Aksara Mila

Aksara Mila
Perhatian Yang Terbagi


__ADS_3

Pagi datang


“Banguuuuunnn! Ayo kita olahraga! Ayah tunggu di halaman depan!” teriak Ayah dengan mic di tangannya.


Ayah yang sudah siap dengan speaker dan mic di tangannya. Berniat mengajak mereka senam pagi hari ini. Ayah dan Mang Dadang sudah bersiap di halaman. Bunda dan Mbo Darmi masih sibuk persiapkan cemilan dan sarapan pagi untuk mereka semua. Mendengar lagu SKJ cukup mengganggu tidur mereka semua. Tian membangunkan teman-temannya untuk segera turun kebawah. Seno yang pagi-pagi sudah ada diranjang Wahyu, entah kapan


pindahnya. Sangat sulit dibangunkan. Dua makhluk itu, malah saling berpelukkan bak memeluk guling. Yana dan Amar mengerjai mereka dengan meniupkan bau naga dari mulut mereka. Bau mulut itu cukup ampun membangunkan mereka. Wahyu yang melihat Seno ada dihadapannya sontak mendorongnya sampai Seno terlempar ke lantai.


Seno yang kaget akhirnya terbangun sambil mengusap-ngusap badannya. “Kok gue tidur dibawa sih. Sakit lagi,” Seno mengucek-ngucek matanya.


“Ngimpi kali luh. Udah cepet bangun! Ayahnya Tian nyuruh kita turun,” Yana yang pura-pura tidak tau sambil menahan ketawa. Amar dan Tian turun lebih dulu.


“Tapi Yan gue kan belum mandi,” Wahyu yang masih menguap ngantuk.


“Gue emang udah? Udah cepetan ayo. Lu gak denger tuh suara,” Yana menarik Wahyu untuk bangun dari kasurnya.


“Mau ngapain sih lagian. Dikira ini persami kali bangun pagi-pagi begini,” saut Seno dengan ngaco. “Eh tungguin


kek,” melihat Yana dan Wahyu yang sudah meninggalkannya.


Para wanita sudah berkumpul di halaman depan lebih dulu. Yuna masih tersungkur di sofa depan karna ngantuk


masih menyelimutinya. Yuna yang memang kesulitan tidur semalam, sangat ingin bisa tidur lagi di kasur empuk dan selimut tebalnya itu. Bukannya bangun pagi-pagi begini dengan cuaca yang dingin sedingin es. Kalau bukan karna Mila yang memintanya untuk menemaninya turun kebawah, Yuna pun ogah!


Sedangkan Luna dan Febby sepertinya memang sudah terbangun karna dari matanya sepertinya mereka sudah


cukup segar. Tian dan Amar sudah turun kebawah dan ikut bergabung dengan Mila. Tian menyapa Mila dengan senyuman dan dibalas dengan senyuman yang sama. Luna memperhatikannya dengan tersenyum iri. Tak lama Wahyu, Yana, Seno pun datang dan bergabung.


“Oke. Semua sudah berkumpul. Mari kita mulai senamnya,” teriak Ayah dengan semangat.


Yuna bangun dari sofa dan mengacungkan tanganya, “Ayah, boleh gak Yuna tidur. Yuna susah tidur semalam.


Boleh yaaaa,,,,,” dengan nada memohon sambil matanya terpejam.


“Tidak boleh. Yuna harus ikut senam,” Ayah menolak sambil tersenyum.


Ayah sudah cukup berbaur dan mengenal anak-anak pada saat tadi malam. Mereka sudah seperti saudara sendiri.


“Seno deh Yah. Boleh ya Yah. Ngantuk Yah, Suer!” Seno mengangkat tangannya.


“Pokoknya semuanya harus senam!” Ayah yang selalu tegas dengan kesehatan itu. Tidak mau melihat mereka


bermalas-malasan. “Ini Kian mana?” matanya mencari-cari Kian, yang belum ikut bergabung bersama mereka. Ayah meneriakinya lagi dengan kencang.


Kian turun dengan celana kolor dan rambut acak-acakannya itu. Sambil mengusap matanya yang masih tertutup


rapat karna ngantuk. “Duh Ayah! Apaan sih. Pagi-pagi begini suruh senam. Ya ampun Ayah, kebiasaan deh. Ngantuk Yah,” mengucek-ngucek matanya.


Kian tak sadar penampilanya itu membuat semua mata perempuan menutup malu melihatnya. Termasuk Febby pacarnya. Tian yang berada disamping Mila langsung menutup mata Mila dengan tanganya. Yuna yang tepat sedang duduk di samping Kian sontak berteriak.


“Ka Kiannnnnn,,,!” teriak Yuna sambil menutup matanya.


Kian kaget melihat Yuna ada di sampingnya. Teriakan Yuna juga yang menyadarkan dirinya akan penampilannya


sekarang. Kian langsung berlari keatas dengan cepat.


Mereka pun tertawa melihat kelakuan Tian. Ayah pun memulai senam pagi ini. Ayah menjadi instruktur senam


dan Mang Dadang sebagai asistennya. Bunda dan Mbo Darmi tak luput dari acara senam ini. Seno, Kian dan Yuna berdiri paling belakang untuk mencuri-curi waktu agar mereka bisa terdiam tidak mengikuti gerakan senam.


Setelah 20 menit pemanasan, Ayah menginstruksikan untuk mereka keluar villa dan berjalan santai melihat-lihat


perkebunan yang ada di sepanjang jalan menuju villa. Mereka pun setuju dengan ajakan Ayah kali ini, karna mata mereka yang sudah cukup terbuka karna embun pagi ini dan semangat yang sudah mengalir seperti derasnya keringat.


Mang Dadang memimpin jalan dan Ayah bertugas menjaga barisan belakang, agar tidak ada yang


diam-diam kabur dan kembali ke villa sebelum acara ini selesai. Kian disuruh Ayah berjalan lebih dulu karna dia dikenal, suka diam-diam menghilang dan kembali ke villa lebih dulu. Bunda dan Mbo Darmi tidak ikut karna harus


menyiapkan makanan yang belum selesai.


Sepanjang jalan Mang Dadang memperkenalkan tanaman apa saja yang tumbuh dan sedang ia tanam. Mila melihat dan memperhatikannya dengan seksama. Mila memang suka melihat kebun luas beserta tanaman yang tumbuh subur. Bahkan ia mengimpikan, punya rumah dengan kebun sayur mayur di halaman belakang rumahnya.


Tian mengikuti Mila setiap kali ia berhenti untuk sekedar melihat dengan jelas tanaman apa itu ataupun sekedar untuk memegangnya karna gemas melihat langsung tanaman yang masih menggantung seperti tomat dan teman-temanya. Senyum Mila yang khas setiap kali takjub akan sesuatu ciptaan Tuhan membuat Tian ikut tersenyum bahagia.


Saat ditawari untuk mencabut hasil panen, Mila sangat antusias. Mila teriak paling dulu saat Mang Dadang menawari untuk memanem singkong. Yana melarangnya karna itu pasti cukup keras dan tangannya pasti akan sakit. Tapi Mila kekeuh untuk mencabutnya. Akhirnya dengan dibantu Mang Dadang, Mila pun berhasil menariknya


dengan sukses. Yuna yang melihat itu ikut mencobanya. Kali ini Ayah Tian yang akan membantu Yuna untuk menarik singkong itu.


Ayah Tian memang menyukai anak perempuan tapi anaknya semua laki-laki. Jadi perhatiannya pada Yuna cukup membuatnya senang, karna Yuna juga yang paling muda dari mereka semua. Setelah Yuna dan Ayah berhasil sekarang giliran Febby. Febby menarik singkong bersama dengan Kian. Namun karna terlalu semangat dan berekspetasi bahwa hasilnya akan banyak seperti Mila dan Yuna. Mereka berdua terjatuh karna singkong yang dicabut sangat mudah dan belum banyak juga buahnya.


Terakhir adalah Luna, ia binggung harus menarik bersama siapa. Matanya melihat Tian.


“Ayo Luna, sekarang giliran kamu. Tian bantu Luna, cabut singkongnya,” perintah Ayah yang nafasnya terdengar ngos-ngosan sehabis mencabut singkong.


Luna tersenyum dalam hatinya. Tp Tian diam tak berkutik malah enggan untuk bergerak.


“Ayo, Tian,” Ayah menyuruhnya segera bergegas.


Tian melihat Mila dan Mila menganggukkan kepalanya, tanda tak apa. Tian pun membantu Luna menarik pohon singkong itu. Saat mereka sedang berusaha dengan kuat menarik pohon itu, Luna dengan sengaja mengubah posisi tangannya dengan menggenggam tangan Tian. Ia pura-pura tak menyadari apa yang sedang ia lakukan.


Tapi tidak dengan Tian. Jelas itu membuatnya kaget dan juga tak menyukainya. Tian pun melepaskan tangannya dan membuat Luna terhempas dengan kencang ke tanah.


“Aww,,,,,” rintih Luna.


Semuanya terkaget terutama Tian. Ia tak mengira kalau itu akan membuat Luna terjatuh. Tian dengan cepat menolong dan membangunkan Luna. Namun kaki Luna sepertinya terkilir.


“Sakit Tian,” Luna tak bisa berdiri.


Mila melihat kaki Luna yang memerah, “Kayanya terkilir,” Mila membersihkan tanah dari kaki Luna dan meniup-niupnya untuk mengurangi perih di kakinya.


“Maaf,” Tian merasa bersalah.


“Luna apa sakit sekali? Bisa jalan gak?” Ayah memeriksa keadaan kaki Luna.


“Jangan dipaksa jalan kalau seperti ini, Pak. Harus digendong sampai ke villa. Baru kita obatin disana,” usul Mang Dadang.


“Yaudah Luna naik ke punggung Tian ya. Tian gendong Luna sampai ke villa,”


Tanpa banyak penolakkan Tian menggendong Luna sampai villa. Rasa kesalnya terhapuskan begitu saja, begitu melihat Luna yang kesakitan karna ulahnya. Tak ada yang mengira ini akan terjadi. Mereka cukup cemas melihat kaki Luna yang memar merah seperti itu dan langsung kembali ke villa. Mang Dadang dan Yana merapihkan hasil panen singkong mereka dan membawanya ke villa.


Bunda melihat mereka sudah kembali. Tapi terheran mengapa Luna digendong oleh Tian. Ia pun bergegas menghampiri mereka.

__ADS_1


“Ada apa ini? Luna kenapa? Bawa kesini,” Bunda menyuruh Tian menaruh Luna di sofa. “Luna kamu kenapa?”


“Gpp kok Bunda. Cuma terkilir aja,” memegangi kakinya yang memar.


“Maaf, Bunda. Ini karna aku tadi,” Tian membawa kotak obat.


“Merah sekali ini. Kita urut aja ya,” Bunda yang cemas karna kaki Luna mulai bengkak.


“Mbo Darmi urut ya,” Mbo Darmi menawarkan diri.


“Gak usah Mbo. Aduh sakit banget,,,!” rintih Luna karna mencoba menggerakkan kakinya.


“Gak usah digerakkin dulu. Diurut aja ya,” pinta Tian.


Luna pun bersedia diurut dengan syarat Tian menemani didekatnya. Luna bersedia kesakitan asalkan perhatian Tian kembali padanya. Dalam kesakitannya ada hati yang bahagia karna Tian sudah kembali memperhatikannya. Luna menahan sakit itu dengan memegangi tangan Tian dengan kuat. Peluh mengalir deras karna menahan rasa sakit itu.


Anak-anak yang lain kembali kekamar untuk bebersih diri dari tanah yang menempel selepas memanen. Mila berjalan dengan cemas menaiki anak tangga. Hatinya merasa bersalah. Andai saja ia tak memulai untuk memanen singkong itu, hal ini tak akan terjadi. Melihat raut wajah Mila, Yana merangkulnya untuk menenangkannya. Mila menutup wajahnya menahan kesal pada dirinya sendiri.


Yuna minta izin untuk mandi lebih dulu. Menunggu Yuna selesai mandi, Mila keluar lagi dari kamarnya dan pergi ke balkon lantai dua untuk menenangkan hatinya. Kian yang usai mengantar Febby untuk mandi lebih dulu. Melihat Mila yang termenung disana seorang diri.


“Gak mandi?” Kian menemui Mila.


“Mmmmh, Yuna dulu. Sendirinya gak mandi?” Mila bertanya balik.


“Tadi liat lu disini jadinya kesini dulu,” Kian duduk di kursi. “Gak usah dipikirin. Luna gpp, bentar lagi juga sembuh,” ucapnya untuk menenangkan Mila.


Mila tersenyum walaupun hatinya masih merasa cemas, “Semoga memarnya gak parah deh ya,” duduk di kursi sebelah Kian.


“Oya kata Febby kalian pernah ketemu ya,” Kian mengalihkan pembicaraan.


“Oh, Febby inget ya. Aku kira lupa. Mau sapa takut dia gak inget,” tutur Mila senang.


“Kalian tuh ya. Kenapa gak saling ngobrol aja coba. Kalau pun salah orang kan yang penting gak penasaran. Febby tuh gitu, cukup tertutup jadi jarang sapa orang duluan. Makanya itu juga alasan dia gak bisa sekamar sama orang lain. Ya karna dia gak bisa basa-basi orangnya,” cerita Kian mengenai pacarnya itu.


“Iya ya, gue juga gak bisa mulai pembicaraan sih. Nanti deh ngobrol sama Febby,”


Tian menyapa mereka yang sedang mengobrol. “Kenapa gak mandi?” tanyanya pada Mila.


“Oh Tian. Luna sudah selesai diurut?” Mila bertanya balik.


“Belum mandi?” mengulang pertanyaannya lagi.


“Tunggu Yuna selesai. Kamu?” menatap Tian yang terlihat buru-buru.


“Aku mau ambil barang-barang Luna dulu untuk dipindah di kamar bawah. Dia gak bisa naik ke atas soalnya. Masuk gih ke kamar. Aku ambil barang-barang Luna dulu ya,” Tian mengusap pundak Mila lalu masuk ke dalam kamarnya.


Mila melihat Kian dan ia hanya mengangkat pundaknya. Mila dan Kian menunggu Tian keluar dari kamarnya.


“Mau aku bantu?” melihat Tian keluar dengan membawa koper dan tas Luna.


“Gak usah. Kamu mandi aja,” Tian bergegas turun kebawah tanpa bertanya keadaan Mila.


Mila melihat Tian dengan kekecewaan di hatinya. Namun Mila segera mengusir rasa itu secepatnya. “Gak


boleh, Mil. Lu gak boleh egois,,,!” ucapnya dalam hati. Mila membuang wajah sedihnya itu dengan menatap pemandangan didepannya.


“Sabar ya. Mungkin perhatian Tian, bakal terbagi,” Kian menepuk-nepuk pundak Mila dan pergi meninggalkannya.


Selepas mandi mereka turun kebawah untuk sarapan. Posisi duduk Tian sekarang berubah dengan duduk disebelah Luna. Luna kekeuh untuk minta sarapan barengkarna tidak mau sarapan sendirian di kamar. Ayah


Mila duduk persis disebrang Luna juga Tian. Yana yang duduk disebelah Mila, memperhatikan mereka bertiga. Luna seperti sengaja melibatkan Tian disetiap aktivitasnya. Meski itu hanya menuangkan air. Padahalkan yang sakit kakinya bukan tangannya. Kenapa seolah seluruh tubuhnya memar dan tak bisa bergerak.


Febby dan Mila membersihkan piring-piring kotor setelah selesai sarapan. Mila menyuruh Bunda dan Mbo Darmi untuk beristirahat dan bergantian denganya. Mila mencuci piring-piring yang kotor. Sedangkan Febby membantu menata piring-piring yang sudah bersih. Mila melakukan ini untuk mengusir hatinya yang cemburu dengan kedekatan Tian dan Luna.


“Nyucinya semangat banget? Jealous ya?” melihat Mila yang fokus dengan piring-piring didepannya.


“Ah, engga. Ngaco,” Mila tertawa.


“Lu cewe itu kan. Yang hampir dicopet itu?” Febby memulai pembicaraan.


“Iya. Lu yang tolongin gue kan. Sorry ya gak berani nyapa. Takut salah orang,” Mila tersenyum malu.


Febby pun tersenyum, “Gpp gue juga itu. Takut salah,”


“Iyah tadi juga Kian cerita,” dan mereka tertawa bersama lalu menyelesaikan pekerjaan mereka sampai beres.


Saat hendak menaruh piring satu lagi, piring itu terlepas dari tangan Febby dan,


“PRANG!” suara piring pecah.


“Astaga!” teriak Febby.


Kian dan yang lain sedang berkumpul di kolam renang. Kian langsung berlari ke dapur mendengar pacarnya berteriak. “Yank,,,! Kenapa?” datang secepat kilat.


“STOP! Jangan bergerak. Febby mundur, aku aja yang bersihin. Kian jauhin Febby dari sini. Hati-hati,” Mila menyuruh mereka untuk menjauh dari pecahan piring.


Mila mengambil sapu dan mengambil pecahan piring yang tercecer di lantai. Lalu membersihkannya sampai tak ada lagi di lantai.


“Hati-hati Mil. Maaf ya, aku ga kuat pegangnya tadi,” Febby khawatir dan ikut mencari sisa-sisa piring yang takutnya tertinggal.


“Aku yang bersihinnya kurang bersih. Jadi masih licin deh. Maaf juga ya,” Mila tersenyum untuk menenangkan Febby. “Udah ga ada lagi,” Mila mencuci tangannya.


“Yaudah keluar cepet,” Kian mengajak Mila untuk bergabung.


Mila mengira lantai sudah benar-benar bersih. Ternyata tidak! Saat ia berjalan ternyata pecahan kecil terinjak olehnya, “Aww,” Mila merasa kakinya menginjak sesuatu.


“Kenapa Mil?” Kian melihat kebelakang


Melihat kaki Mila sudah menetes darah, “Ya ampun, Mila” ucap Febby sedikit berteriak.


Bunda datang dan melihat darah sudah menetes banyak di lantai, “Mila kenapa?”


Mendengar ribut-ribut di dapur Tian penasaran dan ingin mendatanginya tapi tangan Luna selalu melingkar di tanganya. Kian memapah Mila dan mendudukinya di meja makan. Febby mencari kotak obat yang tadi dipakai


mengobati Luna. Kian berniat mencabut pecahan piring yang masih menusuk kaki Mila tapi Mila menolaknya.


Yana melihat Tian yang tak bisa berkutik karna benalu menempel padanya. Masuk ke dalam untuk memeriksa ada apa sebenarnya.


“Mila,,,!” Yana melihat darah pada kaki Mila.


Mila menaruh telunjuknya di mulut. Menyuruh Yana untuk tidak berisik karna tak ingin Tian mengetahuinya. “Gpp,” Mila menyabut pecahan itu dari kakinya.

__ADS_1


Febby langsung menutupnya dengan kapas yang sudah diberikan betadine olehnya. “Aku gpp kok Bunda,” dengan tenang dan tersenyum Mila menenangkan Bunda. “Gpp kok,” menatap Febby, Kian dan Yana.


Mereka adalah orang-oarang yang saat ingin cukup mengerti keadaan hati Mila. Bunda memeluk Mila untuk menenangkannya bahwa ini akan berakhir secepatnya. Yana membawa Mila ke atas. Bunda menyuruh Mbo Darmi


untuk membersihkan ulang dapur. Takut pecahan piring itu masih tersisa disana dan melukai yang lain.


Kian, Febby dan Bunda kembali ke kolam renang. Menemui mereka yang ada disana. Tian melihat Yana yang tak kembali dan Mila yang tak ikut bergabung. Bertanya pada Kian namun ia hanya menatap hampa adiknya itu dan


melirik sinis Luna. Bunda menyuruh Mbo Darmi memberikan obat pada Mila.


“Sakit gak, Mil?” Yana melihat kaki Mila.


“Gpp Yan! Gak sakit, darahnya doang yang banyak,” jawab santai Mila.


Yana mengelus kepala Mila dan menghela nafas karna Mila sedang menutupi perasaannya. Bahwa dirinya tak baik-baik saja.


“Mba, ini dari Ibu. Katanya harus diminum,” Mbo Darmi datang memberikan obat.


“Makasih Mbo. Repot-repot dianter segala. Bilang Bunda nanti ku minum ya,” Mila menerima obatnya.


Makasih ya Mbo,” ucap Yana.


“Baik, Mba, Mas,” Mbo Darmi pergi setelah memberikan obatnya.


Mila menyandarkan kepalanya, membuang energi negatifnya. “Yan, balik yuk! Gue kangen Ayah,” ucapnya sambil memejamkan mata.


“Mau balik sekarang? Yaudah boleh. Gue kabarin anak-anak dulu,” Yana mengabari teman-temannya untuk naik ke atas.


“Yah, Yan. Kenapa di grup ngabainnya. Tian baca dong,,,” mendengar notifikasi grup di ponselnya berbunyi.


“Lupa Mil,” Yana menepuk jidat.


Amar, Wahyu, Seno satu persatu datang. Yuna di telphone oleh Yana untuk naik. Teman-temannya pergi satu persatu, Tian merasa curiga ada sesuatu terjadi. Tapi ia tidak bisa meninggalkan Luna yang sedang


membutuhkannya. Bahkan untuk membaca pesan di ponselnya aja ia tak sempat. Sangking Luna menempel terus padanya.


“Yakin mau balik, Mil?” Amar bertanya untuk memastikan.


“Kalau kalian mau?” Mila tak ingin memaksakan keinginannya.


“Kalau lu gak nyaman. Yaudah yuk balik aja. Gpp kan Yun?” Seno coba mengerti Mila dan meminta pengertian Yuna.


“Aku gpp kok. Next kan bisa jalan-jalan lagi,” Yuna mendekati Mila dan melihat kaki Mila yang dibalut. “Ka Mila kenapa? Kakinya kok dibalut gitu?”


Perhatian mereka menjadi tertuju pada kaki Mila.


“Gpp kok,” Mila memijak-mijakkan kakinya dengan mengigit bibir bawahnya.


“Yaudah kalo yang lain setuju. Kita beres-beres sekarang,” Yana membangunkan Mila.


Mereka mengemas barang-barang dan merapihkan kamar mereka sebelum pulang. Setelah sudah siap Yana datang ke kamar Mila dan Yuna. Yana membawakan tas Mila dan Yuna menggandeng Mila.


“Beneran gpp kan,” Mila memastikan lagi pada teman-temannya.


“Gpp, Mil. Udah jangan dipikirin,” Wahyu mengelus kepalanya.


Saat mereka ingin turun, Tian naik keatas dan menanyakan pada mereka semua kenapa membawa tas seperti ingin pulang? Yana beralasan, mobilnya akan dipakai oleh orangtuanya bertugas. Tian melihat Mila yang hanya menunduk diam. Tian seperti tak percaya dengan alasan Yana tapi ia tidak bisa bilang begitu padanya.


Tian mendekati Mila tapi Mila menghindar dan menarik Luna untuk segera turun. Amar menepuk pundak Tian, menandakan kekecewaan pada temannya itu. Bunda dan Ayah yang melihat mereka turun membawa tas, bertanya-tanya.


“Kalian mau kemana? Pulang? Kan masih pagi?” Ayah yang terlihat kecewa melihat mereka sudah mau pulang.


“Maaf, Ayah. Mobilnya mau dipakai orangtua dinas, jadi kami harus pulang duluan. Gpp ya?” Yana memberikan alasan pada orangtua Tian.


“Mila sudah mau pulang? Mila kan berangkat bareng Bunda. Pulangnya bareng Bunda aja gimana?” Bunda yang masih khawatir dengan kaki Mila.


“Gpp, Bun. Aku pulang sama mereka aja. Sekalian satu arah juga sama rumah Yana,” Mila menolak halus permintaan Bunda.


“Mila harus ikut pulang, Bunda. Soalnya Ayahnya nitip Mila ke Yana. Nanti, Ayah binggung lihat Mila gak ikut pulang bareng,” Yana menambahkan alasan.


Dengan alasan Yana yang cukup kuat. Akhirnya orangtua Tian mengizinkan mereka untuk pulang lebih dulu. Mereka diantar sampai ke depan villa. Luna duduk di teras depan untuk mengantar kepulangan mereka dengan hati


senang. Kian dan Febby menatap Luna dengan tatapan penuh curiga. Apa sebenarnya ia sengaja melakukan semua ini.


Mereka berpamitan dengan Ayah dan Bunda serta Mang Dadang dan Mbo Darmi. Mila berpamitan pada Bunda dan memeluknya. Tak lupa ia berterimakasih padanya karna sudah mengizinkan dia dan teman-temannya untuk


liburan disini. Mila tak berpamitan pada Tian karna tak ingin Tian membaca raut wajahnya. Setelah berpamitan dengan Bunda dan juga Ayah Tian, Mila langsung masuk ke dalam mobil.


Mereka saling melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang dari villa. Didalam hatinya terselip kekecewaan pada teman-temannya. Terlebih melihat sikap Mila yang menghindar darinya. Bunda masuk ke villa lebih


dulu. Ayah melihat Tian yang bersedih karna teman-temannya pulang lebih cepat. Merangkulnya untuk masuk kedalam,


“Sedih ditinggal temen-temen atau pacarmu?” kata-kata itu terucap dari mulut Ayah.


Membuat yang mendengarnya tercengang dan kesal, terutama Kian. Pasalnya ia mengira Ayahnya tak mengetahui hubungan Tian dan Mila tapi malah sebaliknya.


“Telat, Yah!” dengan nada sinis. Kian masuk lebih dulu bersama Febby.


“Belajar adil. Kamu harus menghargai dia juga yang sudah jauh-jauh datang untuk kamu. Apalagi dia juga terluka karna sikapmu. Jika wanita itu mencintaimu pasti dia akan mengerti posisimu,” Ayah menepuk pundak Tian dan pergi meninggalkannya masuk lebih dulu.


Ayah memapah Luna untuk masuk kedalam. Tian mengepalkan tangannya, menahan kesal pada dirinya sendiri. Ia menyalahkan dirinya atas luka yang ia berikan pada dua wanita sekaligus. Tian masuk ke dalam dan langsung naik keatas.


Mbo Darmi sedang membersihkan kamar yang dipakai Mila dan Yuna. Tian masuk kedalam untuk mengechecknya. Mbo Darmi memberikan obat yang Bunda berikan untuk Mila pada Tian. Sepertinya tertinggal dan Mila lupa membawanya.


“Ini obat apa, Mbo?” tanya Tian.


“Tadi, Mba Mila kan kena pecahan piring kakinya. Trus Bunda kasih obat biar Mba Mila gak demam. Tapi kayanya Mba Mila lupa bawanya, Mas,” Mbo Darmi memberitahu Tian kejadian di dapur tadi.


Mendengar itu cukup menjawab kekecewaan Tian. Ini kah alasan sebenarnya mereka pulang lebih cepat? Yana menjaga perasaan Mila dan tak ingin sahabatnya itu makin terluka oleh kedekatan ia dan Luna. Ini kah alasan


Mila menghindarinya tadi, karna tak ingin hatinya makin terluka karna perhatian yang cukup teralihkan.


Mbo Darmi meninggalkan Tian yang terlihat ingin berdiam dikamar itu. Tian terduduk lemas diatas kasur, mencari ponsel dan secepatnya menghubungi Mila.


“Ka, ponsel Ka Mila bunyi,” Yuna memberitahu Kakaknya. “Dari Ka Tian,” sambungnya.


Amar mengambil ponsel Mila dan mengangkatnya, “Kenapa Tian?”


“Mila mana?” mendengar bukan Mila yang mengangkat telphonenya.


“Tidur. Dia gpp kok, udah lu tenang aja. Lu selesain disana aja dulu. Mila biar tenang dulu sama kita,” Amar mencoba menenangkan hati temannya.

__ADS_1


“Oke, kalau Mila kenapa-kenapa kabarin ya. Gue titip dia,” Tian menutup telphonenya.


Siapakah yang harus dimengerti?


__ADS_2