
Terdengar suara mobil sedan memasuki halaman rumahnya. Mila sedang bersiap untuk berangkat ke sekolah. Dia melihat ke jendela dan tersenyum lalu segera berlari turun ke bawah. Ibu masuk ke dalam rumah dengan menggendong Lana yang masih tertidur. Dia meletakkan Lana di sofa ruang tamu. Lalu memanggil anak perempuannya yang sudah tiga hari di tinggalnya.
"Milaaa. Mila,,,,,? Kamu sudah berangkat?" teriak Ibu.
Suara khas itu terdengar lagi di rumahnya. Mila setengah berlari menuruni anak tangga. "Ibuuuuuuuuu,,,,," teriaknya saat melihat Ibu sudah kembali dan langsung memeluknya. "Ibu dari mana aja sih? Gak ada kabar. Mila kan khawatir." rengeknya manja.
"Maaf ya sayang. Di desa tempat teman Ayah tinggal itu susah sinyal. Jadi kami tidak bisa hubungi kamu. Kamu baik-baik saja kan?" Ibu memeriksa keadaan anaknya dari ujung kepala sampai kaki.
"Aku baik, Ibu. Kangen banget tau,,,,," memeluk Ibunya lagi dengan lebih erat.
"Sama Ayah gak rindu?" Ayah datang dengan menenteng koper.
"Rindu, Ayah." Mila memeluknya dengan manja. Ayah membalas dengan mencium keningnya seperti biasa. Mila melihat Lana yang tertidur di sofa. Menghampirinya lalu mencium pipinya. "I Miss you, Superman." Bisiknya pelan.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Ibu yang sibuk memasukkan kopernya ke dalam kamar.
"Nanti saja di sekolah, Bu. Mila berangkat sekarang ya, takut telat." Mila menyalami Ayah dan Ibunya.
"Jangan telat makan ya." kata Ayah dengan menahan tangan Mila.
"Siap, Bos." katanya dengan tersenyum lebar sambil hormat.
Mila keluar dari rumah dan melihat mobil biru sudah bertengger menunggunya di depan. Yaps! Itu adalah mobil Tian yang hari ini tanpa aba-aba datang untuk menjemputnya berangkat bersama ke sekolah. Mila hanya tersenyum sipu lalu menghampiri mobil itu. Tian menurunkan kaca mobil lalu menyapanya.
"Pagi, Mila." sapa Tian dengan senyum bahagia yang sangat jelas terlihat di wajahnya. Akhirnya dia bisa melihat Mila lagi, setelah beberapa hari absen sekolah.
Mila tak membalas, dia hanya tersipu. Lalu segera masuk ke dalam mobil. "Kenapa gak bilang kalau mau jemput?"
"Gpp, sengaja." senyumnya masih mengambang di bibirnya.
"Jangan senyum terus. Nanti aku salting, di senyumin gitu." Mila fokus menatap ke depan masih menahan senyumnya.
Tian menarik persneling mobilnya lalu mereka berangkat ke sekolah. Hari ini jadi hari pertama untuk mereka berdua dengan status lebih dari sekedar teman. Tian menyetel radio dan kebetulan mereka sedang memutar lagu yang mewakili suasana hati mereka berdua saat ini. Hari ini terasa begitu indah untuknya. Dimana dia bisa melihat Mila lagi di sekolah. Perasaan yang sama juga di rasakan oleh Mila. Dia senang bisa kembali ke sekolah dan bertemu dengan teman-temannya. Walau di hatinya masih ada rasa was-was akan apa yang akan terjadi nantinya di sekolah. Tapi dia tetap berusaha tenang dan yakin karna merasa tak sepenuhnya bersalah. Mila berharap semesta akan mengirim lagi malaikat penolong untuknya.
Seperti biasa Yana dan kawan-kawan sedang berkumpul di warung tongkrongan. Yana tampak senang menyambut Mila kembali lagi ke sekolah. Dia juga senang karna sudah mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Yana melihat mobil datang dan berhenti di depan mereka. Mila turun dari mobil dan melihat teman-temannya yang sedang berkumpul di sana. Seno langsung menggeser tempat duduknya untuk Mila duduk di sampingnya. Mila menyapa teman-temannya dan meminta maaf atas semua masalah yang di tumbulkan karnanya.
"Maafin gue ya. Waktu itu gue begok banget. Makasih udah mau sayang dan jagain gue selama ini." kata Mila dengan nada yang terdengar sendih dan menyesal.
"Kita udah maafin kok, Mil. Sekarang kita bareng-bareng selesain masalah lu ya. Kita buktiin kalau lu gak sepenuhnya bersalah." kata Amar memberi support.
"Gue seneng banget lu bisa masuk lagi. Gue kangen di judesin, di galakin, di ocehin sama lu! Pokoknya kita bakal bantuin lu." kata Seno penuh rindu. "Maafin gue ya kemarin udah galak sama lu." Seno mengulurkan tangannya. Mila tersenyum penuh haru lalu menjabat tangannya. Seno mengambil kesempatan untuk memeluk Mila tapi kali ini tidak ada penolakan. Mila mengizinkan Seno untuk memeluknya.
Tian yang datang setelah memarkirkan mobil melihat Seno sedang memeluk Mila. "Udah, jangan lama-lama! Lu mah sengaja. Cari kesempatan." melepaskan pelukan Seno dari Mila.
Lalu tongkrongan mereka ramai dengan tawa mereka bersama. Mila dapat melihat senyum teman-temannya lagi. Dia menyadari mereka semua tulus menyayanginya. Kebahagiaan yang gak akan pernah dilupakan. Dapat disayangi oleh teman-teman yang selalu menjaganya dengan baik. Mila berjanji tidak akan bersikap kekanak-kanakan lagi seperti kemarin dan juga lebih bisa mengontrol emosinya. Yana dan Tian yang terlihat paling bahagia melihat Mila bisa kembali. Mereka berdua adalah dua orang malaikat yang selalu ada untuk Mila.
Bel masuk sekolah berdering.
__ADS_1
Mila dan yang lain masuk ke dalam kelas. Mereka berpapasan dengan Genx AxePink. Cila dan Mila saling menatap. Saling melempar senyuman sinis sebagai salam pertemuan kembali. Sudah tiga hari berlalu mereka tidak bertemu. Aya yang berada di belakang teman-temannya melihat ke arah Yana sambil tersenyum simpul padanya. Qila yang melihat itu tertegun heran pada Aya. Yana sadar dirinya di tatap oleh Aya. Mila dengan sengaja menabrak bahu Cila dan membisikkan padanya. Kalau dirinya tak gentar sama sekali kali ini padanya. Meski dia masih belum tau apa yang akan terjadi hari ini tapi Mila percaya kebenaran akan datang pada waktunya.
Cila berusaha tetap tenang dan menahan kesalnya. Dia tak mau terpancing oleh Mila. Cila pikir ini masih terlalu pagi untuk mulai perangan dingin dengan Mila. Dia juga tak ingin aura buruk merusak kecantikannya hari ini. Dia sudah set tampilnya dari ujung kaki sampai ujung kepala agar tampak cantik untuk pertandingan futsal nanti. Mila berlalu sambil mengibaskan rambutnya ke wajah Cila. Cila menghentakan kakinya geram karna melihat Mila sudah kembali ke sekolah hari ini. Diana dan Netha manahan tangannya dan mencoba menenangkannya. Ayan tak perduli dengan teman-temannya. Dia memilih masuk sendiri ke dalam kelas. Qila sedikit melihat kejanggalan pada Aya dan segera menyusulnya masuk ke dalam kelas.
Bian melihat Mila masuk ke kelas dan menatapnya dengan hati campur aduk. Satu sisi dia senang melihatnya sudah kembali ke sekolah tapi di sisi lain dia bingung karna sekarang sudah ada tembok pembatas di antara mereka yaitu Qila. Bian secepatnya membuang jauh-jauh pikiran itu. Dia tak ingin memikirkan Mila lagi sekarang. Dia harus fokus pada hubungannya dengan Qila. Sekilas Mila melirik Bian sambil tersenyum remeh padanya dan langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat.
Sebagai sekretaris kelas Ayana di tugaskan ketua kelas untuk memanggil guru yang mengajar. Di susul Yana yang juga keluar kelas dengan alasan pergi ke toilet. Qila dan Mila menatap mereka dengan curiga. Sepertinya terjadi sesuatu antara mereka berdua yang mendadak menjadi dekat. Mila teringat kejadian semalam di rumah Yana. Tapi dia tak ingin membahasnya sekarang. Dia ingin fokus menyelesaikan masalahnya sendiri terlebih dahulu. Yana sudah selesai dari toilet dan berpapasan dengan Aya yang sedang membawa buku tugas kelas mereka. Mereka saling melempar senyuman. Yana berniat membantunya membawakan buku-buku itu tapi lagi-lagi Aya menolak. Yana kali ini mengerti dengan penolakan itu dan masuk lebih dulu ke dalam kelas.
Hari ini wali kelas mereka, Pak Hamzah, tak masuk ke dalam kelas. Beliau hanya menitipkan tugas pada Aya untuk dibagikan di kelas. Murid-murid mengerjakannya dengan serius. Mereka tak ingin membuat masalah lagi seperti minggu lalu yang mereka semua di jemur di lapangan. Di tengah-tengah mereka mengerjakan tugas, Pak Hamzah datang dan menyapa mereka semua dengan teriakan khasnya.
"Sudah selesai?" suara Pak Hamzah mengangetkan murid-muridnya.
"Selamat Pagi, Pak!" ucap seluruh murid.
"Oya, Selamat Pagi, Semuanya." katanya dengan sedikit malu. "Bagaimana sudah selesai?" ulangnya.
"Belum, Pak." jawab mereka serempak.
"Kalau begitu, untuk Mila dan Cila ikut Bapak dulu sebentar." perintahnya.
Mendengar namanya di panggil, membuat detak jantungnya mendadak berpacu kencang. Cila berdecak. "****! Apaan lagi ini?" dengan kesal dia menaruh pulpennya di meja.
Sejujurnya Mila pun sama, dia keringat dingin maju ke depan tapi dia tetap berusaha dengan santai menghampiri Pak Hamzah lalu mengikutinya keluar kelas bersama dengan Cila. Diana dan teman-teman yang lain saling berpandangan cemas. Hanya Aya yang bersikap cuek dan masa bodo. Dia sudah tidak peduli lagi dengan Cila dan fokus menyelesaikan tugasnya. Yana dan yang lain juga cemas tapi mereka percaya jika masalah Mila segera usai. Bisa terselesaikan dengan baik dan juga bisa terkuak yang sebenarnya.
Di ruang BK sudah ada Bu Siska, Pak Hamzah, Cila dan Mila. Pak Hamzah sebagai wali kelas mereka, mulai membuka pembicaraan tentang masalah anak muridnya yang sudah masuk sampai ke ruang BK. Mila menjelaskan masalah sebenarnya dari sisinya. Lalu bergantian dengan Cila yang menceritakan dari sisi dia. Pak Hamzah mulai mengurutkan permasalahan keduanya. Bu Siska menyimak dengan hati penuh sesal karna sudah mencoba menutup-nutupi kebenaran dan membela kesalahan Cila.
Pak Hamzah juga menjelaskan bahwa dirinya sudah mendengar dari salah satu saksi yang melihat kejadian itu dan kebetulan ada di tempat kejadian. Mendengar itu membuat Cila dan Bu Siska kaget gemetar. Mila yang mendengar itu juga ikut kaget karna dia tak menyangka Kakek yang di tolongnya waktu itu, sekarang berbalik menolongnya. Memang benar kata pepatah "apa yang kita tanam itulah yang kita tuai".
"Benar. Bapak tak menyangkal bahwa Mila tidak bersalah. Bahkan dia sudah jelas di hukum skors oleh Bu Siska karna ulahnya sendiri. Tapi yang kamu lakukan jelas lebih fatal dari Mila. Kamu malah dengan sengaja memfitnah teman kamu sendiri, Cila! Kamu bersekongkol dengan teman-teman kamu untuk menjebaknya. Seharusnya kamu tidak melakukan hal itu. Tapi kamu malah melakukan hal yang lebih parah dengan apa yang di lakukan Mila terhadap kamu. Apa kamu tak sadar itu? Kamu dan teman-teman kamu juga melakukan kesalahan, Cila. Apa itu dapat di benarkan, sebagai pembelaan? Jelas tidak!" kata Pak Hamzah dengan bijak.
Mereka semua terdiam termasuk Bu Siska. Beliau terlihat syok mendengar cerita sebenarnya. Pak Hamzah mengatur lagi emosinya, dia mencoba berlaku adil kepada murid-muridnya. Walaupun beliau terlihat condong sebagai pemarah dan cuek tapi sebenarnya dia sangat sayang terhadap murid-murid kelasnya yang mana itu adalah tanggung jawabnya sebagai wali kelas mereka. Beliau tak ingin mereka melakukan kesalahan yang tak masuk akal hanya karna ambisi masa remaja mereka.
"Cila, akuilah kesalahanmu dan minta maaf pada Mila." kata Bu Siska yang akhirnya bersuara setelah sekian lama terdiam.
Cila mendengar hal itu keluar dari mulut Bu Siska menatapnya penuh kesal. Dia mengepalkan tangannya, menahan emosinya. Ingin sekali dia marah pada Bu Siska yang berjanji akan membelanya. Mendengar hal itu membuat Mila tersenyum sinis penuh kemenangan. Akhirnya dia berhasil membuat Bu Siska malu akan sikapnya waktu itu terhadapnya. Kata maaf tak juga keluar dari mulutnya. Cila masih bersih kukuh kalau dirinya tak bersalah dan enggan untuk meminta maaf ke Mila. Jika dia sampai mengucap maaf pada Mila itu sama saja dengan dia mengaku kalah padanya.
"Jadi masih merasa diri kamu benar, Cila?" Pak Hamzah dengan sabar menyadarkan Cila. "Baiklah, saya akan bawakan bukti satu lagi untuk menyadarkan kamu." Pak Hamzah membuka ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. "Mana bukti yang kamu janjikan?"
Yana menarik tangan Aya keluar dari kelas.
"Ada apa sih?" Aya melepaskan tangan Yana.
"Gue mau nagih ucapan lu yang semalam." kata Yana to the point.
"Oke" ucapnya tegas.
"Bantu gue dengan jadi saksi Mila sekarang. Gue mau lu jujur dan bilang kalau Mila memang gak sepenuhnya bersalah." Yana memegang bahu Aya dan menatap mata.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Aya bak tersambar petir di siang bolong. Dia terperanga seolah tak percaya dengan apa yang barusan didengarnya langsung dari mulut Yana. Hatinya mendadak sakit, sesakit putus cinta. Bibirnya membeku untuk berucap. Matanya berkaca-kaca. Dia kecewa bukan pada Yana tapi dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia menaruh harap pada orang yang jelas-jelas musuhnya. Dia langsung berdecak. "Jadi lu nolongin gue kemarin-kemarin karna ada maksud ini? Gue kira lu tulus. Tapi ternyata, lu sama aja kaya temen-temen gue, picik!" katanya dengan penuh kecewa. Aya membuang muka. Yana diam tak menjawab, kata-kata Aya seolah menampar keras wajahnya. "Gue gak bakal ingkarin ucapan gue!" Aya pun mencari nomor Yana di grup kelas dan memberikan rekaman suara yang dia simpan saat kejadian Cila menabrakan mobilnya sendiri.
Ponsel Yana berdering. Ada pesan masuk di nomor tak di kenal, nomor Aya. Yana membuka pesan itu dan mendengarkan pesan suaranya. Aya kembali masuk lagi ke dalam kelas tapi tangannya ditahan Yana. Aya menepis kencang tangannya, dia sudah tidak peduli pada Yana. Ada rasa iba yang muncul di hati Yana tapi dia tak menggubris hal itu dan segera pergi ke ruang BK. Aya balik ke mejanya dengan wajah kesal dan air mata yang seperti ingin jatuh ke bumi. Diana dan Netha mencoba mengintrogasinya namun dia sama sekali tak menjawabnya.
Kedatangan Yana ke ruang BK membuat Mila dan Cila bingung. Untuk apa dia sampai datang kemari? Apa dia punya bukti yang lain? Pertanyaan itu terlintas di pikiran keduanya. Yana langsung memberikan ponselnya pada Pak Hamzah dan memutar rekaman suara yang di dapat dan telah dia dengar sebelumnya untuk memastikan.
Pak Hamzah, Bu Siska, Cila dan Mila dibuat kaget akan isi rekaman suara itu. Dari sana mereka semua akhirnya tau. Betapa piciknya Cila dan teman-temannya yang memang sengaja merencanakan kecelakaan itu untuk memfitnah Mila. Pak Hamzah menatap Cila dengan marah dan kecewa begitu juga dengan Bu Siska. Cila syok mendengar rekaman itu, dia hanya diam tak berkutik. Wajahnya memerah kesal sambil tangannya sibuk meremas ujung roknya. Cila malu bukan kepalang. Dia berpikir kok bisa sampai Yana mempunyai rekaman suara itu? Suara dia dan teman-temannya pada waktu kejadian itu. Dari mana dia mendapatkannya?
Mila menatap Cila penuh kemenangan dan tersenyum haru pada Yana. Mila senang akhirnya ada satu bukti lagi yang datang padanya. Dia tak habis pikir Yana bisa melakukan itu. Bagaimana caranya? Tapi dia tak peduli itu sekarang. Yang penting sisa hukumannya dapat di hapus dan orangtuanya tak perlu datang ke sekolah.
"Oke, sekarang sudah jelas semua! Cila kamu dan teman-teman kamu bersalah. Kalian akan saya hukum sama seperti hukuman Mila kemarin. Bapak akan skors kamu dan teman-teman kamu yang terlibat. Untuk Bu Siska sekarang sudah jelas bukan? Masalah murid kelas saya sudah selesai. Sekarang biarkan saya yang menyelesaikannya dan memberikan hukuman kepada mereka semua. Hukuman yang sama dengan hukuman yang Ibu berikan kepada Mila."
"Baiklah, Pak. Untuk Mila, Ibu minta maaf ya. Tapi lain kali jangan berseteru seperti ini lagi. Kalian bukan anak kecil lagi. Untuk Cila, saya sangat kecewa dengan kamu! Kamu keterlaluan! Kalau mau bersaing, bersaing otak. Bukannya saling menikam. Mengerti?"
Mila hanya tersenyum mendengar ucapan Bu Siska. Mila sudah memaafkannya meski hatinya masih sedikit kecewa. Atas sikapnya tempo hari yang tak mau mendengarkan penjelasannya. Mereka semua keluar dari ruang BK dan kembali ke dalam kelas. Cila berjalan paling belakang dengan wajah tertunduk ke lantai. Hatinya kesal sekesal kesalnya. Dia menaruh dendam dengan orang yang merekam suaranya itu. Sedangkan Mila sudah bisa tenang sekarang. Yana merangkulnya dengan senang.
Saat masuk ke dalam kelas, semua pandangan tertuju pada mereka yang baru saja kembali dari ruang BK. Pak Hamzah mempersilahkan Yana untuk kembali ke kursinya. Cila dan Mila masih di suruh untuk berdiri di depan kelas. Pak Hamzah masih terlihat kecewa dengan tingkah anak-anak muridnya. Beliau duduk dan sedikit mengatur nafasnya sebelum memulai pembicaraan.
Anak-anak kelas menjadi bingung dengan situasi macem ini. Entah apa yang sedang terjadi lagi dengan Mila dan Cila. Mila terlihat lebih percaya diri sekarang. Dia berdiri tegak menatap teman-teman yang ada di depannya. Sedangkan Cila tertunduk lesu menatap lantai kelasnya. Saat Pak Hamzah siap untuk berbicara. Bel pelajarannya selesai. Pak Hamzah hanya menggaruk-garuk kepalanya lalu menyuruh Aya untuk memanggil guru yang akan mengisi kelas mereka selanjutnya.
Pak Hamzah bersiap meninggalkan kelas tapi Aya datang dan membawa kabar bahwa guru yang akan mengajar selanjutnya absen tidak hadir. Pak Hamzah menaruh lagi bukunya kembali dan melanjutkan pembicaraan yang tadi ingin di sampaikannya.
"Baiklah karna guru selanjutnya absen, tidak hadir. Bapak yang akan gantikan." dengan suara dan wajah yang tampak serius. Pak Hamzah lalu memanggil muridnya satu persatu. "Diana, Netha, Qila dan Ayana. Maju ke depan!" katanya dengan tegas memanggil mereka semua.
Yang namanya di panggil maju ke depan dengan rasa gugup dan ketakutan luar biasa. Perasaan mereka langsung tidak enak. Mereka berdiri bersama dengan Cila dan Mila. Pak Hamzah mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan mereka yang ada di depan sekarang. Bian dan teman-teman yang lain melihat mereka dengan bingung. Beda dengan Yana dan teman-temannya yang sudah tau apa yang akan terjadi.
"Lain kali jika kalian melakukan hal ini lagi. Kalian semua akan Bapak keluarkan dari sekolah." Pak Hamzah berbicara dengan mereka yang ada di depan. "Mulai besok Cila dan teman-temannya akan di hukum, skors selama tiga hari. Sama seperti Mila kemarin." katanya dengan tegas.
"Loh, Pak. Kenapa kita di skors juga? Salah kita apa pak?" Netha yang tak terima dirinya tiba-tiba kena hukuman. Matanya melihat ke arah Cila yang dari tadi hanya menunduk.
"Karna kalian masih bertanya salah kalian apa? Maka, Bapak akan putarkan rekaman yang membuat kalian akan paham dan teman-teman kelas kalian juga akan paham." Pak Hamzah mengambil ponselnya dan memutarkan pesan suara yang di kirim Yana.
Cila menutup wajahnya, malu. Seisi kelas sekarang tau tentang masalah yang dia dan genxnya buat. Mereka semua langsung menatap Cila dan teman-temannya dengan tatapan kecewa dan juga ikut kesal. Apalagi Bian yang merasa di bohongi dan dikecewakan dengan Qila. Tian dan teman-temannya mulai geram dengan kelakuan Cila juga teman-temannya. Arsya menyenggol Bian dan menanyakan apakah itu benar? Namun Bian tak bisa menjawab. Sekarang semuanya sudah terbukti bahwa Mila tidak sepenuhnya bersalah. Bian menatap Mila dengan tatapan penuh penyesalan. Mila sadar Bian menatapnya dan dia membalas dengan senyuman. Senyuman yang tujuannya untuk Tian.
"Sekarang kalian harus meminta maaf ke Mila." perintah Pak Hamzah.
Diana dan yang lain melihat satu sama lain. Aya melakukan lebih dulu, dia meminta maaf pada Mila. Mengulurkan tangannya tapi Mila hanya sebentar menjabat tangannya. Begitu juga dengan Netha, Diana dan Aqila. Tinggal Cila yang masih berdiri terpaku dan tak mau meminta maaf pada Mila. Lalu teman-teman bersorak sorai meneriakinya. Pak Hamzah hanya menggelengkan kepalanya melihat sifat angkuh Cila. Mila yang tak ingin mereka lebih merundung Cila akhirnya bersuara.
"Gue tau lu gengsi. Gue minta maaf dan gue udah maafin lu! Lu gak perlu minta maaf kalau emang gak mau. Yang penting sekarang terbukti gue gak sepenuhnya salah. Lain kali cubit dibales cubit, pukul dibales pukul, bukannya fitnah!" kata Mila dengan menohok berharap Cila sadar.
Mendengar ucapan Mila membuat anak-anak makin bersorak kecewa pada Cila yang dirasa tak bersikap dewasa dan mengakui kesalahannya. Seno semakin gemas dengan Cila yang tak ingin minta maaf. "Kalo bukan cewe udah gue cubit pipinya pake tang jepit!" serunya ke teman-temannya.
Amar mencoba menenangkan Seno, "Udah sabar! Yang penting Mila sekarang udah bisa balik lagi ke sekolah."
"Rencana kita gak sia-sia." kata Wahyu tersenyum dan merangkul Yana.
Yana hanya tersenyum simpul sambil menatap ke arah Aya dengan rasa tak enak hati yang muncul di sela-sela hatinya. Tian masih terus menatap Mila dengan tersenyum bahagia. Pak Hamzah pun menyudahi masalah ini dan menyuruh mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Qila melihat Bian dengan perasaan menyesal. Bian jelas kecewa padanya. Mila berjalan ke tempat duduknya dan di sambut bahagia oleh teman-temannya.
__ADS_1
"Welcome Back, Aksara Mila" teriak Seno. Mendengar itu membuat Mila dan teman-temannya tertawa senang.
Apapun yang akan kau tanam itu juga yang akan kau tuai.