mila pergi ke UKS untuk menemui Amar.
Mila pergi ke UKS karna menghindari beradu argument
dengan Asty. Malah harus melihat trio kwek-kwek disana. Cila, Naina dan Diana
sedang menemani Amar yang sedang di obati. Mila menarik nafas lemas karna harus
bertemu dengan kawanan pemangsa. Mila berdehem sambil menyilangkan tangannya,
melototi mereka yang kegatelan sosoan peduli dengan Amar.
“Aduh males banget deh gue,” Cila melihat Mila ada
disini.
“Ya ampun emaknya harimau dateng lagi,” saut Diana
pelan.
“Pergi yuk, Cil” Naina menarik tangan Cila.
Amar tersenyum melihat mereka yang merasa terganggu
dengan kedatangan Mila. Mila tak berucap apa-apa, hanya melototi mereka sampe
matanya mau keluar. Agar mereka peka untuk secepatnya meninggalkan UKS dan
membiarkan Amar sendiri saja. Lagian ada angin apa coba, mereka bisa-bisanya
nempel-nempel dengan Amar. Merasa Mila seperti ingin memakannya, Cila dan yang
lain buru-buru keluar dari UKS. Lalu kembali ke lapangan melanjutkan menonton
permainan yang sebentar lagi selesai.
“Sakit, Mar?” Mila memegang kaki Amar.
Amar mengangguk dan menahan tangan Mila agar tak
memegang kakinya. “Bian berhasil tendangan pinaltinya?” Mila mengangguk dengan
wajah yang memaksa tersenyum.
Seno membuat suasana pertandingan menjadi lebih lucu
dengan tingkahnya. Taulah kalian dia memang si pencipta humor. Seno berusaha
mengoper bola ke Yana namun terpeleset dan membuat semua yang ada disana
tertawa terbahak-bahak. Melihat itu lawan menjadi mudah untuk terus menyerang
ke daerah lawannya. Andra mengocek bola dengan gigih sampai ia harus berhasil
mencetak gol. Wahyu bersiap menghadangnya dan Goooolllll. Wahyu tak mampu
lompat dengan lebih tinggi untuk menghadang bola. Kali ini gawang kelas 12
berhasil Andra tembus dan mencetak 1 gol di menit terakhir permainan.
“Jehhhh, Gendut! Gimana sih luh, bukannya tangkep,”
teriak Seno pada Wahyu dan terdengar oleh anak-anak yang lain.
“Berisik luh,” Wahyu mengeteki Seno dengan ketiaknya
yang basah.
Kelakuan mereka mengundang gelak tawa sehabis drama
percintaan terjadi sebelumnya. Peluit pun di tiup dan pertandingan pun berakhir dengan skor 2-1. Kelas 12
memenangkan pertandingan. Penonton bersorak gembira karna kelas 12 memenangkan
permainan. Mereka semua membubarkan diri dengan rasa puas hati. Yana membuka
bajunya karna basah kuyup. Sontak membuat para wanita histeris teriak. Ana yang
melihat itu malah justru menutup wajahnya, Yana melihatnya dengan tertawa. Seno
ikut membuka bajunya berharap mereka berteriak yang sama tapi yang ia dapat
malah sorakan.
“Sen,,, Sen,,, ngaca luh! Maen juga cuma 25 menit, sok
jadi pahlawan. Nendang aja jatoh lu,” decak Wahyu dan di sambut tawa oleh
teman-temannya.
“Kampret lu,,,!” melempar bajunya ke Wahyu.
__ADS_1
Kalau kalian jadi Bola,
Pilih di Tendang apa di Sayang?