Aksara Mila

Aksara Mila
Lawan Jadi Kawan


__ADS_3

Sesampainya di rumah Qila hujan masih setia dengan derasnya. Aya segera turun dari taksi dan secepatnya berlari ke rumah Qila. Bersamaan dengan itu Qila juga keluar dengan berpakaian sangat rapi seperti ingin pergi. Qila membuka payungnya tapi saat ingin melangkah. Langkahnya terhenti karna dia melihat Aya ada dihadapannya.


"Aya, ada apa?" tatapannya terlihat bingung melihat Aya datang.


"Loh kok ada apa? Kan kita mau ngerjain tugas bareng, Qila. Lu lupa?" suaranya terdengar kecewa dengan pertanyaan temannya itu.


"Masa sih? Tugas apaan?" mendadak lupa dengan janji yang dia buat sendiri.


"Qil, elu loh yang ngajakin kita buat ngerjain tugas bareng di rumah lu. Sekarang lu malah lupa! Terus ini kenapa lagi rapi banget, mau kemana? Hujan-hujan gini?" Aya memegang bajunya. Dia terlihat sangat kesal pada Qila. Padahal dia udah bela-belain datang ke rumahnya di tengah hujan kaya gini.


"Serius gue lupa. Terus yang lain juga mana?" mencari teman-temannya yang lain.


"Mereka ke salon dulu. Gue gak ikut, ya karna gue takut lu nungguin gue. Tapi lu malah mau pergi?" katanya kecewa.


"Duh Ay, sorry banget. Tapi kayanya gue gak bisa. Gue juga bikin janji tadi sama Bian, pas pulang sekolah. Gak enakan kalo gue batalin gitu aja. Apalagi hujan kaya gini, pasti dia udah nungguin gue." tutur Qila tanpa memikirkan perasaaan temannya. "Gimana kalo besok aja, Ay? Ya, Aya. Pleaseeee,,,,,!" kata Qila memohon.


Dia tak mengetahui apa yang sekarang Aya rasakan. Kesal, marah, kecewa, jengkel. Kepada semua teman-temannya. Ucapan Qila untuk Bian barusan, sama dengan ucapan yang Aya ucapkan pada Yana tadi. Gila! Sebegitu pentingnya sekarang Bian untuk Qila. Sampai-sampai perasaan dan pertemanan mereka yang jadi imbasnya. Aya hanya bisa berdecak kesal di hatinya.


"Aya, gue tinggal ya. Sorry,,,,, banget. Sorry. Nanti gue bakal kabarin yang lain. Dah,,, Aya." katanya lagi. Dia melihat taksinya sudah datang. Qila meninggalkan Aya di rumahnya.


Aya melihat kepergian Qila denga kecewa. Dia benar-benar sangat kecewa dengan sikapnya. Aya langsung pergi dari rumahnya. Di bawah derasnya air hujan yang tak kunjung henti itu, Aya menyusuri jalan. Dia tak memperdulikan dirinya lagi yang basah kuyup karna sudah terlanjur kecewa. Hujan seolah menyelimutinya yang sedang kecewa akan sikap teman-temannya.


Aya teringat dengan Yana. Apa dia masih di halte itu? Tanyanya dalam hati.


Di halte Yana masih menunggu hujan yang belum reda. Rasa lapar di perutnya membuat dia ingin sekali menerobos saja barisan hujan-hujan itu. Tapi dia memikirkan seragam sekolahnya. Masih ada satu hari lagi untuk dia pakai besok, sayang kalau jadi basah dan kotor. Kasian si Mbok yang nanti mencucinya buru-buru, kebetulan juga tidak ada cadangan seragam lagi yang dia punya. Dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk tidur saja di kursi halte yang panjang.


Belum lama dia merebahkan badannya di kursi. Terdengar suara mobil yang berhenti di depannya. Lalu turun seorang cewek dengan pakaian basah kuyup menghampirinya. Yana membuka matanya dan melihat Aya ada di depannya dengan keadaan badan yang semuanya sudah basah terguyur air hujan.


"Loh kok balik lagi? Basah lagi? Kenapa?" tanya bingung. Tapi tak satupun yang dijawab oleh Aya. Melihat pakainya basah, Yana melepaskan jaket dan memberikannya pada Aya.


"Gak usah. Percuma udah basah semua." Aya mendorong lagi jaket yang Yana berikan. "Nanti malah jaketnya ikut basah." katanya dengan mengigil.


"Nanti lu sakit. Liat aja udah mengigil gitu!" melihatnya bergidik kedinginan dengan bibir yang mulai pucat. Yana memakaikan jaket padanya dan mendudukkannya di kursi.


Melihat cewek dengan keadaan seperti itu membuatnya iba. Tak memikirkan apa-apa lagi selain menolongnya. Melupakan jika dia adalah salah satu orang yang sudah menfitnah Mila dan dia tak seharusnya peduli denganya. Tapi itu bukan sifat Yana. Dia tak mungkin melakukan sikap tak gentle itu pada cewek. Hujan telah berganti dengan gerimis kecil. Yana berdiri dan mengelap jok motornya yang basah dengan kain di dasbornya. Lalu memanaskan mesin motornya yang dingin karna hujan.


"Udah reda. Gue anter pulang, yuk." Yana duduk di motonya.


Karna jarak rumahnya lebih dekat daripada rumah Aya. Jadi Yana memutuskan untuk pulang dulu ke rumahnya sekalian ganti baju sebelum mengantar Aya pulang. Sepanjang jalan Aya tak bicara sama sekali. Aya hanya diam dan memeluk erat dirinya sendiri karna sudah sangat kedinginan. Sampai dia saja tak sadar kalau dirinya dibawa pulang dulu ke rumah Yana.


Motor berhenti di rumahnya. Yana mematikan mesin motornya dan Ana turun lalu menyadari kalau ini bukan rumahnya. Dia melihat sekeliling rumah itu. "inikan bukan rumah gue?" katanya bingung.

__ADS_1


"Ganti baju dulu deh. Lu basah banget." Yana masuk saja ke dalam rumahnya.


"Kenapa kerumah lu?" kata Aya ngotot.


Yana tak menjawab hanya mengisyaratkan padanya untuk masuk ke dalam rumahnya. Yuna melihat kakaknya pulang dengan membawa temen ceweknya yang dia kira adalah pacar kakaknya. Yuna langsung berdiri dan menghampirinya. "Siapa nih?" tanyanya dan melihat Aya dari atas sampai ke bawah dengan tersenyum terpaksa.


"Temen gue. Ay, kenalin ini adik gue." Yana memperkenalkan adiknya. Mereka saling memperkenalkan diri. "Pinjemin baju lu dong, kasian dia basah kuyup?" Yana menarik adiknya jauh dari Aya.


"Ih,, apaan sih lu. Ngapain gue kasih baju gue ke dia?" Yuna melepaskan tangan kakaknya.


"Kasih pinjem! Dia kebasahan." kata Yana dengan suara setengah berbisik. "Pelit banget sih luh!" menarik lengan adiknya.


"Gak!" jawabnya ketus. "Nanti kalau dia punya penyakit kulit gimana?" jawabnya dengan lirih. Mendengar ucapan adiknya yang sembrono itu membuat Yana segera membekap mulutnya.


"Gak usah kok, Yan. Gue gpp" Aya mendengar percakapan mereka walaupun mereka sudah bicara dengan bisik-bisik.


"Duduk bentar ya, gue ganti baju dulu. Yuna bikinin teh hangat!" pinta Yana dengan mata membelalak seperti ingin menerkam adiknya karna ucapannya barusan yang membuat Aya sedikit tersinggung.


Yana naik ke atas kamarnya untuk mandi dan berganti baju. Yuna pun mempersilahkan duduk Aya dan membuatkannya teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya. Tak lama Yana turun dari kamarnya dengan membawakan handuk, baju ganti dan juga jaket untuk Aya.


"Ay ganti dulu deh. Pakai punya gue dulu, bersih kok. Gue juga gak punya penyakit kulit," sindirnya sambil matanya melirik ke adiknya.


"Udah cepet ganti, nanti masuk angin. Kamar mandinya di sebelah sana." menunjukkan kamar mandi yang ada di pojok ruangan.


Aya memang sudah tak nyaman dengan pakaiannya yang basah. Dia pun mengikuti ucapan Yana. Dia juga sudah sangat kedinginan, kulitnya tanganya saja sampai keriput. Selagi Aya mengganti pakaiannya, Yana pergi ke ruang makan. Dia tak melihat ada makanan yang bisa dimakan. Sepertinya si Mbok tidak mampir ke rumahnya hari ini. Yana hanya menenggak teh hangat yang dibuat Yuna. Yana duduk di teras rumahnya sambil menunggu Aya selesai mengganti baju. Aya keluar dari kamar mandi dan menghampiri Yana di luar.


"Makasih ya, Yan." memberikan handuk yang sudah selesai dipakainya.


"Oke. Gue anterin pulang sekarang." Yana menerima handuk dan bangun dari duduknya. Lalu melemparkan handuk ke wajah Yuna dengan sengaja. Dia sedang asik menonton tv sambil sibuk dengan cemilan di mulutnya. "Taruh di kamar gue!" secepatnya Yana menghilang sebelum diamuk Yuna.


"Reseeeeeee, lu!" teriaknya kesal. Dia sangat jengkel dengan keusilan kakaknya yang tak pernah absen setiap hari.


Yana menarik gas motornya, tapi tiba-tiba saja Mila datang ke rumahnya. Jelas Mila kaget melihat Aya bersama dengan Yana di rumahnya. Bukan hanya Mila, mereka berdua juga kaget melihat Mila datang. Ada urusan apa mereka berdua pikir Mila. Dia diam membisu dan hanya menatap keduanya dengan bingung. Mila bertanya-tanya, mengapa bisa Aya bersama dengan Yana di rumahnya? Sejak kapan mereka berdua dekat? Kenapa Yana tak pernah cerita padanya?


Yana jelas kaget dan gugup melihat Mila ada di depannya. Dia ikut membisu dan bingung menjelaskan ini pada Mila. Yana khawatir dia akan salah paham atau emosi seketika memuncak saat melihatnya dengan Aya. Yana memilih untuk tidak menjelaskannya sekarang karna waktunya tak tepat dan juga sudah cukup larut untuk mengantarkan Aya pulang.


"Mil, gue anterin Aya dulu ya. Nanti gue jelasin. Lu bisa tunggu di dalem sama Yuna. Gue tinggal bentar." tanpa basa-basi Yana langsung pergi meninggalkan Mila yang diam mematung.


Aya tak berucap apa-apa bahkan menyapa Mila saja tak berani. Dia hanya ingin segera pulang. Pikiran buruk menjadi semakin liar di otak Mila. Saat melihat mereka pergi begitu saja sebelum menjelaskan apapun padanya. Mila mengurungkan niat untuk berkunjung ke rumah Yana. Dia memilih untuk pulang lagi ke rumahnya. Padahal Mila berniat ingin main karna di rumahnya sangat sepi dan membosankan. Ayah dan Ibu belum juga kembali dari luar kota dan juga tidak ada kabar.


Sepanjang jalan pulang pikiran Mila kemana-mana. Emosinya mulai naik ke ubun-ubun. Setan di hatinya mulai mengadu domba tapi dia mencoba menghadirnya positif di pikirannya. Mereka saling bersautan menggebu-gebu. Mila tak mau lagi bersikap emosional seperti kemarin. Dia menarik nafas dalam-dalam dan perlahan mengeluarkannya. Terus dia lakukan sampai emosinya stabil.

__ADS_1


Yana menghentikan motornya di pinggir jalan. Dia langsung turun dan jalan menghampiri penjual ketoprak lalu duduk di sana. Aya terlihat sedikit bad mood karna Yana tidak langsung memulangkannya. Dia masih duduk di atas motor dan tak ingin turun dari sana. Pikirnya mau ngapain lagi Yana di sini. Entah apa yang sedang dilakukannya sekarang. Yana menganggukkan kepalanya menyuruh dia untuk turun tapi Aya menggeleng. Dia menolak karna ragu melihat tempat berjualannya terletak di pinggir jalan dengan penuh orang yang antri untuk memesan. Belum lagi debu di sekitar yang akan berkontaminasi dengan makanan itu. Maklumlah udah kelamaan main sama Cila. Jadi ya ke bawa sedikit gayanya. Yana terus menyuruhnya turun dan akhirnya dengan ragu dia turun dari motor dan menghampiri Yana.


"Kita ngapain sih?" katanya setengah berbisik seperti tak suka dengan tempatnya.


"Ya mau makanlah, masa belajar?" Yana memesan dua piring ketoprak untuk mereka berdua. "Makan dulu ya, gue laper banget asli. Tangan gue udah gemeteran." menunjukkan tangannya yang benar-benar gemetaran. Cacing-cacing di perutnya sudah berdemo arnakis sampai ke tangan.


Untung saja tak perlu menunggu lama, pesanan mereka sudah datang. Tanpa banyak kata Yana langsung menyantapnya seperti orang kelaparan dua hari. Aya melihatnya dengan terheran-heran. Dengan mulut belepotan bumbu kacang, Yana melihat Aya yang masih belum memakan makanannya.


"Makan kali jangan ngeliatin gue aja. Naksir nanti." katanya dengan cuek dan mulut yang di penuhi makanan.


Aya melirik sinis. "Gue gak makan ah." dia mendorong piringnya.


"Ya ampun, gue udah pesenin. Masa iya gak dimakan? Kenapa, Jijik?" balasnya sinis. Melihat Aya yang dari tadi hanya melihat sekelilingnya saja, seolah tak nyaman. "Gue yang ngejamin kalo lu sampe sakit perut. Udah cepetan makan. Kasian cacing di perut lu. Udah teriak kelaperan dari sore."


Ya memang perut Aya sudah keroncongan parah tapi dia gengsi aja makan di tempat seperti itu. Aya mencoba memakan ketopraknya sebagai rasa menghargainya pada Yana. Tapi lama kelamaan dia merasa enak dan ketagihan dengan makanannya. Dia menyendok lagi dan lagi. Yana hanya tersenyum melihatnya sambil masih terus fokus menghabiskan suapan terakhirnya. Aya yang tak kalah lahap dengan Yana, menghabiskan seluruh makanannya sampai tak ada satu bumbu yang tersisa. Yana menyodorkan segelas teh tawar hangat sebagai ******* terakhir. Aya menenggaknya sampai tetes terakhir. Setelah perut mereka terisi penuh, Yana membayar makanan mereka dan melanjutnya perjalanan mengantar Aya sampai ke rumahnya.


Di atas motor tidak ada pembahasan sama sekali, mereka saling diam karna perut yang sudah terisi penuh. Ya kenyang begok. Suasana malam setelah hujan dengan perut yang terisi penuh membuat mata mengajak untuk bersantai di kasur empuk dan terlelap dalam mimpi. Yana mengendarai motornya dengan lebih cepat agar segera sampai di rumah Aya.


"Thanks ya, Yan." sesampainya mereka di rumahnya. "Sorry banget, gue udah ngerepotin lu hari ini." Aya merogoh uang di sakunya dan menyodorkan uang 50 ribuan.


"Lu kira gue ojek!"


"Bukan gitu tapi kan tadi gue ikut makan."


Gak usah. Gue yang traktir." mendorong tangan Aya. "Gue seneng bisa di repotin lu." katanya dengan tersenyum, membuat hati Aya tersentuh dan terbang ke awang-awang.


Aya menaruh lagi uang di sakunya. "Sekali lagi makasih ya. Next gue bakal bales perbuatan baik lu ini." membalas senyuman Yana.


Mendengar Aya mengucapkan hal itu membuat Yana berpikir cepat. "Gue gak salah denger?"


"Kenapa? Bener dong? Kan lu udah bantuinn gue hari ini next gue yang bantuin lu." Tutur Aya lagi.


"Oke." Yana menarik senyumnya lebar-lebar. Seolah dia senang dengan perkataan Aya barusan. Rencananya hari ini membuahkan hasil yang baik.


"Oya. Mila gak marah kan ya lu anterin gue?" tanyanya sedikit khawatir dengan ekspresi Mila tadi di rumah Yana.


"Mungkin marah sedikit tapi nanti gue bakal jelasin ke dia. Cila juga pasti marah kalau sampai tau lu jalan bareng gue kaya gini kan. Ya gak jauh beda lah." nada suaranya berubah menjadi jutek. Aya tak melanjutkan pembahasan itu.


Yana pun berpamitan pulang karna nampaknya hujan akan turun kembali membasahi bumi. Tanpa sadar Aya melambaikan tangannya sampai bayang Yana hilang dari tatapannya. Aya masuk ke dalam rumah dengan tersenyum bahagia. Dia sepertinya terperangkap dalam situasi yang membuatnya menaruh simpatik pada Yana. Diperjalanan pulang Yana tersenyum lega karna berhasil membuat Aya ada dalam genggamannya.


Apakah Ana akan berpikir menjadi saksi untuk Mila? Bahwa Mila tak bersalah? Ataukah ia masih setia dengan teman-temannya?

__ADS_1


__ADS_2