
Akhir pekan telah berakhir. Waktunya mereka kembali ke sekolah dengan segudang aktivitas dan tugas-tugasnya. Pelajaran mereke di hari senin setelah upacara adalah penjaskes. Selepas upacara bendera mereka bergegas berganti pakaian olahraga. Hal paling menyebalkan bagi genx axepink. Karna mereka harus panas-panasan dan berkeringat yang akan membuat penampilan mereka berantakan.
"Males banget tau kalau udah hari senin!" keluh Cila sambil tanganya sibuk menggulung lengan bajunya yang kepanjangan.
"Ya terus mau bolos lagi? Mau alasan apa kali ini, Cil?" saut Naina mematahkan keluhan Cila.
"Ya gak gitu juga, tapi sebel aja gue! Udah harus panas-panasan pas upacara ditambah harus keringetan lagi buat olahraga, bikin bau ketek!" Cila sibuk menyemprotkan parfum di seluruh bajunya. "Ngerusak penampilan gue aja,,," dumelnya lagi, sambil keluar dari toilet.
Peluit terdengar dari lapangan. Mereka berlari menuju lapangan. Pak Rizal sudah siap dengan peluit yang menempel dibibirnya.
"CEPAT!" teriak Pak Rizal.
Mila segera keluar dari bilik kamar mandi mendengar teriakan Pak Rizal. Dia sengaja keluar belakangan karna tak ingin adu mulut dengan Cila. Dia menyimpan tenaganya untuk olahraga bukan olahmulut dengan Cila. Dan juga kakinya masih terasa sedikit sakit karna insiden di ice skating kemarin.
Mereka berkumpul dan berbaris melakukan pemanasan sebelum melakukan olahraga yang berat. Dengan wajah be-te Cila melakukan gerakkan yang diarahkan oleh pak Rizal. Sedangkan para lelaki mereka melakukannya dengan wajah bersemangat. Bagi kaum mereka mata pelajaran ini yang mereka tunggu-tunggu karna bisa bermain sekaligus berolahraga. Terbebas dari beban-beban di otak mereka.
"Oke cukup pemanasannya. Hari ini Bapak akan ambil nilai lompat jauh kalian." Pak Rizal berjalan ke tempat pengambilan nilai diikuti oleh murid-muridnya. "Untuk absen pertama sampai absen kelima siap-siap dan berbaris sesuai urutan, yang lain bisa duduk di pinggir lapangan."
Mila mendecak kesal. Kakinya saja belum sembuh ini sudah harus lompat jauh segala. Mila memutar-mutar kakinya yang masih sedikit sakit. Berharap dia akan kuat dan tak cengeng untuk dipakai lompat. Pak Rizal bersiap diujung lapangan berpasir itu. Amar sebagai absen pertama bersiap-siap di baris paling depan, diikuti oleh Mila, Arsya, Aqila, dan Diana.
"Ahmad Amar, lompat!" teriak Pak Rizal.
Amar dengan semangat yang menggebu-gebu dan langsung mengambil ancang-ancang untuk segera melompat. Ya seperti kalian tau, dia si pencinta olahraga tentu berhasil dan meraih nilai 85 karna lompatan kakinya yang cukup jauh.
"Aksara Mila, lompat!" teriak Pak Rizal lagi setelah mencatat nilai Amar.
Dengan gugup Mila bersiap-siap untuk lompat. Mila tak berharap nilainya akan setinggi Amar. Asalkan tak perlu mengulang cukup baginya. Daripada memaksa yang malah nanti akan membuat kakinya jadi makin sakit. Mila pun berhasil meraih nilai 70. Nilai yang standar untuknya. Mila bangkit dan mengibaskan pasir yang menempel di bajunya.
"Santai dong Mba!" teriak Cila yang terkena cipratan pasir Mila.
Mila tak menghiraukannya, berpura-pura tak mendengar ocehan Cila. Mila kembali bergabung di pinggir lapangan bersama teman-temannya. Tian melihat kaki Mila yang sedikit berjinjit. Tian menanyakan apa kakinya masih terasa sakit dan Mila hanya menggeleng.
"Aqila Maharani, Lompat!"
Keringat dingin mengalir di dahi Qila. Dia terlihat gemetaran. Ketika ingin melompat, kakinya tergelincir karna pasir yang licin. Membuatnya tak siap dan langsung terjatuh. "Awww,,," Qila tersungkur diangka 65.
"Aqila! Liat-liat dong! Ulangi,,,!" teriak Pak Rizal lagi, merasa Qila tidak serius. Bian melihatnya dengan cemas. Qila mengulangi lompatannya namun tak berhasil juga dan kembali mendarat di angka 65. Pak Rizal hanya menggelengkan kepala melihatnya. "Sudah, kamu boleh duduk." dengan kecewa Pak Rizal mencatat nilai Qila.
"Baik, Pak." katanya dengan lesu. Saat ingin bangun kakinya terasa sakit. Melihat qila kesakitan lantas dengan sigap Bian mengulurkan tanganya. Melihat hal itu, cepat-cepat Mila memalingkan pandanganya ke arah lain.
Cila tersenyum sinis dan melirik ke arah Mila. "Aaaahh,,, sweet banget sih, Biann." teriak Cila dengan sengaja memanasi Mila. Cila and the genk tau kalau Mila pernah punya perasaan dengan Bian. Entah tau dari mana mereka tapi yang pasti dari si biang gosip, Diana. Saat mengetahui hal itu mereka jadi mulai santer menjodoh-jodohkan Qila dengan Bian. Mereka merencanakan agar Qila bisa menang dari Mila kali ini.
"Thanks, Bi." Qila tersenyum dan menerima uluran tangan dari Bian.
"Gpp?" tanya Bian dan dijawab dengan anggukan Qila. Bian membantunya ke pinggir lapangan dan menempatkannya diantara teman-teman genknya.
Untuk pengambilan nilai kali ini dilakukan dengan baik oleh anak cowok. Tian melakukan lompatan dengan baik dan mendapat nilai 85, sama dengan Amar. Lalu Bian mendapat nilai tertinggi 90 bersama dengan Yana. Nilai tertinggi cewek di raih oleh Isyana yaitu 80.
"Seno. Kemana ini si Seno?" tanya Pak Rizal, melihat Seno tak kunjung datang di barisan.
"Iya, Pak." saut Seno sambil berlari dari arah kamar mandi.
"Sudah siap belum?" Pak Rizal memberikan aba-aba.
"Siiapp, Pakk!" Seno bersiap mengambil ancang-ancangnya. Dengan gaya percaya dirinya, dia berniat mendapatkan nilai diangka 95. "Liat nih yah gue bakal kalahin lu, Yan!" Seno menunjuk ke arahnya. "95 i'm coming bebeh, yeaahhh!!!" teriak Seno dengan PDnya. Yana dan yang lain hanya mengangguk remeh.
Dan benar, siapa sangka ketika Seno akan melompat kakinya tergelincir oleh pasir seperti Asty. Lalu menyebabkan dia terperosok ke dalam pasir. Seno tersungkur dengan wajah yang mencium pasir. Membuat semua anak-anak yang melihatnya tertawa terbahak-bahak. Seno dan Wahyu memang tipikal orang yang selalu membangkitkan tawa bagi teman-teman sekelasnya. Tingkah laku dan celotehanya sering kali membuat dirinya sendiri menjadi bahan tertawaan anak-anak sekelas.
"HAHAHAHA! Senooo, Senooooooo. Kebanyakan gaya sih luhhhhh!" teriak Wahyu dengan tertawa geli melihat temannya yang kena sial itu
"Hahahahaahhaha, makan tuh 95!" Amar yang tertawa puas melihat temannya bernasib buruk karna ulahnya sendiri.
Yana, Mila dan Tian ikut tertawa geli sampai perut mereka sakit. Pak Rizal hanya menepok jidat sambil tertawa malu melihat kelakuan muridnya satu ini. Wahyu sampai tertawa guling-guling sangking gelinya. Ya lumayan lah karna Seno suasana menengangkan sebelumnya menjadi menyenangkan bagi mereka semua.
"Ahhhhh, Njirrrr!" Seno membersihkan pasir di mata dan mulutnya. "Weh, Yan. Sengaja kan lu! Pasirnya lu bisikin biar gue nyungsep!" guyon Seno untuk menutupi malunya karna ditertawakan teman sekelasnya.
__ADS_1
"Bagus itu lu cuma nyungsep. Coba kalo lu ngejeledak. Lebih parah lagi." teriak Yana masih dengan tawanya menanggapi temannya yang aneh satu ini. Bisa-bisanya dia masih bercanda di tengah-tengah malunya.
"Sudah-sudah, Seno! Ada-ada aja tingkah kamu ini." Pak Rizal menyudahi tawanya.
"Yah, Pak. Ulang dongg!" protes Seno yang tak puas dengan nilainya.
"Gak usah. Sudah tidak cukup waktunya. Keluar dari sana Seno, cepat!" katanya. "Shila, ayo cepetan! Sudah mau habis ini waktunya. Giliran kamu sekarang yang terakhir."
Sekarang giliran Cila yang mengambil nilai. Dia meminta terakhir untuk diambil nilainya dengan alasan tidak siap. Sedangkan Seno harus izin ke toilet dulu karna sakit perut. Support dari teman-teman genknya yang membuat Cila sedikit lebih percaya diriĀ untuk mendapat nilai lebih di atas Mila. Cila memang selalu ingin lebih unggul dari Mila dalam segala hal. Walau Mila tak pernah memikirkannya.
"Shila, siap yaaa. Gak ada alasan lagi untuk gak siap!" Lompat Shila!" teriak Pak Rizal.
"Ya, Pak." Cila memperhatikan pasir-pasir itu. Ada rasak jijik yang membuatnya merinding. "Aaaaahhhhh," teriak manja Cila dan hanya melompat pendek di angka 60. Angka yang paling rendah diantara semua teman-temannya. Cila memang tidak bersungguh-sungguh untuk mengambil nilainya. Rasa geli karna harus bersentuhan dengan pasir kotor itu, membuatnya enggan untuk serius mendapatkan nilai bagus dan tak peduli kalau kali ini dia harus kalah dari Mila.
"Hei, Shila. Sudah minta belakangan sekarang cuma lompat pendek seperti itu! Kamu ini ya, tidak sungguh-sungguh! Kamu saya kasih nilai 60 dan gak bisa di ulang lagi." tegur Pak Rizal.
Cila tak menghiraukan perkataan gurunya itu. Dia tak memperdulikan nilainya, yang diperdulikanya hanya kecantikan dirinya. Cila tak ingin kulitnya bersentuhan dengan hal-hal yang menjijikan seperti itu. Teman-teman yang lain hanya melihat Cila dengan sinis. Ratu kelas yang tak mau terlihat kotor ini, selalu ingin terlihat cantik dan sempurna di depan semua orang. Padahal itu malah mencerminkan bahwa dirinya tak lebih cantik dari si itik buruk rupa. Mereka memandang Cila dengan pandangan menjijikan karna sikapnya yang sok perfectionist. Mila melihat tingkahnya dengan tersenyum sinis diujung bibirnya.
Bel istirahat berbunyi pelajaran pun selesai. Anak-anak kembali ke dalam kelas, membersihkan diri dan berganti baju.
"Aduhhhhhh kulit gue jadi kotorkan. Yah, gagal deh perawatan gue. Makin jelek dong gue!" sindir balik Mila ke Cila, membalas sindiranya di lapangan tadi.
"Nyindir lu!" saut Cila mendengar perkataan Mila.
"Ihh merasa ya, Mbanya. Berarti beneran jelek dong!" entah dapat energi dari mana Mila meladeni percekcokan dengan Cila kali ini.
"Maksud lu apa!" Cila menghampiri Mila dan mendorongnya.
"Santai dong lu! Main fisik lagi." dorong balik Mila. Dia mulai terpancing emosi. Mila paling tidak suka jika ada yang main fisik dengannya.
Teman-teman sekelasnya hanya menyimak mereka berseteru. Semula hanya adu mulut saja tapi lama-lama mereka adu fisik. Tidak ada yang melerai mereka berdua. Mungkin mereka juga lelah usai pengambilan nilai. Yana dan Tian tidak ikut campur karna teringat pesan Mila yang tak ingin dibela ketika berseteru dengan Cila and the genk, tapi tetap memperhatikan dengan cemas.
"Udah, stop! Apaan sih? Berantem terus." Lerai Bian memegang bahu Mila menjauhkannya dari Cila.
"Aaaahh!" rintih Bian yang tangannya terbentur lantai akibat melindungi kepala Mila. Sedangkan Mila hanya diam dan manahan sakit pada punggungnya. Mereka saling berpandangan, Bian yang sadar akan posisinya mulai bangkit dan duduk di samping Mila. Mereka tak bisa berkata-kata atas kejadian menegangkan itu.
Mila yang sadar dari lamunanya langsung bangkin dan makin geram dengan tingkah Cila yang benar-benar sudah main fisik dengannya. Mila menghampiri Cila kembali untuk membalas perlakuannya. Tapi,,,
"Mil, udahlah!" tangannya ditahan oleh Bian. Mila yang masih emosi harus menahan emosinya. Cila yang takut melihat amarah Mila, meninggalkannya dan pergi ke toilet diikuti oleh teman-temannya.
"Bii, gpp kan? Sakit yaa? Mana yang sakit?" Qila menghampiri Bian yang masih duduk dengan tangan yang memegang tangan Mila.
Mila yang keduluan Qila melepaskan genggaman tangan Bian dan pergi keluar dari kelas. Tian membiarkannya keluar sendiri dan sengaja tak mengejarnya. Tian mengulurkan tangannya membantu Bian untuk bangun lalu menyerahkannya ke Qila. Mila berlari keluar sekolah dengan menahan rasa kesalnya dengan Cila. Rasanya ingin sekali menjambak rambut Cila yang sudah berani main fisik dengannya.
"MILA! Mil,,," teriak Yana mengejarnya keluar sekolah.
Amar, Wahyu dan Seno yang sudah ada di warung melihat Mila berlari ke arah mereka. Mereka ada di sana lebih dulu karna setelah bel berbunyi mereka langsung pergi tanpa mampir ke kelas lebih dulu. Jadi mereka tidak tau kejadian Mila dan Cila di kelas tadi. Mila datang dengan pipi yang basah karna menangis membuat mereka bertiga jelas bingung.
"Mila, kenapa itu?" ucap Wahyu yang sedang menghisap rokoknya.
Seno yang sedang berdiri sambil menengak air minum melihat kearah Mila. Mila berlari kearah Seno dan langsung memeluknya. Seno tersedak karna kaget dan juga karna air yang masih memenuhi mulutnya. Yana berlari diikuti Tian dari belakang menyusul Mila. Seno seperti mendapat rezeki nomplok hari ini karna bisa di peluk oleh Mila.
"Kenapa Mil?" Seno yang kaget, entah karna Mila menangis atau karna senang dipeluk olehnya.
"Mil, udahlah jangan nangis gituuuu. Gue tau lu kesel, tapi udahlah ya. Yaudah sini sama gue aja nangisnya," Yana mencoba menenangkan Mila.
"Udah biarin dulu napa, Yan!" kata Seno kesal karna Yana mengganggu momentnya.
"Kesenengan elu!" Yana menoyor kepala Seno.
Tian menghampiri mereka dan melihat Mila yang sedang nangis dipelukan Seno. Tian berdiri di belakang Seno dan memegang tangan Mila. "Mila,,," Mila pun melepas pelukannya dari Seno dan berpindah ke dirinya.
"Aihhhh, Tian. Ganggu ajaaa, heran." kata Seno kesal karna Tian menganggunya. Tian mendorong muka Seno menjauh dari Mila.
"Kenapa lagi sih, Yan?" Amar menarik tangan Seno, menyuruhnya untuk duduk saja.
__ADS_1
"Biasa berantem sama Cila." Yana mengambil rokok dari kantong Amar.
"Kalah?" tanya Seno.
"Kaga! Bersambung! Nahan kesel dia, makanya nangis."
Tian menepuk-nepuk bahu Mila mencoba menenangkannya dan menghilangkan amarahnya. Yana memberikan air ke Tian untuk dia berikan pada Mila. "Duduk yuk. Minum dulu biar tenang," Mila melepas pelukannya.
Di tempat lain Qila sedang mengobati siku Bian yang terbentur lantai. Walau dalam hatinya kesal karna Bian selalu saja menjadi pahlawan untuk Mila. Namun dia berusaha menahan kekesalannya. Dia tak ingin Bian berprasangka buruk terhadapnya karna menjelekan Mila. Qila tetap yakin bisa memenangkan hati Bian sepenuhnya meski harus berpura-pura baik di depannya.
"Awww,,," Bian menahan perih lukanya.
"Sorry, Bi." Qila meniup siku Bian. "Lagian kamu ngapain sih selalu aja bantuin Mila?" kekesalan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Kecemburuannya terhadap Mila sudah begitu memuncak sejak kejadian di toko buku.
"Kamu kok gitu sih? Ya masa teman lagi ribut gak dipisahin." tegur Bian.
"Teman kamu bilang?" Qila berdecak kesal. Dia tau perasaan Bian ke Mila lebih dari sekedar teman. "Pahlawannya Mila tuh banyak! Kamu gak perlu juga sosoan jadi pahlawannya dia!" Qila melempar kapas yang dipegangnya dan pergi meninggalkan Bian sendiri di lapangan.
Bian sedikit tertampar karna perkataan Qila barusan dan sedikit menyesal karna membuatnya marah dan pergi. Bian di ambang perasaan membingungkan antara terus melanjutkan perasaannya pada Mila atau beralih pada Qila yang mulai menaruh perhatian padanya. Bian menghela putus asa dan menyandarkan kepalanya di kursi.
Mila sudah lebih tenang sekarang, emosinya sudah dapat dikontrol lebih baik.
"Mil, lain kali kalo gak bisa nahan emosi lari aja ke gue langsung. Gue siap kok dipeluk elu." kata Seno dengan PD-nya.
"Kepepet tadi juga, Sen." saut Mila yang sedang memakan ice cream.
"Gpp, Mil. Mau itu kepepet kek, terpaksa kek apalagi sengaja. Asalkan dipeluk elu gue siap kok." katanya lagi dengan penuh harap.
"Gak usah didengerin dia mah, Mil. Otaknya gesrek akibat jatuh di pasir tadi. Ya jadi begitulah." celetuk Wahyu mengingatkan kejadian tadi di lapangan lompat jauh. Lalu mereka semua tertawa teringat akan kejadian mengocok perut itu.
"Makan tuh 95. Yang ada lu nyungsep ke pasir. Enak gak, Sen? Pasir rasa tai kucang,,,?" ledek Yana dan mereka semua tertawa terbahak-bahak.
"Bangkee lu, Yan!" saut Seno kesal tapi tetap ikut tertawa.
"Ahh udahlah, cape ketawa terus." kata Mila menyudahi tawanya. "Gue mau ganti baju, duluan ya." Mila pergi meninggalkan teman-temannya yang masih asik menertawakan Seno.
"Tian, ikutin deh dari pada berantem lagi. Masih kesel itu dia,." perintah Yana pada Tian.
"Tau lu, Tian! Apa gua aja yakk? Yakali gue bisa dipeluk lagi nanti." Seno yang bersiap bangun untuk mengejar Mila tapi kerahnya langsung ditarik oleh Tian dan dia yang pergi menyusul Mila. "Yahh, Tian. Udah gue ajaaa." Teriak Seno. Amar yang tepat berada di sampingnya lalu menyumpal mulut Seno dengan donat yang sedang dimakannya.
Bian masih duduk di pinggir lapangan dan masih mengobati memar ditangannya sendiri. Mila yang baru masuk lagi ke sekolah melihat Bian ada di sana dan menghampirinya. Dia berniat untuk meminta maaf padanya.
"Sini gue bantu." Mila mengambil kapas dari tangan Bian dan duduk di sampingnya. "Sorry ya, gara-gara gue jadi memar gini." dengan hati-hati dia mengoleskan betadine pada siku yang memar itu. Bian tak menanggapi ucapan Mila. Dia hanya memperhatikan Mila yang sedang serius mengobati lukanya. "Kok gak jawab? Marah ya?" Mila menengadahkan wajahnya yang tepat berada di depan wajah Bian. Mereka jadi saling menatap dan membuat Mila sedikit salah tingkah. Secepatnya dia menarik wajahnya menjauh dari Bian.
Bian menahan senyumnya melihat ekspresi wajah Mila. "Engga. Gak marah kok." jawabnya singkat.
"Lah, singkat gitu jawabnya?" Mila mengira Bian benar marah padanya. Mendengar jawabannya yang begitu singkat. Jadi dia memilih bangkit dan meninggalkan Bian.
Tak sengaja Bian melihat Tian yang sedang melihat ke arah mereka. Lalu dengan sengaja dia menarik tangan Mila. "Masih punya janji buat pulang bareng kan?" kata Bian mengingatkan janjinya.
"Oke." Mila langsung mengiyakan ajakan Bian kali ini. Mila merasa Bian sudah banyak menolongnya. Jadi itung-itung tanda terima kasih lah.
"Oke. Gue tunggu nanti di persimpang jalan." katanya dengan senang hati. Kali ini ajakannya berhasil di iyakan oleh Mila.
Tian mengepal tangan dengan raut wajah menahan kesal. Mendengar percakapan Mila dan Bian yang janjian untuk pulang bersama. Bian dengan sengaja melakukannya karna melihat dia ada di sana. Sepertinya kali ini dia beneran mengajak Tian bersaing secara nyata untuk mendapatkan hati Mila. Tapi bagaimana dengan Qila?
Mila masuk ke dalam kelas. Dia menatap Cila dengan tatapan perang. Mila menghampiri Cila dan membisikkan sesuatu di telinganya. "INGET YA! Gue masih punya urusan fisik sama lu! SO WAIT FOR THE SURPRISE, HONEY!" bisik Mila dengan mimik wajah yang di buat-buat. Cila hanya tersenyum sinis dan meremas kuat roknya, menutupi rasa takutnya.
"Mila!" panggil Tian memegang bahunya. Kemudian mengajak Mila untuk duduk sebelum mereka berdua baku hantam lagi di kelas. Sebelumnya Cila dan Mila saling berpandangan tajam. Menyiratkan perang besar di antara mereka.
"Cil, udahlah. Gak usah di ladenin." Ayana mencoba menenangkan Cila.
Namun dia tak gentar meski sebenarnya dia juga merasa takut karna sudah memulai peperangan itu. Cila punya 1000 cara untuk menjatuhkan Mila apapun resikonya. Jika Mila punya rencana untuknya begitu juga denganya. Cila pasti akan jauh lebih cepat untuk membalasnya. Begitu saja terus sampai negara api menyerang.
Perang antara cinta dan lawan!
__ADS_1