Aksara Mila

Aksara Mila
Persaingan


__ADS_3

Mila bersiap untuk pergi ke rumah Yana. Dia berniat meminta maaf pada sahabatnya atas sikapnya kemarin sekaligus cerita tentang masalahnya. Kebetulan hari ini juga weekend, Mila ingin memintanya menemani ke toko buku. Suara langkah kaki menuruni anak tangga. Ibu menebak pasti Mila ingin pergi. Langkahnya begitu khas di telinga ibunya dan tebakannya benar. Mila turun dengan berpakaian rapi dan menghampirinya yang sedang mengupas buah di meja makan.


"Ibu, Mila ke rumah Yana ya. Sekalian mau ke toko buku." pamit Mila sambil memakan potongan buah di piring.


"Jangan pulang larut ya sayang. Jangan buat Ibu dan Ayah khawatir lagi." Ibu mengingatkan anak gadisnya yang kadang menghilang tanpa kabar.


"Oke, Ibu. Dah,,," cium manis Mila ke pipi ibunya lalu pergi.


Mila berjalan kaki pergi ke rumah Yana. Di tengah jalan dia mampir dulu ke kedai minuman favorite dia dan Yana yang terletak di antara komplek rumah mereka. Mila membelikan minuman untuk Yana sebagai permintaan maafnya. Ya bisa di bilang sogokan kalau-kalau Yana ngambek beneran. Di rumah Yana kebetulan sekali ada Tian yang sedang janjian untuk pergi menemaninya ke toko sepatu. Yana berniat membeli sepatu futsal baru karna punyanya sudah jebol. Jika Yana sedang renggang dengan Mila biasanya sebagai ganti menemaninya pergi adalah Tian.


Di kamar Yana.


"Kemarin Mila gimana, Tian? tanya Yana yang sedang memakai baju sehabis mandi.


"Kemarin udah gue anter ke klinik yang biasa dia kesana. Udah mendingan sih kemarin keliatannya." Tian duduk di sofa sambil memetik gitar.


"Nyesel juga gue kemarin bersikap gitu sama dia. Kalau aja gue gak egois, ga akan kejadian gitu."


"Udah gue jelasin kok ke Mila. Kayanya dia juga nyesel bersikap gitu sama lu."


Mila sampai di rumah Yana dengan menenteng tiga minuman di tangannya. Dia memperhatikan mobil yang bertengger di halaman rumah Yana. Mobil itu tampak tak asing baginya, tapi dia tidak menghiraukannya. Mila menekan bel rumah Yana. Tak lama sesosok wanita dengan mengenakan celana pendek dan kaus gombrang menutupi celananya membukakan pintu untuk Mila.


"Hai, Kak Mila." sapa wanita itu pada Mila.


Dia adalah Yuna, adik Yana. Umur mereka hanya beda 1 tahun. Yuna dan Yana hanya tinggal berdua di rumah karna orangtua mereka sering sekali meninggalkan mereka untuk pekerjaan di luar kota. Sebenarnya sih bertiga sama Bi Asih, yang bantu bersih-bersih rumah tapi Bi Asih tidak tidur di sana. Bi Asih pulang pergi karna kebetulan rumahnya dekat di depan komplek. Yuna itu cantik tapi sedikit tomboi dan juga cuek. Banyak yang suka dengannya tapi setiap ada yang mendekat langsung Yana berdiri paling depan untuk menghadang. Yana itu emang posesif soal pasangan orang-orang tersayangnya. Dengan Mila saja dia segitu ngejaganya apalagi ini adik semata wayangnya. Ditambah lagi orangtua mereka jauh. Jadi mau gak mau dia harus ekstra protektif pada adiknya. Nah karna sifat protektifnya itu, membuat hubungan kakak beradik ini bak tom and jerry. Kalau udah debat gak liat kondisi dan tempat. Ya maklumlah namanya juga cuma hidup berdua. Kadang gak ada yang nasihatin mereka. Yuna juga cukup akrab dengan Mila. Kadang dia mau tukeran kakak dengan Lana, adik Mila. hahaha Ya begitulah. Tapi sebenarnya Yuna dan Yana saling menyayangi satu sama lain. Cuma ya gengsi aja untuk nunjukinnya.


"Halo, Yuna." Mila memberikan minuman yang ditentengnya pada Yuna.


"Thanks, Kak. Tau aja gue haus. Kak Yana di atas. Ada temennya juga sih." Yuna duduk dan melanjutkan menonton tv sambil menyeruput minuman yang dibawakan Mila.


"Oya? Siapa?" tanya Mila dan duduk di samping Yuna.


Yuna hanya mengangkat bahunya. Suara Yuna dan Mila terdengar sampai ke kamar Yana. Yang kebetulan tidak ditutup rapat.


"Bukannya itu suara Mila?" kata Tian menghentikan petikkan gitarnya.


"Kayanya sih?" Yana keluar kamar untuk memastikannya.


Yana melihat Mila di rumahnya. Senyum mengambang di bibirnya. Yana senang karna sudah pasti sahabatnya tidak marah lagi. Ditambah lagi dia melihat minuman kesukaannya di atas meja. Dia menebak itu pasti Mila yang membawakannya. Tian menyusul Yana keluar dan benar suara itu adalah suara dari Mila. Telinganya ternyata sangat peka terhadap suara Mila.


"Udah rindu ya sama gue?" tiba-tiba suara Yana terdengar dari lantai atas dan sontak membuat Yuna dan Mila kaget. "Pasti lagi ngomongin gue kan?"


"Idih geli amat." jawab Yuna.


"Bilang aja rindu, Mil." goda Yana.


"Apa sih lu!" kata Mila jutek.


"Atau rindu gue?" saut Tian dari belakang Yana.


"Loh, Tian? Pantes tadi di depan ada mobil yang gak asing? Ternyata mobil kamu?" Mila tersipu melihat Tian di rumah Yana.


"Jadi rindu siapa nih, Gue atau Tian?" goda Yana lagi.


"Ihh, tau ah! Nyebelin deh lu." Mila ngambek karna terus digoda Yana. Sebenarnya dia ingin tersenyum mengiyakan tapi gengsi. Jadi pura-pura ngambek dengan pergi.


"Eh,,, kok pergi. Iya, iya maaf." Yana yang melihat sahabatnya pergi langsung lari turun ke bawah untuk menghentikannya. Tian tertawa melihat tingkat mereka dan ikut menyusul mereka ke bawah. "Ish,,, masihh aja ngambekan. Gue kan bercanda doang." Yana menghadang Mila.


"Ish,,, aneh luh! Lenjeh banget." kata Yuna yang geli melihat tingkah kakaknya.


"Emang!" saut Mila dengan wajah jijik.


"uuuuhhh tayang, sini peluk kalau rindu." kata Yana dengan nada suara anak umur 7 tahun sambil merentangkan tangannya memeluk Mila.


Mila yang menghela nafas dan tak bisa lagi menahan tawanya. Ya memang benar dia merasa bersalah dan juga rindu akan sahabatnya yang satu ini. Mereka berpelukan sebagai tanda saling memaafkan satu sama lain. Tian tersenyum senang melihat mereka sudah berbaikan kembali. Yuna yang tak mengerti dengan mereka hanya bisa melihat sambil mengunyah jelly yang ada di minumannya. Pikirnya, paling juga habis marahan. Ya karna memang begitu kebiasaan mereka berdua setelah marahan.

__ADS_1


"Ehem!" Tian memberikan kode jika adegan pelukan ini selesai karna ada dirinya di belakang yang menunggu mereka.


"Eh, Tian." Mila melepas pelukanya.


"Jangan lama-lama nanti nyaman." kata Tian pura-pura cemburu.


"Cie cemburu." kata Yana dengan sengaja memeluk lagi Mila untuk menggoda mereka berdua yang diam-diam saling memendam rasa.


"Apaan sih,,,,,,!" Mila mencubit perut Yana.


"Aaaawww sakit, Mil." Yana mengelus perutnya.


"Sorry, sorry." kata Mila yang merasa cubitannya terlalu kencang karna grogi. "Sorry juga ya, Yan. Soal kemarin, gue udah nyebelin banget. Soal kesalahpahaman dan soal gue yang nyimpen rahasia dari lu. Maafin gue ya?" kata Mila yang terdengar tulus.


"Iya gue maafin kok. Gue juga minta maaf ya. Gue ngerasa bersalah banget kemarin. Kalau aja gue gak," kata-katanya tak dilanjutkan karna Mila langsung mengangguk mengerti maksudnya. "Tapi lu udah oke kan, Mil? Atau masih sakit?" tanya Yana khawatir dan mengelus kepala Mila.


"I'm good." katanya dan tersenyum manis. "Oya kalian mau kemana?" tanya Mila melihat mereka rapi seperti ingin pergi.


"Gue sama Tian mau pergi cari sepatu futsal." yawab Yana.


"Yah gak bisa temenin gue ke toko buku dong." Mila langsung lesu mendengar mereka ingin pergi.


"Yaudah bareng aja, Mil." ajak Tian.


"Iya ikut aja sekalian. Lagian juga Tian kan bawa mobil." Yana mengerti Tian berharap Mila mau ikut bersama mereka.


"Yaudah deh." Mila senang bisa ikut gabung. Jarang-jarang juga pergi bertiga. "Yuna ikut juga ya?" ajak Mila.


"Yuna ada tugas. Mau kerja kelompok nanti, kalian aja deh. Mau ini aja deh ya, buat temen aku nanti." menunjuk minuman Mila dan Yana. Mila pun mengangguk. "Thank you, Kak. Have fun ya guys," Yuna melambaikan tanganya.


Akhirnya mereka memutuskan pergi bertiga ke salah satu Mall di Jakarta. Jalanan siang hari ini nampak bersahabat karna tak terlalu macet. Mila duduk di kursi belakang sedangkan Yana di kursi depan menemani Tian menyetir. Sesampainya mereka di Mall, mereka langsung bergegas ke toko sepatu. Mereka berjalan dengan mengapit Mila di tengah seolah menjaganya dari cowok-cowok genit yang melirik padanya. Wah udah kaya bodyguard beneran mereka ini. Seno, Amar dan Wahyu tidak ikut bergabung karna ada urusan keluarga masing-masing. Lagian memang niatnya kan cuma pergi berdua.


"Mil, gue sama Tian ke tempat sepatu ya. Lu tunggu di toko buku atau mau ikut kita aja?" Yana memberikan pilihan.


"Udah ikut kita aja." Tian menarik tangan Mila dan berjalan masuk ke toko sepatu. Yana tersenyum melihat Tian sudah mulai berani mengekspresikan perasaanya pada Mila. Lalu menyusul mereka masuk ke toko sepatu.


"Keren gak, Mil?" teriaknya dari ujung lorong. Mila tertawa dan menggeleng. Yana mencoba sepatu dengan warna yang ngJRENG dan mencolok. Udah kaya mau pawai di karnaval. Mila melambaikan tangan menyilang, menandakan tak suka dan menolak. Mereka tak sadar menjadi tontonan pengunjung lain.


Sedangkan Tian tampak santai memilih sepatu yang cocok di hatinya. Tian cukup estetik dalam memilih apa yang akan dipakainya. Jadi harus benar-benar cocok di hatinya, baru dia akan membelinya. Itu juga salah satu alasan, kenapa dia lama dalam memilih apapun , termasuk pacar. Kemudian Mila beralih pada Tian yang sedang mengamati sepatu dihadapannya. Dari belakang Mila mengikuti gaya Tian yang selalu serius saat memilih sesuatu. Tian tak sadar gayanya sedang ditiru oleh Mila. Sampai saat dia melihat ke kaca dan melihat Mila di belakangnya. Tian pun tertawa saat sadar Mila meniru dirinya. Pandangan Mila terhenti pada satu titik. Dia melihat sepatu yang menurutnya cocok untuk Tian.


"Yang ini aja Tian." Mila mengambil sepatu itu dan memberikannya pada Tian.


Mendengar itu jelas membuat Tian tersenyum senang. Dia senang Mila memilihkan sepatu untuknya. Tian pun mencoba sepatu pilihan Mila tapi sayangnya kekecilan. Lalu dia bertanya ke pegawai toko untuk ukuran yang lebih besar. Sambil menunggu Mila duduk di samping Tian yang duduk di depan kaca besar. Lalu mereka melihat ke kaca dan saling tersenyum bahagia. Ingin sekali Tian mengabadikan moment itu dengan memotretnya tapi dia segan untuk bilang pada Mila. Dari belakang Yana melihat mereka berdua yang sedang menatap diri mereka di kaca. Yana pun mengabadikan moment itu dengan ponselnya.


"Udah belom?" Yana datang menghampiri mereka dengan menenteng sepatu pilihannya.


"Yan, apaan sih! Masa warna ini?" Mila protes pada sepatu pilihan Yana.


"Kenapa sih Mil? Keren tau. Yakan Tian?" katanya dengan menaikan alis dan menarik senyumnya. Tian hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Permisi, Mas. Untuk ukurannya tinggal yang ini saja. Ukuran lainnya sudah habis." Kata pegawai toko yang membawa harapan kosong untuk Tian.


"Oh, oke. Makasih ya." Tian lesu mendengar sepatu itu tidak ada ukuran lain.


"Yaudah Tian pilih yang lain aja." Mila memberi semangat.


"Padahalkan ini Mila yang pilih. Tapi ga ada lagi ukurannya." gumam Tian.


"OOOOwwww udah mulai pilihin orang lain nih, sekarang?" Yana menyenggol-nyenggol tangan Mila mengodanya.


"Ih, mulai deh luh! Rese,,,!" Mila menurunkan topi yang dikenakan Yana hingga menutupi matanya.


"Duh, Mil. Gak bisa liat." Yana melepas topinya.


"Yaudah kalian lanjutin pilih sepatu deh ya. Gue ke toko buku dulu. Yana cari warna lain yang gak norak, please! Kalau engga gue sangkutin lagi tuh sepatu di genteng sekolah." ancam Mila lalu dia pergi meninggalkan mereka berdua karna sudah merasa bosan. Tian dan Yana saling melirik satu sama lain dan melanjutkan memilih sepatu yang lain.

__ADS_1


Mila berjalan ke toko buku, rasanya dia sudah tidak sabar membaca novel-novel terbaru bulan ini. Tangannya langsung meraba barisan novel yang tersusun rapi di pojok ruangan. Senyum di bibirnya melekat penuh makna. Mengisyaratkan kebahagiannya. Mil berkeliling membaca satu per satu kutipan novel yang menurutnya menarik. Bagi Mila hanya dengan membaca kutipan itu saja membuatnya senyum-senyum sendiri karna bisa merasakan apa yang akan penulis ceritakan. Saat sedang asik-asiknya membaca, tiba-tiba penglihatanya teralihkan pada satu objek dan membuatnya tersentak.


"Mampus! Kenapa harus ada mereka disini sih?" katanya dengan lirih dan langsung menutup wajahnya dengan buku.


Mila bertanya dalam hati, mengapa bisa ada mereka juga di sini? Di tempat yang seharusnya membuatnya tenang bukan merasa gundah. Mila mengendap-ngendap menjauh dari mereka yang mulai berjalan ke arahnya. Mila berjalan membungkuk sampai ke pintu keluar agak tidak dilihat oleh mereka. Namun tak disangka-sangka oleh Mila. Dia malah menabrak rak buku display yang ada di depan toko dan menjatuhkan semuanya.


"Mba, hati-hati jalannya." tegur penjaga toko.


"Maaf, Pak." kata Mila dengan suara setengah berbisik sambil merapikan kembali buku ke dalam raknya.


Penglihatan Qila teralihkan pada suara ribut di depan toko. "Loh itu bukannya Mila?" katanya pada Bian.


"Mana?" mata Bian langsung mencari keberadaan Mila.


Qila menunjuk ke arahnya. "Itu yang nabrak display buku."


Bian langsung menghampiri cewek yang sedang merapikan buku itu dan meninggalkan Qila begitu saja. Mila dengan buru-buru merapikan buku display itu, agar bisa segera pergi dari sana dan tidak ketahuan oleh Bian dan Qila. Tapi sebelum dia selesai merapikan semuanya, dari belakang Bian datang dan membantunya merapikan buku.


"Makasih, Pak." Mila yang masih fokus merapikan buku tak mengetahui siapa yang sebenarnya tengah membantunya.


"Lain kali hati-hati, Mba." Bian mencoba bersuara agar Mila menyadari itu adalah dirinya.


Qila sedikit kesal karna melihat Bian yang begitu perhatian pada Mila. Setelah membereskan semuanya Mila langsung buru-buru pergi dari toko buku tapi tangannya ditahan oleh Bian. Mila yang menyangka itu adalah penjaga toko, ternyata dia adalah Bian. Mila berdecak kesal dalam hati. Jadi yang tadi bantuin dia itu bukan satpam tapi Bian. Kenapa harus ketahuan segala pikirnya.


"Mau kemana? Buru-buru banget!" Bian melepaskan genggamannya.


"Hai, Mil." sapa Qila menghampiri mereka.


"Eh kalian. Kebetulan banget ya," sapa Mila yang berusaha tersenyum karna menahan malu.. "Ternyata mereka ngeliat gue gara-gara nabrak tuh dispaly buku, sialannnnn!" Mila menggerutu.


"Kenapa, Mil?" Bian mendengar Mila menggerutu. "Lagi ngapain sendirian di sini?" melihat Mila tidak ditemani siapa-siapa.


"Ahh engga kok. Gak sendirian." kata Mila terbata.


"Sama siapa ke sini?" tanya Bian. Qila hanya memperhatikan mereka berdua dengan dongkol.


Yana dan Tian keluar dari toko sepatu. Tian berjalan cepat seolah tak nyaman meninggalkan Mila terlalu lama sendirian tanpa mereka.


"Lu lama banget deh, Yan. Kasian si Mila sendirian." protes Tian.


"Ngapain buru-buru. Lagian ya si Mila gak bakal protes ditinggal lama-lama di toko buku. Malahan tuh ya dia seneng ditinggal lama dari pada harus nemenin kita belanja." Yana memberikan pembelaannya.


"Eh itu dia." Tian menunjuk kearah Mila dan sedikit tercengang melihat Bian ada bersamanya. "Loh kok ada Bian?"


"Sama Qila juga?" saut Yana ikut tercengang. Mereka berdua makin mempercepat langkahnya.


"Mil, makan yuk!" Yana berpura-pura tidak melihat Bian dan Qila.


"Hai, Yan." sapa Qila. "Eh ada Tian juga. Hai,,," melambaikan tangannya pada mereka yang baru datang.


"Hai,,," sapa mereka bersamaan.


"Ah iya, gue bareng mereka. Tadi mereka lagi cari sepatu jadi gue ke toko buku aja." Mila menjawab pertanyaan Bian.


"Laper gak, makan yuk!" Tian menggenggam tangan Mila dengan sengaja.


Mila mengangguk. "Yaudah, gue duluan ya." Mila berpamitan dengan Bian dan Qila. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa gak bareng aja?" usul Bian yang menghentikan langkah mereka.


"Loh Bi, kan bentar lagi filmnya mulai? Gak sempet makan. Nanti telat malah." Qila sedikit kesal dengan tingkah Bian yang berubah drastis semenjak ada Mila di tengah-tengah mereka berdua.


"Gak usah, kalian lanjut aja. Kita udah reserve tempat lagian. Bye, Enjoy guys!" Mila menolak usulan Bian. Lalu mempercepat langkahnya, pergi meninggalkan mereka yang terlihat sedang melakukan kencan.


Mila menghela nafas lega. Akhirnya dia terbebas dari situasi menegangkan ini. Dalam hatinya Mila kecewa karna kedekatan Bian dan Qila sudah jauh terlihat. Sampai nonton film berdua segala. Mila tersenyum remeh melihat kejadian hari ini yang cukup membuat hatinya gundah gulana. Bukan hanya Mila, Bian juga terlihat kecewa karna penolakkan dari Mila tadi. Terlihat dari tangan yang mengepal dan raut wajah yang menegang. Kenapa harus bertemu dengan Mila hari ini? Di saat dia sedang menepati janjinya dengan Qila. Pasti Mila akan salah paham dan mengira jika dia dan Qila punya hubungan yang lebih dari sekedar teman? Itu yang menjadi penyesalan baginya. Di tambah ternyata Mila juga sudah berbaikan lagi dengan Yana dan Tian. Sudah pasti akan susah baginya untuk dekat lagi dengan Mila. Pasti teman-teman Mila akan membentenginya.

__ADS_1


Apakah persaingan keras ini akan dimulai ? Mengapa Bian dan Qila jalan bareng ? Apakah mereka punya hubungan lebih dari sekedar teman?


__ADS_2