
Ujian berlalu dengan cepat. Hubungan Mila dan Tian masih di tahap saling menghindar dan saling diam. Tian memberikan waktu pada Mila seperti keinginannya. Teman-temannya tak bisa berbuat apa-apa untuk membuat mereka segera berbaikan. Mereka menyadari ini bukan urusan mereka melainkan urusan pribadi antara Mila dan Tian. Mila juga masih tak bermain bersama mereka. Mereka sengaja memberi waktu dan ruang pada Mila agar bisa menenangkan hatinya.
Waktu berjalan begitu saja. Begitu pula dengan waktu diantara mereka yang masih berjalan ditempat. Tak terasa jarak yang Mila buat menciptakan ruang diantaranya dan Tian. Entah karna keegoisannya atau karna diamnya Tian. Tapi Mila juga tak tahan harus saling diam dalam waktu yang panjang. Setelah amarahnya hilang dan berpikir dengan setenang mungkin. Mila mencoba untuk mengerti kondisi Tian dan memutuskan untuk menyudahi jarak yang ia buat.
Mila berjalan bergontai sambil membaca novelnya. Menyusuri koridor sekolah dengan sesekali melihat jalan. Takut-takut ia salah belok dan salah masuk kelas. Bian yang baru juga datang melihat Mila yang sedang asik berjalan sambil membaca. Bian berdecak agar membuat Mila sadar kalau ia berjalan di tengah jalan dan itu mengganggu orang lain yang mau jalan. Tapi sepertinya Mila tak menyadarinya dan akhirnya ia menyalip langkah Mila agar bisa lebih dulu masuk ke kelasnya.
Seseorang menarik tangan Mila lalu menggenggamnya. Mila sadar dari membacanya dan kaget melihat Tian didekatnya. Kenapa bisa tiba-tiba ada dia? Padahal baru saja terlintas dipikirannya ingin menemuinya lebih dulu. Mila tak melepas genggaman tangan Tian, malahan melemparkan senyuman padanya. Mereka berjalan berdua masuk ke ruangan Mila.
“Udah sarapan?” tanya Tian.
“Bawa roti,” Mila menunjukkan bekalnya.
Tian mengambil kursi Amar dan duduk berdekatan dengan Mila. Mila merasa canggung Tian mendekatinya seperti itu. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara mereka kemarin dan semua baik-baik saja. Mila menggeser bangkunya menjauh dari Tian namun ditahan oleh Tian dengan tersenyum.
“Hari ini kan selesai ujian. Pulang sekolah kerumahku ya. Bunda tanyain kamu, katanya kangen!”
“Aku ada janji,” secepat itu Mila menolak.
“Sama siapa? Cowo mobil biru itu?” Tian sadar akan ucapannya dan menarik lagi kata-katanya. “Eh maksud aku sepupu kamu itu,”
“Mahen namanya. Bukan, aku ada janji mau balikin buku ke perpus,”
Lalu mereka tertawa. Amar dan Seno masuk ke kelas. Melihat Mila dan Tian yang sudah duduk berdekatan dan bicara.
“Nah gitu dong. Baikkan. Kan seneng liatnya,” Seno hendak memeluk mereka berdua.
Tian buru-buru mengubah posisinya menjadi tameng untuk melindungi Mila. Tian memeluk Mila, Seno memeluk Tian, dan Amar memeluk mereka semua. Pemandangan yang hangat pagi ini. Yana dan Wahyu lewat di depan kelas dan melihat mereka sedang asik maen peluk-pelukkan.
“Idih,,, pagi-pagi udah kaya Teletabis lu,,,!” celetuk Wahyu yang iri tidak diajak oleh mereka.
“Sirik luh,,,!” saut Seno.
Mereka semua tersenyum senang. Setelah saling melepas rindu. Mereka menyudahi acara tali kasih itu lalu meninggalkan Tian dan Mila yang baru saja berbaikkan.
Bel ujian berakhir
__ADS_1
“Akhirnya selesai juga,,,,,,,,,,” teriak Seno.
“Booling yuk!” celetuk Yana.
“Pas banget tuh! Ayolah,,, refresh kita,” Wahyu dengan semangat merapihkan tas.
“Gue sama Mila gak ikut ya,” Tian menolak ajakan mereka.
“Iya, iya tau yang baru baikkan. Okelah para jomblowers, kita kemon (come on)” Wahyu merangkul Seno keluar kelas.
Mereka bergontai keluar kelas untuk menemui Mila dan Amar. Amar dan yang lainnya langsung pergi untuk main booling dan mereka berpisah dengan Mila juga Tian. Ujian berakhir dengan bahagia seperti suasana hati Tian saat ini. Yang bisa bersama dengan kekasihnya lagi. Mila memeluk erat pacarnya itu diatas motor dan pergi ke rumah Tian.
Tian sampai di rumahnya dan melepaskan helm Mila. Merapihkan rambut Mila yang acak-acak sehabis memakai helm. Mila tersenyum mendapat perlakuan seperti itu lagi. Tian menggandeng erat tangan Mila dan masuk ke dalam rumahnya. Mila senang bisa bertemu dengan Bunda lagi hari ini. Selain rindu dengan Tian, Mila juga menaruh rindu dengan Ibu pacarnya ini.
“Mila,,,,” Bunda langsung menyapa begitu melihat Mila datang.
Tangan Tian tidak lepas sedikitpun dari Mila. Mila melihat disana ada Ayah dan Bunda Tian. Mila sedikit canggung karna kehadiran Ayahnya Tian. Bunda memeluk erat Mila. Tian melepaskan tangannya dan Mila memeluk hangat Bunda. Terlihat Bunda lebih menyayangi Mila dari pada anak-anaknya sekarang.
“Bunda apa kabar? Sehat kan?” Mila melepaskan pelukkannya.
“Sudah Bunda,”
“Ehm, sudah dong Bun. Gantian saya mau menyapa,” Ayah Tian menyelip diantara mereka yang sedang kangen-kangenan.
Mila dengan malu menyapa Ayah Tian, “ Hallo, Om,” Mila bersalaman dengannya.
“Hai, Mila. Panggil saja Ayah, biar lebih akrab,” kata Ayah Tian, membuat nyaman keadaan. Kalian sudah dekat sekali sepertinya?” melihat kedekatan Mila dan Istrinya.
Mila tersenyum senang karna hari ini Ayah Tian, lebih hangat menyambutnya. Bunda mengajak mereka ke ruang tamu untuk berbincang dengan lebih nyaman. Bibi membawakan minum untuk mereka semua. Ayah Tian mulai membahas kedekatan Mila dan Tian. Sejak kapan mereka dekat? Bagaimana awal kedekatan mereka? Dan mengapa sampai Tian jatuh cinta pada Mila? Mila menjawab semua yang jadi pertanyaan Ayahnya Tian. Namun ia tak bisa menjawab pertanyaan yang terakhir. Tian mengalihkan pembicaraan mereka dengan membahas hal lain.
Kian turun dari lantai atas bersama Febby. Mila tersenyum melihat mereka berdua. Kian melambaikan pada Mila. Terlihat seperti keluarga bahagia mereka semua yang ada disana. Mila merasa lebih nyaman dipertemuan kali ini bersama Ayah Tian. Mungkin karna tidak ada Luna diantara mereka dan juga sikap Ayah Tian yang lebih hangat padanya.
Namun disela perbincangan hangat mereka yang belum terlalu lama. Seseorang turun dari lantai atas dengan dress anggunnya disertain senyum hangat yang melekat dibibirnya. Mimik wajah Mila seraya berubah. Ia tak menyangka ternyata Luna masih ada di rumah Tian. Mila berpikir dia sudah kembali setelah dari Bandung tapi pikirannya salah.
Luna turun dan menyapa mereka semua yang sudah berkumpul disana. Luna menyapa Mila dengan senyuman dan melambaikan tangannya pada Mila. Mila membalasnya dengan berusaha menarik senyum di pipinya. Luna menghampiri Mila dan memeluk dirinya dengan erat. Jelas itu membuat Mila bingung dan sedikit kaku harus bersikap apa, selain membalas memeluknya juga.
__ADS_1
Luna mengajak Mila ke halaman belakang rumah Tian. Mila melihat ke Tian sambil mengikuti keinginan Luna untuk bicara padanya berdua saja. Dari mata Tian terlihat ia seperti harap-harap cemas pada mereka berdua. Tapi ia berusaha percaya pada Luna kali ini. Luna mengajak Mila untuk duduk di ayunan kayu yang ada disana.
Awalnya suasana masih canggung diantara mereka namun Luna berusaha sekali membuat Mila nyaman dengannya. Sama-sama menatap kosong kedepan dan saling sibuk dengan pikiran masing-masing. Luna menarik nafasnya dalam-dalam dan memulai percakapannya pada Mila. Awalnya hanya basa-basi belaka namun lama-lama ia membicarakan intinya pada Mila. Mengapa sampai ia ingin bicara hanya berdua dengannya.
“Maaf ya kalau kedatangan aku jadi membuat kamu sama Tian terganggu. Aku gak berniat merusak hubungan kalian,” terjadi jeda cukup lama. Luna seperti menahan sesuatu untuk di ucapkan. Mila memegang tangan Luna untuk mengisyaratkan kalau ia tidak masalah jika Luna harus bercerita panjang. “Tian temen baikku dari kita kecil. Kita sudah dekat sebelum kalian bertemu sebelumnya. Mungkin bisa dibilang sebelum kamu masuk di kehidupan Tian, aku sudah masuk lebih dulu. Kalau boleh jujur juga, mungkin kami sama-sama jadi cinta pertama di hidup kami berdua,” Luna seperti menahan tangisnya. Mila mengelus punggung Luna untuk menenangkannya. Walaupun hatinya juga seperti teriris, mendengar cerita pacarnya sendiri dari wanita yang juga sama-sama mencintainya. “Tapi aku bodoh, Mil. Aku pergi tanpa pamit. Tanpa kabar dan menghilang begitu saja. Mungkin dulu karna masih kecil jadi gak tau harus berbuat apa selain mengirimkan doa untuknya,” sesak di dadanya sudah sedikit terlepas. Senyum Luna mulai hadir di bibirnya. “Sampai waktu berlalu begitu saja dan aku bisa kebetulan bertemu dengan Om Gunawan lagi. Lalu ia mengajakku untuk bertemu dengan Tian lagi. Betapa senangnya aku saat mendengar itu,” Luna menarik nafas panjangnya. “Aku berharap, Mil. Tian bakal seneng kalau ketemu lagi sama aku. Tapi kenyataannya? Engga! Aku tau, mungkin dia masih marah karna aku pergi tanpa kabar. Aku mencoba mengerti. Aku sudah menceritakan semua alasannya dan dia juga cukup mengerti sekarang. Aku gak munafik, Mil. Aku berusaha selama disini, aku ingin membuat dia tersenyum lagi untuk aku. Tapi kayanya harapan yang aku bawa jauh-jauh, hanya sia-sia. Senyuman yang selama ini aku liat hanya untuk aku. Sekarang senyuman itu milik kamu, Mila. Maaf Mil kalau aku senaif itu,” Luna menggenggam tangan Mila.
Mila tak bisa berbicara apa-apa selain mencoba mengerti perasaan Luna. Mila memeluk Luna dan Luna menangis di pelukkan Mila. Luna mengungkapkan isi hatinya pada Mila berharap ia mengerti. Jujur Mila seperti di posisi bingung harus bagaimana. Satu sisi hatinya cemburu, akan hadirnya Luna. Tapi di sisi lain, ia mencoba mengerti keinginan Luna saat ini. Tapi tidak mungkin, ia memberikan harapan itu padanya. Masa iya, Mila rela melepaskan hubungannya sendiri untuk kebahagiaan orang lain. Karna dari ucapan Luna sepertinya dia berharap untuk hubungannya dengan Tian seperti dulu lagi. Seperti kisah yang belum selesai dan berharap menyelesaikannya dengan baik-baik. Tapi apakah Mila harus merelakan hubungannya?
Mila melepas pelukkannya dan Luna menghapus air mata yang menyisa di pipinya. Setelah adegan tangis-menangis, mereka lalu membahas masa kecil Tian. Luna menceritakan sedetail mungkin saat Tian dulu. Mila mendengarkan dengan seksama sambil tertawa bersama. Dalam hati Mila terselip secerca kecewa nan pedih, yang tak ingin ia perlihatkan pada siapapun. Cukup hanya ia yang merasakan itu. Mila merasa posisinya saat ini salah karna berada diantara masa lalu orang lain yang belum selesai. Namun ia mencoba menahan itu dan berusaha bersikap bijak dalam mengambil keputusan apapun.
Tian melihat dari jendela kamarnya, terlihat Luna dan Mila berbincang dengan baik-baik saja. Dalam hatinya berharap Luna sudah menyelesaikan semuanya dan sudah tidak ada masalah. Tian pun turun ke bawah untuk menemui Mila.
Bunda memanggil mereka berdua yang sedang asik bercerita untuk makan bersama. Makanan terlihat sudah siap di meja makan. Sudah tidak ada kecanggungan lagi diantara semuanya sekarang. Tian pun sudah lebih santai pada Luna karna melihat Mila yang sudah bisa berdamai pada Luna. Luna juga senang melihat Tian yang sudah mau senyum padanya. Mila menatap kearah keduanya dan tersenyum penuh makna. Seperti berpikir, apa Tian masih mencintai Luna?
“Terimakasih ya Mila, sudah mau main lagi kesini. Ayah sengaja undang Mila karna Luna dan Ayah mau kembali lagi ke Belitung besok. Mila bisa izinin Tian untuk pergi mengantar Luna ke Belitung, besok? Sebelum mereka berpisah lagi, karna kelihatannya Luna masih rindu dengan Tian?”
Ucapan Ayah Tian jelas membuat Mila tersedak. Tian pun kaget bahkan yang lainnya juga kaget mendengar ucapan Ayah. Kian memberikan air pada Mila. “Kenapa harus minta izin Mila, Yah?” di sela batuknya yang sudah mereda.
Tian menatap Ayahnya kesal. “Karna kalau Ayah liat Tian begitu jutek sama Luna dari kemarin,” Ayah mencoba jujur tapi sebelum kejujurannya itu makin memperkeruh keadaan yang sebelumnya sudah lebih baik, Bunda menghentikannya.
Tian menarik Luna dan membawanya ke kolam renang. Mereka semua kaget, melihat Tian yang dengan marah membawa Luna menjauh dari mereka.
“Maksudnya gimana sih? Lu mau apa dari gue? Gak usah cerita ke Ayah sama gue langsung. Gue kira niatan lu tuh bener-bener baik Lun,,,!” dengan nada tinggi Tian berbicara pada Luna.
Melihat kondisi yang mendadak memanas lagi Mila menyusul Tian dan Luna.
Luna terkejud Tian berteriak padanya, “Tian,,,! Gimana aku mau ngomong kalau kamu aja dari kemarin dingin sama aku! Aku juga gak ngomong apa-apa sama Ayah. Ayah cuma tanya yaudah aku jawab. Dimana salahnya? Coba aja kalau kamu gak kaya gini sama aku. Ayah gak harus ngomong gitu Tian,,,! Lagian aku, Tian,,,! Aku, yang datang di kehidupan kamu lebih dulu dari pada Mila,,,! Senyum itu milik aku, Tian. Bukan Mil,,,!” Luna menangis dan memeluk Tian. Luna sadar isi hati yang sebenarnya keluar seketika karna emosi dan kecemburuannya yang sudah tak tertahankan lagi. “Aku masih sayang sama kamu, Tian. Aku kesini berharap kamu masih punya rasa yang sama untuk aku. Aku tau, aku salah tapi bisa kan kita perbaiki sekarang Tian?” kata-kata yang dari kemarin tertahan dihatinya akhirnya terungkap juga. Luna melepas pelukkannya dan tersungkur ke tanah karna lemahnya setelah jujur pada perasaannya sendiri.
Bukan hanya Mila yang kaget mendengar ucapan Luna tapi semua yang menyusul mereka juga mendengar kejujuran Luna. Tian diam mematung seperti tak percaya dengan ucapan Luna. Dengan kaki bergetar Mila menghampiri mereka dan membangunkan Luna untuk berdiri. Luna seperti malu pada Mila. Luna menangis sambil menutupi wajahnya. Mila meneteskan air matanya dan melihat Tian yang tak bisa berbuat apa-apa. Mila secepatnya menghapus jatuhan air matanya lalu menghadap Tian.
Mila memegang tangan Tian untuk menenangkannya. “Aku gpp, Tian. Kamu harus jujur sama perasaan kamu,” Mila menahan isaknya dan menarik nafas dalam-dalam. “Hargai dia yang juga mencintai kamu sebelum aku. Aku percaya sama kamu,” tangan Mila terlihat menggenggam seperti menahan emosinya. “Aku gak mau, hubungan ini menyakiti orang lain. Jadi, aku kasih kamu waktu dan kebebasan. Yaa,,,” ucap Mila dengan nada suara yang memaksa tenang.
Mila menaruh tangannya di pipi Tian. Tian memejamkan matanya seolah tak percaya keadaan akan serumit ini. Tian mencium tangan Mila. Sebelum air matanya yang tertahan jatuh Mila melepaskan tangannya dari pipi Tian dan berniat pergi meninggalkan rumah Tian. Tian menahan tangan Mila untuk tidak pergi meninggalkannya namun Mila melepaskan tangannya dan secepatnya berlari keluar dari rumah Tian. Bunda mencoba menghalangi Mila tapi di tahan Kian karna ia merasa Mila punya hak untuk pergi. Mila secepatnya pergi dan berlari sekencang mungkin, meninggalkan mereka semua yang ada disana. Mila mengira hari ini masalah akan selesai dengan melupakannya begitu saja tapi perkiraannya salah.
Posisi paling tidak nyaman adalah disaat kita berada diantara masa lalu orang lain yang belum selesai.
__ADS_1