
Setelah mengantar Wahyu, Amar dan Seno. Yana langsung berpamitan. Badannya sudah cukup lelah untuk menyetir dari Bandung-Jakarta. Sampai didepan rumah Mila, Yana mematikan mesin mobilnya. Melihat Yuna dan Mila masih terlelap dalam tidurnya. Yana enggan membangunkan mereka. Ia membuka sedikit kaca jendela agar angin bisa masuk. Yana membakar sebatang rokok untuk melepas lelahnya sambil menunggu mereka bangun.
Ponselnya berdering.
“Ha,” Yana mengangkat telphonenya.
“Udah sampe?” suara Tian. Tian menelphone untuk menanyakan apakah mereka sudah sampai dengan selamat.
“Iyah, ini udah didepan rumah Mila. Dia masih tidur, gue tunggu dia bangun dulu. Gak enak banguninnya, kayanya dia cape banget,” suara Yana terdengar sedikit ketus.
“Yaudah, salam buat dia ya. Bilang gue minta maaf,” terdengar suara Tian lemas lalu menutup telphonenya.
Mila terbangun saat mereka saling bercakap di telphone dan mendengar percakapan Yana. “Yan, udah sampe?” Mila melihat sudah ada didepan rumahnya. “Siapa Yan?”
“Tian. Katanya, Maaf. Nanti paling dia telphone lu,” Yana mematikan rokoknya.
Mila menyandarkan kepalanya lagi, mengumpulkan semua nyawanya yang masih di alam mimpi. Mila menghela nafas panjang dan membuka pintu mobil, “Thanks Yan. Selamat istirahat,” Mila turun dari mobil dan masuk ke rumahnya.
Dering Bel Sekolah
Ujian hari pertama dimulai. Pengawas mulai membagikan selembar soal ujian. Setelah mengisi nama di kertas jawaban, anak-anak segera membaca soal-soal yang ada dan menjawabnya dengan teliti. Kelas 12 dibagi menjadi 2 ruangan. Di ruangan 1, ada: Amar, Mila, Asty, Arsya, Diana dan Isyana. Sedangkan di ruangan 2, ada: Naina, Ovie, Tian, Bian, Seno, Shila, Wahyu dan Yana. Mereka dibagi tidak sesuai dengan pertemanan mereka. Mereka semua harus menerima, siapa teman seruangan mereka di ujian kali ini. Mila duduk bersebelahan dengan Asty. Kecanggungan cukup terjadi di ruangan Mila. Pertama, karna lebih banyak murid perempuan. Kedua, karna 3 personil AxePink ada di ruangan itu. Tapi suasana di ruangan Cila berbanding terbalik, bahkan terbilang santai dan seru karna tak luput dari Wahyu dan Seno.
Bahasa Indonesia jadi ujian pertama hari ini. Mila dengan santai dapat menyelesaikan ujiannya. Orang pertama yang mengumpulkan kertasnya ke depan. Selesai mengerjakan ujiannya dengan mudah, Mila keluar dari ruangan untuk istirahat lebih dulu. Mila melewati ruangan 2 dan melihat teman-temannya masih berkutik pada kertas jawaban mereka.
Mila ke kantin lebih dulu dan memakan bekal yang Ibu siapkan untuknya. Ibu membuatkan nasi goreng kesukaan Mila hari ini. Karna hari ini ujian, jadi Ibu sengaja membuatkannya untuk membuat Mila, semangat dalam ujiannya. Tak lama Arsya menyusulnya ke kantin. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana selain mereka berdua. Arsya memesan mie instan untuk mengisi perutnya selepas bergelut dengan soal-soal jawaban. Mila menatap heran Arsya, bisa-bisanya dia melahap dua mangkok mie instan secepat kilat. Padahal Mila yang mulai makan lebih dulu tapi mereka selesainya bersamaan. Mila hanya menggelengkan kepalanya.Satu persatu anak-anak sudah mulai keluar dari kelas mereka dan mendatangi kantin. Mila melihat jam ditangannya dan waktu ujian memang sudah selesai. Ia bergegas meninggalkan kantin dan pergi ke tempat lain.
“Mil, mau kemana?” teriak Arsya melihat Mila meninggalkannya. “Toilet,,,!” sautnya jutek.
Arsya menyedot es tehnya dan pergi juga dari kantin. Arsya pergi ke ruangan 2 untuk menemui pujaan hatinya, Ovie. Ternyata Ovie dan Tian belum juga selesai. Mereka masih sibuk mengerjakan soal ujiannya. Arsya menghentikan langkahnya dan menunggu didepan pintu. Tak lama bel istirahat berbunyi dan mereka
berdua mengumpulkan kertas mereka pada pengawas. Tian segera keluar dari ruangan dan pergi keluar sekolah.
“Tumben lama banget ngerjainnya?” tanya Arsya pada pacarnya.
“Tadi kertasnya jatuh terus gak sengaja ke sobek jadi nyalin lagi deh,” jawab Ovie dengan lesunya.
“Ya ampun, kacian. Yaudah aku traktir makan ya,” Arsya mengajak Ovie pergi ke kantin. “Trus si Tian, kenapa juga baru selesai?” tanya Arsya penasaran.
“Tadi dia dateng telat 15 menit. Gak tau kenapa? Untung aja dia boleh masuk kalo engga, dia ngerjain di luar kali,,,!” jelas Ovie.
Di Warung Tongkrongan
“Tumben luh telat? Kenapa?” Seno bertanya pada Tian.
“Baru nyampe rumah tadi pagi jam 7,” jawabnya sambil mengunyah makanannya. “Gak makan dua hari lu? Laper amat,,,” Wahyu yang melihat Tian makan seperti orang kelaparan.
“Emang di villa kehabisan stok makanan Tian?” Seno dengan polosnya.
Wahyu hanya menempeleng kepala Seno tanpa berkata. Memang terkadang Seno ini rada- rada dalam berpikir dan berbicara. Seolah otaknya tak dipakai dengan semestinya. Pikirannya yang apa adanya kadang membuat teman-temannya gemas melihatnya. Tapi terkadang itu yang menjadi canda dan tawa bagi teman-temannya.
“Mila mana, Mar? Gak keliatan dari tadi? Bukannya dia selesai duluan?” Yana menyelang pembicaraan.
“Ha, gak tau. Gue gak liat juga dari keluar kelas,” Amar mengangkat bahunya.
“Lah gimana sih lu, kan lu yang seruangan sama dia,” Seno dengan nada yang mengundang amarah.
“Ya kan dia selesai duluan. Mana gue tau dia mau kemana abis itu,,,!” jawab Amar sewot. “Malah sewot-sewotan lu berdua,” Yana melirik keduanya. Yana melihat Bian dan Asty
berjalan berdua, masuk ke sekolah. “Berarti Mila tak bersama dengan Bian. Pasti dia di perpus,” pikirnya.
Dalam benak Tian, ia berpikir kalau Mila sengaja tak bergabung bersama mereka untuk menghindarinya. Menghindar dari hal yang tak ingin ia bahas atau menjadi perbincangan hari ini.Mila tak pergi bergabung bersama teman-temannya hari ini. Ia menyibukkan diri dengan pergi ke perpustakaan untuk membaca buku. Entah karna sedang ujian jadi ia malas untuk keluar sekolah atau karna tak ingin bertemu dengan Tian.
__ADS_1
Mila duduk di tempat favoritenya membaca dan takmenghiraukan apa yang lewat di depannya bahkan ada
yang memperhatikannya pun dia tak tau. Ya seserius itulah dia kalau sedang membaca. Mau ada buku jatuh menimpahnya juga dia gak akan tau.
Hubungan Mila dan Bian semakin menjauh. Bian terlihat semakin dekat dengan Asty di sekolah. Bahkan jika berpapasan dengan Mila pun, Bian tak menghiraukannya dan terbilang pura-pura tak melihatnya. Entah benci atau sedang berusaha melupakanya. Mila juga berusaha bersikap cuek seolah tak mengenalnya juga.
Mila tak ingin berurusan dengannya lagi. Mila berpikir kita sudah bahagia dengan pasangan kita masing-masing.
Walapun kenyataannya belum tentu. Ya namanya hubungan pasti ada saja kerikil di depannya. Seperti hubungannya sekarang dengan Tian yang tak berjalan semestinya. Mila merasa ada kerikil yang masuk dalam hubungannya sekarang. Belum lagi dengan Tian yang masih belum cerita dari mana asalnya kerikil ini datang. Makanya hari ini Mila enggan untuk bertemu dengan Tian. Ia masih sibuk mengolah egonya agar emosinya yang ia tahan sejak kemarin tak meluap-luap dan merusak segalanya.
Bel Ujian Kedua
Mila sengaja masuk mepet waktu agar tidak bertemu dengan teman-temannya. Sepertinya ia memang sengaja menghindar. Mila beralasan telat masuk kelas karna pergi ke toilet pada pengawas. Amar mencoba bertanya tapi pengawas menyuruhnya untuk tidak bicara. Jadi Mila hanya menggelengkan kepalanya pada Amar. Isyana melihat kearah Mila dan dibalas acuh oleh Mila.
Mata pelajaran PKN menjadi ujian kedua hari ini. Kalau di ujian pertama, Mila merasa
santai tapi tidak di ujian yang kedua. Mata pelajaran ini terkenal dengan gurunya yang killer. Bikin males belajar
jadinya. Bukan karna tidak bisa mengerjakannya tapi males kalau sampai harus remedial dan berurusan dengan guru killer itu. Mila menerima soal dengan menarik nafas panjang. Mila harus benar- benar dengan teliti membaca soalnya agar tak salah dan remedial.
Di ruang kelas Mila tampak santai dan sunyi seperti suasana kelas ujian pada umumnya.
Tapi tidak di ruang kelas Cila, disana tampak sedikit berisik. Sepertinya salah satu dari mereka mendapat bocoran jawaban. Mereka asik mengoper bocoran jawaban pada teman-temannya. Ditambah lagi pengawas mereka yang cuek dan membiarkan mereka membagi jawaban mereka ke teman-temannya yang lain.
“Jangan berisik! Atau Bapak ambil semua kertas kalian,” kata pengawas, disela-sela membaca korannya. “Berbagi boleh, asal jangan berisik!” mendengar suara anak-anak yang semakin berisik.
Walapun tertutup koran tapi sepertinya matanya tembus dan melihat mereka yang asik melempar
kertas contekkan pada temannya. Mereka tetap melanjutkan aktivitas mereka berbagi dengan suara bisik-bisik agar tak didengar pengawas lagi. Tapi Bian memilih tidak mengikuti yang lain. Ia fokus membaca soal dan menjawab dengan pilihannya sendiri. Walaupun Cila memberikannya contekkan tapi Bian membuangnya.
Dalam hitungan menit mereka sudah dapat menyelesaikan ujian mereka dengan serempak. Cila orang pertama yang mengumpulkan kertas jawabannya kedepan, disusul dengan Naina dan teman- temannya yang lain. Termasuk juga Seno and the genk. Kali ini Tian juga ikut jawaban mereka semua. Padahal Tian orang yang dikenal selalu mengerjakannya dengan jujur dan anti nyontek.
“Ngerokok lagi luh?” Seno kaget melihat Tian membakar rokoknya.
“Belom kelar emang masalahnya?” Yana yang juga ingin membakar rokok. Menyodorkan api pada Tian.
Tian menggeleng dan menghembuskan asap rokoknya. Amar datang sendiri tanpa Mila bersamanya.
“Mila mana?” Yana mencari Mila.
“Masih di kelas,” Amar langsung duduk dan menenggak air yang sedang di pegang Wahyu. “Lah! Emang belom selesai dia? Lu gak kasih ke dia contekkannya,” Seno yang lagi-lagi masih sewot.
“Udah tapi dia gak mau!” teriak Amar di kuping Seno. “Lu selesain masalah lu deh,” Yana menepuk Tian.
Tian membuang rokoknya dan pergi ke depan sekolah untuk menjemput Mila. Mereka melihat
Tian dengan tatapan bingung.“Kenapa lagi sih emang? Gara-gara cewe yang kemaren itu?” tanya Wahyu dengan mengunyah keripik.
“Pacar mana yang gak cemburu kalau kejadiannya kaya kemaren,” timpal Amar merebut keripik Wahyu.
Tian bersandar pada tembok pagar sekolah. Menunggu pacarnya yang tak kunjung keluar dari sekolah. Sementara Mila masih di dalam kelas. Ia enggan keluar dari kelas karna menunggu seseorang menjemputnya. Mila sengaja tak menunggu di luar sekolah. Ia tidak mau bertemu dengan teman- temannya. Mila keluar dari kelasnya dan berpapasan dengan Bian dan Asty.
Ponsel Mila berbunyi dan mengangkat telphonenya. Mengabaikan dua sejoli didepannya lalu mempercepat langkahnya. Mila berdiri di depan sekolah dan mencari seseorang yang menjemputnya tapi tak telihat. Panggilan masuk terdengar lagi dari ponselnya,
“Ini udah di luar sekolah, lu dimana?” (jeda) “Aduh bukan itu sekolah gue, kan gue bilang SMA Jakarta!” (jeda) “Yaudah cepetan,” Mila mematikan telphonenya.
Mila tak menyadari di sampingnya ada Tian yang sudah lama menunggunya. Tian mendengar percakapan Mila. Saat Mila menoleh ke samping, kaget melihat Tian berdiri disana.
“Mau balik? Yuk,” Tian mengulurkan tangannya berharap Mila akan menggenggamnya seperti biasa.
“Aku dijemput,” jawab Mila singkat dengan mengigit bibir bawahnya seolah tak tega menolak ajakan Tian.
__ADS_1
“Sama siapa?” Tian menggenggam hampa tangannya. “Sama temen,” Mila menarik senyum paksa.Bian dan Asty berdiri bersama mereka didepan sekolah. Menunggu angkutan umum yang lewat. Bian tak membawa motornya dan sepertinya mereka berdua pulang bersama. Bian dan Asty melihat Mila dan Tian yang sedang bersikap canggung.
Mila melihat mobil biru yang datang dan melambaikan tangan kearahnya. Mila berpamitan pada Tian namun tangannya ditahan oleh Tian,
“Kamu pulang sama aku,” Tian menarik tangan Mila.
“Tian, aku gak bisa. Udah dijemput,” Mila melepaskan tangan Bian.
“Mil,” Tian terlihat memohon namun Mila membalas acuh dan tak menghiraukannya.
Seseorang keluar dari mobilnya dan melambaikan tangan pada Mila untuk segera masuk. Mila sedikit berlari dan masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Tian dan mengabaikannya. Itu dilihat jelas oleh Bian, Asty, dan teman-temannya di tongkrongan. Mobil berjalan meninggalkan sekolah. Tian menendang kerikil jalanan dan pergi mengambil motornya untuk menyusul Mila.
“Lah kenapa itu,” kata Seno dan mereka semua yang melihat itu.
Tian menyusul Mila ke rumahnya tapi Mila tak terlihat di rumahnya dan juga mobil biru itu. Tian menunggu Mila didepan rumahnya. Ia mencoba menghubungi Mila tapi ponselnya tak aktif. Tian terlihat gelisah, ia berjalan mondar-mandir untuk mendapat kabar dari Mila tapi hasilnya nihil. Mila sengaja tak langsung pulang. Ia tau, Tian pasti akan kerumahnya. Makanya ia sengaja untuk mampir dulu ke toko buku.
“Kenapa kesini dulu sih, Mil,,,” tanya Mahen pada sepupunya itu. “Bentar,,,!” jawab Mila ketus.
Mahen hanya menggeleng kepala dan Mila masuk kedalam toko buku. Mila mencari novel yang baru keluar bulan ini. Untuk mengusir rasa gundahnya, Mila harus membaca novel-novel itu sebagai pelampiasannya. Mila duduk disudut pojok sambil membaca novel yang ia temukkan. Mila lupa bahwa ia meninggalkansepupunya diluar.
Oya sepupu Mila namanya Mahendra. Biasa dipanggil Mahen. Mereka berdua sangat dekat namun karna sekarang Mahen sudah bekerja. Jadi mereka sudah jarang sekali bertemu. Kedekatan mereka bisa dibilang sama dengan kedekatannya dengan Yana. Yana pun mengenal Mahen dengan baik. Mahen juga yang memberitahu Yana semua keburukan Mila. Contohnya yang satu ini. Ngumpet dari masalah dan pergi ke toko buku untuk menghindar. Padahal Mahen selalu mengingatkan padanya untuk menyelesaikannya dan bicara adalah cara menyelesaikannya.
Sudah 2 jam berlalu dan Mila tak kunjung keluar dari toko buku itu. Mahen menyusulnya ke dalam untuk mencarinya. Sudah berkeliling dua kali tapi tak kunjung melihat Mila. Sampai akhirnya ia menemukannya sedang sesenggukkan di pojok rak buku sambil membaca novel yang ada di tangannya. Mahen dengan kesal sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Astaga Mila,,,,! Gue tuh cariin lu dari tadi. Malah nangis disini. Lama banget sih. Ayo,” Mahen mengajaknya pulang.
“Baru jam berapa Hen,” Mila melihat jam ditanganya. “Sejam lagi deh ya,” rengek Mila.
“Ayolah Mil. Beli aja, beli novelnya. Baca di mobil,” Mahen sudah tidak bisa menunggunya lagi. “Beli burger juga ya,” pinta Mila sambil tersenyum seperti anak kecil.Mila bangkit dari duduknya dan pergi ke kasir. Mahen berjalan pasrah, hanya itu cara agar Mila mau diajak pulang. Setelah membeli buku dan burger mereka pun pulang.
“Kenapa gak makan disini aja sih, Hen?” rengek Mila sambil kerahnya ditarik Mahen keluar dari restaurant.
Mila ngambek tapi sambil tetap mengunyah burger ditangannya dan masuk kedalam mobil. Ia minta makan ditempat tapi Mahen menolak. Waktu sudah sore dan ia harus kembali pulang karna sudah janji dengan temannya untuk bertemu. Kalau nurutin keinginan Mila yang ada janjinya bisa-bisa batal. Belum lagi keadaan jalanan yang macet saat jam pulang kantor.
“Gue gak mampir ya. Gue ada janji. Salam buat Paman dan Bibi,”
“Lah gitu. Gak sopan tau!” Mila meremas bungkus burger dan mengelap mulutnya.
“Kabar dia, bagaimana?” Mahen menanyakan kabar seseorang yang tidak ia sebutkan namanya.
“Gue gak mau bahas! Udah lah lupain aja,” Mila tidak ingin membahas orang yang di maksud sepupunya.
Mila turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Mahen. Saat berbalik ternyata Tian sedang duduk di motornya sambil menatapnya dan melirik orang yang ada di dalam mobil. Mahen menarik gas dan pergi. Mila menelan ludahnya dan pura-pura tak melihat Tian lalu masuk ke dalam rumah.
“Mila!” teriak Tian. Mila terkejud dan menghentikan langkahnya. Baru kali ini Tian meneriakinya seperti itu. Baru kali ini dia marah padanya. “Kamu kenapa sih?” suara lembut Tian terdengar lagi. Tian menghampiri Mila dan membalikkan badannya. “Jawab Mil,” suaranya seperti memelas.
Tak mengerti mengapa Mila bersikap seperti ini padanya. Harinya hancur melihat Mila tak menatapnya bahkan tak menyapanya. Tian tidak bisa diam saja melihat pacarnya bersikap seperti ini padanya. Tian tidak tahan menahan rasa kecanggungan ini. Harinya sepi, sunyi, karna tak mendengar suara kekasihnya.
“Aku cape, Tian. Besok aja kita bicarain,”
“Mil aku gak bisa. Aku gak bisa diginiin sama kamu. Kalau aku salah, aku minta maaf, Mil. Tapi tolong jangan kaya gini caranya. Bisa diomongin kan, Mil?” Tian seperti mengemis pada Mila.
“Bisa kok. Tapi, mending aku sendiri dulu. Aku olah hati aku, biar aku gak salah ngomong,” suara Mila seperti menahan getir di hatinya.
“Oke. Tapi tolong jangan pergi sama siapapun. Aku gak mau liat kamu sama cowo lain!” rasa cemburu yang tak bisa ia tutupi.
Mila tersenyum sinis, “Dia sepupuku. Bukan seseorang dari masa lalu!” Mila meninggalkan Tian dan masuk ke dalam rumah.
Tian terdiam. Kata-kata terakhir Mila membuatnya seperti tertampar. Harusnya dia sadar dan menyadarinya. Kenapa malah yang dia bicarakan hal yang omong kosong. Tian menutup wajahnya kesal dan menendang hampa. Tian kembali ke motornya lalu pergi dari rumah Mila.
Ego adalah salah satu penyakit diri yang bisa merusak segalanya.
__ADS_1