Aksara Mila

Aksara Mila
Keputusan Yang Harus Dilakukan


__ADS_3

Saat sedang makan, Yana melihat ekspresi wajah sedih Mila setelah bertemu dengan Bian dan Qila. Bagaimana tidak? Padahal baru aja kemarin Mila dekat lagi dengan Bian. Tapi sekarang dia udah jalan aja berdua dengan Qila. Sebenarnya apa sih mau cowok itu? Cuma bikin ge-er aja atau gimana? Pikir Mila.


"Tadi kok bisa bareng mereka?" tanya Yana.


"Entah! Padahal gue gak niat buat ketemu sama mereka." kata Mila dengan nada sedikit kesal. "Ngerusak mood baca gue aja!" gerutunya lagi.


"Memangnya kenapa kalo ketemu mereka?" tanya Tian seolah tau jika Mila sedang cemburu.


"Ah engga. Maksudnya gue jadi gak bisa baca lama-lama karna ngobrol sama mereka." Mila menutupi rasa cemburunya.


"Kayanya mereka pacaran deh. Jalan berdua terus pake acara nonton segala." skak Yana dengan mulut penuh makanan. Yana sengaja mematahkan perasaan Mila pada Bian.


"Maybe!" kata Mila acuh.


Tian menatap Mila dengan rasa cemburu yang menggebu. Kenapa harus ada orang lain yang Mila suka. Tapi dia tidak bisa nyalahkan Mila. Sebab itu bukan salahnya melainkan salah dirinya yang tak bicara jujur tentang perasaannya pada Mila. Selesai makan Mila, Tian dan Yana langsung pulang. Hari ini Mila lupa untuk membeli novel terbaru karna moodnya tiba-tiba hilang. Jam juga sudah menunjukkan pukul 5 sore. Tian sengaja tidak ingin pulang malam mengingat kondisi Mila yang baru saja membaik. Di dalam mobil suasana hening, mereka semua diam. Entah sibuk dengan pikiran masing-masing atau mulut mereka tersumbat akibat kekenyangan. Mobil berbelok menuju rumah Yana.


"Tian, mending lu anter Mila dulu deh. Soalnya gue lupa, si Yuna nitip roti. Gue minta tolong anterin ke toko roti depan." kata Yana.


"Oh, yaudah." Tian memutar arah lagi ke rumah Mila.


"Kenapa gak sekalian aja sih?" renggek Mila minta ikut.


"Nanti Ayah khawatir, Mil. Nanti lagi aja jalan-jalannya ya! Lu juga kan baru sehatan." kata Yana melihat Mila dari kaca depan.


"Besok mau gak jalan sama gue, berdua?" ajak Tian.


Ajakan Tian membuat kaget Mila dan Yana. Yana tersenyum mendengar Tian mau mengajak Mila kencan. Ya meski belum pacaran tapi siapa tau selepas kencan jadi beneran pacaran.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Mia terpaku bingung.


"Nanti gue kabarin deh." Tian menghentikan mobilnya di depan rumah Mila. "Sekarang Mila istirahat dan jangan lupa minum obatnya." katanya dengan tersenyum ke arah Mila.


Mila keluar dari mobil dengan wajah bingung. Sepertinya dia shock dengan ajakan Tian yang tiba-tiba mengajaknya jalan berdua.


Yana membuka kaca jendelanya. "Udah jangan bingung gitu. Masuk cepetan! Langsung istirahat ya. Oke, Aksara Mila kuuuuuuuuu!" kata Yana mematahkan lamunan Mila.


"Hmm, oke. Dahhhhhhh,,," Mila mengangguk dan melambaikan tangannya masuk ke dalam rumah.


Sebenarnya Yana bohong, Yuna tidak menitip roti padanya. Yana ingin bicara pada Tian dengan serius dan tidak ingin Mila mengetahuinya. Sebenarnya Yana senang hari ini melihat Tian mulai berani menunjukkan perasaannya ke Mila dengan lebih jelas. Namun kekhawatirannya terhadap Bian juga cukup besar. Pasalnya Yana tau perasaan Mila pada Bian dan begitu sebaliknya. Tapi dia tidak suka jika mereka melangkah lebih dekat lagi seperti dulu. Yana tidak ingin Mila kecewa lagi karna perasaannya, yang nanti akan bertepuk sebelah tangan lagi dengan Bian. Jadi dia ingin Tian mengambil sikap sekarang untuk merespon Mila lebih dekat lagi. Yana akan jauh lebih tenang, jika Mila bersama dengan Tian.


"Gak usah ke toko roti, Tian. Balik ke rumah gue aja." kata Yana membuat Tian bingung padanya.


"Lah, nanti si Yuna gimana?" tanya Tian dan membelokkan lagi mobilnya ke rumah Yana.


"Ngomong apaan?"


"Sebaiknya lu cepetan deh ngomong sama Mila, kalau lu tuh suka sama dia!" kata Yana dengan nada terdengar sangat serius.


"Kenapa tiba-tiba bahas ini?" Tian menghentikan mobilnya di rumah Yana.


"Lu gak liat tadi si Bian bersikap gimana ke Mila? Lu gak tau gimana perasaan mereka berdua? Lu liat gak tatapan Bian ke Mila? Lu beneran gak tau atau pura-pura gak tau?" Yana menatap lurus ke jalanan depan rumahnya.


"Iya gue tau tapikan gak bisa secepat itu juga Yan!" Tian terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya lagi. "Jujur gue cemburu. Gue cemburu saat Mila menatap mata Bian. Tapi gue juga gak mau nanti di tengah jalan gue sama Mila ngerasa gak cocok dan malah jadi nyakitin kita berdua. Gue tuh gak mau nanti hubungan gue sama Mila yang gagal bisa ngancurin juga pertemanan kita." Tian memberitahu ketakutannya yang selama ini membuat dia harus menahan perasanya ke Mila.


"Tian, gue ngerti mungkin gue terlalu terobsesi buat ngejaga Mila selayaknya adik gue. Perasaan gue ke Mila tuh beneran hanya sebatas sahabat. Gak bisa lebih!" Yana menghela nafasnya. "Gue percayain dia ke elu karna gue yakin, Mila juga punya perasaan yang sama ke lu . Cuma selama ini dia gak nampakin karna sikap lu yang terlalu dingin dan tertutup." Yana menepuk bahu Tian. "Yang punya ketakutan itu bukan hanya elu tapi juga Mila. Dia takut perasaan dia ke elu hanya perasaan sepihak karna dulu dia pernah punya perasaan sama Bian tapi gak terbalas. Bian gak hirauin perasaanya waktu itu dan Mila memilih mengurungkan perasaanya pada Bian." Yana menjelaskan cerita tentang Mila dan hanya dia yang tau soal ini. "Tapi gue gak ngerti kenapa baru sekarang, Bian balas perasaan itu ke Mila? Disaat Mila udah mulai lupa sama perasaannya ke Bian." Tian terdiam tak bergeming mendengar cerita itu. "Elu sama Mila tuh sama. Sama-sama suka tapi naif untuk ngaku satu sama lain. Gue cuma gak mau, Mila akhirnya sayang lagi sama orang yang udah bikin dia patah hati. Terus tersakiti lagi dan lebih sakit dari yang lu bayangin sekarang. Lepasin rasa takut yang jadi penghalang buat lu sama Mila. Kalau gak mau Mila jatuh cinta lagi sama orang yang sama."

__ADS_1


Mulut Tian keluh mendengar semua cerita Yana. Tian mencoba mengerti maksud hati Yana. Dia jadi semakin yakin untuk mementingkan perasaannya pada Mila dari pada rasa takutnya sendiri. Sebenarnya bukan hanya rasa takut yang Tian pikirkan tapi ada hal lain yang mengganjal hatinya. Itu menjadi rahasianya sendiri dan tak ada yang tau.


"Sorry kalau gue terdengar maksa tapi gue cuma gak mau lu nyesel kalau ternyata ada orang yang lebih dulu ambil hati Mila dari lu. Gue seneng lu udah mulai tunjukkin sedikit perasaan lu tadi ke Mila. Setidaknya Mila jauh lebih tau perasaan lu ke dia. Gue yakin Mila juga suka sama lu tapi karna selama ini lu diem aja dia juga nutupin perasaannya. Gue gak mau makin lama perasaan Mila makin hilang sama lu dan berbalik arah lagi ke Bian.


Suasana hening beberapa saat setelah Yana selesai dengan ucapannya. Yana mengontrol emosinya yang terlalu menggebu-gebu dari tadi. "Kalo gitu gue masuk dulu. Thank's udah temenin gue cari sepatu. Jangan lupa besok kabarin Mila." Yana keluar dari mobil dan masuk kedalam rumahnya. Tian mengangguk tanpa bicara.


Mobil berhenti digarasi rumah Tian.


"Assalamualaikum, Bunda." Tian masuk ke dalam rumahnya dan mendapati Bunda yang masih sibuk merajut.


"Waalaikumsalam, Sayang. Sudah pulang?" Bunda menghentikan aktivitasnya.


"Udah malem, Bun." Tian duduk di samping Bunda. "Istirahat ya. Kasian tuh matanya lelah." Tian merapikan peralatan merajut Bunda.


"Iya deh, Sayang." Bunda mengelus rambut Tian. Bunda memperhatikan muka Tian yang tampak kusut setelah pergi. "Katanya habis beli sepatu tapi kok mukanya kusut gitu? Kenapa gak dapat sepatunya?" mengusap pipi anaknya.


"Dapat, Bunda." Tian mengangkat sepatu yang baru saja dibelinya. "Aku cuma cape aja." Tian menyenderkan kepalanya di pundak ibunya.


"Benar? Kamu gak lagi tutupin sesuatukan dari Bunda kan?" Bunda yang tampak curiga dengan anaknya.


"Engga kok. Bunda istirahat ya, aku naik dulu." Tian mencium kening ibunya dan pergi ke kamarnya.


Tian tipe anak yang penyayang dan pengertian. Sangat terlihat dari sikapnya yang selalu perhatian pada ibunya. Meski terlihat pendiam dan cuek tapi sebenarnya pribadinya sangat hangat. Selalu membuat orang-orang terdekatnya nyaman. Tian merebahkan tubuhnya ke kasur. Menghela napas panjang sambil memandang langit-langit kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana. Matanya terpejam namun pikirannya masih terfokus pada satu nama, Mila.


Pembahasan dia dan Yana tentang Mila menjadi hal yang serius untuknya. Mereka adalah dua orang yang menyayangi Mila dengan caranya masing-masing. Apakah Mila seistimewa itu sampai-sampai dijaga dengan baik oleh mereka berdua? Apa Tian sudah cukup yakin dengan hatinya? Mengapa Tian belum juga mau mengungkapkannya? Kapan dia akan mengungkapkannya pada Mila? Apakah besok akan menjadi hari istimewa baginya? Ataukah Bian yang lebih dulu mengungkapkannya pada Mila? Kenapa Tian tidak yakin dengan hatinya sendiri? Apa dia masih memikirkan seseorang di masa lalunya?


"Aaaaaaaaaaaaaaa, sialan! Kenapa harus ada Bian sih!" Teriaknya dari bawah bantal yang menutupi wajahnya. Kekesalannya membuat rasa takut itu makin nyata. Tapi ketakutan terbesarnya adalah kehilangan Mila.

__ADS_1


Keputusan yang secepatnya harus diambil oleh Tian.


__ADS_2