Aksara Mila

Aksara Mila
Dia Di Antara Kita


__ADS_3

Tian mengetuk pintu kamar Mila.


“Masuk Yan! Gak di kunci,” teriak Mila dari balik selimutnya. Tian masuk dan duduk di samping tempat tidur. Mila mengeluarkan tangannya, meminta minyak angin. Tian memberikannyan tanpa bersuara.


“Yaudah sana keluar! Gue mau tidur, gak usah ngomong apa-apa sama Tian ya! Bilang aja gue udah tidur!” Mila mengeluarkan tangannya lagi dari balik selimutnya, menggerakan tangan, tanda mengusir Yana dari kamarnya.


Tian meraih tangan Mila yang masih sedingin itu.


“Apaan sih Yan!” Mila keluar dari balik selimutnya. “Ya ampun, Tian? Kenapa gak bilang itu kamu? Astaga bikin kaget aja,”


“Maafin aku ya, buat kamu gak nyaman gini,” matanya menatap mata Mila.


“Engga kok Tian. Aku gpp. Jangan di pikirin yang gak penting,” Mila bersandar pada tempat tidur.


“Kalau masih sakit besok pagi kita pulang ya,,,” Tian memegang keningnya, memeriksa apakah Mila demam.


“Gak usah, istirahat juga sembuh kok. Tenang aja,” Mila mengelus pundak Tian untuk menenangkannya.


Melihat tangan Mila yang bentol-bentol, membuatnya kaget, “Kamu kenapa? Kok bentol-bentol gini? Kamu serius gpp? Apa kita ke rumah sakit sekarang?” Tian yang selalu tampak panik jika terjadi sesuatu pada Mila. Mila membalasnya dengan tawa.


“Tuhkan,,, kamu tuh kebiasaan deh. Selalu aja ketawa?


“Aku tuh gpp Tian. Serius! Ini tuh alergi dingin, di kasih minyak angin juga hilang. Gak usah berlebihan gitu, kebiasaan deh kamu. Maklumlah Jakarta kan panas jadi ketemu daerah dingin dikit kulit ku jadi berubah gini macam ular,” jawabnya dengan santai.


“Kamu tuh selalu bilang gpp terus. Yaudah kalau emang gpp. Sini aku yang olesin minyak anginnya,” Tian menarik tangan Mila dan melumurinya dengan minyak angin yang dibawanya.


Mila tersenyum dengan perlakuan-perlakuan kecil, yang selalu Tian lakukan padanya. Walapun di dalam hatinya masih terselip pertanyaan itu, tapi ia mencoba mendengarkan ucapan yang Yana katakan padanya. Mungkin dia harus menunggu sampai waktunya Tian menjelaskan itu semua. Di luar ada Luna yang gantian menguping pembicaraan mereka sekarang dan lagi-lagi Yuna yang memergoki orang yang menguping itu.


Luna kembali ke kamarnya setelah mendengar jawaban atas semua pertanyaan hari ini. Mengapa Tian cuek padanya? Mengapa ia melupakannya? Mengapa ia berubah padanya? Jawabannya adalah Ya! Itu karna teman wanitanya sekarang. Luna tak bisa berpikir jernih. Yang ia pikirkan adalah wanita yang menyingkirkan dirinya dari kehidupan Tian. Bukannya berpikir atas kesalahannya yang ia buat di masa lalu pada Tian.


Saat Yuna ingin masuk ke dalam kamarnya tangannya ditarik oleh Seno yang langsung membawanya ke balkon depan.


“Aduhhhh,,,! Apaan sih Kaaaaa,,,!” Yuna yang kesal tangannya ditarik-tarik.


“Sorry, sakit ya. Oya mau balikin sabun yang tadi,” Seno memberikan sabun yang diberikan Yuna padanya.

__ADS_1


“Ya ampun di balikin segala. Gpp buat Kakak aja. Aku kira ada apa sampai harus tarik-tarik segala, taunya balikin sabun doang,” tuturnya dengan kesal.


“Kasih waktu mereka bicara sebentar. Pasti lagi kacau mereka, kedatangan orang baru ditengah-tengah hubungan mereka,” ucapan Seno kali ini agak serius. Entah karna simpatik pada temanya atau karna ingin di bilang teman yang pengertian oleh Yuna.


“Oya? Emang siapa orang barunya? Si cewe nguping itu?” Yuna melirik ke arah kamar Tian. Yang dimaksud adalah Luna yang ada dikamar itu. Seno membalas dengan anggukan. “Emang dia siapanya Ka Tian?” tanya Yuna penasaran.


Sedang serius-seriusnya mereka bicara tiba-tiba seseorang mengagetkan mereka dari belakang.


“HAAAAAAA,,,!” teriak Wahyu dengan kencang.


Sontak Seno lompat dari kursinya dan ditertawakan oleh Wahyu, Amar dan Yana yang melihatnya. Yuna yang ikut kaget tapi tak sampai lompat dari kursinya, hanya menggelus dada saja.


“Ka Wahyu,,,,,,! Nyebelin dehhhh!”


“Lagian kalian malah gosip aja! Ngomongin temen sendiri tuh gak baik,” Wahyu duduk diantara Yuna dan Seno.


“Tau tuh Ka Seno yang mulai,,,!” Yuna melempar kesalahan pada Seno.


“Lu tuh ya Way! Gak bisa bedain mana peduli mana gosipin. Emang elu, bisanya cuma ganggu temen yang lagi usaha aja,” Seno kesal karna Wahyu tak mengerti dirinya yang sedang usaha untuk deketin wanita yang dia suka.


“Yaudah sana ke kamar,” Yana menyuruh adiknya masuk ke kamar karna waktu sudah cukup larut.


Mereka kembali ke kamar masing-masing. Yana melihat Tian yang sedang duduk di balkon kamar.


“Udah tidur Mila?” Yana melihat Tian yang terlihat cukup kacau.


“Udah,” dengan pandangan yang menatap kosong seperti ada yang di pikirkan.


“Gak usah dipikirin. Mila pasti ngerti. Dah tidur,” Yana meninggalkannya sendiri untuk Tian bisa menenangkan pikirannya.


Wahyu, Amar dan Seno terlihat sudah tertidur pulas. Yana mengecheck ponselnya dan tiba-tiba kepikiran seseorang disana. Ingin menghubunginya tapi sungkan. Tak lama Tian masuk dan mematikan lampu bersiap untuk tidur. Yana pun mematikan ponselnya dan mengurungkan niatnya menghubungi orang itu. Mereka pun tertidur bersama ditemani suara dengkuran Wahyu dan Amar yang saling bersautan.


Yuna masih gelisah di tempat tidurnya. Sepertinya matanya belum bisa terpejam. Mila terbangun mendengar suara grasak-grusuk yang di ciptakan Yuna.


“Yuna belum tidur?”

__ADS_1


“Loh Kak Mila jadi kebangun ya. Aku berisik ya. Maaf ya,” Yuna mengganti posisi menjadi duduk. “Gak tau kenapa gak bisa tidur,”


“Takut ya? Yaudah kamu tidur duluan, aku temenin sampai kamu tidur,”


“Hihi,” Yuna tertawa karna ketahuan oleh Mila. Lalu mereka saling diam sampai Yuna berucap, “Kak Mila, oke?” dengan wajah serius.


“Hm,,,?” Mila kaget mendengar ucapan Yuna.


“Kayanya Ka Mila gelisah mikirin sesuatu. Cewe itu ya?” Yuna menebak apa yang ada dipikiran Mila.


Mila tak bisa menjawab dan hanya tersenyum padanya.


Mila menyuruh Yuna untuk segera tidur. Sambil memandangi wajah Yuna, Mila memikirkan wanita asing yang datang dalam kehidupannya dan juga Tian. Gadis cantik dan anggun itu cukup mengusik hatinya. Sepertinya kedatangannya membuat Tian, diam seribu bahasa bahkan ia tak mencoba menjelaskan padanya. Siapa dia sebenarnya?


Saat semuanya sudah pergi tidur. Febby dan Kian masih berada di depan api unggun. Saling menikmati hangatnya suasana malam itu.


“Yank kayanya aku kenal deh si Mila,” ucap Febby, bersandar di bahu Kian.


“Oya? Kenal gimana?” mengelus rambut Febby.


“Dia pernah aku tolongin. Waktu kecopetan,”


"Trus kamu hajar tuh pencopet? Sayang kamu tuh ya, kan aku bilang gak usah main-main lagi sama preman pasar dan sejenisnya. Nanti kalau kamu terluka gimana?” Kian yang cukup posesif dan terdengar lebay jika sedang sayang-sayangnya.


“Apaan sih! Lebay deh! Sapa juga yang mau berurusan sama preman lagi tapikan masa iya ada cewe kecopetan aku gak tolongin!” Febby mengangkat kepalanya dari bahu pacarnya.


Kian menaruh lagi kepala Febby di bahunya dan menggenggam tangannya, “Oke, I understand,” Kian menepuk-nepuk tangan Febby. “Tapi kenapa kamu gak sapa Mila?”


“Aku takut dia lupa,” jawabnya simple.


Kian tersenyum mendengarnya lalu mengecup hangat rambut Febby. Kian dan Febby memang satu sekolah tapi mereka dipertemukan bukan di sekolah melainkan di jalanan. Saat Kian sedang dipalak oleh preman-preman jalanan. Febby datang untuk menolongnya. Melihat Kian yang cukup babak belur dibuat oleh mereka karna melawan membuat Febby kesal. Pasalnya mereka berempat dan Kian sendiri. Akhirnya mereka berduel empat lawan dua. Parasnya saat berantem melawan preman-preman itu, cukup membuat Tian mabuk kepayang melihat Febby. Wanita yang dengan berani dan tangguh, menghajar preman-preman demi menolongnya. Febby yang memang jago bela diri, dan memang terlahir dari seorang Ayah yang jago berantem juga membuatnya menjadi tangguh dan gak cengeng meski dia seorang wanita.


Setelah berhasil melawan preman-preman itu dan Febby juga kena beberapa pukulan di wajah cantiknya itu. Menciptakan ruang dan perasaan di hati keduanya. Mereka saling membasuh luka diwajah mereka dengan bergantian. Berbagi senyum dan tawa karna sikap konyol keduanya. Sifat mereka yang sulit berbaur dengan orang lain, cukup membuat mereka serasi dan saling terikat satu sama lain semenjak bertemu. Mereka semakin akrab di sekolah dan membuat kaum hawa cukup merasa iri dengan Febby yang berhasil merebut perhatian Kian si cowo yang cukup populer di sekolah karna ketampanannya.


Luka yang datang dari masalalu, menodai kebahagiaan yang ada saat ini~

__ADS_1


__ADS_2